
.......
Daniel terus memandangi ponselnya yang tergeletak di atas meja sambil melipat tangan di depan dada. Ia kembali teringat dengan sederetan kata dari pesan yang tadi ia baca, yang ternyata berasal dari Kaylee yang minta ditemani ke mall untuk membelikan hadiah untuk Aiden. Alhasil, kini dirinya berada di sebuah toko perlengkapan bayi di salah satu mall di kawasan Jakarta Selatan.
Kaylee yang sedang asik melihat-lihat di pojok pakaian bayi laki-laki menoleh ke arah Daniel, hendak meminta pendapatnya. Namun Kaylee mengurungkan niatnya saat melihat Daniel yang sedang duduk di bangku tamu, tampak termenung menatap ponselnya. Pemuda itu sudah duduk di sana sejak mereka masuk ke toko baju ini sepuluh menit yang lalu.
Sambil memasang tampang cemberut, Kaylee akhirnya berinisiatif untuk menghampiri Daniel. “Kakak kenapa? Sedang menunggu pesan dari seseorang? Atau kecewa karena yang mengirim pesan mengajak kakak keluar adalah aku, bukannya orang yang kakak tunggu?” tanya Kaylee, menyadarkan Daniel dari pikirannya yang berkecamuk.
Daniel menengadah dan buru-buru menggelengkan kepalanya, ia segera meraih ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku celananya.
“Tidak kok, aku bukan kecewa karena kamu yang mengirim pesan. Aku cuma sedang menunggu balasan pesan dari klien di kantor.” Ujar Daniel sambil beranjak dari bangku tamu. “Gimana? Sudah memilih barang apa yang ingin kamu belikan untuk Aiden?” tanya Daniel, berusaha mengalihkan perhatian Kaylee.
Pertanyaan Daniel itu lantas langsung disambut Kaylee dengan anggukan antusias. Gadis itu berlari kecil menuju tempat pakaian bayi laki-laki dan mengambil dua gantungan baju sekaligus. Daniel mengikuti di belakangnya.
“Coba kakak lihat ini. Menurut kakak lebih bagus yang mana?” tanya Kaylee seraya mengangkat satu setelan baju jumpsuit jeans di tangan kiri dan setelan kemeja yang dipadu celana pendek serta hiasan dasi kupu-kupu di tangan kanannya. Kedua baju bayi itu terlihat sangat lucu sehingga Kaylee kebingungan harus memilih yang mana.
Daniel menatap kedua pakaian tersebut dan menggaruk kepalanya. “Dua-duanya terlihat bagus,” ujarnya kemudian. Ekspresi Kaylee yang tadinya tersenyum lebar langsung berubah menjadi cemberut.
“Beli saja dua-duanya, yang satunya lagi biar aku saja yang bayar,” kata Daniel cepat, ia tidak mau sampai mendengar ocehan Kaylee. Ia tahu betul gadis ini pasti akan mulai mengomel kalau ia tidak cepat-cepat memberikan solusi.
Wajah Kaylee langsung berubah ceria. “Wah, yang benar? Kakak mau membayarkan yang satunya lagi?” Daniel mengangguk sambil tersenyum.
“Wah, kakak memang yang terbaik!” seru Kaylee senang. Saking senangnya tanpa sadar gadis itu maju dan memeluk Daniel. Daniel melebarkan matanya kaget, namun sedetik kemudian pemuda itu tersenyum sambil menepuk-nepuk puncak kepala Kaylee pelan.
...***...
Seena mengelus daun telinganya seraya menjauhkan ponselnya. Ia baru saja menelepon Jane untuk menanyakan kado mana yang lebih bagus untuk diberikan sebagai hadiah pernikahan kepada presdir Allure.
Namun tampaknya suasana hati bos sekaligus sahabatnya itu sedang tidak begitu bagus karena alih-alih mendapatkan tanggapan akan alternatif hadiah yang sudah ia pilihkan, yang diterimanya malah bentakan yang membuat telinganya sakit.
