Love, Maybe

Love, Maybe
Chapter 18



.......


Jane mengerjapkan matanya. Sedikit demi sedikit, sepasang kelopak mata berhiaskan bulu mata yang lentik itu terbuka. Jane kembali mengerjapkan matanya demi menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam pupilnya, hingga akhirnya wajah Felix yang berada tepat di hadapannya terbias sempurna di iris karamelnya.


Kelopak mata pemuda itu terpejam dan bibirnya sedikit terbuka, tampak tertidur dengan damai sehingga Jane mau tak mau tersenyum melihatnya. Jane baru saja hendak merenggangkan tangannya saat ia rasakan lengan polos Felix bersentuhan dengan kulit punggungnya. Lengan Felix dengan sempurna melingkari tubuh Jane, menarik Jane ke dalam dekapan pemuda itu dan membuat ia tidak bisa bergerak kemana-mana.


Apa Felix memeluknya semalaman? Jane kemudian tersenyum, ia baru ingat kalau dirinya sekarang sudah menjadi milik Felix seutuhnya.


Mau bagaimana lagi, karena tak bisa berbuat apa-apa, Jane memanfaatkan momen ini untuk memandangi wajah Felix lebih lama. Ini memang bukan kali pertama Jane dapat melihat wajah tertidur Felix dari dekat. Jane ingat dirinya pernah secara tidak sengaja tidur bersandar di dada bidang Felix sehingga wajah pria itu sangat dekat dengannya saat ia terbangun. Karena kejadian itu terjadi saat awal-awal mereka baru mulai berbagi kamar dan ranjang, Jane ingat ia merasa sangat malu dan juga panik karena dirinya terlambat untuk menghadiri rapat penting pagi itu, sehingga ia buru-buru bangun dan tidak sempat memperhatikan wajah Felix lebih lama.


Sekarang jika dilihat-lihat, Felix memiliki wajah yang sangat tampan dengan pipi yang sedikit tembam. Wajahnya saat tertidur seperti ini benar-benar terlihat seperti seorang bayi. Jane jadi gemas ingin mencubit pipinya.


‘Lama-lama dilihat, wajahnya jadi sangat mirip dengan Aiden,’ batin Jane seraya terkekeh pelan. Jane menghirup oksigen banyak-banyak, mencium aroma maskulin Felix yang begitu khas, yang mungkin akan menjadi favoritnya mulai detik ini. Tangan Jane yang semula bersedekap di depan dada kini terulur ke belakang tubuh pemuda tersebut, memeluknya balik. Untuk beberapa saat Jane menutup matanya dan menikmati momen ini, hingga akhirnya ia membuka matanya kembali.


“Sebenarnya aku ingin berada di posisi ini lebih lama, tapi aku rasa aku harus bangun dan menyiapkan sarapan pagi,” ujar Jane pelan kepada Felix yang masih tertidur. Kelihatannya Felix lelah sekali sehingga Jane berpikir untuk menggantikannya menyiapkan sarapan pagi ini.


Perlahan Jane pun beringsut keluar dari pelukan Felix dan turun dari ranjang. Ia mengamit pakaiannya yang tersampir di kaki ranjang, lalu menarik selimut untuk menutupi punggung putih Felix. Ia tersenyum tipis, kemudian berjingkat menuju kamar mandi.


...***...


“Hmm... bagusnya masak apa ya?” ujar Jane pelan sambil membuka pintu kulkas.


Ia mengetuk-ngetukkan telunjuknya di dagu seraya menatap bahan makanan yang ada di dalam kulkas. Sepertinya mereka tidak punya terlalu banyak bahan makanan karena sejak kemarin mereka makan di luar dan memang belum berbelanja lagi. Tapi justru Jane merasa senang karena dirinya jadi tidak perlu bingung harus memasak apa.


Jane baru saja mengeluarkan beberapa butir telur serta sekotak susu dan meletakkannya di atas pantry ketika ia mendengar suara langkah kaki menuruni tangga. Refleks Jane menoleh dan mendapati Felix yang mengenakan kaos berwarna biru dongker serta celana training, sedang menuruni tangga dan berjalan ke arahnya.


“Kamu sudah bangun,” sambut Jane dengan senyum lebar.


Felix balas tersenyum kemudian dia menguap. “Kamu sedang apa di sini?”


“Apalagi kalau bukan memasak. Kamu mau meledekku karena jarang ada di dapur, ya?” tanggap Jane dengan bibir mengerucut lucu dan berbalik membelakangi Felix dengan gestur kesal yang dimata Felix terlihat sangat imut, membuat Felix kembali tersenyum melihatnya.


Felix meraih apron yang tergantung di dinding dan melangkah mendekat ke arah Jane. “Setidaknya kamu harus menggunakan apron, Jane.” Felix berbisik seraya memasangkan apron pada tubuh mungil istrinya.


Jane sejenak tersentak dan pipinya terasa hangat. Aneh memang, pagi tadi saat Jane terbangun di dalam pelukan Felix, ia tidak merasa malu atau apa pun. Kenapa sekarang Jane justru merasa jantungnya berdetak kencang dan aliran darahnya naik ke pipinya?


