Love, Maybe

Love, Maybe
Chapter 25



.......


Setelah menyerahkan Aiden yang sudah didandani setampan mungkin, dan tentu saja mendengar omelan dari Papa juga, Felix dan Jane menghela napas lega. Mereka saling pandang di depan pintu dan kemudian tertawa. Keduanya merasa puas dengan kerja sama yang mereka lakukan saat keadaan mendesak seperti barusan.


Felix bergerak merangkul tubuh mungil istrinya dan tersenyum hangat. Sorot matanya seperti berkata ‘beginilah suami istri, harus saling membantu dan juga melengkapi’. Jane balas tersenyum dan melingkarkan kedua lengannya di pinggang Felix. Felix pun mengacak rambut Jane pelan dan mengecup puncak kepala Jane singkat.


“Aiden sudah dibawa oleh Papa, jadi kita tidak perlu pergi ke rumah orangtuamu lagi. Sekarang apa yang akan kita lakukan?” tanya Felix sambil mengajak Jane masuk ke ruang keluarga.


Jane mengerucutkan bibirnya dan berpikir sejenak. Hari ini adalah akhir pekan, dan baik Jane maupun Felix sama-sama libur dari pekerjaan mereka. Lima hari dalam seminggu mereka habiskan untuk bekerja. Hampir setengah hari atau bahkan sampai larut malam sering Jane habiskan di kantor. Saat pulang ke rumah, biasa Jane menghabiskan waktu dengan makan malam bersama Felix dan bermain dengan Aiden ketika Felix pergi ke kafe. Malamnya pun biasa mereka akan langsung tidur karena kelelahan. Kalau dipikir-pikir, jarang sekali ia menghabiskan waktu di rumah, dan juga melewatkan waktu berkualitas bersama Felix.


“Uhm, bagaimana kalau kita di rumah saja hari ini?” tanya Jane sambil menatap Felix.


“Di rumah saja?” tanya Felix sambil menatap Jane balik.


Jane mengangguk antusias. “Iya. Banyak yang bisa kita lakukan di rumah. Kita bisa memasak, membersihkan rumah, dan menonton film bersama. Lagi pula aku juga biasanya jarang berada di rumah,” terang Jane sambil bergelayut manja.


Felix tersenyum melihat tingkah Jane. “Baiklah kalau itu maumu.”


Maka mereka pun memutuskan untuk menghabiskan akhir pekan mereka dengan berada di rumah saja. Keduanya naik ke kamar untuk bergantian membersihkan diri, karena tadi akhirnya mereka memutuskan untuk turun bersama membukakan pintu untuk Papa, dan mendengarkan omelan Papa sambil memandikan dan mendandani Aiden. Selesai membersihkan diri, mereka pun memasak dan sarapan, atau lebih tepatnya makan siang, bersama. Setelah bersantai sesaat, mereka memutuskan untuk melakukan pekerjaan rumah, karena kebetulan mereka juga sudah lama tidak membersihkan rumah secara besar-besaran.


Dimulai dengan Jane yang mencuci piring, sementara Felix mengeringkan dan memasukkannya ke dalam lemari. Beres dengan urusan dapur, Jane naik ke atas untuk mencuci pakaian Aiden dengan tangan, sementara Felix mencuci seprai dan selimut dengan cara diinjak kaki. Lalu mereka bersama-sama menjemurnya di balkon. Felix mengambil alih tempat menjemur yang lebih tinggi yang tidak terjangkau oleh Jane. Kemudian Felix membersihkan rumah dengan vacuum cleaner sedangkan Jane merapihkan barang-barang di rak dan mengelap meja.


Di setiap kesempatan, Felix selalu mencuri-curi kesempatan untuk menggangu Jane atau bertingkah manja padanya, seperti memeluknya dari belakang dan menyandarkan kepalanya di pundak Jane saat gadis itu sedang mencuci piring, berpura-pura akan jatuh dan memeluk Jane saat sedang mencuci seprai di bak, sengaja memegang tangan Jane saat gadis itu akan menyampirkan pakaian pada tali jemuran, dan yang terakhir Felix tiba-tiba mencium pipi Jane saat gadis itu sedang fokus menata buku di rak kayu. Yang terakhir itu membuat Jane tersentak sejenak dan menoleh dengan kesal pada Felix yang sudah kembali sibuk dengan vacuum di tangannya, seolah tidak terjadi apa-apa.


