
.
.
.
“Jane...” ujar Felix dengan suara yang terdengar mengantuk dan setengah sadar.
Merasakan tangannya yang digenggam pria itu, dada Jane bergemuruh tidak karuan. Antara terkejut dan waswas apa yang akan pria itu lakukan karena Jane merasa Felix terlihat menatapnya diam dan masih menggenggam tangannya kuat. Apa pria ini akan..... oh, tidak. Jane belum siap.
“Kamu mau ap–”
“Kamu sudah makan?”
Hah? Seketika gemuruh di dada Jane langsung hilang dan ia terdiam.
“Jam berapa ini?” tanya Felix sambil mengalihkan pandangannya ke arah jam dinding yang ada di kamar. “Oh, sudah jam sebelas. Kamu pulang larut sekali,” ujar Felix sambil mengusap kedua matanya. Sedangkan Jane masih mematung tak mengerti. Seketika otaknya seperti berjalan lambat, bahkan tidak mampu manangkap situasi apa yang terjadi saat ini.
Felix melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan Jane dan bangun terduduk. “Kalau kamu belum makan aku akan membuatkanmu makanan,” ujarnya lagi sambil menguap.
Jane meringis menyadari betapa bodohnya ia saat ini. “Tidak, nggak usah. Aku mau langsung ti–”
Krucuukk
Jane manatap Felix datar. Dalam hati ia benar-benar merasa malu. Jujur saja, ia memang belum makan malam. Tapi kenapa perutnya tidak mau bekerja sama, sih?
Tanpa mengucapkan apa-apa, Felix langsung bangkit dari ranjang.
“Kamu mau ke mana?” tanya Jane sambil memutar kepalanya mengikuti Felix yang sudah berjalan ke arah pintu.
Felix menghentikan langkahnya dan menoleh pada Jane. Sejenak pria itu mengernyit, “Tentu saja ke dapur. Akan kubuatkan kamu spaghetti,” jawab Felix kemudian kembali berjalan. Saat sudah sampai di ambang pintu, pria itu berbalik lagi. “Kamu mandi sana, setelah itu turun ke meja makan. Kamu harus makan dulu, oke?” perintahnya.
“Oke,” jawab Jane sambil mengangguk pelan. Felix tampak tersenyum tipis dan menghilang dari ambang pintu.
Begitu Felix menghilang, Jane langsung mengernyitkan keningnya. Hah, apa yang barusan ia katakan? Oke? Kenapa Jane jadi menurut padanya? Menyebalkan. Tapi ya sudahlah, Jane memang sangat lapar saat ini. Ia pun bangkit dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi.
Setelah selesai mandi, Jane langsung turun ke bawah dan mendudukkan dirinya di meja makan. Ia menatap punggung Felix yang sedang sibuk memasak. Perutnya semakin keroncongan saat aroma spaghetti menguar di ruangan dapur, membuat ia menelan ludah.
Jane tampak bersemangat saat Felix yang mengenakan apron datang membawa dua piring besar spaghetti bolognaise dan menyajikannya di hadapan gadis yang sudah siap menyantap makanannya dalam satu lahapan.
Tapi sejenak Jane mengernyit. “Kenapa ada dua piring?” tanyanya pada Felix yang baru saja mendudukkan diri di hadapannya. Tentu saja Jane patut heran. Selapar-laparnya dirinya, tidak mungkin Jane mampu menghabiskan dua piring besar spaghetti sekaligus.
“Yang satu lagi untukku,” jawab Felix singkat yang tak menyurutkan kerutan di kening Jane, malah justru menambah keheranan di benak gadis itu.
‘Apa pemuda ini belum makan malam? Ya ampun, jangan-jangan karena menungguku pulang?’ batin Jane.
“Kenapa? Kenapa kamu memandangiku seperti itu?” tanya Felix dengan ekspresi tak suka. Pria itu memang risih bila ditatap terus-menerus.
“Kamu belum makan malam?” bukannya mengalihkan pandangan, Jane malah melayangkan pertanyaan sambil tetap menatap pria itu lekat-lekat.
Felix menggeleng pelan. “Tidak, aku sudah makan malam sebelum tidur tadi.” Felix dapat melihat jelas kalau gadis itu menghela napas lega.
“Lalu kenapa kamu makan lagi?” tanya Jane sembari mengambil botol lada hitam di tengah meja. Belum sempat Felix menjawab, gadis itu menyadari sesuatu. “Ah, apa karena aku? Kamu tidak perlu menemani aku makan. Kalau kamu mau tidur lagi juga tidak apa.”
“Tidak, aku memang lapar kok.”
