Love, Maybe

Love, Maybe
Chapter 11



Jane mengayunkan tubuh Aiden pelan dalam rengkuhannya. Ia tidak henti-hentinya menatap wajah mungil yang tengah terlelap di pelukannya itu. Setelah menghabiskan satu botol susu tadi, bibir Aiden menguap beberapa kali, lantas kelopak matanya mulai tertutup secara perlahan. Tipikal bayi, setelah minum susu lalu tidur. Padahal Jane ingin bermain lebih lama lagi dengan putra mungilnya itu, mengingat seharian ini ia sibuk mengurus rumah. Tapi Jane tidak sepenuhnya kecewa, karena menatap paras Aiden dengan kelopak mata terpejam, yang tampak damai dengan benak yang mungkin telah melanglang buana di alam mimpi, sudah cukup menghasilkan energi tersendiri bagi Jane.


Ya, Aiden adalah sumber energi bagi Jane. Ia ingat saat pertama kali melihat Aiden, sepersekian detik setelah mata Jane menangkap presensi bayi mungil itu, hatinya telah berikrar kalau Aiden adalah alasannya untuk hidup sekarang.


Langkah Jane terajut menuju tepian ranjang, tempat di mana Felix terduduk dan memperhatikannya sedari tadi. Malam ini mereka akan kembali berbagi kamar. Karena Jane lupa untuk menjemur kasur Aiden yang kotor. Lagipula, tidak mungkin Jane membiarkan Felix tidur di sofa. Apalagi pemuda itu sedang sakit sekarang. Dan itu pun karenanya.


Jane menyerahkan bayi mungil itu dan langsung disambut oleh Felix. Meski wajah pria itu menunduk sekarang, mata Jane masih bisa menangkap senyum simpul di paras Felix. Bagaimana Felix tak tahan untuk tidak tersenyum ketika matanya dimanjakan dengan pemandangan wajah Aiden yang sedang tertidur. Karena sungguh pemandangan itu menentramkan hatinya. Rasanya seperti menghabiskan waktu bersama lantunan musik yang tercipta dari tarian jemarinya di atas tuts. Rasanya seperti aroma kopi menyapa indera penciumannya kala dia meracik latte kesukaannya. Seperti itulah efek pemandangan di hadapannya terhadap seorang Felix Setiawan.


Kendati begitu, ada yang membuatnya lebih candu lagi. Yaitu kala Felix menundukkan kepalanya dan mengecup pelan ubun-ubun Aiden. Lantas aroma khas seorang bayi yang menguar dari tubuh Aiden, menjadi obat penenang baginya.


Ternyata Jane memberikan Aiden pada Felix bukan tanpa alasan. Setelah tersenyum kecil melihat Felix dan Aiden, Jane menghampiri meja riasnya dan mengambil sebuah botol kecil. Kemudian tungkainya kembali merajut langkah ke arah Felix. Mendudukkan diri di samping Felix, Jane mengamit sebelah tangan Felix yang terlilit perban. Felix tidak merasa terganggu karena dirinya bisa menggendong Aiden dengan sebelah tangannya. Lantas Jane kembali membuka perban Felix. Sejenak gadis itu meringis melihat luka Felix. Lukanya terlihat lebih jelas dari sebelumnya, dan tampak agak mengerikan. Jane dapat membayangkan bagaimana sakitnya luka itu.


Tak berlama, Jane membuka botol kecil yang tak lain adalah salep yang tadi diambilnya di meja rias. Lantas dengan telaten, Jane mulai mengoleskannya di atas luka Felix. Jane tidak memungkiri kalau tangan seorang Felix Setiawan lumayan indah dan Jane akan merasa berdosa jika menyebabkan sebuah bekas luka bersarang di sana. Setelah selesai mengoleskan salep, Jane meniupinya sejenak, lalu kembali membalutnya dengan perban yang baru. Lalu hal serupa juga Jane lakukan pada tangan Felix yang satunya. Semua itu dilakukannya dengan teliti serta hati-hati.


Setelah semuanya selesai, Jane kembali mengamit Aiden dari rengkuhan Felix, ia hendak memindahkan Aiden ke tengah ranjang. Aksi itu tentu saja menuai tatapan tak suka dari Felix. Namun pria itu tidak melayangkan protes apa-apa. Jane langsung naik ke ranjang setelah meletakkan Aiden. Ia menarik selimut sebagian dan berujar pada Felix. “Besok aku ada meeting, jadi aku akan berangkat ke kantor pagi-pagi.”


Felix mengangguk tanda mengerti. Kendati demikian, Jane kembali berujar dengan ragu. “Uhm... apa tidak masalah kalau aku meninggalkan kalian berdua saja?”


