
.......
Felix tengah sibuk membersihkan sayur dan buah-buahan di dapur ketika Jane masuk ke apartemen.
Tidak ada suara cemprengnya memanggil nama Aiden ataupun Felix seperti biasanya. Gadis itu berjalan gontai menuju dapur dengan kepala menunduk. Lantas ia berdiri beberapa langkah di belakang Felix, kemudian menengadah, menatap punggung tegap suaminya itu dengan tatapan sendu.
Felix sama sekali belum menyadari kehadiran Jane hingga akhirnya dia merasakan sepasang tangan melingkari pinggangnya. Tanpa menoleh pun Felix dapat mengenali siapa pemilik sepasang tangan mungil yang memeluknya itu. Sejenak Felix tersenyum tipis, tidak menyangka Jane akan mengendap-endap masuk dan memeluknya dari belakang seperti ini.
“Jane, aku tahu kamu pasti sangat lapar setelah seharian sibuk di kantor, tapi suamimu ini tidak bisa dimakan,” goda Felix.
Namun senyum di wajah Felix langsung luntur begitu dia mendengar Jane bersuara, “Tadi aku bertemu dengan kak Helen.”
Ekspresi kaget langsung muncul di wajah Felix. “Kamu bertemu kak Helen? Dimana?” tanya Felix.
Jane mengabaikan petanyaan Felix barusan dan kembali berbicara, “Felix... kenapa kamu tidak pernah menceritakannya padaku?”
Sontak saja Felix mengernyitkan keningnya. Apa maksud Jane? Apa kakak perempuannya itu menceritakan sesuatu pada Jane? Tiba-tiba kerutan di kening Felix hilang, digantikan dengan matanya yang kini tampak sedikit melebar. Apa jangan-jangan Jane sudah mengetahui kalau.......
Refleks Felix melepas tautan tangan Jane pada pinggangnya dan berbalik. Diraihnya pundak Jane dan dia melihat gadis itu menatapnya dengan ekspresi sendu.
“T-tunggu, Jane... aku bisa jelaskan–”
“Kenapa kamu tidak pernah menceritakan padaku kalau orangtuamu sudah meninggal?” sela Jane.
Seketika Felix terdiam. Dia langsung mengatupkan kembali mulutnya yang terbuka.
“Jadi itu sebabnya orangtuamu tidak hadir di pernikahan kita? Kenapa kamu tidak menceritakannya padaku?” kini air mata mulai menggenang di pelupuk mata Jane.
Felix tidak tahu harus berbuat apa karena sekarang Jane mulai menangis. Gadis itu menangkupkan kedua tangannya menutupi wajah dan menunduk. Bahunya naik turun seirama napasnya yang mulai tersendat. Dan naluri seorang suami membuat Felix menarik Jane ke dalam pelukannya.
“Sudah Jane, kamu tidak perlu menangis,” ujar Felix lembut sambil mengusap rambut Jane pelan. Dipeluknya Jane dengan erat, seakan hal itu dapat membuat istrinya itu berhenti terisak.
Sejak mereka menikah, ini adalah pertama kalinya Felix melihat Jane menangis, dan ternyata dia tidak menyukainya. Felix tidak suka melihat istrinya menangis.
“Pasti berat,” Jane menarik napas dalam demi mengilangkan rasa sesaknya. Lantas ia mengangkat wajahnya, menatap Felix dengan mata sembabnya. “Pasti rasanya berat hidup tanpa orangtua dan terpisah jauh dari kakak dan adikmu. Selama ini... pasti kamu sangat kesepian.”
Jari kurus Jane bergerak mengusap air matanya sendiri. Sekarang ia mengerti alasan Felix menikah dengannya. Pemuda ini membutuhkan pendamping hidup agar dia tidak lagi sendirian.
“Pasti rasanya berat sekali berdiri sendirian di upacara pernikahamu,” ujar Jane lagi.
Sebelah tangan Felix terangkat dan dia mengusap pelan pipi Jane. Sebuah kurva tercipta di parasnya, dan detik berikutnya Felix memajukan wajahnya dan mengecup kening Jane lembut. “Tidak, Jane. Karena saat itu aku tidak sendirian, aku berdiri bersamamu. Dan sekarang juga ada Aiden, kalian adalah keluarga baruku.”
Jane mantap mata Felix dalam, dan ia mendapati ketulusan terpancar dari sana. Jane tersenyum dan memeluk Felix balik. Ia merasa lega karena kini mereka bisa saling memeluk di saat terpuruk seperti ini, serta saling memberi perhatian di saat salah satu dari mereka membutuhkan kekuatan.
