
.... ...
Felix mulai merasa bosan memakan buah kiwi yang ada di hadapannya. Dirinya berniat mengambil potongan apel dari piring yang ada di hadapan Jane, namun niatnya itu segera diurungkannya saat melihat posisi gadis itu saat ini.
Jane sedang duduk bersandar dengan asal, sehingga bagian bawah gaunnya sedikit tersingkap dan membuat paha mulisnya terekspos.
Felix menjulurkan tangan dan menggeser piring berisi buah kiwi yang ada di meja ke sisi yang lebih dekat dengannya. Melihat Felix yang tiba-tiba menggeser piring itu mendekat ke arahnya, Jane menggigiti garpunya dengan gemas.
Apa pemuda itu sebegitu sukanya pada buah kiwi? Daritadi Felix hanya sibuk makan kiwi serta mengabaikan Jane, dan sekarang pemuda itu menggeser piringnya seakan takut Jane akan mengambil buah berwarna hijau tersebut. Ini sudah keterlaluan. Jane berpikir bagaimana bisa buah kiwi jauh lebih menarik daripada dirinya?
Jane menyibakkan rambut panjangnya ke belakang, tanpa sadar memberi akses bagi sepasang mata Felix untuk meneliti setiap inci kulit lehernya yang putih mulus tanpa noda. Pemandangan yang sungguh membuat Felix harus sekuat tenaga mengontrol diri agar tidak menerjang lantas meninggalkan jejak di sana.
Memalingkan wajah entah untuk yang keberapa kalinya, Felix mengibaskan kerah baju satinnya karena tiba-tiba saja dia merasa kepanasan. Kepalanya tertoleh ke atas, memastikan kalau pendingin ruangan yang ada di sana masih berfungsi.
Dalam sepuluh menit selanjutnya, Felix sudah tidak bisa fokus menonton film yang terputar di layar kaca yang ada di hadapannya. Berbanding terbalik dengan Jane yang malah sudah mulai menghayati film yang sedang menampilkan dua tokoh utama yang sedang berkelahi sengit, karena sudah malas melancarkan aksinya untuk membuat Felix tersipu malu, toh pemuda itu juga mencuekinya habis-habisan sejak tadi.
“Jane,” Felix tiba-tiba bersuara.
“Hm?” respon Jane tanpa mengalihkan pandangan dari layar televisi.
“Cepat ganti bajumu,” ujar Felix.
Seketika Jane mengurungkan niatnya untuk menusuk potongan apel baru dari piring dan membuat garpunya menggantung di udara. Apa kata Felix barusan? Setelah tiga puluh menit berlalu, dia baru menyadari penampilan Jane?
“Kenapa? Apa aku jelek memakai gaun ini?” tanya Jane, mengingat pria itu diam saja sejak tadi jadi ini adalah kesempatan bagus untu Jane bertanya padanya.
“Kalau aku bilang cantik,” Felix menoleh dan menatap Jane tajam, “Apa kamu akan memakainya keluar agar semua pria terpesona padamu?”
“Hah?” Jane seketika melongo.
‘Ada apa ini?’ batin Jane. Kenapa tatapan Felix menyeramkan sekali? Tenggorokan Jane mendadak terasa kering ditatap seperti itu olehnya. Ini bukanlah reaksi yang Jane harapkan.
“Ap-apa maksudmu?” tanya Jane dengan sedikit terbata.
“Cepat ganti bajumu atau...” Felix menggantung kalimatnya dan kembali memalingkan wajah, membuat Jane dapat meraih oksigen yang mulai menipis di paru-parunya karena menahan napas melihat tatapan Felix.
“.... seseorang akan menyerangmu.” Lanjut Felix.
“H-hah?” Jane melongo untuk yang kedua kalinya.
Felix menyugar rambut kelamnya asal, dan syukurlah baju yang dia kenakan tidak menggunakan kancing sehingga ia tidak perlu repot-repot melonggarkan kerahnya. Ekspresi kaget Jane yang terlihat polos itu mulai membuatnya muak.
Felix tidak memberi Jane kesempatan untuk berpikir ataupun bersiap, karena dia langsung bergerak maju dan menerjang istrinya itu, mendesak Jane hingga tubuhnya terdorong ke belakang dan kini punggungnya bersandar pada sisi sofa. Bibir milik Jane menjadi sasaran Felix. Tak hanya membuat Jane merasakan kelembutan bibir tebal Felix di bibirnya, pemuda itu juga memagutnya dengan mesra. Membuat bibir Jane bersarang di dalam bibirnya seakan milik Jane sesegar kiwi yang dimakannya sejak tadi. Dari sela-sela mulutnya, Jane dapat merasakan rasa asam buat kiwi dari mulut Felix.
Beberapa menit berlalu hingga akhirnya Jane mulai memukul-mukul dada Felix karena pasokan oksigen di paru-parunya mulai menipis.