‘Hah? Lapar? Tengah malam begini?’ batin Jane semakin heran.
Entah Jane yang terlalu mudah ditebak, atau seorang Felix memang paham benar arti tatap gadis itu sehingga akhirnya dia menggaruk kepalanya pelan dan menjelaskan.
“Memang sudah kebiasaanku dari dulu suka terbangun tengah malam karena lapar.”
Jane kemudian meng-oh-kan jawaban Felix tanda mengerti, sebenarnya masih agak heran juga melihat postur tubuh Felix yang berbanding terbalik dengan kebiasaannya itu. Tapi Jane memilih untuk tidak memusingkannya lagi dan memilih mengambil garpu dan sendoknya. Ia menggulung spaghetti dengan garpunya kemudian memasukkannya ke dalam mulut. Jane berkemam senang merasakan kelezatan bumbu daging yang lumer di lidahnya. Cukup lama mereka diam menikmati hidangan tangah malam itu, sampai akhirnya Jane bersuara.
“Bagaimana hari ini?” tanya Jane membuka percakapan di tengah-tengah kegiatan mengunyahnya. Bukannya memberi jawaban, Felix malah tetap mengunyah makan malamnya sambil menatap Jane. Dan ya, Jane tahu benar kalau pertanyaannya itu terdengar seperti pertanyaan yang tidak lengkap, makanya Felix menatapnya seperti itu. “Maksudku, bagaimana Aiden hari ini? Pasti sangat melelahkan mengurus Aiden sendiri seharian.”
Felix mengangguk pelan, akhirnya mengerti ke arah mana pertanyaan Jane. Pria itu mencoba menelan spaghetti yang memenuhi pipinya kemudian menjawab. “Tidak juga.”
Dia kemudian mengingat kembali kegiatan yang dilakukannya seharian ini di rumah.
-Flashback-
Pukul delapan pagi, Jane baru saja berangkat ke kantor setelah menyantap omurice buatan Felix sebagai sarapan paginya. Begitu Jane menghilang di balik pintu apartemen, tinggal lah pria jangkung ini bersama Aiden yang tertidur di kereta bayinya setelah jalan-jalan pagi bersama Felix tadi.
Felix mendudukkan dirinya di atas sofa krem ruang tamu dan menonton acara berita pagi di televisi. Pria itu tampak tenang dan sesekali kepalanya terulur untuk menengok keadaan bayi mungilnya di dalam kereta bayi. Tapi ketenangan yang dirasakannya tidak bertahan lama. Benaknya mulai berkecamuk dan ia pun merasa resah.
Apakah dia bisa mengurus Aiden sendirian?
Aiden sudah minum susu tadi pagi tapi dia belum dimandikan. Memandikan Aiden? Selama ini Jane yang memandikannya. Felix sama sekali belum pernah memandikan bayi. Meski ia sudah membaca berbagai artikel tentang mengurus bayi, tetap saja akan berbeda jika dicontohkan secara langsung. Apa sebaiknya ia menelepon Mama Jane saja? Tapi itu akan sangat merepotkan. Apalagi jarak rumah orangtua Jane lumayan jauh dari sini, dan itu akan terlihat tidak sopan di mata Papa.
Seketika Felix menyesal tidak minta diajarkan Jane kemarin.
Ditengah kegiatan berpikirnya, tiba-tiba pria itu merasa haus. Felix bangkit dan berjalan ke arah dapur, ia berencana untuk membuat kopi. Felix membuka rak-rak di atas kompor. Tidak sulit baginya untuk menemukan kotak berisi bubuk kopi kesukaannya karena ia lah yang meletakkannya di sana, tepat di sebelah kaleng susu formula yang tak lain adalah milik Aiden. Felix turut mengambil kaleng susu itu dari dalam rak. Kembali dibacanya indeks keterangan di belakang kaleng tersebut serta takaran untuk bayi yang baru lahir.
Bayi yang baru lahir?
Seketika Felix tahu harus menghubungi siapa saat ini. Ia meletakkan kembali kaleng susu ke dalam rak dan bergegas mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja ruang tamu. Felix menelusuri daftar kontaknya, mencari nama seseorang.
Ketemu.
Tanpa ragu, Felix langsung menyentuh tombol dial pada ponsel layar sentuhnya. Tidak butuh waktu lama hingga orang tersebut mengangkat panggilannya.
“Halo.”
“Halo.”
“Ada apa? Tumben sekali kamu meneleponku?”
“Bisakah kamu cepat kesini.”
“Hah? Kemana? Ngomong itu yang jelas dong, ke rumahmu ata ke kan–”
“Ke rumahku..... eh, maksudku ke...” Felix menyebutkan alamat tempat tinggalnya sekarang.
