Love, Maybe

Love, Maybe
Chapter 28



.......


Daniel memarkirkan sedan silver-nya di pelataran sebuah kafe bernuansa serba putih. Kafe ini adalah tempat langganan pemuda itu menyantap makan siangnya di akhir pekan.


Segera setelah Daniel memesan spaghetti bolognaise dan secangkir greentea latte panas sebagai menu makan siangnya hari ini, pemuda itu mendudukkan dirinya di salah satu bangku kafe yang terbuat kayu dan dipasang melekat pada dinding kafe, serta dilapisi dengan bantal tipis berbahan beludru yang terletak tepat di sisi jendela kaca besar di sudut ruangan, tempat yang merupakan favoritnya setiap kali datang ke kafe ini.



Setelah sibuk dengan ponselnya untuk beberapa saat, Daniel meletakkan ponsel tersebut dan melemparkan pandangan ke luar jendela. Netra kelamnya menangkap pemandangan para pejalan kaki yang berlalu-lalang serta beberapa kendaraan-kendaraan yang sesekali terlihat melintas. Sementara itu telinganya dimanjakan dengan lantunan musik pop dari lagu ‘If the Word Was Ending’ milik JP Saxe dan Julia Michael.


Sambil mendengarkan lantunan musik yang lembut tersebut, benak Daniel pun melayang pada malam di mana dia terakhir kali bertemu dengan Seena, gadis yang seminggu belakangan ini memenuhi pikirannya.


.......


.......


.......


- flasback -


Malam itu setelah pesta ulang tahun Felix berakhir di kafe, semua yang ada di sana saling berpamitan dan satu per satu meninggalkan kafe tersebut.


Daniel dan Seena termasuk yang belakangan pergi dari sana. Keduanya berjalan beriringan keluar dari kafe menuju parkiran.


Mereka diliputi oleh keheningan yang terasa begitu canggung. Daniel merasa was-was dan sesekali dirinya melirik pada gadis cantik yang berjalan di sebelahnya itu. Memang tadi gadis itu tersenyum lebar saat mengucapkan salam perpisahan dengan teman-temannya, tapi Daniel menyadari dan sangat ingat bagaimana gadis itu lebih banyak diam membisu di sepanjang pesta ulang tahun Felix tadi. Dia benar-benar penasaran dengan apa yang ada di pikiran gadis itu saat ini.


Daniel sadar kalau dirinya salah dan sudah bertindak sangat gegabah dengan mnegucapkan kebohongan seperti itu di hadapan teman-temannya. Tapi saat itu Daniel tidak tahu harus mengatakan apa lagi mengingat di sana ada Jane, yang tak lain adalah atasan Seena. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya, perkataan yang sejujurnya membuat dirinya sendiri juga sangat kaget, apalagi gadis yang ada di sampingnya ini.


Yang terlintas di benak Daniel saat itu adalah apa yang akan dipikirkan oleh istri Felix jika dia melihat Seena yang notabene-nya tidak ada hubungan spesial apa pun dengan Daniel tapi malah bisa muncul di acara khusus seperti ini?


“Hmm, Daniel,” suara Seena mengalihkan perhatian Daniel, membuyarkan lamunannya serta membuat pemuda itu menghentikan langkahnya, hal yang sama juga dilakukan oleh gadis itu.


Seena yang sedari tadi hanya berjalan dalam diam dengan kepala yang sedikit menunduk kini menengadah, membuat matanya bertemu dengan mata Daniel yang jernih. Dapat Daniel lihat dengan jelas, ada rasa keingintahuan dan kebingungan yang sangat besar dari sorot mata gadis itu.


“Saya ingin bertanya, apa maksud ucapan Anda tadi?” pertanyaan itu akhirnya terlontar dari bibir Seena.


Wajah Daniel menegang dan dia menangkupkan sebagian wajahnya dengan telapak tangan kanannya. Seharusnya dia sudah memperkirakan pertanyaan ini akan dilontarkan oleh Seena. Seharusnya dia juga sudah menyusun kata-kata untuk menjelaskan pada gadis ini apa maksud dari ucapannya tadi. Dan, oh, apa gadis ini baru saja kembali berbicara secara formal padanya?


“Apa maksud Anda mengatakan kalau saya adalah calon istri Anda? Anda tahu kan, kalau saya bukan–”


“Aku serius,” potong Daniel cepat, kemudian dia menghela napas pelan. Sesaat, Daniel menatap Seena dengan tatapan yang terlihat sendu, hingga kemudian dia memalingkan wajahnya.


