
.... ...
Kamar utama dalam keadaan kosong saat Jane berjalan masuk. Terdengar suara gemericik air dari kamar mandi, yang menandakan kalau Felix sedang membersihkan dirinya di sana. Jane pun berjalan menuju lemari, lantas ia membuka pintu di mana baju-baju Felix tergantung dengan rapi. Sementara Felix mandi, Jane berniat untuk menyiapkan baju ganti untuknya. Sejenak Jane memilah-milah kaos santai Felix sebelum kemudian pilihannya jatuh pada piyama satin berwarna peach pemberian Helen.
Sejak diberikan, Felix sama sekali belum pernah mengenakannya, jadi Jane ingin tahu bagaimana jika baju tidur itu membalut tubuh tegap suaminya. Meski ini masih terlalu cepat untuk tidur, tapi bahannya yang ringan sepertinya cukup nyaman untuk digunakan saat santai. Sambil tersenyum. Jane meletakkan piyama beserta gantungannya itu di atas ranjang, sehingga Felix akan mudah menemukannya saat ia keluar dari kamar mandi nanti.
Senyum di paras cantik Jane mendadak semakin terkembang, seiring dengan otaknya yang mulai berfantasi. Jika seseorang melihat Jane saat ini, mungkin orang itu akan mengira bahwa Jane sudah gila. Bukan tanpa sebab gadis ini tersenyum atau bisa dibilang menyeringai dengan lebar. Sebuah ide baru saja melintas di benak Jane. Ia kembali berjalan menuju lemari, kali ini membuka pintu di mana baju-baju miliknya berada. Ia mengeluarkan pakaianya dengan seringai yang masih belum hilang dari parasnya.
Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Felix agak terkejut mendapati Jane berdiri di hadapannya saat dia membuka pintu. Gadis yang tak lain adalah istrinya itu menyambutnya dengan senyum sebelum kemudian buru-buru gantian masuk ke dalam kamar mandi. Jane bahkan tidak sadar kalau Felix hanya menggunakan handur yang menutupi bagian bawah tubuhnya saat keluar. Membuat dada bidang dan otot-otot yang menghiasi perutnya menjadi tontonan gratis bagi siapapun yang berada di ruangan itu saat ini. Sejujurnya Felix memang sengaja keluar dengan hanya menggunakan handuk karena tadinya dia berencana untuk turun ke bawah seperti itu untuk menggangu Jane. Tapi sayangnya sang target malah langsung masuk ke kamar mandi tanpa melirik sedikit pun.
Felix baru saja akan berjalan menuju lemari saat matanya menangkap piyama yang Jane persiapkan untuknya tergeletak di atas ranjang. Langkahnya pun berganti haluan menuju ranjang. Felix meraih gantungan baju tersebut dan seketika sebuah senyuman terukir di paras tampannya.
Baru kali ini Jane menyiapkan baju untuknya. Padahal biasanya Jane hanya memperhatikan dan mengurusi segala hal tentang Aiden saja. Namun sekarang, sedikit demi sedikit Felix merasa kalau Jane mulai mengurusinya juga, memperhatikannya selayaknya seorang istri pada suaminya.
Maka tanpa ragu, Felix langsung mengenakan piyama tersebut. Baju apapun itu, entah kemeja atau sekedar kaos oblong, jika Jane yang menyiapkannya Felix akan memakainya dengan sepenuh hati.
...***...
Sambil menunggu Jane membersihkan diri dan berganti pakaian, Felix memutuskan untuk turun ke dapur dan mempersiapkan camilan untuk mereka makan sambil menonton film. Alih-alih menghidangkan snack riangan seperti keripik atau popcorn, Felix malah mengupas buah-buahan seperti apel, mangga, dan kiwi.
Alasannya adalah untuk menjaga kesehatan Jane. Istrinya itu lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja di luar sampai kadang-kadang ia makan dengan tidak teratur, dan juga dengan menu makanan yang kurang sehat. Jadi Felix akan menyiapkan makanan yang sehat bagi Jane saat ia berada di rumah. Kalau Jane tidak bisa menjaga kesehatannya sendiri, maka Felix yang akan mengambil peran tersebut.