Lagi-lagi Felix mengangguk. Meski begitu, raut kekhawatiran tak juga menyurut dari paras Jane. Gadis itu patut khawatir mengingat dirinya meninggalkan Aiden bersama Felix yang notabenenya tidak bisa menggunakan kedua tangannya yang sedang terluka. Mengurus Aiden sendirian saat sehat saja sudah merepotkan, apalagi kalau sedang terluka?


“Aku janji pasti akan pulang lebih cepat.”


Felix menoleh dan tersenyum pada Jane. “Tidak apa-apa, Jane. Kamu tidak perlu buru-buru pulang kalau memang banyak pekerjaan di kantor. Aku dan Aiden akan baik-baik saja.”


Jane merutuk dalam hati. Ia kesal pada Papa yang tetap memaksa dirinya untuk ikut meeting walaupun sudah mengetahui keadaan Felix.


Menarik selimut sebatas dagu, Jane menoleh ke arah Felix. Meski ini bukan pertama kalinya, tetap saja ada rasa canggung ketika Jane hendak mengucapkannya. Ditambah malam ini mereka kembali berbagi kamar, bahkan ranjang yang sama. Meski terpisahkan oleh Aiden yang berada di tengah-tengah. Jane belum terbiasa dengan situasi ini. Akhirnya dengan lirih dan sedikit gugup, Jane mengatakannya. “S-selamat malam...”


“Selamat malam, Jane.” sahutan tak kalah pelan dari Felix mengakhiri percakapan malam itu. Sepersekian detik berikutnya hening yang mengambil alih. Lantap suara napas yang berubah teratur terdengar, menjadi pertanda bahwa salah satu di antara mereka telah tertidur.


Memasok oksigen banyak-banyak ke dalam paru-paru, Felix dimanjakan aroma peach yang seakan memenuhi ruangan. Tak lama kemudian kelopak matanya terbuka. Ya, Jane lah yang telah tertidur. Kelelahan, gadis itu tertidur dalam hitungan kurang dari sepuluh menit. Lalu Felix? Bukannya tidak bisa tidur, namun pria itu memang berniat menunggu Jane tidur terlebih dahulu. Karena kegiatan Felix selanjutnya adalah bangkit dari posisi tidurnya dan memindahkan tubuh mungil Aiden ke sisi kanannya.


Tangannya yang terluka membuat Felix perlu usaha lebih kendati berat tubuh Aiden yang bahkan tidak mencapai empat kilogram. Tak lupa Felix mengelilingi tubuh Aiden dengan guling. Lantas tubuh pria itu beringsut ke tengah ranjang. Felix hampir saja terlonjak saat tubuh Jane menggeliat kecil. Kemudian tubuh Jane bergerak ke tengah. Timing yang tepat karena Felix sudah memindahkan Aiden. Namun Felix tidak mempertimbangkan saat kembali merebahkan diri, kalau jaraknya dan Jane menjadi lebih dekat dibanding tadi. Bahkan kini aroma peach tercium jelas dari surai cokelat Jane yang terurai.


Alih-alih menjauhkan diri, Felix menolehkan kepalanya ke arah Jane. Tentu saja hal itu membuat matanya dapat menelusuri wajah mulus Jane dengan leluasa. Gadis itu tampak damai sekaligus cantik saat terlelap. Anehnya, hal itu membuat Felix tak mau berpaling seinci pun. Seakan kesempatan ini sayang untuk disia-siakan. Karena pada kesehariannya, Felix tak mungkin dapat berada sedekat ini dengan Jane. Tiba-tiba mata Felix menangkap bulu mata yang jatuh di bawah mata Jane. Awalnya enggan, akhirnya dengan hati-hati Felix mengulurkan tangannya dan mengambil bulu mata itu. Dapat Felix rasakan jelas tekstur lembut yang menyentuh ujung jari telunjuknya. Lantas pria itu kembali bersedekap. Menjauhkan tubuhnya sedikit, Felix memeluk Aiden di sisinya lebih erat. Dia hanya dapat berharap dirinya bisa tidur malam ini.


...***...


Matahari telah memposisikan dirinya di ufuk timur. Menerpa sebuah bangunan apartemen dengan cahaya kekuningannya. Menyisip masuk ke celah-celah jendela kamar utama dari salah satu apartemen yang ada di lantai tujuh. Membuat suhu kamar menjadi hangat. Seorang gadis menggeliat di balik selimut tebalnya. Jane, nama gadis itu, mengeratkan pelukannya pada sosok di sebelahnya, mencoba mencari posisi ternyaman untuk terlelap lebih lama lagi walaupun ponselnya telah bergetar di atas meja nakas. Kepalanya bergerak-gerak di atas dada bidang seseorang yang menjadi bantalnya semalaman. Jane dapat merasakan jelas dagu seseorang yang menyentuh ujung hidungnya. Ada pula telapak tangan besar yang bersajang di ubun-ubun gadis itu. Menghirup aroma maskulin dalam-dalam, Jane membuka kelopak matanya perlahan, hendak menyudahi kegiatan tidurnya pagi ini. Kembali menyambut hari baru dengan kegiatan baru, atau lebih jelasnya memulai hari dengan meeting menyebalkan yang menurut papanya penting.


