Love, Maybe

Love, Maybe
Chapter 12



.......


.......


Sebuah cafe berukuran sedang yang terletak di pinggiran Jakarta Selatan tampak cukup ramai sore ini.


Nuansa kayu berwarna cokelat tua dipadu dengan warna krem yang mendominasi interior cafe menyapa mata Felix begitu pemuda jangkung ini mendorong pintu cafe dan berjalan masuk. Seorang pegawai laki-laki yang berdiri di balik meja kasir hampir saja menyambutnya dengan sapaan khas sebelum akhirnya mengenali Felix sebagai salah satu karyawan yang bekerja di sana. Ya, cafe ini tak lain adalah cafe di mana Felix bekerja sebagai seorang barista.


Pemuda penjaga kasir itu lantas tersenyum ke arahnya, yang dibalas Felix dengan senyuman ramah. Felix kemudianmengedarkan pandangan menyapu seluruh kafe, mencari sesuatu. Sedikit kesulitan karena banyaknya pengunjung, tatapan Felix akhirnya jatuh pada tiga orang pemuda yang duduk di meja paling sudut, di dekat jendela. Lantas Felix langsung merajut langkah menuju meja tersebut, diikuti oleh Steven yang memang datang bersamanya.


“Oh, guys, itu Felix datang.”


Belum lagi Felix tiba di meja tersebut, Henry yang merupakan salah satu dari tiga pemuda itu sudah terlebih dahulu menyadari kedatangannya dan langsung melambai padanya. Dua pemuda lainnya yang memang duduk membelakangi Felix langsung berbalik menghadap ke arahnya, menyambut Felix dengan senyum lebar.


“Hei, apa kabar?” salah satu pemuda yang mengenakan blazer hitam bermotif garis-gasir di atas kemeja putih dan dasi abu-abu, serta rambutnya yang disisir rapi, langsung bangkit dari duduknya dan memeluk Felix singkat.


“Kabarku baik. Bagaimana kabarmu, Paul?” Felix bertanya balik seraya mendudukkan diri di sebelah laki-laki yang dipanggilnya Paul itu.


“Aku juga baik. Rasanya sudah lama sekali aku tidak melihatmu,” ujar Paul.


“Iya benar. Akhir-akhir ini aku jarang melihatmu di cafe,” imbuh pemuda yang satunya lagi. Felix melihat ke arah pemuda tersebut. Pemuda itu tampak mengenakan kemeja berwarna krem, sebuah ID card bertuliskan ‘dr. Mark Anderson’ tergeletak di hadapannya diatas meja. Baru saja Felix ingin merespon perkataan Mark, tiba-tiba Henry langsung berbicara.


“Felix, ada apa dengan tanganmu?” Henry yang sedari tadi memperhatikan tangan Felix bertanya sambil menunjuk ke arah tangannya yang dibalut perban. Pertanyaan Henry barusan sontak membuat Mark dan Paul melihat ke arah tangannya. Felix sendiri pun langsung menunduk menatap perban yang melilit tangannya itu, dia kemudian tersenyum tipis.


“Tanganku tersiram air panas.”


“Kok bisa?” tanya Paul kaget.


“Hati-hati dong,” sahut Mark sambil menatap Felix khawatir.


Alih-alih merasa kaget dan khawatir seperti kedua temannya itu, Henry malah menanggapinya dengan santai. “Ya, tidak heran sih, mengingat sekarang Felix adalah bapak rumah tangga yang baik.”


“Bukan begitu, ini karena aku–”


“Sebentar, sebentar. Apa kamu bilang? Bapak rumah tangga?” berbanding terbalik dengan Henry dan Steven, Mark langsung bertanya dengan raut kaget yang tercetak jelas di wajahnya, ekspresi yang sama pun tergambar jelas di wajah Paul. Tidak heran keduanya mereka kaget, karena mereka berdua ini belum tahu kalau Felix sudah menikah. Baru dua dari empat temannya ini yang sudah mengetahuinya. Henry yang diberitahu sendiri oleh Felix, dan Steven yang baru menyambangi rumahnya dan bertemu langsung dengan istri dan anaknya.


“Oh, aku lupa kalau kalian belum diberitahu,” ujar Henry sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak gatal. Detik berikutnya, Henry langsung berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah Felix. Ia merangkul sahabatnya itu.


“Guys, teman kita Felix Setiawan, dua puluh enam tahun, sudah menikah dan istrinya sangat cantik,” Henry mengangkat jempol sebagai pelengkap deskripsi terakhirnya.


“Kamu sudah menikah?” tanya Paul tidak percaya.


“Malah sudah punya bayi juga. Bayi laki-laki, umur tiga bulan dan sangat lucu,” kata Steven santai sambil memakan kentang goreng yang tersaji di tengah-tengah meja.


“B-bayi?!” kali ini Mark yang bertanya. Mulutnya bakan menganga lebar, terlampau tidak percaya. Bagaimana dia tidak kaget. Dirinya sudah lama berteman dengan Felix, dan dia hampir tidak pernah melihat Felix bergaul atau menyentuh perempuan, tapi tiba-tiba sekarang malah sudah beristri dan memiliki bayi pula. Hebat benar Felix bisa menyembunyikan semua itu.


