Love, Maybe

Love, Maybe
Chapter 17



.......


“Papa, maaf kami ter–”


“Kalian sudah pulang? Ayo kita makan malam bersama.”


Jane maupun Felix tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Baru saja mereka disambut dengan Papa yang sedang menggendong Aiden. Hah, mimpi apa mereka semalam bisa melihat Papa menggendong Aiden sambil tersenyum lebar seperti itu? Padahal mereka sampai di kediaman orangtua Jane pukul setengah enam, terlambat tiga puluh menit dari perjanjian. Sampai-sampai tadi mereka berhenti untuk membeli sup iga kesukaan Papa sebelum pulang kerumah, untuk berjaga-jaga agar Papa tidak akan merasa terlalu marah atau kesal saat mereka terlambat tiba di rumah.


Akhirnya baik Felix maupun Jane tidak ada yang berani menolak ajakan Papa untuk makan malam bersama, mumpung Papa dalam suasana hati yang baik.


Mereka pun segera menuju ruang makan untuk menikmati masakan Mama, masakan yang sangat Jane rindukan. Belum ada yang bersuara atau sekedar menanyai acara kencan mereka hari ini, sampai saat Papa menghabiskan sup iganya dan mulai bersuara.


“Jane, Felix.”


“Iya, Pa,” sahut keduanya bersamaan, mendadak merasa tegang.


“Mulai sekarang, kalian harus membawa Aiden ke sini setiap akhir pekan.”


“Iya?” sahut keduanya lagi-lagi bersamaan, kontan membuat Mama tertawa pelan.


“Kalian harus tahu, sepanjang hari ini Papa bermain dengan Aiden terus. Lihat, dia bahkan terus memangku Aiden sedari tadi,” ujarnya di sela-sela kegiatan menyuapi bubur kaldu pada Aiden yang duduk manis di pangkuan Papa.


“Oh iya, mereka juga menonton pertandingan sepak bola bersama. Tak disangka Aiden menuruni hobi kakeknya yang sangat suka pada sepak bola," lanjut Mama, membuat Papa tersenyum bangga atas perkataan istrinya itu.


“Tentu saja. Iya kan, Aiden? Jagoan Kakek.”


Jane hampir saja menumpahkan sup di mulutnya kalau saja ia tidak ingat yang namanya sopan santun dalam makan. Tak jauh berbeda, tangan Felix yang sedang menyumpit steak masakan Mama terdiam dan mengambang di udara, tidak sanggup meneruskan perjalan ke rongga mulutnya.


Papa melirik jenakan pada keduanya. “Bagaimana? Dengan begitu kalian jadi punya waktu senggang dan mungkin bisa secepatnya memberi Aiden seorang adik.”


Sontak saja Jane tersedak mendengar ucapan papanya.


“Papa!” kali ini Jane tidak bisa menahan percikan sup iga dari mulutnya.


“Kenapa? Kalian sudah tiga bulan menikah,” sahut Papa santai.


“Aiden masih kecil, Pa,” jawab Felix sambil tersennyum kecil.


...***...


Jane dan Felix pulang ke apartemen mereka hanya berdua saja karena mereka gagal membawa pulang Aiden bersama mereka. Tampaknya Papa masih belum puas menghabiskan waktu setengah hari bersama Aiden sehingga meminta mereka untuk menjemput Aiden keesokan hari saja.


Awalnya tidak ada yang terasa aneh. Begitu masuk ke apartemen, Jane duluan naik ke lantai atas untuk mandi dan mengganti pakaiannya, setelah selesai gantian Felix yang membersihkan dirinya sementara Jane turun ke lantai bawah. Jane memutuskan untuk memotong beberapa buah-buahan dan membawanya ke sofa untuk dijadikan camilan sambil menonton televisi. Tiba-tiba terdengar suara Felix memanggilnya dari lantai atas.


“Jane, bisa tolong ambilkan handuk kecil berwarna biru yang aku gantung di dekat pintu balkon?”


