
.......
Jam baru menunjukkan pukul tujuh pagi saat sedan putih milik Mark memasuki lobby utama hotel Grand Jakarta.
Setelah memberikan kunci kepada valet yang kemudian mengambil alih mobilnya, Mark segera memacu langkah memasuki hotel.
Tujuannya bukan lagi meja resepsionis seperti tamu-tamu pada umumnya, melainkan lift hotel. Setelah pintu lift terbuka, Mark lekas masuk dan menekan tombol angka tiga yang ada pada panel, seakan dirinya sudah hafal di luar kepala akan ke mana. Begitu juga saat pintu lift terbuka, pemuda itu berjalan melangkah keluar dan merajut langkah menuju kamar nomor 307.
Baru saja Mark mengeluarkan ponselnya dan hendak melakukan panggilan, pintu kamar tersebut terbuka dari dalam, menampilkan sesosok gadis cantik dengan balutan dress selutut berwarna cokelat, dan rambut panjangnya yang bergelombang dan digerai.
“Selamat pagi, Winny,” sapa Mark yang serta-merta menimbulkan kurva di wajah gadis cantik bernama Winny tersebut.
“Pagi, Mark.” sapanya balik.
Yup, tujuan Mark pagi-pagi datang ke hotel ini tak lain adalah untuk menjemput Winny dan mengajaknya sarapan serta jalan-jalan bersama.
...***...
Jane dan Felix memutuskan untuk mampir ke pasar tradisional sebelum pergi ke rumah orangtua Jane untuk menjemput Aiden.
Di mobil saat perjalanan pulang dari taman, tiba-tiba saja Jane mengatakan kalau dirinya sedang ingin makan sup kepiting. Felix pun menyanggupi keinginan Jane itu dan berniat membuatkan sendiri sup kepiting itu untuk Jane.
Setelah memarkirkan mobilnya di parkiran yang terletak di pintu masuk pasar, Felix menggandeng tangan Jane menyusuri pasar dengan berjalan kaki. Rasanya sudah lama sekali Felix tidak berbelanja di pasar tradisional seperti ini, apalagi Jane yang memang tidak pernah memasak juga.
Memang hampir selalu Felix yang melakukan kegiatan berbelanja, tapi pemuda itu selalu memilih pergi ke pasar swalayan mengingat dirinya selalu membawa serta Aiden saat berbelanja. Untungnya sekarang Aiden sedang tidak bersama mereka sehingga mereka bisa berbelanja dengan lebih leluasa.
Felix menoleh pada Jane yang berjalan di sebelahnya. Kepala Jane terus menoleh ke kiri dan ke kanan, tampak takjub dengan pemandangan aneka sayuran segar dan berbagai hewan laut yang masih berada di aquarium. Sesekali aroma jajanan khas pasar menerpa indera penciuman keduanya, membuat perut mereka yang tadi pagi hanya diisi setangkup roti panggang dan segelas susu sebelum berolahraga mulai meronta-ronta minta diisi kembali.
“Kamu mau makan kue putu, Jane?” Felix akhirnya bersuara setelah melihat istrinya itu menatap jananan tradisional yang ada di hadapan mereka itu.
“Hmm? Ah, tidak, aku akan makan sup kepiting buatanmu saja nanti,” jawab Jane sambil menggeleng dan tersenyum.
“Kamu serius? Tapi kalau kamu sudah lapar–”
“Tidak apa-apa, Felix. Ayo kita ke sana,” sela Jane cepat sambil langsung menggandeng lengan Felix dan menariknya untuk pergi meninggalkan kedai yang menjual kue putu tersebut. Felix tersenyum melihat tingkah istrinya ini.
Keduanya kembali menyusuri pasar dengan saling bergandengan hingga kemudian salah satu kios sayuran menarik perhatian mereka.
“Felix, lihat itu...” Jane yang menghentikan langkah lebih dulu bersuara.
