
.......
Felix merasakan beban di pundaknya semakin berat. Pemuda itu tersenyum tipis kala dirinya melirik ke sisi kanannya dan melihat Jane yang sudah tertidur sambil menyandarkan kepala pada pundaknya.
Setelah selesai memainkan piano tadi, Felix menggeser kursi menghadap pagar balkon dan mengajak Jane untuk mengobrol ringan sambil menatap langit yang malam itu terlihat cerah dan dipenuhi oleh bintang.
Dengan perlahan, Felix memiringkan tubuhnya dan menyelipkan sebelah tangannya untuk menahan punggung Jane dan sebelah tangan lainnya dia selipkan di sela-sela kaki gadis itu. Lantas Felix bangkit seraya mengangkat tubuh mungil istrinya itu dengan hati-hati. Felix membawa Jane yang sudah tertidur ke kamar mereka.
Dibaringkannya Jane di atas ranjang dengan perlahan. Setelah memosisikan kepala Jane di bantal dengan senyaman mungkin, Felix baru saja hendak bangkit saat lengan Jane mendadak terangkat melingkari leher Felix, menahannya untuk bergrak lebih jauh lagi.
“Jangan pergi,” lirih Jane. Perlahan, kelopak mata gadis itu mulai terbuka. Felix menatapnya dengan sedikit kaget karena ternyata Jane tidak benar-benar tertidur. “Jangan kemana-mana,” tambah Jane pelan.
Felix tersenyum tipis dan sebelah tangannya terangkat ke puncak kepala Jane, mengusapnya dengan lembut dan menyingkirkan helai-helai rambut yang menutupi paras cantik istrinya.
“Aku tidak akan kemana-mana, Jane,” suara lembut Felix yang khas bergema di telinga Jane, membuat sebuah senyum serta-merta tercipta di paras jelitanya.
“Aku mencintaimu, Felix,” gumam Jane pelan seraya matanya menatap Felix intens, membiarkan detik demi detik bergulir dan napas mereka bersahutan mengiringi tatapan keduanya yang terkunci. “Terima kasih karena telah menjadi suamiku.”
Setelah mengucapkannya, kelopak mata Jane kembali menutup, yang sontak membuat Felix tertawa tanpa suara. Tadinya dia kira Jane akan..... ah, sudahlah, mungkin istrinya ini memang sangat kelelahan hari ini. Felix tidak tahu saja kalau Jane sudah bekerja ekstra untuk menyiapkan sebuah kejutan yang gagal hari ini. Kepala Jane bergeser sedikit ke kanan dan pegangannya di leher Felix mengendur, menandakan kalau kali ini gadis itu benar-benar sudah tertidur.
Namun Felix enggan bangkit, dia masih ingin memandangi paras terlelap Jane. Tatapannya berubah sendu, dan jemarinya kembali terselip di antara rambut Jane dan lantas turun ke pipi mulus gadis itu. Perlahan namun pasti, wajah Felix bergerak maju. Felix memejamkan mata seraya bibirnya bersentuhan dengan dahi istrinya.
“Aku lebih mencintaimu, Jane.” ujar Felix pelan.
...***...
Mark mengemudikan mobilnya dengan tergesa-gesa, membelah jalanan kota Jakarta yang mulai sepi seiring malam yang semakin larut. Sesekali matanya melirik pada ponselnya yang tergeletak di dashbor, seakan menunggu pesan atau panggilan masuk dari seseorang. Detak jantungnya berpacu dengan cepat setiap ia mengingat pesan yang dikirimkan seseorang padanya kemarin malam.
‘Dia akan tiba di Indonesia besok malam, pukul sepuluh.’
Isi pesan itu lah yang menjadi alasan Mark langsung melajukan mobilnya menuju bandara setelah pesta perayaan ulang tahun Felix di kafe dibubarkan. Pesan itu juga yang membuat Mark seharian ini merasa senang sekaligus resah. Tapi bukan Mark namanya kalau dia tidak bisa menyembunyikan kerisauan hatinya dengan sifat ceria yang dimilikinya, sehingga tak ada satu pun sahabatnya yang tahu tentang kedatangan seseorang yang sangat Mark nantikan di Jakarta hari ini.
Mark tiba di bandara satu jam kemudian, dan ia langsung berlari masuk ke dalam setelah memarkirkan mobilnya. Sejenak langkahnya terhenti di depan papan daftar kedatangan dan keberangkatan pesawat. Dengan napas terengah, tatapannya bergulir membaca satu per satu tulisan yang ada di sana, mencari tahu apakah pesawat yang ditunggunya sudah mendarat atau belum. Setelah menemukan jawabannya, ia kembali berlari.
Mark menghentikan langkahnya di depan pintu kedatangan luar negeri. Ia menunggu dengan was-was. Entah karena dirinya yang baru saja berlari atau karena kecemasan yang menderanya sedari tadi, keringat dingin mulai membasahi tengkuk dan tangannya. Mark masih berusaha mengatur napasnya yang terengah ketika pintu kedatangan mulai terbukan dan satu per satu penumpang mulai berdatangan. Tubuhnya seketika tegap, matanya mengamati setiap wajah yang berjalan keluar dari sana, berharap lensanya akan menangkap paras seorang gadis yang dikenalinya di antara orang-orang tersebut.