“Hei, kamu pindah rumah?”
“Sudah, cepatlah datang. Aku butuh bantuanmu.”
“Ckck, oke oke. Aku akan ke sana sekarang.”
Sambungan telepon pun terputus. Felix mendudukkan diri dan merebahkan pundaknya di sandaran sofa. Setidaknya ia bisa bernapas lebih tenang sekarang.
Dua puluh menit kemudian, terdengar suara bel berbunyi. Orang yang ditunggunya telah datang. Felix mengangkat tubuhnya yang sedang berbaring di atas sofa dan melangkah menuju pintu depan. Tangan kanannya membuka pengait dan menarik gagang pintu, dan tampaklah seorang pria yang bertubuh lebih pendek darinya berdiri di hadapannya.
“Hai, Felix,” sapa pria itu riang sambil tersenyum lebar.
“Sudah berapa kali kubilang, jangan tersenyum lebar seperti itu padaku, Henry.”
Pria itu tidak menghiraukan ucapan Felix dan malah tersenyum semakin lebar. Felix mendelik malas pada teman baiknya itu.
“Kenapa kamu tidak cerita padaku kalau kamu pindah?” Henry yang memiliki sifat bertolak belakang dengan Felix itu mulai melayangkan protes. Tapi bukannya menanggapi, Felix malah melangkah masuk meninggalkan pria tersebut yang kini bertugas menutup pintu apartemennya. Tipikal seorang Felix Setiawan.
“Ya ampun. Bayi siapa itu?”
“Bayiku.”
“A-apa?! Bayimu?!”
Felix masih memasang ekspresi datarnya dan Henry mulai memutar padangannya. Rasa terkejutnya terjawab saat matanya menangkap sebuah foto pernikahan Felix dan Jane yang terbingkai manis di dinding ruang tamu. Foto itu lumayan besar sehinggal kecil kemungkinan kalau Henry salah lihat.
“Kamu sudah menikah?! Sejak kapan?!”
Tak ada tanggapan dari Felix.
“Kamu menikah dan tidak mengundang satu pun dari kami? Teman macam apa itu?!”
Kini Felix mengangkat Aiden dan mendekapnya.
“Felix je–”
Henry menghentikan ucapannya saat Felix menempelkan telunjuknya di depan bibir, mengisyaratkan pria itu untuk diam.
“Jelaskan padaku!” ujar Henry lagi dengan suara berbisik.
Pria itu kemudian beringsut duduk disebelah Felix, ikut memperhatikan wajah malaikat kecil yang mulai membuka matanya itu. Felix menempelkan punggung jari telunjuknya pada bibir mungil Aiden saat bayi itu menguap. Kelopak mata Aiden mengedip secara perlahan, mencoba menyesuaikan cahaya dari sekitar yang masuk ke dalam pupilnya. Tak tanya Felix, Henry pun turut terenyuh melihat pemandangan menggemaskan itu.
“Siapa namanya?”
“Aiden. Aiden Setiawan.”
Henry melirik Felix sekilas ketika mendengar kata Setiawan pada akhir nama Aiden. Dia kemudian kembali menatap Aiden. “Ya ampun, imut sekali.”
“Ini alasan kenapa aku memintamu datang ke sini.”
“Hah?” Henry menatap Felix bingung.
“Aku ingin meminta bantuanmu.”
“Aku?” mendengar tanggapan Henry, Felix menjadi ragu. Ditolehkannya kepalanya ke arah Henry dan keningnya berkerut.
“Bukankah istrimu baru saja melahirkan?”
“Eh? Iya, lalu apa hubungannya dengan aku datang ke sini?”
“Aku ingin minta diajari cara mengasuh bayi, bodoh.”
“Ooohhh,” Henry bangkit berdiri dan menunjuk-nunjuk Felix. “Kenapa kamu nggak bilang dari tadi? Aku ini lumayan jago, loh. Kamu ingin aku mengajari apa? Hah, apa?”
Felix menggeleng pelan melihat reaksi Henry. “Pertama, tolong ajari aku memandikan Aiden. Aiden belum mandi pagi ini.”
“Oke!” tanpa diperintah, Henry bergegas hendak pergi, namun langsung berbalik kembali. “Uhh, di mana kamar mandinya?”
Lagi-lagi Felix menggeleng pelan dan langsung berjalan melewati Henry ke arah kamar mandi. Henry mengikutinya dan langsung menyiapkan perlengkapan mandi begitu tiba di sana, dibantu Felix setelah meletakkan Aiden di tempat tidur dan memastikannya aman di sana.