Felix menyudahi kegiatannya memasangkan apron pada Jane. Namun, alih-alih melangkah mundur, kini kedua lengan Felix yang melingkar di pinggang ramping gadis itu. Felix sedikit merendahkan tubuhnya untuk menyandarkan dagunya di pundak istrinya. Sejenak tubuh Jane terasa kaku, tapi sedetik kemudian Jane tertawa kecil. Ia tidak tahu kalau Felix ternyata bisa semanja itu padanya.


“Kenapa kamu tertawa?” tanya Felix heran karena ia dapat merasakan bahu Jane yang naik turun karena tertawa.


‘Tidak apa-apa, aku hanya merasa aneh saja.” jawab Jane pelan.


“Aneh? Kenapa? Bukannya ini yang biasa dilakukan pasangan suami istri?”


Jane tersenyum. “Iya, kamu benar. Pada pagi hari sang istri akan membuat sarapan, lalu sang suami datang dan memeluknya dari belakang, lalu...”


Jane berbalik sehingga Felix melonggarkan sedikit pelukannya pada pinggang Jane. Gadis itu menggigit bibir bawahnya sejenak sebelum tersenyum sambil menatap Felix. “Memberinya morning kiss?” ucap Jane sambil memajukan bibirnya sedikit, mengisyaratkan.


Felix tertawa pelan melihat Jane. Dia memajukan wajahnya dan mengecup singkat bibir Jane, menciptakan suara ‘cup’ yang kentara.


Jane menutupi wajahnya dan tertawa. Dia merasa malu karena ini pertama kalinya mereka bertingkah seperti ini. Sedangkan Felix hanya tersenyum sambil mengacak pelan rambut Jane.


“Kalau begitu, selagi kamu menyiapkan sarapan, aku akan naik dan mandi dulu.” Ujar Felix. Jane mengangguk dengan senyum mengembang.


Ting... Tong...


Baik Felix maupun Jane sama-sama menoleh ke arah pintu luar begitu mereka mendengar suara bel berbunyi.


“Siapa yang bertamu sepagi ini?” tanya Jane yang lantas dijawab Felix dengan menaikkan bahunya.


“Biar aku saja yang membuka pintu,” ujar Felix sambil melepaskan pegangannya pada pinggang Jane. Felix berjalan ke arah pintu dan meninggalkan Jane yang masih berdiri di dapur.


“Kenapa rasanya seperti deja vu, ya?” gumam Jane pelan. Benaknya melayang pada kejadian serupa yang pernah terjadi beberapa waktu lalu. Terakhir kali yang datang adalah papa dan mamanya, dan saat itu Felix dalam keadaan tidak mengenakan kaos sehingga Papa dan Mama sedikit salah sangka waktu itu. Seandainya kalau yang datang sekarang adalah mereka dan Felix juga dalam keadaan serupa, Papa dan Mama patut berbahagia karena apa yang mereka kira kali ini memang benar-benar terjadi. Tapi syukurnya saat ini Felix mengenakan pakaian lengkap.


‘Eh, tapi itu bukan mereka beneran kan?’ batin Jane. Atau jangan-jangan Papa dan Mama datang sepagi ini untuk memulangkan Aiden?


Di sisi lain, Felix segera membuka pintu luar tanpa terlebih dahulu mengecek siapa yang datang lewat intercom. Dan saat pintu terbuka lebar, seorang gadis cantik tampak berdiri di hadapannya. Sedetik kemudian, gadis cantik tersebut langsung berhambur memeluknya.


“Kak Felix!”


Felix menunduk untuk memastikan kembali wajah gadis yang kini sedang memeluknya erat itu. “Kaylee?!” Ujar Felix kaget.


“Kak, aku sangat merindukanmu,” gadis bernama Kaylee itu semakin mengeratkan pelukannya. Belum tuntas rasa kaget Felix, tiba-tiba muncul gadis lain yang tidak kalah cantik, berdiri tepat di belakang Kaylee dengan senyum manis terpatri di bibirnya.


“Felix, siapa yang dat–” Jane berjalan keluar dari dapur menuju pintu depan, dan ucapannya tidak bisa dilanjutkannya kala dirinya melihat seorang gadis sedang memeluk erat suaminya. Jane terlihat kaget, ia menatap Felix dengan mata yang melebar dan mulut yang sedikit menganga. Felix sontak mendorong Kaylee menjauh dari tubuhnya.


“J-Jane, jangan salah paham. Dia ini adik perempuanku,” ujar Felix panik.


Kaylee yang baru saja di dorong oleh Felix mengaduh sambil mengernyitkan keningnya. Namun begitu matanya menangkap sosok Jane yang sedang berdiri menatap dirinya, Kaylee langsung tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya pelan. “Hai, kakak ipar.”


Belum reda rasa terkejut Jane, dari arah luar muncul gadis lainnya, yang mengintip ke dalam dan langsung tersenyum begitu tatapannya bertemu dengan Jane. “Hai. Kamu pasti Jane. Perkenalkan, aku Helen, kakak perempuan Felix.”


Jane langsung melemparkan tatapan bertanya pada Felix. Ia melihat suaminya itu sedang mengurut pelipisnya. Felix kemudian mengangguk pelan pada Jane, memberikan isyarat bahwa kedua gadis yang muncul sepagi ini di apartemen mereka memang adalah kakak dan adik perempuannya.


...----------------...



...- Kaylee & Helen -...