Jane metelakkan mangkuk buahnya dan berderap ke lantai atas. Saat melewati kamar Aiden, ia baru menyadari kalau malam ini ia hanya berdua saja dengan Felix. Serta-merta atmosfir canggung mulai mendera dirinya. Jane berjalan ke arah pintu balkon dan menyambar handuk yang tergantung di sana. Lantas Jane masuk ke kamar untuk memberikan handuk itu pada Felix. Jane mengetuk pintu kamar mandi dan tak lama kemudian kepala Felix muncul dari balik pintu.


“Kamu keramas malam-malam?” tanya Jane sambil menatap tetesan air yang turun dari rambut pemuda itu.


Felix mengangguk kecil sambil mengusak rambut hitamnya. “Iya, aku merasa gerah.”


“Rambutmu harus dikeringkan, kalau tidak nanti kamu bisa masuk angin.” Jane baru saja ingin berbalik untuk mengambil pengering rambut tapi Felix segera mencegahnya.


“Tidak usah, Jane. Aku juga kurang suka memakai pengering rambut.”


Jane mengangguk pelan. Setelah Felix menutup pintu kamar mandi, Jane kembali ke lantai satu dan melanjutkan kegiatannya memakan buah sambil menonton televisi. Matanya sibuk menatap drama yang sedang ditayangkan, dan tanpa sadar satu tangannya turun untuk memijat pelan betisnya yang terasa agak sakit. Mungkin karena terlalu lama berdiri saat mengantri di bioskop tadi siang.


“Kakimu kenapa?” tanya Felix yang ternyata sudah turun dari lantai dua.


Jane menoleh ke arah Felix, lalu ia tersenyum tipis sebelum kembali menatap televisi di hadapannya. “Ah, tidak apa-apa. Hanya sedikit pegal saja.”


“Spray ini sangat ampuh. Aku sering memakainya saat kaki ku pegal karena berdiri seharian di cafe.” Ujar Felix sambil mulai memijat pelan kaki Jane.


Awalnya Jane ingin menolak, rasanya sangat aneh karena mereka lagi-lagi tidak pernah seperti ini sebelumnya. Tapi akhirnya Jane membiarkan Felix memijat kakinya, toh kan memang ia sudah bertekad untuk membiasakan diri dengan hal-hal seperti ini.


Jane pun mencoba untuk kembali fokus pada tontonan yang ada di televisi, dan sesekali ia melirik ke arah Felix. Tatapan Felix juga tampak fokus pada layar televisi sambil tangannya terus memijat kaki Jane.


“Ka-kamu mau makan buah?” tanya Jane akhirnya. Tanpa menunggu jawaban dari Felix, Jane langsung menusuk satu buah semangka yang ada di mangkoknya dan menyodorkannya pada Felix. Baru saja Felix ingin mengambil garpu itu dari tangan Jane, namun Jane langsung menggeleng. “Jangan. Buka saja mulutmu.”


Felix mengangguk pelan dan membuka mulutnya. Jane langsung menyuapkan semangka itu ke dalam mulut suaminya. Felix mengunyah buah yang ada di mulutnya sambil kembali menatap ke arah televisi. Setitik biji semangka tampak menempel di tepian bibir Felix. Jane tersenyum melihatnya dan tanpa sadar bergerak maju untuk mengambil biji tersebut. Tepat saat jari Jane menyentuh wajah Felix, pemuda itu menoleh dan tatapan mereka bertemu. Mereka terdiam sesaat, dan Jane baru menyadari betapa minimnya jarak di antara mereka saat ini.


Kalau sudah seperti ini, Jane jadi teringat kejadian kemarin malam, saat akhirnya ia dan Felix berciuman untuk pertama kalinya. Tidak banyak yang terjadi setelah mereka berciuman waktu itu, hanya ada wajah keduanya yang merona saat pagutan terlepas, dan malam itu mereka habisnya dengan saling melirik satu sama lain dan tersenyum malu setiap kali tatapan mereka bertemu.


‘Kamu tidak perlu datang padaku. Biar aku yang mendekat satu langkah padamu.’


Kata-kata Felix malam itu kembali terngiang di telinga Jane. Satu langkah telah Felix ambil malam itu. Menaiki anak tangga yang semula terbentang di antara keduanya. Felix bilang Jane tidak perlu datang padanya. Apa itu artinya Felix......