Meeting?


Sontak kelopak mata Jane terbuka sempurna. Astaga, bagaimana bisa gadis itu lupa kalau dirinya akan menghadiri meeting pagi ini. Namun, belum tuntas rasa terkejut Jane, gadis itu perlu beberapa keping kesadaran untuk menyadari pada dada siapa kepalanya tersandar saat ini. Menelan ludah, Jane mengangkat wajahnya perlahan, diiringi detak jantungnya yang berubah abnormal.


Ya Tuhan.


Jane menelan ludahnya sekali lagi, ketika matanya menangkap wajah Felix yang tengah terlelap, tepat di atas kepalanya. Jarak mereka terlampau dekat sampai Jane dapat merasakan deru napas Felix yang kini menerpa wajahnya. Jane tidak tahu apa warna wajahnya saat ini. Karena sungguh, perasaan malu kini lebih mendominasi dibanding perasaan panik karena dirinya akan terlambat meeting.


Dengan amat sangat perlahan dan berharap pemuda itu tidak akan membuka matanya dan menangkap basah dirinya, Jane menjauhkan tubuhnya. Jane segera menyingkirkan selimut tebal yang membalut tubuhnya. Untungnya bibir Jane lebih berkompromi dengan tidak menjerit. Karena, sunggug dirinya tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Maka sebelum Felix benar-benar membuka matanya, Jane bangkit dari ranjang, mengambil ponselnya di meja nakas, dan langsung melesat ke dalam kamar mandi.


Setelah memastikan Jane benar-benar sudah masuk ke dalam kamar mandi, Felix membuka matanya. Sejenak Felix meringis merasakan dadanya yang terasa kebas karena harus menopang kepala Jane semalaman. Iya, Felix sadar betul saat gadis itu perlahan beringsut mendekatinya, lantas berujung memeluk pinggangnya serta bersadar pada dadanya. Bahkan Felix tidak lupa dengan hembusan napas Jane di tengkuknya.


...***...


Seperti biasa, setelah menyantap sarapan, dengan sedikit kikuk tentunya, Jane berangkat menuju kantor. Jane sempat merasa berat kala Aiden berceloteh ‘ah’ saat dirinya berpamitan pada bayi mungil itu. Ibu mana yang tahan untuk meninggalkan bayi lucunya? Perkembangan Aiden belakangan ini membuat Jane menyesali keputusannya untuk bekerja. Rasanya ia ingin berlama-lama di rumah dan menonton pertumbuhan Aiden. Ia baru saja tahu Aiden sudah bisa mengoceh hari ini. Tapi mungkin juga itu salah satu kabar baik untuknya, karena kini Jane bisa menelepon Felix guna mendengar Aiden berceloteh jika sedang penat di kantor.


Felix tengah duduk santai menonton tayangan berita pagi bersama Aiden yang berada di dalam kereta bayi. Meski harus mengorbankan waktunya, serta rungunya untuk menerima omelan Papa jika terlambat, Jane menyempatkan diri untuk memandikan Aiden. Jadi Felix hanya perlu menjaga Aiden di dalam kereta bayi sampai Jane pulang nanti. Sebenarnya Felix sangat ingin menggendong bayi mungilnya itu. Lihat saja, mata jernih Aiden tampak berbinar saat turut menonton apa yang ada di TV seperti papanya. Ditambah gerakan memainkan kedua tangan mungilnya. Sungguh menggemaskan.


Felix merendahkan kepalanya dan berujar, “Aiden...”


Sejenak mata jernih itu berkedip. Kemudian bibirnya terbuka sedikit dan terdengar, “Ah,” seolah menyahuti panggilan papanya. Sebuah kurva terukir di paras tampan Felix. Satu lagi perkembangan Aiden, dia sudah bisa menanggapi.


Sayang, momen berharga itu harus terinterupsi ketika suara bel terdengar. Alih-alih bangkit, Felix berujar kembali kepada Aiden.


“Aiden, ada yang datang. Kira-kira siapa, ya? Apakah itu Mama?”


“Ah!”


“Anak pintar.” Felix tersenyum lagi mendengar suara yang berasa dari mulut Aiden. Tangannya mengusap pelan kening bayi itu sebelum akhirnya beranjak ke arah pintu depan. Baru saja Felix membuka pintu, sudah terdengar seruan.


