
.......
Felix melajukan BMW hitamnya dengan kecepatan tinggi. Setelah menemukan Jane yang terkapar di lantai di kamar Aiden sambil memegangi perutnya, Felix langsung menggendongnya ke mobil dan membawa Jane ke rumah sakit.
Perhatian Felix terbagi dua antara fokus dengan kemudinya dan pada Jane yang terus mengeluh kepalanya pusing di sepanjang perjalanan.
“Tahan sedikit, Jane. Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit,” ujar Felix, berusaha terdengar tidak panik.
“Ugh, aku mual...”
Refleks Felix meletakkan sebelah tangannya di kening gadis itu, mengecek kalau-kalau Jane demam. Tapi suhu tubuh Jane terasa normal-normal saja.
Untuk sesaat Felix pun bisa bernapas lega. Ia kemudian mengamit ponselnya, menekan tombol dial pada salah satu kontak dan mengenakan airpods di sebelah telinganya. Sambil menunggu panggilannya tersambung, Felix mulai berpikir. Bukannya ia ingin asal menganalisa, tapi dengan semua ciri-ciri yang ditunjukkan Jane belakangan ini, seperti tiba-tiba ingin makan sesuatu, mood yang naik turun, dan sekarang ia pusing serta mual. Apa jangan-jangan....
‘Dia hamil?’ batin Felix. Cepat-cepat Felix mengusir pikiran itu. Lebih baik sekarang ia fokus supaya bisa segera sampai di rumah sakit, dan agar dokter bisa memeriksa Jane serta memberitahukan hasil yang lebih akurat.
“Halo, kak?”
Lamunan Felix buyar begitu ia mendengar sahutan dari airpods-nya.
“Halo, Steven. Bisa aku minta tolong? Tolong jaga Aiden sebentar, aku sedang membawa Jane ke rumah sakit.” Ujar Felix cepat.
“Rumah sakit? Kak Jane kenapa?” Steven turun dari kasur dan berjalan ke arah pintu kamarnya.
“Aku juga tidak tahu, Stev. Tiba-tiba saja dia mengeluh kepalanya sakit dan perutnya mual. Akan aku kabari lagi nanti, tolong jaga Aiden ya.”
Felix langsung memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari Steven. Steven memandangi ponselnya dengan bingung. Beberapa detik kemudian ia mengedikkan bahu dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Ia keluar dari kamar dan segera memintal langkah menuju pintu apartemennya.
Keluar dari apartemen miliknya, Steven hanya perlu berjalan beberapa langkah menuju pintu apartemen lain yang berada tepat di sebelahnya. Dengan mudah ia menekan password dan langsung masuk tanpa sungkan layaknya rumah sendiri. Sambil berlalu menuju tangga, Steven memandangi foto pernikahan yang terpasang di dinding, menampilkan seorang gadis cantik bergaun putih bersama seorang pria tampan yang mengenakan tuxedo hitam.
Naik ke lantai dua, Steven langsung menemukan dua pintu kamar yang saling berhadapan. Tanpa ragu ia memutar kenop pintu yang ada di sebelah kanannya, lantas masuk dan menghampiri box bayi yang berada di sudut ruangan.
“Hai, Aiden,” sapa Steven sambil melongok ke dalam box bayi tersebut, menatap Aiden yang masih terbangun dan mengedip-ngedipkan mata bulatnya. Detik berikutnya, bayi laki-laki tersebut tertawa menyambut sepasang tangan besar Steven yang mengangkatnya.
Yup, apartemen yang dimasuki oleh Steven adalah apartemen milik Felix dan Jane. Selama tiga bulan terakhir ini, Steven tinggal tepat di sebelah apartemen mereka. Steven pun menggendong Aiden menuruni tangga dan keluar dari apartemen milik Felix dan Jane tersebut, lalu membawa Aiden menuju apartemennya sendiri.
Begitu masuk, pemandangan figur-figur bintang yang tergantung di langit-langit ruang tamulah yang menyambut Aiden. Steven segera meletakkan Aiden di dalam box bayi yang berada di dekat sofa cokelatnya. Ia kemudian menyalakan mainan berbandul yang ada di atas tubuh Aiden agar bayi itu tenang. Ia lalu berjalan menuju pantry dan membuatkan sebotol susu untuk Aiden.