“Felix, bisakah kamu katakan padaku kalau kamu mencintaiku?” tahu-tahu kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Jane. Matanya terkunci, terperangkap pada tatapan Felix yang menatap lurus padanya. Butuh beberapa detik bagi Jane untuk menunggu dengan debaran-debaran aneh di dadanya, hingga akhirnya Felix bersuara.


“Bisa.” Kata Felix pelan sambil menurunkan tatapannya ke bawah sesaat, sebelum akhirnya kembali pada Jane. “Tapi aku tidak berjanji akan mengatakannya setiap hari.”


Jane masih diam, sepasang mata besarnya menatap lurus pada Felix, menunggu. Mungkin sebuah ikrar baru saja tercipta hari ini.


“Aku mencintaimu, Jane.”


Perlahan sebuah kurva merekah di wajah cantik Jane saat mendengar ucapan Felix barusan. Ikrar bahwa di dalam hati keduanya, sebuah rasa telah tercipta. Tumbuh menjadi raksasa dari masa ke masa, hingga akhirnya rasa memiliki mulai menguasai.


“Aku juga mencintaimu, Felix.”


Mereka, dua insan yang saling jatuh cinta di dalam ikatan. Felix tersenyum, dia memajukan wajahnya dan mengecup bibir Jane, membuat gadis itu sedikit terkesiap. Namun kemudian Felix tersadar dan melepas ciumannya.


“Ma-maafkan aku. Tadi aku–” ucapan Felix tak selesai karena Jane telah lebih dulu mengalungkan kedua tangannya di tengkuk Felix dan mengecup bibir Felix singkat.


“Tidak apa. Mulai sekarang kamu tidak perlu minta maaf karena hal seperti ini.” ujar Jane sambil tersenyum.


Felix balas tersenyum lalu memajukan wajahnya lagi, kali ini tanpa ragu atau sesal yang mengiringi, memagut mesra bibir Jane. Menyalurkan kehangatan serta sengatan-sengatan kecil yang menggelitik neuron-neuronnya. Felix melepas pagutannya dan sesaat mereka hanya saling menatap dengan wajah yang hangat dan merona. Tiba-tiba Jane menutup wajah dengan kedua tangannya dan tertawa.


“Kenapa?” tanya Felix heran.


Jane menurunkan tangannya dan meletakkan jari telunjuknya di antara bibir atas dan hidungnya, berusaha untuk berhenti tertawa. Ia berdeham pelan, “Aku pernah melihat satu adegan di drama-drama romansa yang aku tonton, kamu tahu, saat si pria menggendong wanitanya dan... uhm... begitulah. Aku teringat dulu aku ingin mencobanya kalau sudah menikah... dan...”


Belum selesai Jane menjelaskan, Felix yang sudah paham langsung bangkit dan merendahkan tubuhnya untuk mengangkat tubuh kecil Jane. Jane langsung tersenyum lebar ketika Felix menegakkan tubuh dengan dirinya yang berada di gendongan pemuda ini. Felix mengangkatnya dengan mudah seakan-akan Jane hanya seringan bulu.


“Aku sudah berusaha untuk diet, aku tidak berat kan?” tanya Jane.


“Aku baru tahu kalau setengah loyang cake cokelat, sepotong steak, dan semangkuk sup iga adalah makanan orang diet,” ujar Felix sambil menatap Jane dan tersenyum jahil.


“Ish!” Jane memukul bahu Felix sambil meliriknya sinis, sementara Felix langsung terbahak.


“Aku memang kelewatan saat menghabiskan setengah loyang cake-nya, tapi... uhm, aku tidak berat kan? Atau jangan-jangan aku naik berat badan,” celoteh Jane.


“Bersyukurlah karena kamu punya suami yang kuat,” ujar Felix, kembali memampangkan senyum jahilnya. Jane baru saja hendak membuka mulut lagi saat Felix sudah lebih dulu membungkamnya. Menciumnya seraya dia menggendong Jane menuju kamar mereka.


Sepertinya mereka akan mengikuti saran dari Papa malam ini.


...----------------...