“Kak Felix!”


Namun ucapan pemuda tersebut langsung terhenti ketika matanya menangkap pemandangan tangan Felix yang terlilit perban.


“Ada apa dengan tanganmu, Kak?”


...***...


Jane menghempaskan tubuhnya pada sebuah sofa krem yang ada di ruang kerjanya. Meeting selama satu jam cukup untuk menguras tenaga serta pikirannya. Iya, pikiran. Bagaimana Jane bisa fokus kalau benaknya selalu melayang ke rumah.


Bagaimana kabar Aiden? Bagaimana kabar Felix? Apa Felix bisa mengurus Aiden sendirian? Apakah ada yang terjadi pada Aiden dan Felix?


Pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah sedetik pun meninggalkan benaknya. Rasanya Jane belum tenang kalau belum melihatnya sendiri alias pulang ke rumah. Detik berikutnya pikiran Jane yang berkecamuk harus terinterupsi dengan kehadiran seorang gadis di dalam ruang kerjanya. Sejenak gadis itu membungkuk hormat, lalu berjalan mendekatinya.


“Seena, aku tidak ada pertemuan lagi sampai sore, kan?” tanya Jane begitu gadis yang tak lain adalah sekretarisnya itu mendekat.


Gadis bernama Seena itu mengecek ponselnya singkat, kemudian mengangguk. “Iya, tidak ada pertemuan lagi untuk hari ini.”


“Baiklah kalau begitu. Kalau Papa datang mencariku, bilang padanya aku sudah pulang.”


“Baik,” jawab Seena sambil mengangguk sopan.


...***...


Gerakan langkah seribu yang Jane lakukan semenjak keluar dari lift, terhenti di depan pintu yang tak lain adalah pintu apartemennya. Sejenak gadis itu menarik napas dalam-dalam untuk menghentikan napasnya yang terengah. Setelah itu Jane menekan tombol sandi dengan tidak sabar. Pintu terbuka dan langsung terdengar suara Jane yang berseru.


“Felix!”


Aneh memang, mengingat gadis itu biasanya memanggil nama Aiden setiap pulang kerja. Jane melepas heels hitamnya buru-buru, lalu melemparnya asal. Tujuannya saat ini hanya ruang keluarga.


“Feli–”


Seruannya terhenti. Ekspresi khawatir Jane berubah menjadi ekspresi terkejut saat matanya mendapati seorang pemuda tengah bermain bersama Aiden di ruang keluarga.


“Kamu siapa?” hanya pertanyaan itulah yang dapat meluncur dari bibir Jane. Baik Jane maupun pemuda itu sama-sama melempar tatapan bertanya. Sampai akhirnya sosok Felix muncul dari balik pantry.


“Oh, Jane, kamu sudah pulang.”


Sejurus dengan ucapan Felix, pemuda itu bangkit dan langsung membungkuk hormat.


“Salam kenal, Kak Jane.”


Jane masih tak mengerti. Felix mendekati Jane dan berujar lagi, “Jane, kenalkan, ini Steven. Dia teman kerjaku di kafe.”


Akhirnya Jane mengerti, awalnya ia merasa heran karena pemuda bernama Steven itu tampak jauh lebih muda dibanding Felix. Jane pun kemudian membungkuk sopan.


“Ah, iya, salam kenal, Steven.”


Pemuda itu membungkuk sekali lagi dan tersenyum. Bahkan Aiden yang berada di gendongannya turut tersenyum.


“Oh iya, Jane, karena kamu sudah pulang, kamu bisa menjaga Aiden sebentar kan? Sepertinya di kafe ada sedikit masalah, jadi aku dan Steven harus ke sana sebentar,” ujar Felix seraya mengisyaratkan Steven untuk memberikan Aiden pada Jane.


“Tapi tanganmu kan masih sakit...” sahut Jane dengan nada suara khawatir.


“Tidak apa-apa. Nggak banyak yang harus aku lakukan di sana, dan tidak akan lama juga.” Jawab Felix sambil tersenyum.


“Baiklah kalau begitu,” akhirnya Jane mengangguk pelan.


Felix beralih pada Aiden yang berada di dalam gendongan Jane. “Aiden, Papa pergi dulu sebentar, ya.”


Lagi-lagi terdengar ocehan ‘ah’ sebagai tanggapan dari Aiden. Felix tersenyum dan menyentuh pelan pundak Jane sebelum melangkah menuju pintu depan.


“Sampai jumpa lagi, Aiden,” ujar Steven pada Aiden, kemudian ia berpamitan pada Jane dan mengikuti Felix meninggalkan apartemen.


...----------------...



...- Steven - ...