Jantungnya bertalu-talu setiap melihat perempuan muda berjalan melewati dirinya. Sejujurnya Mark tidak bisa menahan rasa senangnya saat mengetahui setelah sekian lama, gadis yang sangat dirindukannya itu akan kembali ke Indonesia. Tapi di saat yang bersamaan, Mark juga merasa resah, memikirkan kalau ternyata gadis itu tidak ada di antara orang-orang yang keluar dari pintu tersebut.
Hal ini terasa seperti deja vu baginya, mengingatkannya pada kejadian satu tahun yang lalu, saat dirinya berlari di dalam bandara menuju pintu keberangkatan, berharap ia dapat menemukan gadis itu dan mencegahnya pergi. Namun saat itu Mark terlambat, dan gadis itu pergi jauh meninggalkannya tanpa sempat berpamitan. Dan Mark tidak mau hal yang sama terulang untuk kedua kalinya.
Penumpang terakhir baru saja melewatinya dan Mark belum juga menemukan gadis tersebut. Seketika bahunya melorot dan hatinya mencelos. Mark berbalik dan melangkah dengan gontai.
‘Lagi-lagi aku kehilangannya,' batin Mark.
Kalimat itu terus terngiang-ngiang di benaknya sebelum kemudian terinterupsi oleh sebuah tepukan ringan di bahu kanannya, disusul dengan suara seseorang yang memanggilnya.
“Mark?”
Mark sangat mengenali suara tersebut. Sontak ia menoleh dan mendapati seorang gadis berparas cantik berdiri tepat di belakangnya, menatapnya dengan ekspresi keraguan yang tercetak jelas di wajahnya. Perlahan sebuah senyum muncul di bibir Mark. Ia sangat mengenali wajah ini, wajah yang selalu tersimpan rapi di sudut hatinya.
...***...
Drrtt... drrtt... drrtt...
Jane mengerutkan keningnya dan kepalanya yang terbenam di bantal yang empuk mulai bergerak gelisah, merasa terganggu dengan bunyi ponselnya yang bergetar keras di atas meja nakas.
Tiga menit berlalu, dan benda persegi panjang itu belum juga diam, membuat Jane yang semula mengabaikan dan mencoba untuk kembali tidur merasa tidak tahan lagi dan memutuskan untuk menepuk pundak Felix yang masih terlelap di sebelahnya. Dibanding Felix, Jane memang lebih sensitif dengan suara di sekitarnya saat sedang tidur. Butuh beberapa kali tepukan hingga kelopak mata Felix mulai terbuka lamat-lamat.
“Ada apa?” tanya Felix yang baru terbangun dengan suara yang terdengar parau.
“Ada telepon masuk, tolong angkat sebentar. Aku mengantuk sekali,” ujar Jane dengan mata yang masih terpejam.
Mengerti, Felix mengulurkan tangannya melewati Jane untuk mengamit ponsel yang tergeletak di meja nakas yang ada di sisi tempat Jane tidur. Jane memeluk tubuh Felix yang mendekat padanya, mencari posisi ternyaman untuk kembali tidur di dalam pelukan suaminya itu. Felix langsung mengangkat telepon dan meletakkannya di telinga tanpa melihat lebih dulu siapa yang menelepon.
“Halo,” jawab Felix dengan suara pelan, masih mengantuk.
“Apa kalian begadang semalaman? Sudah jam berapa ini?”
Mata Felix yang semula akan kembali terpejam sontak membulat saat mendengar suara yang berbicara barusan.
“P-Papa?”
“Harusnya kalian mengantar Aiden ke rumahku pagi ini, dan ini sudah hampir jam sepuluh. Kalian ngapain saja, hah? Sekarang aku sudah di depan pintu apartemen kalian. Buka pintunya!” seru Papa lalu langsung mematikan teleponnya.
Refleks Felix bangun terduduk, membuat Jane yang sedang bersandar di dadanya ikut terangkat. Jane yang kaget lantas bertanya setengah panik. “Ada apa? Kenapa? Aiden menangis?”
“Jane, bangun! Barusan Papa menelepon dan dia bilang sekarang dia ada di depan pintu apartemen kita,” ujar Felix sambil mengguncang pelan pundak Jane agar kesadarannya terkumpul.
Jane mengusap matanya dengan malas, “Terus kenapa kalau ada Pa – apa?! Papa ada di depan pintu?!”
Felix mengangguk sambil bergegas turun dari ranjang. Jane juga ikutan turun dari kasur dan bertanya, “Jam berapa ini?”
“Jam sepuluh,” jawab Felix sambil membuka lemari untuk mencari pakaiannya.
“Ya ampun,” Jane meringis. “Kamu mandi duluan saja, aku akan memandikan Aiden. Setelah itu kamu yang mendandaninya dan aku akan gantian pergi mandi,” perintah Jane sambil berjalan menuju pintu kamar.
Felix mengangguk dan menyambar handuknya. Gagang pintu kamar mandi nyaris digapainya saat dia teringat sesuatu. “Tunggu, Jane,” dia kembali berbalik dan menatap Jane yang kini juga sedang menatapnya dari ambang pintu kamar. “Lalu siapa yang akan membukakan pintu untuk Papa?”
Jane pun terdiam. Ia merapatkan bibirnya sambil menggaruk kepalanya bingung.
...----------------...
...- Winny -...