Love, Maybe

Love, Maybe
Chapter 14



.......


Felix baru tiba kembali di apartemen saat jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Sejenak pria jangkung berusia dua puluh enam tahun itu berdiri diam di samping rak sepatu yang ada di dekat pintu masuk. Dia sedikit mengerutkan kening mendapati ruang tamu dan juga dapur dalam keadaan kosong. Baik Aiden maupun Jane tidak terlihat ada di lantai satu. Kemungkinan besar istri dan anaknya itu berada di lantai dua, atau mungkin saja sudah tertidur di kamar.


Mungkin benar Aiden sudah tidur, tapi mengingat waktu masih belum terlalu larut, Felix tidak terlalu yakin kalau Jane sudah tidur. Langkah kaki Felix bergerak menaiki tangga dengan hati-hati, karena siapa tahu kemungkinan bahwa keduanya sudah tidur memang benar.


Namun sesampainya dia di lantai dua apartemen, Felix melihat siluet wanita terpantul di gorden berwarna krem yang terpasang menutupi pintu balkon. Ada seseorang yang sedang berdiri di balkon dan sudah pastu itu adalah Jane, mengingat satu-satunya penghuni perempuan di rumah ini adalah gadis itu.


Felix merajut langkah mendekati pintu kaca yang mengarah ke balkon, lantas menyibak gorden perlahan hingga mendapati sosok Jane yang tengah memunggunginya, memandang ke arah langit yang malam ini sangat cerah dan dipenuhi bintang.


Deru angin malam memainkan rambut cokelat Jane yang digerai bebas, membuat pandangan Felix seketika terkunci pada Jane. Apalagi ketika gadis itu perlahan berbalik sehingga wajah cantiknya yang hanya diterpa cahaya bulan semakin jelas terlihat oleh mata Felix.


“Oh, Felix. Kamu sudah pulang rupanya,” Jane menyelipkan rambutnya ke belakang telinga seraya berujar ketika matanya menangkap sosok Felix di ambang pintu.


Kontan Felix menelan ludah, agak salah tingkah karena merasa dirinya baru saja tertangkap basah sedang menatap Jane. “Uhm, Jane, kamu sedang.....” mata Felix turun ke arah kaki Jane, “... apa?”


Tadinya Felix kira Jane sedang menikmati pemandangan di malam hari dari balkon apartemen mereka. Namun kini dia tak begitu yakin lagi saat mendapati kedua kaki kurus nan mulus gadis itu sedang terendam di dalam sebuah bak. Sepersekian detik kemudian jawaban Jane menjawab keheranan Felix.


“Oh, aku sedang mencuci seprai kasur Aiden.”


“Mencuci seprai?” tanya Felix bingung dengan kening yang sedikit berkerut.


“Iya,” Jane merapikan rambutnya yang kembali diterjang angin malam. “Seprai ini harus dicuci tangan. Dan kamu tahu, aku sering melihat cara mencuci yang diinjak-injak seperti ini di beberapa drama Korea yang aku tonton, jadi aku menirunya. Ternyata memang dengan cara seperti ini mencucinya jadi tidak terlalu berat,” jelas Jane yang lantas membuat Felix manggut-manggut.


“Boleh aku bantu?” tanya Felix pelan. Namun, tanpa menunggu persetujuan Jane, Felix melangkah mendekat ke arah Jane sembari menggulung legan panjang kaosnya.


“T-Tidak usah, Felix. Kamu kan baru pulang, kamu istirahat saja sana.”


“Tidak apa-apa, aku tidak lelah dan aku juga belum mengantuk,” imbuh Felix yang kini tengah melipat bagian bawah celana panjangnya dengan sebelah tangannya yang sudah tidak diperban lagi.


“Tapi tanganmu kan masih terluka,” Jane kembali berujar, menunjuk pada sebelah tangan Felix yang masih dililit dengan perban.


“Aku hanya perlu menggunakan kaki ku saja, kan? Lagipula hanya ini yang bisa kulakukan untuk membantumu.”


Jane tak bisa lagi mengelak saat Felix memasukkan kedua kakinya ke dalam bak. Sayangnya, ukuran bak yang Jane gunakan tidak terlalu besar sehingga kini jarak dirinya dan Felix menjadi sangat dekat. Bahkan Jane bisa mencium samar aroma maskulin yang menguar dari tubuh Felix. Meskipun kedua kaki Felix sudah masuk ke dalam bak, mereka berdua hanya mematung cukup lama, dilanda kecanggungan sehingga hanya keheningan dan semilir angin malam yang mengisi.