Felix baru saja memindahkan potongan kiwi ke piring saat terdengar suara kaki menuruni tangga. Refleks Felix menoleh, hendak menyambut Jane. Namun detik berikutnya, lidahnya malah mendadak terasa kelu. Matanya membelalak menatap penampilan Jane dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Tidak banyak yang berubah dari penampilan gadis itu, ia masih cantik sama seperti saat ia belum membersihkan dirinya. Bedanya sekarang adalah, tubuh Jane yang mungil itu dibalut oleh sebuah gaun satin berwarna peach berpotongan pendek dan tanpa lengan.
Ya, Jane mengenakan gaun malam yang diberikan oleh Helen sehingga saat ini dirinya dan Felix mengenakan piyaman berpasangan.
“Felix, kamu sedang apa?” suara Jane memecah lamunan Felix.
Felix buru-buru berbalik dan kembali menyibukkan dirinya menatap potongan buah-buahan ke atas piring, enggan menjawab pertanyaan Jane barusan. Gesturnya tersebut lantas membuat Jane kecewa.
Padahal Jane sudah memberanikan diri untuk mengenakan pakaian seminim ini. Dirinya memang berniat memancing Felix dan jika beruntung ia bisa mengusilinya balik dan membuat pemuda itu bersemu malu. Tapi jangankan memujinya cantik, bahkan sekedar menunjukkan ketertarikan saja tidak. Benar-benar di luar ekspektasi.
Tapi terlalu dini bagi Jane untuk menyerah. Ia masih punya waktu dua jam menonton film untuk membuat Felix menyadari penampilannya. Maka langkah selanjutnya yang Jane lakukan adalah berjalan menghampiri Felix, berniat untuk berdiri di samping pemuda tersebut.
Namun, baru saja ia akan melangkah, Felix sudah berbalik dengan dua piring berisi buah di tangannya, dan langsung berjalan melewati Jane. Felix berjalan dengan tergesa-gesa sampai-sampai salah satu garpu yang diletakkannya di atas piring terjatuh ke lantai.
“Felix, garpunya jatuh.” ujar Jane.
Felix menghentikan langkahnya dan berbalik, namun sialnya saat itu Jane sudah lebih dulu merendahkan tubuh untuk memungut garpu tersebut. Gestur yang sangat berbahay bagi Felix, karena dengan begitu Felix dapat melihat bagian tubuh Jane yang terekspos karena kerah gaunnya yang rendah.
“Ini,” ucap Jane sambil menegakkan tubuh dan menyodorkan garpu tersebut pada Felix.
Kepala Felix berputar secepat Jane bangkit berdiri. “Taruh saja di tempat cuci dan ambil garpu yang baru,” jawab Felix lantas meneruskan langkah menuju sofa. Lagi-lagi Jane mencebikkan bibirnya kesal karena ketidak acuhan Felix barusan.
Felix sedang memasukkan CD film yang sudah dipersiapkannya ke dalam DVD player saat Jane kembali setelah mengambil garpu yang baru.
Dengan gontai gadis itu menjatuhkan diri ke atas sofa, lalu menggunakan garpu yang dibawanya untuk menusuk salah satu potongan apel dan menggigitnya. Felix berbalik dan berjalan ke arah Jane, hendak mendudukkan diri di sofa.
Sontak saja ekspresi kesal bercampur heran tergambar di paras Jane. Bagaimana tidak? Karena Felix sekarang malah duduk di pinggir sofa, sangat jauh sehingga kini posisi mereka berada dari ujung ke ujung sofa.
Pemuda itu duduk memeluk bantal sambil mengarahkan remot ke televisi, tak melirik ke arah Jane sama sekali. Pandangannya lurus ke depan dan sesekali ia menusuk potongan buah dengan garpunya. Film sudah berjalan selama sepuluh menit, tapi mereka masih saja membisu. Sikap Felix yang seperti ini benar-benar membuat Jane sangat kesal.
...----------------...
...- Felix & Jane - ...