“Maaf karena aku tidak membuka hatiku lebih cepat,” ujar Jane lirih di dalam dekapan Felix.
“Tidak masalah buatku. Karena aku pasti akan menunggu sampai kapanpun,” Felix melonggarkan pelukan mereka dan merendahkan tubuhnya hingga sejajar dengan Jane. “Nah, sekarang jangan menangis lagi, nanti Aiden akan cemburu karena kamu menyainginya,” canda Felix yang lantas membuat Jane tertawa dan meninju pelan bahu Felix.
“Ngomong-ngomong, apa itu yang kamu bawa? Kamu pergi berbelanja?” tanya Felix sambil menunjuk kedua paper bag yang diberikan oleh Helen tadi.
“Ah, tidak, aku tidak pergi berbelanja. Itu dari kak Helen. Dia bilang yang satu hadiah ulang tahun untukmu dan satunya lagi hadiah pernikahan untukku,” jawab Jane sambil berjalan ke arah paper bag tersebut. Jane mengangkat kedua paper bag tersebut dan melangkah ke ruang keluarga, diikuti oleh Felix di belakangnya.
Jane mendudukkan dirinya di sofa dan memberikan isyarat pada Felix untuk duduk di sampingnya. Jane menyodorkan paper bag yang berwarna hitam pada Felix. “Tadinya aku bilang ke kak Helen kalau aku akan memberikan kado ini padamu tepat di hari ulang tahunmu, tapi karena kamu sudah melihatnya ya sudah aku berikan sekarang saja.”
Felix menerima paper bag tersebut dan tanpa basa-basi dia langsung mengeluarkan sebuah kotak besar berwarna hitam dari dalam sana. Ketika dibuka, didapatinya sebuah kemeja satin berwarna peach di dalamnya. Jane dari tadi ikut memperhatikan menjulurkan tangannya dan menyentuh kemeja tersebut.
“Wah, bagus sekali. Bahannya juga sangat lembut.” Komentar Jane.
Mendengar pujian dari istrinya, Felix pun penasaran dan menarik kemeja itu keluar dari kotaknya. Dia kemudian berdiri dan menyejajarkannya ke tubuhnya seraya bertanya, “Apa cocok?”
“Cocok. Ukurannya pas sekali,” jawab Jane sambil menganggukkan kepalanya dan tersenyum lebar. Felix ikut tersenyum dan kembali duduk.
“Bagaimana dengan kadomu?” tanya Felix sambil meletakkan kembali kemeja itu ke kotaknya dan melirik pada paper bag yang satunya lagi.
Tanpa bicara, Jane langsung meraih paper bag nya dan mengeluarkan isinya yang ternyata tidak jauh berbeda dari milik Felix sebelumnya, yaitu sebuah kotak besar berwarna pink muda. Dengan antusias, Jane membuka kotak itu dan mendapati sebuah kain perpaduan satin dan beludru berwarna peach semi pink.
Diam-diam Felix melirik pada Jane yang menatap kadonya dengan mata berbinar. Felix langsung sadar, inilah alasan kenapa Helen menanyakan apa warna kesukaan Jane tempo hari. Dan Felix bersyukur karena jawabannya ternyata tidak salah.
“Apakah itu gaun?” tanya Felix.
“Sepertinya begitu,” jawab Jane tanpa mengalihkan pandangannya.
“Coba sejajarkan di tubuhmu, biar aku lihat cocok atau tidak,” saran Felix agar Jane melakukan seperti yang dia lakukan sebelumnya. Jane pun mengangguk, ia mengamit gaun tersebut dari kotak, berdiri dan menyejajarkannya di depan tubuhnya.
Sejenak mata Felix bergerak dari atas ke bawah, memindai penampilan Jane. Namun sedetik kemudian ekspresinya berubah. Jane yang menyadari reaksi Felix itu pun sontak bertanya. “Kenapa? Tidak cocok ya?”
Felix menggaruk tengkuknya sambil tersenyum kikuk, dia kemudian menggeleng pelan, “Enggak, kok. Gaunnya bagus, dan sangat cocok untukmu. Tapi.....” Felix menggantung ucapannya.
“Tapi?” Jane membeo.
“Tapi... tolong jangan gunakan gaun itu keluar.” Lanjut Felix, kali ini tangannya tampak memijit pelan pelipisnya.
“Kenapa?” tanya Jane dengan ekspresi bingung dan penasaran tercetak jelas di wajahnya.
“Karena itu adalah gaun malam, Jane.”
...----------------...
...- Jane & Felix -...