“Aku akan mun–”


“Hati-hati!”


Jane baru saja akan mengambil jarak saat kakinya hampir saja terpeleset. Untungnya Felix dengan tanggap segera menarik kedua lengan Jane, namun aksinya itu malah membuat Jane tertarik semakin dekat pada tubuh Felix. Sepasang mata keduanya membelalak karena campuran kaget karena hampir terjatuh dan karena jarak mereka yang kini terlampau dekat.


“Apa yang kamu lakukan?” tegur Felix akhirnya. “Cucian ini kan licin, berhati-hati – aahk!” Jane terkejut saat tiba-tiba saja Felix meringis, dan akhirnya ia baru menyadari kalau tangan Felix yang terlilit perban masih memegangi lengannya dengan erat.


“Aduh, maaf, kamu tidak apa-apa?” Jane lagi-lagi hendak menjauh dan hampir terpeleset kembali. Kali ini Felix merengkuh pinggangnya mendekat.


“Jangan mundur, sudah kubilang cuciannya licin. Letakkan saja tanganmu di pundakku,” ujar Felix, terdengar sedikit canggung. Menurut karena tidak mau berlama-lama di dalam posisi direngkuh pinggangnya oleh Felix, Jane lekas menyampirkan kedua tangannya di pundak pemuda itu.


Seketika keduanya membisu. Hanya terdengar suara kecipak-kecipuk air yang beradu dengan kaki. Sesekali Felix mengibaskan kaos yang dikenakannya, merasa gerah kendati sebelumnya angin malam terasa cukup dingin menusuk. Sementara Jane hanya mampu menunduk, berusaha hanya fokus pada cucian yang ada di bawahnya.


“Apa Aiden sudah tidur?” ujar Felix akhirnya memecah keheningan. Jane yang masih menundukkan wajahnya mengangguk ringan. “S-Sudah.”


“Sudah lama?”


“Sejak pukul enam tadi.”


“Dia sudah minum susu?”


“Sudah.”


Felix berdeham setelahnya. Mungkin keheningan akan kembali mendominasi jika saja Jane tidak menengadahkan wajahnya dan berucap. “Felix, ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”


Ucapan Jane barusan lantas dibalas dengan tatapan lurus mata Felix yang jatuh tepat di irisnya. Felix menunggu gadis ini melanjutkan ucapannya.


Felix mengerutkan keningnya dalam-dalam. Jane sepertinya paham betul dengan ekspresi yang tercetak di wajah suaminya itu. Sudah pasti Felix tidak mengerti.


“Uhm, maksudku, aku tidak ingin menggunakan baby sitter. Aku ingin mengurus Aiden dengan tanganku sendiri. Hari ini aku menyadari perkembangan-perkembangan kecil Aiden dan hal itu akan terjadi hanya sekali. Aku ingin menyaksikannya sendiri saat Aiden akhirnya bisa berbicara nanti, saat Aiden mulai merangkak, dan saat Aiden bisa memakan makanannya sendiri. Waktu-waktu berharga itu tidak akan bisa terulang dan aku tidak ingin melewatkannya.” Jane menarik napas dalam-dalam setelah menjelaskan semuanya dalam satu tarikan napas.


Felix menatap Jane sesaat, lalu dia mengangguk-anggukkan kepalanya paham. “Kalau memang kamu mau begitu, baiklah. Kita tidak perlu memakai baby sitter lagi.”


Perkataan Felix sontak membuat sorot mata Jane berubah berseri dan ia tersenyum lebar. Terhapus sudah semua kegundahan yang sempat menguar di benaknya.


“Kamu tidak keberatan?” tanya Jane.


“Tentu saja tidak. Sebenarnya aku juga lebih suka mengurus anakku sendiri, dibandingkan menggunakan baby sitter. Kita bisa merawat Aiden bersama,” jawab Felix sambil menampilkan seulas senyum tipis.


“Syukurlah kalau kamu juga berpikiran yang sama denganku,” Jane tersenyum senang, tapi detik berikutnya ia kembali menatap Felix dengan kening sedikit berkerut. “Tapi bagaimana dengan pekerjaanmu? Kita berdua kan sama-sama akan sibuk bekerja.”


Felix merapatkan bibirnya, terlihat sedang berpikir. “Sepertinya kita harus membuat perjanjian.”


“Perjanjian seperti apa?” tanya Jane sambil menatap Felix penasaran.


