Love, Maybe

Love, Maybe
Chapter 32



.......


“Jane, maafkan aku. Sungguh tadi aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu. Tapi kamu memang tidak bisa memasak, kan?”


“Jane, walau kamu tidak bisa memasak, tapi aku tidak pernah menyesal memilihmu menjadi istriku. Jadi, maafkan aku, ya?”


“Sa-sayang...... ah, tidak, tidak. Panggilan sayang terkesan sangat tua, kita kan baru menikah empat bulan.”


Pemuda bernama Felix ini terus bercerocos pada panci berisi sup kepiting yang sedang meletup-letup di hadapannya. Sebelah tangannya yang tidak memegang sendok sup terangkat mengacak rambut hitamnya frustrasi.


Yup, saat ini Felix sedang sibuk latihan membujuk Jane yang sedang ngambek sembari memasak sup kepiting sesuai keinginan istrinya tersebut.


Padahal tadi pagi mereka berdua berada di dalam suasana hati yang bagus dan menghabiskan waktu dengan berolahraga bersama. Setelah itu mereka memutuskan mampir ke pasar tradisional untuk membeli bahan untuk memasak sup kepiting lantaran Jane yang tiba-tiba mengatakan ingin makan makanan tersebut.


Tapi keadaannya menjadi kacau saat keduanya sedang sibuk memilih bawang bombay yang merupakan bahan makanan kesukaan mereka. Felix salah bicara sehingga menyinggung perasaan Jane. Alhasil Felix mau tidak mau harus pulang menggunakan taksi sambil membawa barang belanjaannya karena Jane yang benar-benar pergi membawa serta mobilnya pulang.


Namun tampaknya Jane juga baru tiba saat Felix sampai di apartemen tadi. Karena Papa sempat mengirimnya sebuah pesan, menanyakan kenapa hanya Jane saja yang datang menjemput Aiden ke kediamannya, dengan ekspresi wajah yang terlihat kesal dan marah pula. Dan perasaan Felix mengatakan kalau istrinya itu sudah berada di kamar Aiden sejak Felix belum kembali hingga dirinya hampir selesai berkutat dengan masakannya di dapur saat ini.


Suara seperti peluit yang berasal dari lubang teko menandakan air yang ada di dalamnya sudah mendidih membuyarkan lamunan Felix. Ia berhenti mengacak rambutnya dan beralih mematikan kompor.


Kemudian Felix menuangkan air mendidih dari teko ke dalam mangkuk stainless berisi beberapa potongan daging ayam. Setelah beberapa saat, ia membawa mangkuk tersebut ke tempat cuci piring dan membuang airnya, sebelum akhirnya memasukkan potongan ayam tersebut ke dalam panci berisi sup kepiting.


Aroma harum sup kepiting bercampur kaldu ayam pun menguar hingga ke lantai dua, membuat siapa pun pasti akan merasa perut mereka bergolak saat mencium wanginya. Jane dapat mencium aroma sup tersebut, yang masuk dari celah-celah pintu kamar Aiden yang tidak ia tutup rapat. Namun sayangnya dirinya terlalu gengsi untuk menghampiri sumber aroma tersebut lantaran masih kesal dengan ucapan Felix saat di pasar tadi.


Setelah menata mangkuk-mangkuk kecil dan sumpit serta sendok di meja makan, Felix membawa panci berisi sup yang masih mengepul dan meletakkannya di tengah-tengah meja.


Melepaskan apron yang terpasang di tubuhnya, Felix menoleh ke arah tangga. Ia merasa agak ragu untuk memanggil Jane turun. Bagaimana kalau istrinya itu masih marah? Apa sebaiknya Felix biarkan Jane untuk menyendiri dulu? Tapi kan Jane belum makan apa pun selain roti yang ia makan tadi pagi. Maka dengan fakta terakhir itu Felix pun memantapkan hati untuk naik ke atas. Mulut boleh terkunci, tapi perut tidak bisa berbohong, kan? Namun, baru saja tungkai Felix menginjak anak tangga pertama, terdengar bel apartemennya berbunyi.


Untuk beberapa detik, Felix bimbang antara melanjutkan langkah naik ke atas atau berbalik membukakan pintu untuk tamu tak diundang yang datang di waktu tidak tepat. Namun akhirnya ia memilih opsi kedua lantaran terdengar suara pintu kamar Aiden terbuka. Mungkin Jane akhirnya terpaksa keluar karena Felix tak kunjung membukakan pintu padahal belnya terdengar semakin memekakkan telinga.


Felix memegang gagang pintu dan langsung membukanya.


“Kakaaaak!”


Bersamaan dengan pintu yang terbuka, berhamburlah seorang gadis yang langsung memeluk Felix, disertai dengan seruan nyaringnya yang sangat familiar. Siapa lagi yang akan bertingkah seperti itu kepada Felix kalau bukan Kaylee, adik perempuannya.