“Bawang bombay!” sahut Felix antusias. Keduanya pun saling bertatapan dengan mata berbinar-binar. Yup, tidak salah lagi. Bawang bombay adalah bahan makanan kesukaan keduanya. Sulit untuk menemukan kesamaan di antara kedua orang yang selalu bertengkar seputar spaghetti atau mie instant ini hingga akhirnya mereka berdua bertemu dengan bawang bombay.
Dengan cepat Felix dan Jane menghampiri bak berisi tumpukan bawang bombay dan mulai melihat-lihat. Sang bibi pemilik kios menyambut mereka dengan ramah dan memberikan Felix sebuah keranjang untuk meletakkan bawang bombay pilihannya. Felix menerimanya dan membalas dengan tersenyum sopan.
Baru saja dia hendak memilah-milah mana bawang bombay yang bagus untuk dimasaknya nanti saat Jane menyodorkan beberapa buah bawang bombay kepadanya. Sejenak Felix memerhatikan kualitas bawang-bawang yang berada di tangan Jane sebelum kemudian menggeleng dan mulai memilih sendiri bawangnya.
Sontak saja Jane memberenggut. “Kenapa kamu ambil yang lain? Aku kan sudah memilihkan yang ini.”
“Bawang yang kamu pilih itu tidak bagus, Jane. Kamu harusnya memilih bawang bombay yang seperti ini,” Felix berujar seraya menyodorkan bawang bombay pilihannya.
“Tidak ada bedanya, tuh,” komentar Jane sambil menatap bawang yang ada di tangan Felix.
“Tentu saja berbeda, bawang bombay yang ini akan lebih enak saat dimasukkan ke dalam sup nanti dibanding yang tadi kamu pilih,” sahut Felix tidak terima. “Orang yang biasa memasak pasti tahu mana bawang yang lebih enak atau tidak.”
Mungkin Felix terlalu sibuk memilih bawang sehingga dirinya tidak melihat perubahan pada raut wajah Jane.
“Jadi maksudmu selain tidak bisa memasak, aku juga tidak bisa memilih bawang bombay dengan benar?” tanya Jane dengan nada kesal. Guratan-guratan kemarahan mulai terlihat di wajah Jane dengan sorot matanya yang menatap Felix tajam.
“Bukan begitu, Jane. Tapi aku–”
“Kalau begitu aku pulang saja,” kata Jane kesal. Setelah berkata demikian, Jane berbalik dan memacu langkahnya meninggalkan Felix.
“Jane! Tunggu!”
...***...
Lagu 'A Sunday Kind of Love' yang dinyanyikan oleh Etta James mengalun ke seluruh penjuru kafe, menemani Mark dan Winny yang sedang menyantap setangkup roti lapis isi tuna sebagai menu sarapan mereka.
“Memangnya kamu tidak ada tugas pagi ini, Dokter Mark?” tanya Winny lantas menyesap espresso hangatnya.
Mark menyelesaikan kunyahannya sambil menggeleng. “Tidak ada yang lebih penting dibanding sarapan bersama seorang gadis cantik sepertimu, Winny,” balasnya kemudian.
Pemuda itu pikir reaksi Winny selanjutnya adalah tersipu malu karena kalimat gombalnya, tapi ternyata dugaan Mark salah. Karena detik berikutnya, yang tergambar di paras Winny adalah sebuah kerutan di dahi dan tatapan mengintimidasi. Sungguh sama sekali bukan reaksi yang Mark harapkan.
“Coba katakan dengan jujur, sudah berapa banyak rekan kerja wanitamu yang kamu ajak makan bersama dan kamu gombalin seperti ini, hah?” todong Winny.
Sontak saja Mark terbahak mendengar ucapan dan melihat ekspresi menyelidik Winny yang terlihat sangat lucu di matanya. “Tidak ada, Win. Satu-satunya gadis yang kuajak makan dan kugombalin selain dirimu hanyalah mamaku.”
“Bohong.” Balas Winny pelan.
“Aku serius,” balas Mark sambil tersenyum.