“Sebaiknya sekarang kita selesaikan dulu cucian ini. Sepertinya angin juga bertiup semakin kencang, bisa-bisa kamu masuk angin kalau terlalu lama merendam kaki di air. Baru setelah itu kita bicarakan di ruang makan,” ujar Felix. Jane mengangguk setuju, dan mereka pun kembali sibuk dengan kegiatan mencuci mereka yang tadi sempat terhenti sebentar.


Setelah cuciannya selesai dan sudah dijemur, Felix dan Jane segera turun ke lantai bawah. Felix meletakkan secangkir capuccino hangat yang baru saja dia buat di hadapan Jane, dan latte untuk dirinya sendiri. Mereka pun mulai membicarakan soal perjanjian. Setelah berunding beberapa saat, mereka pun sepakat akan membagi waktu untuk menjaga Aiden bersama.


Dimulai dari keesokan harinya, pagi-pagi sekali Jane sudah memandikan Aiden dan mendandainya dengan rapi. Sedangkan Felix yang baru bangun setengah jam kemudian, bertugas untuk membuat sarapan. Pukul setengah tujuh mereka berkumpul di ruang makan untuk sarapan bersama sebelum kemudian Jane bergegas pergi ke kantor pada pukul tujuh pagi.


Sesuai perjanjian mereka, Jane akan pulang pukul tiga sore, bergantian menjaga Aiden karena pada pukul empat Felix akan berangkat ke cafe untuk bekerja sebagai barista di sana.


Setiap hari mereka jalani seperti itu dan tak terasa sudah tiga bulan berlalu. Sekarang Aiden sudah tidak lagi terbangun di tengah malam, dan mereka sudah membiarkan Aiden tidur sendirian di kamarnya, dengan kamera yang selalu setia mengawasi. Felix dan Jane juga tak lagi tidur terpisah. Mereka sudah terbiasa tidur di kasur yang sama karena toh keduanya sudah terlalu lelah sehingga cukup cepat terlelap.


...***...


Aiden kini telah berusia enam bulan dan membutuhkan makanan pendamping susu yang diminumnya. Jane sudah berangkat kerja dua jam yang lalu, dan pagi ini Felix memutuskan untuk pergi berbelanja bersama Aiden. Banyak sekali yang harus dibelinya. Mulai dari cadangan popok, susu formula, tisu basah, perlengkapan mandi serta beberapa bahan makanan segar. Felix berniat membuat sendiri makanan Aiden karena menurutnya hal itu akan lebih sehat dibanding mengandalkan bubur bayi instant.


Felix sedang menyusuri rak susu sambil mendorong troli belanja dan menggendong Aiden di depan menggunakan baby sling. Felix benar-benar bersemangat untuk berbelanja kali ini sehingga dia tidak merasa pegal walaupun telah menggendong Aiden selama hampir satu jam. Padahal berat Aiden sekarang sudah mencapai 7 kilogram, hampir dua kali lipat dibanding saat ia baru lahir.


“Aiden, apa lagi yang harus kita beli?” tanya Felix pelan.


“Ooh!”


Felix tidak bisa menyembunyikan senyumnya saat dia mendengar Aiden merespon pertanyaannya. Sekilas Felix menyentuh pipi tembam dan kemerahan Aiden, membuat bayi gembul itu tertawa kecil.


“Lihat, pria itu tampan sekali...”


“Gayanya keren sekali...”


“Apakah itu anaknya?”


“Mungkin dia seorang papa muda...”


“Anaknya juga lucu sekali...”


Tanpa Felix sadari, dirinya dan Aiden menjadi pusat perhatian beberapa pengunjung super market yang berada di sekitar mereka. Felix menoleh dan melihat beberapa gadis belia dan ibu-ibu muda yang sedang melihat ke arah dirinya dan Aiden. Satu senyuman sopan yang dilayangkan Felix cukup membuat orang-orang tersebut tersipu malu.


Setelah merasa sudah membeli semua yang dibutuhkannya, Felix segera membayar semua belanjaannya dan mendorong troli berisi kantung-kantung belanjaannya menuju pintu keluar. Saat sedang berjalan menuju mobilnya, sebuah toko kue yang ada di samping supermarket mencuri perhatian Felix.


“Apa sebaiknya aku membeli kue?” tanya Felix pada dirinya sendiri. Felix mengeluarkan ponsel dari kantung celananya. Dirinya hendak menanyakan apakah Jane ingin makan cake dan jam berapa ia akan pulang. Namun saat memperhatikan tanggal yang tertulis di lockscreen-nya, Felix teringat sesuatu.


...----------------...