“Kaylee, jangan suka tiba-tiba memeluk seperti ini dong,” tegur Felix seraya melepaskan pelukan Kaylee. Di saat-saat sensitif seperti ini siapa tahu akan fatal jika Jane melihatnya. Bisa-bisa masalah akan menjadi semakin rumit.


Kaylee pun mengerucutkan bibirnya, namun ekspresinya kembali berseri saat ia melihat sosok yang berdiri di belakang Felix.


“Oh, Kaylee datang?” tanya Jane yang ada tidak jauh di belakang Felix.


“Kak Jane!” Kaylee melewati Felix begitu saja dan langsung menghampiri Jane. Bahkan Kaylee tanpa sungkan memeluk Jane. Sedangkan yang dipeluk hanya bisa berdiri kaku di tempat, belum terbiasa. Sejenak Felix tersenyum melihatnya, sebelum kemudian terdengar suara lelaki menginterupsi.


Felix kembali menoleh ke arah pintu dan mendapati Daniel yang berdiri di sana sambil menenteng satu paper bag besar di tangannya.


“Daniel? Kamu datang bersama Kaylee?” ujar Felix spontas seraya mempersilahkan pemuda itu masuk. Sedangkan Kaylee sendiri sudah lebih dulu berjalan ke ruang tamu sambil menggandeng lengan Jane.


“Aku yang meminta kak Daniel untuk menemaniku belanja kado untuk Aiden,” sahut Kaylee yang mendengar pertanyaan Felix dari ruang tamu.


Sesampainya di ruang tamu, aroma sup yang berasal dari meja makan di sudut ruangan langsung menyambangi indera penciuman keempatnya.


“Kakak baru saja selesai masak?” tanya Kaylee sambil menatap Jane.


Jane menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum kikuk. “Bukan aku, Felix yang memasak tadi.”


“Kalian berdua belum makan siang, kan?” tanya Felix berusaha mengalihkan perhatian Kaylee sebelum bocah itu akan bertanya lebih banyak lagi pada Jane.


“Belum dong. Wah, sudah lama aku tidak makan masakan kakak. Kakak masak apa?” dengan semangat Kaylee berjalan menghampiri meja makan yang cukup untuk menampung empat orang tersebut. Namun, matanya langsung membelalak saat ia melihat apa yang tersaji di atas meja makan.


Kaylee sontak menolehkan wajahnya pada Felix. “Kakak akan memakan ini juga?” tanyanya dengan nada yang sedikit meninggi sambil menunjuk panci besar berwarna putih tersebut, membuat Jane sontak menatap ke arah yang ditunjuk Kaylee dan menjadi bertanya-tanya. Felix terlihat mengangguk mengiyakan.


“Are you crazy? Kakak kan alergi kepiting,” seru Kaylee sambil menatap Felix dengan kening berkerut.


“Hah?” Refleks Jane menoleh pada Felix. Raut wajahnya yang semula datar kini terlihat khawatir.


“Jangan berlebihan begitu, Kay. Aku sudah cukup sering makan kepiting, dan alergiku tidak separah itu,” ujar Felix santai.


“T-tapi Felix–”


“Tidak usah cemas, Jane. Tidak akan apa-apa. Kalau tubuhku sudah merasa tidak nyaman aku pasti akan berhenti makan. Aku bisa menjaga diriku, dan selama ini juga semua baik-baik saja. Tidak usah dengarkan kehebohan bocah satu ini,” sela Felix sambil tersenyum, mencoba meyakinkan Jane.


“Felix memang seperti itu, dia tidak akan pernah mendengarkan. Jika kita melarangnya untuk makan, dia akan tetap memakannya,” Daniel yang sedari tadi hanya diam kini angkat suara. Felix tersenyum tipis mendengar ucapan Daniel dan mulai menarik kursi serta mempersilahkan semua yang ada di sana untuk duduk.


Jane mendudukkan dirinya sambil terus menatapi Felix dengan raut wajah khawatir yang belum juga hilang dari paras cantiknya. Begitu juga dengan Kaylee yang juga masih menatap Felix dengan ekspresi cemberut.


Sekali lagi Daniel melirik pada kedua gadis yang ada di hadapannya, lalu ia kembali berbicara sambil tersenyum untuk meringankan kekhawatiran mereka. “Tenang saja. Felix pernah beberapa kali makan kepiting bersama aku dan yang lainnya, dan buktinya dia masih sehat sampai sekarang, kan?”


“Kalian berdua dengar kan Daniel bilang apa. Sudah jangan terlalu dipikirkan, ayo kita makan.”


...----------------...



...- Felix, Jane, Kaylee, Daniel -...