Love, Maybe

Love, Maybe
Chapter 8



.......


.......


Keesokan paginya Aiden sudah diizinkan pulang oleh dokter karena demamnya sudah turun. Saat ini Jane dan Felix sedang bersiap-siap untuk turun ke lantai bawah. Jane melirik ke arah Felix yang sedang berdiri menunggunya di ambang pintu sambil menggendong Aiden di tangannya. Jane tahu benar kalau Felix pasti merasa sangat lelah, dapat ia lihat dengan jelas dari wajah suaminya itu.


“Felix, sini kunci mobilnya. Biar aku saja yang menyetir, kamu pasti lelah semalaman tidak tidur karena Aiden,” kata Jane sambil berjalan mendekat ke arah Felix. Felix mengangguk pelan dan langsung merogoh saku celananya untuk memberikan kunci mobil pada Jane. Setelah itu mereka langsung turun ke bawah dan kembali ke apartemen mereka.


Tidak ada yang berbicara di sepanjang perjalanan. Jane pun terlihat hanya fokus pada jalanan di depannya. Saat berhenti di lampu merah, barulah Jane menoleh pada dua sosok di sampingnya. Ternyata Felix tertidur dengan Aiden yang masih berada di pelukannya. Keduanya terlelap dengan wajah yang terlihat sangat damai. Tangan Jane terangkat dan ia menyentuh kening Aiden. Jane bersyukur dalam hati karena kini demam Aiden sudah benar-benar turun.


Matanya pun beralih pada Felix, Jane menghela napas lega melihat pria itu akhirnya dapat memejamkan mata setelah hampir semalaman terjaga karena Aiden. Tangan Jane kembali terangkat dan kini ia membenarkan rambut Felix yang hampir menutupi matanya. Lama ia menatap wajah Felix lekat-lekat. Hanya melihat wajah Felix saja Jane dapat merasakan bagaimana lelahnya pria ini. Tapi hal itu membuat Jane sadar, kalau Felix benar-benar menyayangi Aiden seperti anak kandungnya sendiri.


Jane pun tersenyum tipis dan membenarkan rambut Felix sekali lagi. “Terimakasih, Felix.”


...***...


“Felix.”


“Felix, bangun.” Jane mengguncang pelan bahu Felix. Mobilnya kini sudah terparkir rapi di parkiran apartemen. Sebenarnya Jane merasa tidak tega untuk membangunkan Felix karena pria itu terlihat tidur dengan amat pulas. Tapi akan lebih baik kalau mereka segera masuk ke apartemen, agar Felix bisa mengistirahatkan tubuhnya di kamar dengan nyaman.


Perlahan kedua kelopak mata Felix mulai terbuka. Felix mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, lalu dia menatap lurus pada Jane. “Ada apa?”


“Kita sudah sampai,” ujar Jane pelan. Tubuh pria itu menggeliat kecil, kemudian tangannya terlihat berusaha melepaskan kaitan sabuk pengaman. Dengan tanggap, Jane langsung membantu Felix melepaskan sabuk pengaman itu.


Felix mengucapkan terimakasih pelan dan baru saja akan membuka pintu mobil ketika Jane tiba-tiba bergegas keluar dan berlari mengintari mobil, berhenti di depan Felix yang baru saja akan keluar dari mobil.


“Sini, biar aku saja yang gendong Aiden,” kata Jane sambil mengambil Aiden dari gendongan Felix. “Tangan kamu pasti pegal.”


Felix hanya mengerjapkan matanya dan tidak mengatakan apa pun saat melihat sikap Jane ini. Rasanya otaknya belum bisa mencerna apa pun dengan baik dan kesadarannya seperti belum terkumpul sepenuhnya. Felix keluar dan menutup kembali pintu mobilnya. Sejenak kepalanya terasa pusing karena berdiri tiba-tiba. Felix menolehkan kepalanya dan melihat Jane yang sudah berjalan duluan menuju pintu masuk gedung apartemen. Sambil mengurut pelan tengkuknya, Felix pun mulai berjalan menyusul Jane.


Jane memperlambat langkahnya dan menoleh ke belakang. Dilihatnya Felix yang tengah berjalan ke arahnya dengan langkah yang pelan dan terlihat sedikit terhuyung. Sontak Jane langsung menepuk keningnya sendiri.


‘Ya ampun Jane, kamu bodoh sekali. Bagaimana bisa kamu ninggalin dia sendirian,’ omel Jane pada dirinya sendiri. Sembari menggendong Aiden, Jane berbalik dan berlari kecil ke arah Felix.


“Felix, kamu nggak apa-apa?” tanya Jane saat ia melihat Felix yang tengah mengurut-urut lehernya.


Felix menatap Jane sekilas lalu dia tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja.”


Jane mengerutkan keningnya. Pasalnya pria di hadapannya ini benar-benar terlihat pucat. Akhirnya dengan sebelah tangannya yang terbebas Jane menggandeng tangan Felix dan menariknya pelan.


“Ayo cepat kita masuk.” Mereka pun segera naik menuju apartemen mereka.


Sesampainya di apartemen, Jane menarik tangan Felix menuju ke sofa. Ia menyuruh Felix untuk duduk lalu bergegas menuju lantai dua untuk meletakkan Aiden di dalam box bayi di kamarnya. Setelah memastikan Aiden aman, Jane kembali ke lantai satu dan segera ke dapur untuk mengambilkan air minum untuk Felix.