Bak mandi telah terisi air hangat. Sabun serta sampo khusus bayi juga telah tersedia di sekeliling bak-nya. Kini Felix tengah melepaskan pakaian Aiden dengan hati-hati. Setelahnya, ia menggendong Aiden dan menghampiri Henry yang telah duduk menunggu di samping bak mandi bayi.
Felix masih mematung dengan Aiden di dekapannya, tidak tahu harus melakukan apa. Henry melayangkan tatapan mengisyaratkan Felix untuk memasukkan Aiden ke dalam bak mandi.
“Aku?!”
“Tentu saja, kan kamu yang ingin belajar.”
Secara perlahan, Felix merendahkan tubuhnya dan mendudukkan diri di atas bangku kecil di samping bak. Gerakan Felix kaku sekali saat hendak meletakkan Aiden ke dalam bak mandi. Hampir saja punggung Aiden menyentuh permukaan air hangat itu saat Felix kembali menariknya.
“Kamu yakin?”
“Sudah, lakukan saja! Kamu ini, nanti airnya keburu tidak hangat!”
Felix kembali meletakkan Aiden secara perlahan dan kali ini Aiden benar-benar menyetuh air hangatnya. Selanjutnya, Felix membasuh tubuh Aiden dengan tangannya yang tidak menyangga tubuh mungil bayi itu. Kelopak mata Aiden membuka dan menutup merasakan sensasi dimandikan oleh papanya.
Henry menuangkan sabun khusus bayi ke atas tangan Felix dan kemudian pria itu mulai menyabuni badan Aiden. Henry menginstruksikan untuk menyabuni dari perut ke pundak kemudian turun ke kedua kaki mungil Aiden, dan Felix dengan patuh menurutinya. Sama pula saat Felix mengeramasi rambut tipis Aiden. Felix membasuh sisa-sisa sabun di tubuh Aiden dan kegiatan mandi pun berkahir.
Felix sukses memandikan Aiden tanpa bantuan sama sekali, hanya diiringi instruksi-instruksi dari Henry.
Aiden sudah selesai mandi dan Felix sudah mendandaninya rapi dengan atasan berwarna kuning muda dipadu celana panjang serta kaus kaki berwarna senada. Felix mengangkat tubuh Aiden perlahan dan mulai menciuminya.
“Anak Papa tampan sekali,” kagumnya lalu kembali mengecup pipi gembul Aiden. Bibir mungil Aiden melengkung seolah tertawa atas perlakuan papanya itu.
“Astaga, Papa, hah? Wah, aku tidak percaya ini,” ujar Henry sambil memperhatikan tingkah Felix. Felix hanya tertawa pelan menanggapinya.
Mendengar tanggapan seperti itu, Henry melebarkan matanya dan sedikit menganga. Ternyata seorang Felix yang selama ini dia kenal cuek dan dingin bisa berubah seratus delapan puluh derajat ketiak sudah berhadapan dengan seorang bayi.
“Makasih, Henry. Kamu berguna juga ya di saat seperti ini.”
“Ah, kamu terlalu meremehkanku saja,” gusar Henry. Teman baiknya ini baru saja memuji sekaligus mengejek dirinya.
“Lalu, apa lagi yang harus kuketahui tentang mengurus bayi?” tanya Felix, mengacuhkan protes dari Henry. Henry berkemam sejenak.
“Bayi pasti akan terbangun tengah malam karena lapar. Apalagi saat seumuran ini, dia akan minum susu lebih banyak saat malam dan pagi.”
“Itu aku sudah tahu.”
“Sudah, diam dan dengarkan saja,” protes Henry, membuat Felix memilih untuk mengamati Aiden yang mulai kembali terlelap di pelukannya.
“Kamu harus memberinya susu enam kali sehari. Setiap tiga sampai empat jam.”
Felix mengangguk mengiyakan.
“Dan pastikan dia tertidur selama lima sampai enam jam pada malam hari.”
Felix mengernyit dan mulai membatin, ‘Aku sudah tahu.’
“Kalau dia menangis, pastikan untuk mengecek popoknya. Karena bayi yang baru lahir sampai berumur tiga bulan pipis dua puluh menit sekali, jadi kamu harus segera mengganti popoknya.”
Ah, kalau yang ini Felix belum tahu, ia akan mengingatnya.
“Lalu, apa dia memiliki alergi?”
“Tidak. Jane bilang pihak panti asuhan pasti akan memberitahukan kalau Aiden memiliki alergi atau penyakit lainnya.”
Henry mengerutkan keningnya. “Panti?”
-End of flashback-
...----------------...
...- Henry -...