
Jane melangkah pelan masuki lift apartemen. Setelah menekan tombol angka tujuh, sebelah tangannya terangkat untuk memijat pundaknya yang terasa sedikit pegal. Sedangkan sebelah tangannya yang lain menenteng tas tangan hitam bermerek Dior dan blazer berwarna krem yang tadinya dikenakannya.
Jane melirik jam tangan yang melingkar di pergelanban tangannya. Sekarang sudah pukul tujuh malam, dan Jane baru saja sampai di gedung apartemennya.
Projek yang sedang dikembangkan perusahaan papanya membuat Jane terpaksa ikut lembur hari ini. Padahal ia sudah membuat perjanjian dengan Felix untuk membagi waktu dan bergantian mengurus Aiden. Beruntungnya Felix sedang libur hari ini, sehingga dia dapat menjaga Aiden sendirian. Dan semalam pemuda itu juga mengatakan kalau dirinya akan membawa Aiden ke supermarket untuk belanja beberapa kebutuhan hari ini.
Ting!
Bunyi berdenting menandakan kalau Jane telah sampai di lantai tujuh, lantai di mana apartemennya berada. Beruntung jarak apartemennya tidak terlalu jauh dari lift karena kini kaki Jane yang dialasi high heels berwarna putih sudah mulai terasa pegal.
Tanpa berlama-lama Jane langsung menekan password pada papan tombol begitu ia tiba di depan pintu apartemen. Segera setelah pintu terbuka dan ia berjalan masuk, Jane langsung melepas heelsnya dan meletakkannya secara asal di dekat pintu. Jane melangkah gontai menuju ruang tengah dan menjatuhkan diri di atas sofa. Ia benar-benar merasa lelah dan sangat lapar. Seingat Jane, hanya sepotong croissant saja yang mampir ke lambungnya siang tadi, dan ia belum menyantap apa pun sebagai makan malamnya.
Akhirnya Jane memutuskan untuk pergi ke dapur. Siapa tahu ada nasi dan sayur di panci atau makanan lain di kulkas yang bisa ia makan. Namun begitu dirinya bangkit dari sofa dan berbalik menghadap dapur, tatapan Jane terkunci pada sesuatu yang ada di atas meja makan yang terlihat dari ruang tengah tempat sekarang ia berdiri.
Penasaran, Jane langsung melangkah menuju meja makan. Begitu tiba di sana, rasa lelah Jane seketika langsung lenyap. Jane melihat seloyang cake cokelat tersaji cantik dengan toping stroberi segar di atas meja makan.
Rasanya sudah lama sekali cake manis favorit Jane itu tidak mampir di lidahnya. Jane langsung tersenyum lebar dan tanpa basa-basi mengamit pisau yang tergeletak di samping cake tersebut dan mulai mengiris satu potong bagian cake berbentuk bulat itu.
Jane baru saja menikmati gigitan pertama saat Felix menuruni tangga sembari menggendong Aiden. Mata pemuda itu membelalak ketika dia melihat Jane yang sedang menikmati cake di meja makan. “Jangan dimakan!”
Sontak Jane menoleh dengan tatapan kaget dan bingung. Satu gigitan cake cokelat itu sudah memenuhi mulutnya saat ia bertanya, “Kenapa?”
Felix yang sudah menuruni anak tangga terakhir tampak memijat pelipisnya. “Padahal aku sudah menunggumu pulang,” ujarnya dengan nada yang terdengar kecewa. Tentu itu membuat Jane semakin bingung dan melayangkan tatapan tidak mengerti.
Felix menghembuskan napas pelan sebelum berujar, “Aku membeli cake itu untuk merayakan seratus hari pernikahan kita.”
“Apa?” Jane sedikit membelalakkan matanya.
“Tadinya aku mau mengajak kamu dan Aiden untuk meniup lilin bersama. Tapi tidak masalah, makan saja kalau kamu lapar.”
‘Bodoh sekali. Bagaimana bisa aku lupa,’ rutuk Jane dalam hati. Jane merasa ingin menonjok dirinya sendiri, bahkan tanpa sadar ia mulai memukul pelan kepalanya sendiri. Berikan cengiran ke Felix, Jane berucap, “Maaf. Aku benar-benar sangat lapar. Jadi begitu aku melihat cake ini... tanpa pikir panjang aku langsung memakannya.”