Setelah selesai, Steven mematikan mainan berbandul dan menggendong Aiden keluar dari box bayi. Ia mendudukkan diri di sofa dan meraih remot TV untuk mengubah channel televisinya ke siaran khusus anak-anak. Steven kemudian meminumkan susu yang dibuatnya pada Aiden yang ada di dalam gendongannya.
“Aiden, malam ini kamu bersama kakak, ya. Mama dan papamu mungkin lagi sibuk mengurus adik bayi baru.” Ujar Steven pelan sambil tersenyum.
...***...
Setelah sampai di rumah sakit, Jane pun langsung ditangani oleh dokter sementara Felix harus menunggu di luar ruangan. Tak berselang lama, seorang perawat keluar dan memberitahu Felix kalau gejala yang ditunjukkan oleh Jane adalah gejala alergi. Keadaan Jane tidak serius namun ia tetap harus dirawat.
Sontak saja Felix menghela napas lega dan langsung terduduk karena kakinya sudah lemas bejalan mondar-mandir karena cemas sejak tadi.
“Anda tidak apa-apa, Tuan?” tanya perawat wanita tersebut dengan raut wajah khawatir.
Felix mengibaskan sebelah tangannya di depan wajah dan berusaha untuk tersenyum. “Tidak apa, aku baik-baik saja.”
“T-tapi... wajah anda memerah.”
“Hah?” Felix menatap perawat itu bingung. Ia kemudian menunduk dan mengamati kedua tangannya. Saat itu juga Felix baru sadar kalau bercak-bercak kemerahan juga telah muncul di sana, yang ia yakini juga sudah menjalar sampai leher dan wajahnya karena perawat yang ada di hadapannya itu terus memandanginya dengan cemas.
Akhirnya Felix pun harus ikutan dirawat karena alergi kepiting yang dimilikinya.
...***...
Felix membuka matanya perlahan, dan pemandangan pertama yang dilihatnya adalah langit-langit rumah sakit yang putih bersih. Felix mengedipkan matanya beberapa kali, mencoba untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Setelah beberapa saat, ia menolehkan kepalanya ke kanan dan menemukan Jane yang duduk di sampingnya. Kekhawatiran terpancar jelas dari sepasang mata besar yang menatap Felix lekat-lekat itu. Jane meringis memandangi bercak kemerahan yang masih memenuhi wajah Felix.
“Felix, kamu baik-baik saja?” ujar Jane seraya menyentuh pipi Felix yang terasa panas.
Alih-alih menjawab, Felix malah berusaha bangkit dan menegakkan tubuhnya. Ia memegang tangan Jane di pipinya seraya berujar, “Kamu tidak apa-apa, Jane?”
“Kenapa malah balik bertanya?” Jane melepaskan tangannya dengan kesal. Ia merasa kesal karena Felix yang dengan bodoh malah mengkhawatirkannya dibanding tubuhnya sendiri.
Felix baru menyadari kalau dirinya juga memakai pakaian pasien yang sama dengan Jane saat gadis itu tiba-tiba berdiri dan membalikkan badannya untuk pergi. Dengan cepat Felix menarik tangan Jane, agak kuat hingga gadis itu jatuh terduduk di atas tempat tidur tepat di sisinya.
Ia pikir Jane akan melawan dan kembali bangkit untuk pergi, namun yang terjadi selanjutnya adalah sepasang lengan kurus Jane yang bergerak melingkari lehernya, memeluknya. Felix pun membalas pelukan Jane dengan erat.
“Maafkan aku. Gara-gara aku kamu jadi ikutan makan kepiting padahal kamu punya alergi,” lirih Jane di telinganya dan mulai terisak.
Felix mengusap rambut Jane pelan. “Tidak, Jane. Tadi perawat memberitahuku kalau kamu sakit karena alergi. Maafkan aku karena memasukkan bahan yang membuatmu alergi. Tapi sebenarnya kamu alergi apa? Kamu tidak alergi kepiting juga kan?”
“Ayam?” tanya Felix bingung. “Tapi, bukannya sebelum-sebelumnya juga kita pernah makan ayam bersama?”
“Hmm, sebenarnya bukan alergi sih. Tapi terkadang aku memang suka begini kalau makan ayam. Aku juga tidak tahu kenapa.” Jawab Jane.
“Astaga,” Felix mulai meremas rambut hitamnya.