Jane merasa kesal bukan karena pekerjaannya terganggung dengan tingkah Felix, tapi ia kesal karena dirinya tidak bisa menyembunyikan rona merah yang menyembul di pipinya setiap kali Felix menjahilinya, sementara Felix terlihat biasa-biasa saja. Namun dalam hati, Jane merasa senang karena ia tidak pernah melihat Felix semanja dan sejahil ini sebelumnya. Padahal beberapa bulan yang lalu mereka bahkan canggung satu sama lain saat tangan mereka tidak sengaja bersentuhan. Hanya dalam beberapa bulan saja, Felix dapat berubah menjadi orang yang berbeda, menjadi sosok suami yang hangat, romantis, dan penuh perhatian. Hari ini Jane sukses merasa seperti pasangan pengantin baru yang belum memiliki momongan.


Jam sudah menunjukkan pukul empat sore saat Felix dan Jane menyelesaikan pekerjaan rumah mereka. Felix menghempaskan tubuhnya ke sofa disusul oleh Jane yang juga ikut duduk sambil mendaratkan kepalanya di pundak Felix. Gurat-gurat kelelahan tergambar jelas di paras mereka, dengan peluh yang bercucuran dari pelipis hingga dagu.


Tapi rasa lelah itu menguap begitu saja kala mata mereka bergulir, menatap sekeliling ruangan yang tampak rapi dan bersih, sangat indah dipandang mata. Setelah hari ini mungkin Felix dan Jane akan mengagendakan kegiatan bersih-bersih rumah sebulan sekali. Bagaimanapun juga rumah adalah tempat mereka pulang setelah beraktivitas seharian di luar. Bukankah melihat pemandangan yang rapi juga dapat mengobati rasa lelah mereka saat kembali ke rumah?


“Kalau kita punya halaman, mungkin yang akan kita lakukan selanjutnya adalah merawat tanaman dan memotong rumput liar. Aku akan menanam bunga mawar di pot sementara kamu menyiram tanaman menggunakan selang air,” oceh Jane pelan, membayangkan kalau saja mereka tidak tinggal di apartemen, melainkan di rumah biasa dengan halaman luas yang ditumbuhi rumput dan berbagai tanaman hias, seperti kediaman orangtuanya. Pasti udaranya sangat sejuk dan menyegarkan mata saat memandangnya.


“Hmm, taman ya...,” Felix bergumam mendengar ocehan Jane. Terasa di pundaknya kepala Jane yang mengangguk lemah.


“Kemudian aku bisa melakukan yoga di taman saat akhir pekan. Ah, sudah lama sekali aku tidak yoga,” Jane meregangkan kedua tangannya sampai terdengar bunyi tulang yang bergemeretak pelan.


Mendengar ocehan dan melihat tingkah Jane barusan membuat sebuah ide melintas di benak Felix. “Jane,” ujar Felix kemudian.


“Hm?” sahut si empunya nama seraya menurunkan tangannya dan menoleh pada Felix.


“Bagaimana kalau besok pagi kita jogging di taman yang ada di bawah?” tanya Felix.


"Kita?” tanya Jane.


Berolahraga bersama Felix? Jane belum pernah membayangkan akan melakukan hal itu bersama Felix. Ya, masih banyak hal yang belum dan tak pernah ia bayangkan akan melakukannya bersama Felix. Kendati mereka adalah sepasang suami istri, Jane dan Felix tak ubahnya seperti dua insan yang sedang dalam masa pendekatan. Sedikit demi sedikit mereka mendekatkan jarak yang semula terbentang di antara mereka. Melakukan satu per satu kegiatan yang biasa mereka lakukan sendiri secara bersama-sama. Berusaha menciptakan rasa nyaman untuk satu sama lain.


“Tidak, kenapa aku harus keberatan? Pasti menyenangkan berolahraga bersama. Aku juga sudah lama tidak olahraga, ayo kita jogging bersama besok!” ujar Jane penuh semangat. Felix tersenyum kecil mendengar antusiasme Jane. Lantas lengannya yang semula bertengger di sandaran sofa bergerak memeluk Jane, membawa tubuh mungil istrinya itu mendekat, membuat Jane serta merta menengadah.