Felix melirik Henry dan Steven dengan tatapan kesal. Kalau bukan karena hujaman tatapan menuntut jawaban yang diarahkan oleh Paul dan Mark pada dirinya, mungkin Felix sudah berdiri dan menendang Henry dan Steven keluar dari cafe ini. Rasanya ia ingin menyumpal mulut besar mereka itu dengan secangkir espresso panas agar tidak terlalu banyak bicara.


Felix bukannya ingin merahasiakan pernikahannya dari Paul dan Mark, dirinya hanya belum sempat dan belum menemukan waktu yang pas untuk menceritakannya pada mereka. Dan sekarang Henry dan Steven main cerocos saja, Felix jadi bingung harus bagaimana menjelaskannya.


Felix akhinrya menghela napas pelan. “Iya, aku sudah menikah. Beberapa minggu yang lalu.”


“Wah, gila sih,” Paul langsung menyandarkan punggungnya pada kursi.


Felix menyesap latte yang baru saja diletakkan oleh seorang pelayan di hadapannya. “Aku juga tidak mengundang yang lainnya, bukan hanya kalian berdua saja. Pernikahannya mendadak.”


“Apakah married by accident?” celetuk Mark.


Felix hampir saja tersedak mendengar ucapan Mark. “B-bukan.”


“Lalu?” kini Paul yang bertanya. Yang lainnya juga ikutan merapatkan posisi dan menunggu Felix menjelaskan dengan sejelas-jelasnya perihal pernihakannya yang sangat tiba-tiba, karena sejujurnya tidak satu pun dari mereka tahu apa alasan Felix menikah begitu mendadak seperti ini.


“Kami dijodohkan. Pernikahannya mendadak, pestanya hanya digelar sederhana dan hanya mengundang keluarga dekat saja.” Jelas Felix akhirnya.


“Ohhh, pantas saja aku tidak tahu kalau kamu punya calon istri,” imbuh Paul.


“Iya benar, aku juga tidak merasa familiar dengan wajah istrimu. Padahal aku kan tahu semua mantan pacarmu,” ujar Henry.


“Kakak sudah bertemu secara langsung dengan istri kak Felix?” tanya Steven.


“Iya, sudah. Aku juga sudah mengobrol banyak dengannya.”


“Aku juga tadi melihatnya, tapi tidak mengobrol banyak. Dan kak Henry benar, istri kak Felix sangat cantik.”


“Benarkah?” mata Paul melebar. “Hei, aku juga ingin bertemu istrimu.”


“Tunggu sebentar,” ucapan Mark menengahi perdebatan sudah atau belum bertemu istri Felix itu. Wajah tampan pria itu tampak berpikir sejenak, dengan dahi yang berkerut tipis. “Kalau kamu baru menikah beberapa minggu lalu, dan pernikahan ini bukan married by accident, lalu kenapa kamu sudah memiliki bayi?”


“Wah, wah, obrolan apa yang sudah kulewatkan?”


Suara lain dari arah belakang menginterupsi atensi penghuni meja bernomor sepuluh tersebut. Kelima lelaki yang duduk melingkari meja itu serempak menoleh ke sumber suara, dan mendapati seorang pemuda yang tengah melepas jasnya sambil melempar senyum lebar.


“Hei, Daniel!”


“Wah, wah, tuan Daniel, kenapa baru datang jam segini?” Paul merangkul pemuda bernama Daniel itu persis seperti saat dia menyambut Felix tadi.


“Maaf, aku baru saja selesai meeting,” pemuda bermata monolid itu tersenyum sambil melonggarkan dasi hitam yang dikenakannya. Tatapan Daniel berpedar pada teman-temannya, dan matanya sedikit melebar saat bersibobok dengan Felix.


“Oh, hai, Felix,” kata Daniel sambil tersenyum tipis, yang dibalas Felix dengan anggukan pelan dan senyum tipis yang sama.


“Hei,” Daniel mengalihkan pandangannya pada Mark yang baru saja memanggil sambil menyikut lengannya. “Kamu tahu gak, teman kita si Felix itu sudah menikah. Dan sebelum kamu datang tadi kita sedang membicarakan soal pernikahannya.”


“Membicarakan pernikahan Felix? Kenapa?” tanya Daniel sambil menatap Mark datar.


“Tunggu dulu. Sebentar, kenapa ekspresimu datar sekali? Jangan bilang kamu juga sudah tahu soal pernikahan Felix.”


Daniel meraih espresso milik Mark yang ada di hadapannya. Dia menyesap kopi tersebut dan rasa pahit yang pekat langsung terasa di indera pengecapnya. Daniel menarik napas dalam-dalam, menghirup oksigen dan aroma kopi yang bercampur.


“Iya, aku sudah tahu,” jawab Daniel sambil tersenyum.


...----------------...



...- Paul, Mark, Daniel -...