Berbanding terbalik dengan Daniel, Seena kini malah membelalakkan matanya kaget. “Apa?”


Daniel kembali menatap Seena lekat-lekat, berharap gadis itu dapat melihat kesungguhan di dalam tatapan dan juga kata-katanya barusan. “Aku serius dengan apa yang aku ucapkan tadi. Aku ingin kamu menjadi istriku, Seena.”


Seena sontak mengernyitkan dahinya dan menatap Daniel tidak percaya. “Bagaimana bisa? Kita hanya pernah bertemu beberapa kali untuk urusan pekerjaan. Kita juga tidak terlalu dekat satu sama lain. Kedekatan di antara kita hanyalah hubungan kerja, kita hanyalah rekan kerja yang sedang menjalani hubungan kerja sama.”


Kernyitan di dahi Seena terlihat semakin jelas, dan gadis itu perlahan melangkah mundur. “Maaf, Daniel. Bagi saya Anda hanyalah utusan dari presdir Allure Corporation. Dan tidak seharusnya saya mempunyai hubungan yang lebih dengan Anda.”


“Kenapa? Kenapa begitu? Presdir mengutusku karena dia percaya padaku, dan aku yakin dia tidak akan pernah sekalipun melarangku untuk menjalin hubungan yang spesial dengan seseorang dari perusahaan yang bekerja sama dengannya. Aku yakin atasanmu juga seperti itu,” ujar Daniel sambil maju selangkah mendekat pada Seena.


“Maaf. Saya harap Anda dapat membedakan masalah pribadi dan pekerjaan,” balas Seena. Tidak tahan lagi dengan percakapan ini, Seena berbalik dan melangkah cepat pergi dari area kafe. Daniel lekas mengejarnya.


“Seena, tunggu. Tidak bisakah kamu mendengarkanku sebagai Daniel, bukan sebagai perwakilan Allure yang berbicara pada asisten wakil presdir Chandra Corporation?” ujar Daniel pada punggung Seena yang semakin menjauh.


“Maaf, tidak ada lagi yang ingin saya dengar. Saya harus pergi.” Ujar Seena sambil membuka pintu taksi yang memang mangkal di jalanan di depan kafe. Seena bergegas masuk dan hendak menutup pintu, namun Daniel bergerak lebih cepat menahan pintu tersebut dan menjulurkan badannya, membuat Seena tak bisa lagi mengelak.


“Kalau begitu, aku harap kamu mau memikirkan ucapanku ini baik-baik. Aku benar-benar serius mengatakannya, Seena.” Ujar Daniel pelan. Tidak ada jawaban apa pun dari Seena, gadis itu hanya menatapi Daniel dengan kerutan yang masih saja terlihat di dahinya.


Daniel perlahan meluruskan badannya dan menampilkan seulas senyum tipis di wajahnya. “Selamat malam, Seena. Hati-hati di jalan, dan sampai jumpa lagi.”


Setelah berkata demikian, Daniel pun menutup pintu taksi tersebut.


- end of flashback -


.......


.......


.......


“Permisi, pesanan anda, Tuan.”


Lamunan Daniel terusik suara pelayan yang datang membawakan pesanannya. Daniel menengadah menatap pelayan tersebut sambil tersenyum ramah, membiarkan pelayan laki-laki tersebut menata makan siangnya di atas meja.


Barulah setelah pelayan itu pergi, Daniel mengusak rambut hitamnnya dengan frustrasi.


Untuk kesekian kalinya, dirinya merasa risau. Dia benar-benar khawatir, sudah seminggu ini Seena sama sekali belum mengontaknya, dan dirinya juga tidak berani untuk menghubungi gadis itu lebih dulu, takut-takut hal itu malah akan membuat gadis itu semakin kesal. Daniel merasa khawatir apakah setelah ini Seena masih mau menemuinya lagi atau tidak.


Daniel menghela napas entah untuk yang keberapa kalinya hari ini. Dengan malas, Daniel meraih garpu yang ada di hadapannya. Dia menyuapkan satu suapan besar spaghetti ke dalam mulutnya, dan mulai mengunyah makanannya itu sambil melemparkan kembali tatapan keluar jendela.


Drrtt... Drrtt...


Ponselnya bergetar di atas meja. Pemuda itu meletakkan garpunya dan lekas mengamit benda persegi panjang tersebut. Serta merta matanya membulat membaca pesan yang baru saja dibukanya.


‘Apa kita bisa bertemu sebentar hari ini?’


...----------------...



...- Daniel & Seena - ...