Felix baru saja akan mendekatkan wajahnya pada Jane saat kelima jari kurus gadis itu menahannya. Seketika wajah Felix mengernyit lucu, antara kaget dan bingung. Melihat ekspresi pemuda itu, Jane tertawa kecil dan berusaha meloloskan diri dari pelukan Felix. Ia memundurkan badannya sambil berseru, “Mandi sana, kamu berkeringat!”


“A-Apa?” mata Felix membulat, membuat Jane yang kini sedang memeluk bantal terkikik geli karena eskpresi wajah Felix terlihat semakin lucu. Sadar kalau Jane baru saja mengerjainya, mungkin sebagai pembalasan dendam karena pemuda itu mengganggunya seharian ini, Felix pun bergerak maju, hendak menyerang Jane. “Jadi maksudmu aku bau?”


Dengan sengaja Felix mendekatkan tubuhnya pada Jane karena tidak terima dikatai bau. Dia menggengam erat kedua tangan Jane, membuatnya terdorong ke belakang. “Coba katakan sekali lagi. Coba bilang kalau aku bau,” ujar Felix sambil mulai menggelitik pinggang Jane.


Jane pun tertawa geli sambil memberontak. “Tidak... hahaha... aku tidak bilang kamu bau.. hahaha...”


Alih-alih berhenti, Felix malah semakin gencar menggelitiki pinggang Jane. Hingga akhirnya gadis itu tidak kuat lagi untuk melawan dan napasnya mulai tersengal. Jane memegang kedua tangan Felix, mengisyaratkan pemuda itu untuk berhenti. Mendengar napas Jane yang tersengal dan dadanya yang naik turun, Felix pun tak lagi menggelitik pinggang istrinya itu, membuat keduanya kini mematung dalam posisi Felix berada di atas tubuh Jane yang tertidur di atas sofa.


Setelah napas Jane sudah teratur, ia baru menyadari kalau Felix sedang menatapnya intens, dan semburat merah menyembul di kedua belah pipi Jane untuk yang kesekian kalinya hari ini. Felix menatapnya dengan sorot mata tajam, sorot mata yang selalu sukses membuat Jane seketika tak berkutik kala matanya bersibobok dengan mata Felix. Dan sekarang, ketika Felix menatapnya intents dalam diam, Jane merasa kalau dunianya hanya berpusat pada satu titik, yaitu Felix.


“Jane...” suara lembut Felix memecah keheningan, membuat Jane dapat menggapai kembali oksigen setelah tanpa sadar menahan napas saat Felix menatapnya sedemikian rupa.


“... hari ini kita hanya berdua saja di rumah.” Lanjut Felix.


Kini giliran jantunganya yang berdetak abnormal setalah kalimat barusan tercerna oleh otaknya. Jane masih belum sanggup bersuara saat Felix semakin merendahkan tubuhnya, memosisikan bibirnya tepat di telinga Jane, membuat gadis itu merasa seakan disengat listrik saat bibir tebal Felix menyentuh tepian daun telinganya.


“Bagaimana kalau hari ini kita...,” Felix menggantung kalimatnya. Meninggalkan Jane yang sibuk mengontrol detak jantunganya yang tidak bisa berkompromi sama sekali. Darahnya berdesir merasakan hembusan napas Felix di tengkuknya. Jane tidak tahu apa ia masih sanggup menunggu pemuda itu melanjutkan kalimatnya.


Jane memejamkan matanya seraya membatin, ‘Siap atau tidak, aku harus siap. Lagi pula ini bukan pertama kalinya,’ ujar Jane dalam hati sambil memantapkan hati.


“.... menonton film.” Felix menyelesaikan kalimatnya.


‘Iya, aku sudah siap untuk menonton film – eh?!’ Jane sontak membuka matanya. Tatapannya menangkap seringai kecil yang terpeta di bibir Felix.


“Aku mau mandi dulu ah,” detik itu juga pemuda bertubuh jangkung itu bangkit berdiri dan melangkah menuju tangga, meninggalkan Jane yang masih terdiam di tempatnya dengan penuh tanda tanya.


Jadi barusan Felix hanya mengusilinya? Jadi Felix tidak benar-benar berniat untuk.....


Jane langsung menutupi wajahnya dan menjerit malu.


...----------------...



...- Jane & Felix -...