Felix tersenyum makhlum. Dia mengulurkan sebelah tangannya yang tidak menumpu tubuh Aiden dan menyomot potongan cake yang telah Jane potong. “Tidak apa-apa, aku mengerti kamu lapar. Lagipula kamu sangat suka cake cokelat, kan?”
Ucapan Felix langsung dibalas anggukan kepala penuh semangat oleh Jane. Senyuman lebar terpeta di paras cantik Jane saat ia memakan kembali cake yang ada di hadapannya, tak lupa mengiris pula beberapa potong lagi untuk suaminya. Raut lelah telah sirna sepenuhnya dari wajah Jane. Ia bagaikan seorang bocah berumur lima tahun yang sangat bahagia karena dibelikan es krim dan permen.
Felix melirik pada Aiden yang ternyata sudah tertidur di pelukannya. Dia kemudian berjalan ke ruang tengah dan meletakkan Aiden dengan perlahan dan hati-hati ke dalam kereta bayi yang ada di sana, lalu dia melangkah kembali ke meja makan. Felix mendudukkan dirinya di hadapan Jane, dan mereka sama-sama menikmati cake cokelat sebagai makan malam mereka. Jane tiba-tiba teringat.
“Ngomong-ngomong, bagaimana kamu tahu kalau aku suka cake cokelat?” tanya Jane.
Beruntung Felix telah menelan makanannya saat pertanyaan itu terlontar. Kalau tidak, bisa-bisa dia tersedak mendengarnya.
“Oh... itu karena.....”
-Flashback-
Felix memperhatikan tanggal yang tertulis di lockscreen-nya. Alisnya sedikit terangkat ketika ia teringat sesuatu. Hari ini adalah seratus hari pernikahan dirinya dan Jane, hari yang cocok untuk membeli cake dan merayakannya bersama.
Felix menyusuri daftar kontaknya untuk mencari nomor Jane. Jarinya terhenti saat dirinya baru saja akan menekan tombol dial. Sebuah ide muncul di kepalanya, dan Felix langsung mencari nomor lain untuk ditelepon. Menemukan nomor yang dimaksud, Felix langsung menekan tombol dial dan menempelkan ponsel di telinga kanannya. Tak butuh waktu lama sampai telepon tersebut diangkat.
“Halo, Mama.”
“Halo, Felix. Ada apa tiba-tiba menelepon?” terdengar suara Mama dari seberang.
“Ma, ada yang ingin aku tanyakan.”
“Tanya apa, Felix?” suara Mama terdengar penasaran.
“Mama tahu apa cake favorit Jane?” tanya Felix dengan sedikit hati-hati.
“Ya ampun, Mama kira ada sesuatu yang sangat penting.” Jawab Mama sambil tertawa pelan. “Jane itu sangat suka cokelat, sejak kecil dia selalu makan cake cokelat, apalagi kalau ada stroberi di atasnya. Dia sangat senang kalau Mama atau Papa membelikannya itu.”
“Benarkah? Baiklah, kalau begitu aku akan membelikannya cake cokelat. Terima kasih, Ma.”
Jane menatap Felix dengan tatapan bertanya. “Hm? Karena apa?”
“Itu karena... tadi saat aku pergi berbelanja bersama Aiden, aku melihat satu toko kue yang cukup menarik dan memutuskan untuk masuk kesana. Lalu aku melihat cake cokelat ini dan kelihatannya enak sekali. Jadi aku pikir pasti kamu akan menyukainya juga.” Jawab Felix sambil menggaruk belakang kepalanya. “Saat itu juga aku teringat kalau hari ini adalah hari ke seratus pernikahan kita.”
Ekspresi Jane seketika berubah menjadi murung. “Kamu ingat? Maaf... aku tidak ingat...”
Felix berdeham kecil. “Itu karena aku tidak sengaja memperhatikan tanggal di ponselku.”
Jane mengangguk-anggukan kepalanya lemah. Jane merasa bersalah. Ia berpikir keras bagaimana caranya ia membalas perlakuan Felix ini. Rasanya ucapan terima kasih saja belum cukup untuk menutupi kebodohannya hari ini.