Seena memasukkan kembali ponsel ke dalam tas tangannya dan memutuskan untuk kembali mengelilingi seisi toko pecah bela yang sedang dimasukinya saat ini. Setelah beberapa saat, Seena akhirnya memutuskan untuk membelikan satu tea set berukiran bunga-bunga berwarna emas dan ungu sebagai hadiah yang akan diberikan kepada presdir Allure. Tidak alasan khusus kenapa ia memilih hadiah tersebut, dirinya hanya menyukai desainnya saja, tampak mewah dan berkelas, sepertinya cocok untuk diberikan kepada presdir sekelas perusahaan Allure Corporation. Seena segera meminta petugas yang ada di sana untuk membungkusnya dengan sebagus mungkin.
Setelah selesai melakukan pembayaran di kasir, Seena keluar dari toko tersebut dan memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar sebelum kembali. Kebetulan dirinya juga tidak mempunyai agenda lain setelah ini. Ia berencana untuk makan es krim di salah satu kafe favoritnya di mall ini. Dirinya selalu menghabiskan lima hari dalam seminggu untuk berkutat dengan pekerjaan di kantor, jadi sekali-sekali ia juga butuh waktu untuk bersantai, menikmati es krim kesukaannya dan menjernihkan pikiran.
Apalagi akhir-akhir ini juga ada yang mengusik pikirannya. Apalagi kalau bukan pemuda bernama Daniel yang secara tiba-tiba mengungkapkan perasaan padanya. Saat itu Seena sangat terkejut sehingga ia tidak bisa mendengarkan penjelasan Daniel lebih lanjut dan memutuskan untuk pulang menggunakan taksi. Sampai saat ini pun Seena benar-benar bingung. Ia belum yakin kalau pemuda itu serius dengan perkataannya.
Seena menghela napas dan mengedarkan pandangannya untuk melihat toko-toko yang dilewatinya. Dan saat itulah, kala ia melewati toko peralatan bayi, matanya tanpa sengaja menangkap sosok pemuda yang seminggu belakangan ini menghantui pikirannya, yang terlihat tengah berbicara dengan seorang gadis.
Detik berikutnya, dilihatnya gadis itu memeluk Daniel sambil sedikit melompat-lompat girang. Belum sempat Seena mencerna situasi yang terjadi di hadapannya, dilihatnya Daniel mengangkat tangannya dan menepuk-nepuk puncak kepala gadis itu sambil tersenyum lebar. Sontak saja hati Seena mencelos. Ia tidak menyangka kalau Daniel ternyata memang hanya mempermainkannya. Maka tanpa berlama-lama memandangi pemandangan yang menyesakkan tersebut, Seena buru-buru berbalik hendak pergi saat tiba-tiba ia malah tidak sengaja menabrak seseorang.
Spontan saja Seena mundur sambil menundukkan kepalanya meminta maaf. “Aduh, maaf, aku–”
“Kak Seena?”
Mendengar namanya disebut, Seena pun menengadah dan mendapati sosok yang familiar sedang berdiri di hadapannya.
“Stefani?”
Ya, gadis jangkung yang ditabraknya barusan adalah Stefani, junior sekaligus teman dekatnya saat duduk di bangku SMA dulu. Stefani pun langsung memeluk Seena dengan senang. “Ya ampun, sudah lama sekali kita tidak bertemu, kak. Bagaimana kabar kakak?”
Seena membalas pelukan Stefani, tak kalah senang bertemu lagi dengan teman lamanya itu. “Kabarku baik. Bagaimana dengan kamu sendiri?”
“Aku juga baik kak.” Sahut Stefani sambil melepas pelukan dan memamerkan senyum lebarnya. “Kakak sama siapa di sini? Sendirian?” tanyanya kemudian yang dibalas Seena dengan senyum dan anggukan.
“Iya nih, aku sendirian. Kamu juga sendiri? Atau bersama Reno?” Seena balas bertanya sembari menanyakan apakah Stefani berada di sini bersama suaminya.
“Enggak, kak. Reno lagi sibuk di kantor, aku di sini bersama suami kak Stella.” Bersamaan dengan perkataan Stefani barusan, seorang pria jangkung menghampiri mereka.