“Kenapa?” kini gantian Jane yang menatap Felix bingung.
Pemuda itu meringis pelan. “Aku memasukkan ayam di supnya.”
“Hah? Siapa pula yang memasukkan ayam di sup kepiting?” respon Jane sambil mengerutkan keningnya.
“Ada kok, agar lebih harum dan lebih enak. Lagi pula kamu tidak sadar ada ayam di dalam supnya?” tanya Felix.
“Tidak. Itu karena... aku masih marah padamu jadi aku tidak terlalu memperhatikan apa yang ada di dalam makananku,” bela Jane dengan bibir cemberut.
Felix memicingkan matanya. “Dasar ceroboh.”
Jane baru saja akan membalas ucapan Felix namun suaminya itu malah menarik tubuh mungilnya dan menenggelamkannya di dalam dada bidangnya.
“Tadi aku takut sekali terjadi apa-apa denganmu,” bisik Felix di telinga Jane.
Gadis itupun mulai membalas pelukannya. “Maafkan aku,” dan Jane pun mulai terisak kembali.
Felix melepas pelukannya dan memandangi paras cantik Jane dengan mata sembabnya. Lantas tangannya bergerak menghapus jejak air mata di pipi istrinya itu sebelum kemudian membawa Jane kembali ke pelukannya.
Felix bersyukur dan merasa lega, akhirnya mereka berbaikan. Dan tanpa sadar Felix tertawa.
“Kenapa kamu tertawa?” tanya Jane bingung.
“Sebenarnya... saat di perjalan ke sini tadi, aku sempat berpikir kalau kamu hamil,” jawab Felix masih tertawa.
“Hah? M-mana mungkin aku hamil....”
Sontak saja Felix mengerutkan keningnya. “Memangnya kenapa? Kamu tidak ingin punya anak?”
“A-anak?” Jane menatap Felix lurus.
Felix mengangguk. “Iya. Anakmu dan aku. Anak kita sendiri.”
Mendengar ucapan Felix barusan, Jane jadi termenung. ‘Anak kita sendiri... itu artinya aku mengandung anak Felix di rahimku sendiri,’ batin Jane.
Melihat Jane yang hanya terdiam, Felix mengira kalau ia sudah salah bicara dan buru-buru meralatnya. “M-maaf, bukan maksudku tidak suka dengan kehadiran Aiden, tapi–”
“Aku mengerti kok,” Jane menunduk dan memilin-milin ujung baju rumah sakit yang dikenakannya. “Aku juga mau mengandung anakku sendiri,” lanjut Jane dengan suara yang sangat kecil.
“Hm? Kamu bilang apa?” tanya Felix.
Jane rasa wajahnya sudah semerah kepiting rebus saat ini.
“Aku bilang aku juga ingin–” Jane mengangkat wajahnya sambil berbicara namun ucapannya tidak selesai karena Felix sudah lebih dulu membungkam Jane dengan satu kecupan.
“Kalau begitu, kenapa tadi kamu bilang tidak mungkin?” tanya Felix kemudian.
Dan kini giliran Jane yang tertawa. “Ya, itu karena kita baru mulai melakukannya seminggu terakhir ini, tuan muda Felix. Jadi mana mungkin aku hamil secepat itu.”
Felix meng-oh-kan jawaban dari Jane, baru paham kalau istrinya tidak bisa serta-merta hamil sekarang begitu mereka melakukannya kemarin. Jane pun tidak tahan untuk tidak mencubit pipi Felix gemas karena ekspresi polos yang ada di wajah suaminya ini sangat lucu.
Lantas Jane bergerak bangkit dari kasur, hendak kembali ke tempat tidurnya sendiri yang terletak bersebelahan dengan Felix.
“Uhm, Jane,” panggil Felix. “Sepertinya sekarang aku tahu alasan lain di balik semua gejala yang kamu tunjukkan.”
“Hah? Apa maksud–”
Jane yang menoleh karena dipanggil pun terkejut mendapati bercak kemerahan yang ada di seprai tempat tidur Felix. Ia pun buru-buru mengecek bagian belakang tubuhnya. Detik berikutnya gadis itu langsung kabur ke kamar mandi sambil mengomel tidak jelas, meninggalkan Felix yang tertawa melihat tingkahnya itu.
...----------------...
...- Steven -...