Tiba-tiba terpikir sebuah ide di benak Jane, tapi ia agak ragu untuk melakukan ide ini. Jane melirik ke arah Felix yang tampak fokus pada cake di hadapannya. Haruskah ia melakukannya? Bukankah ini terlalu cep– ah, tentu saja tidak. Pernikahannya sudah berjalan seratus hari, justru menurut Jane sebenarnya ini terlalu lambat untuk mereka berdua. Maka akhirnya Jane meletakkan potongan cake-nya yang tinggal setengah dan membersihkan tangannya dengan tisue yang ada di atas meja makan.
Ditatapnya Felix yang baru saja menelan potongan terakhir cake-nya dan bangkit menuju wastafel untuk mencuci tangannya. Jane ikut berdiri dan berjalan ke arah Felix.
“Felix,” panggil Jane membuat Felix berbalik dan menoleh padanya.
‘Sekarang waktunya,’ batin Jane.
Jane maraih pundak Felix seraya berjinjit. Matanya terpejam secara paksa dan wajahnya condong ke depan. Namun sayang, usaha Jane sia-sia lantaran tingginya yang hanya mencapai dagu Felix. Seketika Jane mengutuk heels-nya yang teronggok di dekat pintu.
Hening sejenak. Tidak ada yang bergerak antara Jane yang mematung di posisinya dan terlampau malu untuk mundur, dan Felix yang baru menyadari apa yang akan Jane lakukan.
Detik berikutnya, Felix pun melangkah mundur seraya menatap Jane dengan mata melebar dan wajah yang agak memerah. Jane kembali bertumpu di kakinya dan mengerjap salah tingkah. Tangan Jane yang mengambang di udara secara perlahan bergerak menutupi wajahnya sendiri.
“J-Jane... apa yang k-kamu lakukan?” Felix tergagap dengan wajah yang meski tampak tenang namun terlihat memerah bahkan sampai ke leher dan daun telinganya.
“Maaf.... aku hanya ingin berterimakasih dengan....” Jane menggantung ucapannya. “Dengan.... dengan ci-cium...” lanjut Jane dengan suara yang nyaris tak terdengar.
“Dengan apa?” tanpa sadar Felix mendekatkan wajahnya demi mendengar jelas suara Jane. Jane pun refleks menurunkan tangannya dan tatapannya bertemu dengan Felix.
“Aku ingin berterimakasih dengan menciummu.” ujar Jane berterus terang. Ia kemudian kembali menutup wajahnya yang merah merona.
Melihatnya, Felix malah tertawa. Rasa gugupnya karena aksi Jane yang tiba-tiba itu lenyap sudah. Suara tawa Felix serta-merta membuat Jane menurunkan tangannya lagi.
“Kok malah tertawa sih?” protes Jane dengan bibir mengerucut. Padahal Jane merasa malu setengah mati, tapi Felix malah menertawakannya.
Menyudahi tawanya, Felix mengusap puncak kepala Jane pelan, “Kamu tidak perlu memaksakan diri, Jane,” ujar Felix sambil memandang Jane dengan senyum di wajahnya.
‘Aku tidak ingin mengatakan ini tapi... aku rasa menunggu sedikit lagi tidak akan menjadi masalah,’ lanjut Felix di dalam hati.
“Aku tidak memaksakan diri!” tegas Jane. Ucapan Jane yang cukup tegas itu membuat Felix sedikit melebarkan matanya. Lantas Jane kembali berujar sambil memilin ujung rambutnya. “Kita sudah menikah lebih dari tiga bulan, tapi aku merasa... aku merasa tidak ada kemajuan yang berarti dalam pernikahan kita. Aku tahu ini semua karena aku, tapi–”
“Kalau begitu biar aku saja yang memulai,” sela Felix.
“Hmm?” Jane menatap Felix bingung.
“Kamu tidak perlu datang padaku. Biar aku yang mendekat satu langkah padamu.”
Belum sempat Jane mencerna perkataan Felix baik-baik, pemuda itu telah merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan tinggi badan Jane. Dalam hitungan detik, bibirnya telah menyatu dengan bibir Jane, membuat mata Jane membelalak merasakan sentuhan lembut bibir Felix di bibirnya. Sentuhan yang untuk pertama kali dirasakannya.
Jane menyebutnya pertama kali karena meski pun Felix pernah menciumnya saat acara pernikahan mereka tiga bulan lalu, tapi bibir mereka tidak benar-benar menempel seperti saat ini. Sedetik kemudian Jane memejamkan matanya dan membalas pelan ciuman suaminya itu.
‘Terima kasih, Felix.’
...----------------...
...- Jane♡Felix -...