Keduanya langsung menoleh, dan detik itu juga mata Seena membelalak saat melihat dengan jelas pria yang baru saja melontarkan protes pada Stefani. Ternyata kakak ipar yang menemani Stefani berbelanja adalah Paul. Tak jauh berbeda dengan reaksi Seena, Paul juga tampak terkejut dan membelalakkan matanya.
“Eh, Seena?” ucapnya spontan.
“Loh, kakak kenal dengan kak Seena?” tanya Stefani bingung, sementara Paul masih belum mengalihkan pandangannya dari Seena.
“Hm? Oh, iya, Seena ini adalah calon istri temanku.” Jawab Paul.
“Benarkah? Teman kakak yang mana?” tanya Stefani sambil menatap Paul dan Seena bergantian.
Tepat saat itu, Paul melihat Daniel yang berjalan keluar dari toko perlengkapan bayi yang ada tidak jauh dari mereka.
“Ah, itu dia. Oi, Daniel!” seru Paul sambil melambaikan tangannya. Paul yang mengira Seena datang bersama Daniel langsung menyapa pemuda itu. Tapi detik berikutnya, Paul langsung menyesali tindakannya saat melihat Kaylee yang berjalan sambil menenteng satu paper bag di belakang Daniel.
Refleks Paul melirik ke arah Seena, dan mendapati ekspresi Seena yang terlihat panik dan mendadak pucat. Kedatangan Stefani dan Paul membuatnya lupa dengan keberadaan Daniel untuk sesaat. Dan kini pemuda itu malah sudah berjalan ke arahnya karena seruan Paul.
Lekas Daniel menghampiri mereka dan detik itu juga ia langsung menyadari presensi Seena di sana. Baru saja Daniel akan buka suara, tiba-tiba Seena langsung berpamitan pada Stefani dan Paul, dan langsung melangkah pergi tanpa menunggu respon dari mereka.
“Seena, tunggu sebentar!” seru Daniel lantas langsung mengejarnya. Kaylee yang tidak mengerti apa pun tampak kaget ketika melihat Daniel berlari mengejar Seena. Setelah membungkuk sopan pada Stefani dan Paul, Kaylee langsung menyusul sambil meneriaki nama Daniel.
Stefani melongo melihat kejadian yang bergulir di hadapannya. Ia langsung menoleh ke arah Paul dan bertanya dengan bingung, “Ada apa ini, kak?”
Paul menggaruk pipinya dan tersenyum kikuk, “Sepertinya momennya tidak pas. Pemuda yang tadi adalah calon suami Seena, dan gadis yang keluar bersama pemuda itu barusan adalah mantan pacarnya.”
“Hah?” Stefani langsung mengalihkan pandangannya ke arah ketiga orang tersebut menghilang. “Pantas saja kak Seena kelihatan kesal begitu.”
Tungkai Daniel yang lebih jenjang dari Seena membuatnya berhasil meraih lengan gadis itu, membuat Seena mau tidak mau menghentikan langkahnya.
“Seena, ini tidak seperti yang kamu pikirkan.” Ujar Daniel dengan napas yang memburu.
Seena menoleh dan menatap Daniel dengan muak. “Memangnya apa yang aku pikirkan? Tidak ada yang aku pikirkan, aku pergi karena memang aku ada janji dan harus segera pulang.”
“Seena, aku–”
“Maaf, dari awal tidak ada hubungan apa pun di antara Anda dan saya selain masalah pekerjaan. Jadi, Anda tidak perlu menjelaskan apa pun.” Sela Seena cepat.
“Tapi, Seena–”
“Maka dari itu, berhentilah berkata kalau Anda serius ingin menjadikan saya calon istri Anda di saat Anda sudah menjalin hubungan dengan gadis lain.” Seena kembali menyela ucapan Daniel.
Seena menghempaskan tangan Daniel dan langsung berbalik, meninggalkan pemuda itu yang kini hanya terdiam di tempatnya.
...----------------...
...- Daniel -...
...- Seena -...
...- Kaylee - ...