“Ini, minum dulu,” Jane mengulurkan segelas air putih kepada Felix. Felix menerima gelas itu dan langsung meneguknya hingga habis. Jane mendudukkan dirinya di samping Felix di sofa.


Jane menoleh pada Felix, ia menatap Felix lama dan kemudian bertanya, “Kamu mau tidur? Sebaiknya kamu beristirahat di kamar saja.”


Felix menggeleng pelan. “Tidak apa-apa, aku mau duduk di sini saja dulu.”


Jane menganggukkan kepalanya pelan dan tidak bertanya lagi. Mereka hanya diam beberapa saat sampai Jane teringat sesuatu. “Ah iya, tadi aku lihat Aiden sudah mulai berkeringat. Apa itu artinya kita sudah bisa memandikannya? Yah, dengan air hangat tentunya.”


Felix terlihat mengangguk pelan. “Iya, aku rasa kita sudah boleh memandikannya.”


“Kalau begitu aku akan memanaskan air dulu,” sahut Jane sambil berdiri dari sofa dan langsung berjingkat menuju dapur untuk memanaskan air.


Tinggal lah Felix yang tetap duduk sambil menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Senyum yang tadinya terpatri diwajahnya kini menyurut. Tangannya kembali menyentuh tengkuknya, kepalanya masih terasa sedikit berdenyut meski sudah tidak sesakit tadi. Felix menghela napas pelan, dia tidak ingin menimbulkan kekhawatiran pada Jane, dan setidaknya sekarang dia bisa beristirahat sebentar.


“Aku sudah merebus airnya,” terdengar suara Jane mendekat. Sejurus dengan kedatangan Jane, Felix langsung menarik kembali tangannya yang sedang mengurut-urut pelan tengkuknya. Dia menoleh pada Jane yang kini sedang mendudukkan kembali dirinya di sampingnya.


“Tinggal tunggu airnya mendidih saja,” lanjut Jane sambil tersenyum. Felix membalas senyum Jane dan sedikit mengangguk.


“Oh iya, Felix...” Jane meminringkan badannya menghadap ke arah Felix. Felix menolehkan kepalanya dan melemparkan tatapan bertanya pada Jane. “Soal baby sit–”


Jane tidak melanjutkan kata-katanya. Ia terdiam dan wajahnya menoleh ke arah tangga menuju lantai atas. Felix mengerutkan keningnya dan ikut menoleh ke arah tangga. Sayup-sayup terdengar suara seperti tangisan. Felix tampaknya tidak terlalu fokus sehingga dia kembali menatap Jane masih dengan kerutan di keningnya, merasa bingung. Beda halnya dengan Jane, ia sontak menegakkan punggungnya dan langsung berdiri.


“Aku rasa Aiden menangis,” kata Jane sebelum akhirnya bergegas naik ke lantai dua.


Mata Felix mengikuti arah langkah Jane. Dirinya terlalu lelah sehingga sama sekali tidak berniat untuk menyusul Jane. Felix membiarkan rasa khawatirnya tersimpan dan kembali memejamkan matanya. Dia meregangkan tangannya yang masih terasa pegal dan merasakan denyutan di kepalanya yang kembali terasa sakit. Felix menarik napas dan membuangnya perlahan, mencoba merilekskan otot-otot dan pikirannya, ditemani oleh suara dari arah dapur yang terdengar seperti peluit.


Tunggu, suara seperti peluit? Felix langsung membuka matanya. Hampir saja dia lupa kalau Jane sedang merebus air. Tentu saja suara peluit yang menyambangi pendengarannya barusan adalah pertanda kalau air yang direbus oleh Jane di dalam teko stainless telah mendidih. Sedikit terpaksa, Felix bangkit dari sofa dan melangkah perlahan menuju dapur.


Pandangan pertama yang terlihat oleh matanya adalah kepulan uap yang keluar dari lubang kecil pada mulut teko stainless, yang juga merupakan penyebab keluarnya bunyi nyaring seperti peluit yang kini terdengar jelas memenuhi ruangan dapur. Tangan kiri Felix terulur untuk mematikan kompor listrik di hadapannya. Setelah kompor dimatikan, tangan satunya langsung mengangkat teko yang terisi penuh dengan air dan terasa lumayan berat di tangannya yang masih pegal. Begitu teko itu sukes terangkat dari permukaan kompor listrik, Felix merasa tangannya berdenyut dan mulai bergetar. Dia bergegas berjalan menuju meja batu yang ada tidak jauh dari kompor dan berusaha menahan rasa sakit di tangannya, namun gagal.


Prangg!!!


“Arrghhhh..!”


Teko stainless itu meluncur bebas dari pegangan Felix dan beradu dengan lantai. Seluruh air panas yang ada di dalam teko itu tumpah, bahkan dengan sukses mengenai kedua tangan Felix. Pria itu langsung mundur dan mengaduh kesakitan.


Jane yang mendengar suara gaduh dari lantai bawah langsung menggendong Aiden dan bergegas turun sambil terus memanggil nama Felix. Begitu tiba di dapur, matanya langsung membelalak kaget.


“Felix!”


...----------------...