Winny meletakkan cangkir espresso-nya dan melipat kedua tangan di depan dada. Berbanding terbalik dengan Mark yang kini justru menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, bersiap mendengar wejangan dari Winny yang ia yakini akan segera meluncur dari bibirnya sebentar lagi.
“Astaga, Mark. Mau sampai kapan kamu seperti ini? Ingat umurmu, kamu harus cepat-cepat mencari pacar, tahu!” Dan benar saja, Winny mulai mengomelinya.
“Pacar, ya?” Mark bergumam pada dirinya sendiri.
“Tidak, tidak. Bukan pacar sih, tapi istri lebih tepatnya. Memangnya kamu tidak kasihan dengan mamamu yang selalu kamu tinggal sendirian di rumah saat kamu bertugas di rumah sakit?” tanya Winny.
“Kenapa tidak kamu saja?” celetuk Mark yang sontak saja menghentikan cerocosan Winny dan membuat mata cantik gadis itu membelalak.
“Hah?”
“Maksudku, kenapa tidak kamu saja yang tinggal di rumahku bersama mamaku. Terus-terusan tinggal di hotel pasti mahal, kan?” Mark buru-buru mengoreksi ucapannya agar Winny bisa meraih oksigen lagi.
“Astaga, aku kira...” Winny mendumal sambil mengelus dada.
“Kamu sudah selesai makan, kan? Kalau sudah, ayo kita pergi,” ujar Mark seraya bangkit dari kursinya.
“Ke mana?” tanya Winny sambil menatap Mark dengan dahi berkerut.
Mark mengangkat sebelah alisnya, “Tentu saja ke rumahku.”
“S-sekarang?” tanya Winny lagi, terlihat sedikit khawatir.
“Iya. Ini semua karena kamu terus mengungkit mamaku, Win. Aku jadi merindukannya, tahu!” jawab Mark sambil mencebikkan bibirnya.
“Memangnya kamu belum pulang kerumah?” Winny berujar seraya menyusul langkah kaki jenjang Mark yang sudah lebih dulu berjalan meninggalkan meja menuju pintu keluar.
“Sudah tiga hari aku belum pulang dan aku langsung menemuimu dari rumah sakit tadi,” jawab Mark.
“Ya ampun, anak macam apa kamu ini? Kenapa malah menemuiku bukannya–”
“Nona Winny yang cantik, kamu tunggu saja di sini, oke? Aku akan mengambil mobilku dulu,” sela Mark saat mereka sudah berada di luar pintu kafe. Tanpa menunggu jawaban dari Winny, Mark langsung berbalik dan pergi.
Winny hanya bisa berdecak sebal. Sambil menunggu Mark kembali, Winny pun diam sambil memperhatikan pemandangan kesibukan pagi kota Jakarta yang sudah tak dilihatnya selama setahun ini. Ia memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang di depan kafe hingga beberapa toko yang baru dibuka di seberang jalan.
Pada saat itulah, mata Winny secara tidak sengaja melihat sosok seorang pria berperawakan jangkung baru saja keluar dari toko bunga yang ada di seberang jalan. Lelaki itu berpenampilan santai dengan setelah training yang membalut tubuh semampainya, berjalan sambil mengendus wangi sebuket bunga yang menutupi setengah wajahnya.
Kendati tidak dapat melihat jelas paras pria tersebut, entah kenapa Winny merasa lelaki itu terlihat sangat familiar. Lelaki itu seperti....
“Kamu sedang melihat apa?” suara Mark yang bertanya dari balik kaca mobil sedannya yang terbuka, yang entah sejak kapan sudah berada di hadapan Winny, membuyarkan lamunan gadis itu.
“Ah, tidak. Aku hanya sedang melihat pemandangan sekitar, sudah setahun aku meninggalkan Jakarta dan cukup banyak yang berubah,” jawab Winny sambil menggeleng pelan, berusaha mengusir sekelebat bayangan yang terbesit di pikirannya.
Mark mengangguk pelan dan segera turun dari mobil. Ia membukakan pintu untuk Winny, dan mereka pun pergi meninggalkan kafe.
...- Winny & Mark -...
...----------------...