Felix membiarkan Jane membuka mulutnya dan menarik napas sebelum kemudian dia kembali menginvasi bibir Jane. kini giliran dia yang mengobservasi bagian dalam mulut Jane, menyesap rasa manis buah apel dari sana.
Jane tidak bisa tenang kendati kedua mata indahnya tertutup sejak tadi. Ia berusaha menetralisir detak jantungnya yang mulai berdetak abnormal, serta aliran darahnya yang terasa mengalir langsung ke kedua belah pipinya yang ia rasa sudah semerah paprika. Tak tahu harus berbuat apa, tangan Jane terangkat hendak melingkari leher Felix namun ia terkejut saat bersentuhan dengan kulit wajah pemuda itu yang terasa panas.
Kontan saja Jane membuka mata dan mendapati wajah Felix yang sudah memerah hingga ke telinga. Setelah mengamatinya selama ini, Jane tahu kalau wajah Felix mudah menjadi merah saat malu, dan Jane juga baru menyadari biasanya Felix juga akan merasa kepanasan sehingga dia akan mengibas-ngibaskan bajunya. Bodoh sekali dirinya tidak menyadari gestur pemuda itu saat dia menarik-narik piyama satinnya tadi, padahal Jane tahu bahan seperti itu sangat ringan saat digunakan jadi tidak mungkin Felix akan merasa kepanasan mengenakannya di ruangan ber-AC seperti ini.
Maka yang selanjutnya Jane lakukan adalah menarik ujung piyama Felix ke atas, berusaha membebaskan suaminya itu dari balutan baju tidur yang dikenakannya itu. Saat Jane kesulitan karena piyamanya tersangkut di kedua lengan Felix, pemuda itu segera melepas pagutannya pada Jane.
Felix menjauhkan tubuhnya dan melepas piyamanya sendiri hingga kini dirinya tidak mengenakan atasan sama sekali. Jane menggigit bibir melihat pemandangan itu. Ini bukan pertama kalinya ia melihat dada bidang dan juga otot-otot di perut Felix, tapi tetap saja ia merasa malu.
Felix kembali bergerak maju dengan ekspresi yang baru kali ini Jane lihat. Tatapannya sendu namun tajam. Sekarang bukan bibir Jane lagi yang menjadi sasarannya, melainkan leher jenjang Jane yang tak tertutup sehelai rambut pun.
Dengan hati-hati, Felix melabuhkan kecupan di sana, membuat Jane seakan disengat listrik saat bibir pemuda itu menyentuh kulit lehernya. Felix adalah penjelajah yang baru saja menjejakkan kaki di daratan leher Jane. Dia tidak mau melewatkan seinci pun bagian dari tengkuk Jane hingga akhirnya dia menemukan tempat yang tepat untuk meninggalkan jejak, menunjukkan bahwa dialah orang yang pernah menjejakkan kakinya di sana. Felix menghisap tengkuk Jane kuat-kuat hingga ******* pelan terdengar dari bibir Jane.
Tak puas hanya di satu tempat, dia bergerak turun ke pundak Jane, menyingkap tali piyamanya yang semula bertengger di bahu gadis itu, menyingkirkan setiap rintangan yang menghalanginya melangkah lebih jauh. Seirama dengan tangannya yang sibuk menurunkan tali piyama, sebelah tangan Felix bergerak mengangkat bagian bawah gaun malam yang Jane kenakan, sehingga dia bisa menelusuri paha mulus Jane dengan leluasa.
Jane bergerak-gerak gelisah seperti cacing kepanasan. Darahnya berdesir merasakan setiap sentuhan Felix di kulitnya. Ia meremas bahu polos Felix pelan saat pemuda itu meninggalkan tanda kepemilikan untuk kedua kalinya. Dan jantung Jane seolah akan keluar dari rongga dadanya saat ia rasakan tangan Felix menyentuh perut datarnya dari balik gaun malamnya.
“T-tunggu, Felix...” ujar Jane.
“Aku sudah menunggu dari tadi, Jane. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi,” ujar Felix pelan tepat di telingannya. Lantas pemuda itu kembali membenamkan wajahnya di tengkuk Jane.
“Bukan itu maksudku. Makanya dengarkan aku dulu,” jawab Jane sambil sekuat tenaga mendorong dada Felix menjauh, membuat pemuda itu menatapnya dengan bingung.
“Apa kamu yakin akan melakukannya di sini? Di sini terlalu sempit dan punggungku sakit. Kamu tidak berniat menggendongku ke atas seperti waktu itu?” ujar Jane dengan eskpresi yang lucu. Ia sedang melakukan protes namun wajahnya juga memerah karena malu.
Sejenak Felix hanya balas memandang Jane tanpa ekspresi. Namun dua tetik kemudian, sebuah senyum terpeta di bibirnya.
“Baiklah kalau itu maumu.”
...----------------...