
.......
Jam sudah menunjukkan pukul enam sore. Saat ini Felix, Jane dan kedua orangtua Jane sedang duduk melingkari meja makan. Sup ayam dan tumis jamur tersaji di hadapan mereka, masih mengepul dan menciptakan atmosfir hangat di ruang makan kediaman Felix dan Jane ini. Lama mereka hanya sibuk mengunyah makanan yang tersaji, hingga Papa memulai percakapan.
“Kami pikir kamu sedang sakit, tapi ternyata kamu terlihat sangat sehat,” kata Papa sambil melirik ke arah Felix.
Kata-kata Papa menimbulkan senyum di paras Mama, sekaligus membuat semburat merah muncul di kedua pipi Jane. Gadis itu mengerti betul ke mana arah pembicaraan papanya. Tak heran bila papanya berpikir yang macam-macam, mengingat saat mereka tiba tadi Felix sedang tidak memakai bajunya.
Kendati demikian, sepertinya Felix tidak menangkap maksud di balik perkataan Papa tadi. Ia terlihat bingung dan menatap Papa dengan tatapan bertanya.
“I-Iya?” kata Felix pelan dengan raut wajah tak mengerti.
Anehnya hal tersebut justru membuat kedua orangtua Jane semakin mengembangkan senyum penuh arti. Terdengar Papa berdeham pelan.
“Maaf kami datang di saat yang tidak tepat,” ujar Papa, masih tersenyum.
“E-eh? Tidak kok, Pa,” Felix langsung membantah ucapan Papa, ia sepertinya masih tidak paham ke arah mana pembicaraan yang sedang berlangsung ini.
“Kenapa kamu malu begitu, Nak? Harusnya kamu bilang saja kalau kalian itu sedang–”
“Kenapa Papa dan Mama tiba-tiba datang ke sini?” ujar Jane langsung memotong ucapan papanya, sekaligus mengalihkan perhatian seluruh penghuni meja makan ke arahnya.
Papa dan Mama menghentikan aktivitas mereka yang sedang menyantap hidangan sedangkan Jane hanya tersenyum canggung menatap kedua orangtuanya. Sebuah kerutan tercipta di kening Mama, meski tak menyurutkan paras awet mudanya.
“Tentu saja kami ke sini karena khawatir pada Felix dan juga Aiden,” ujar Mama yang langsung disetujui oleh Papa.
“Iya, tadi kamu bilang Felix dan Aiden sedang sakit,” Papa menambahkan sambil lagi-lagi tersenyum penuh arti. Sebuah senyuman terpaksa mengembang di paras Jane, disusul tangannya yang langsung menepuk dahi mulusnya sendiri.
“Oh iya, aku lupa tadi sudah memberitahu Papa.” Ujar Jane sambil menyengir lebar. Papa mencibir cengiran yang tergambar di wajah Jane.
“Jadi sebenarnya Felix itu sakit apa? Atau jangan-jangan kamu berbohong agar tidak perlu ikut meeting tadi pagi?” tuduh Papa. Jane langsung membulatkan matanya.
“Tidak, Pa. Mana mungkin aku berbohong untuk melewatkan meeting yang penting,” ujar Jane tak terima. “Lagipula, lihat ini,” Jane mengamit tangan Felix yang duduk di sebelahnya, ia kemudian mengacungkan telapak tangan pemuda itu yang terlilit perban ke arah mama dan papanya.
“Apakah Papa dan Mama tidak lihat tangannya yang terlilit perban ini?” tanya Jane dengan nada suara ketus.
Raut wajah Papa dan Mama sontak berubah khawatir, disusul dengan suara Felix yang meringis. Sadar kalau Felix kesakitan, Jane kembali menurunkan tangan Felix dengan hati-hati.
“Ma-maaf, Felix,” ujar Jane. Bahkan gadis itu ikut meringis karena melihat ekspresi Felix. Tangannya mulai mengusap-usap pelan telapak Felix demi meredakan rasa sakit pemuda itu. Felix kemudian menyentuh tangan Jane, memberi signal agar gadis itu berhenti.
“Tidak apa-apa,” sahut Felix pelan. Sayangnya, gestur akrab mereka itu harus terinterupsi oleh protes yang dilayangkan oleh Papa.
“Jane, kamu memanggil suami mu hanya dengan nama?” tanya Papa dengan kening berkerut.
Sontak kepala kedua insan itu menoleh pada Papa, disusul dengan jawaban polos yang keluar dari bibir Jane. “Iya. Memangnya kenapa?”
“Ya ampun, dasar bocah bodoh. Tidak seharusnya kamu memanggil suami mu hanya denga nama seperti itu. Kamu seharusnya memanggil Felix denga sebutan ‘Sayang’ atau panggilan bagus lainnya. Kamu bahkan tidak memanggil namanya dengan akrab.” Protes Papa.
Mendengar apa yang dikatakan Papa, Felix dan Jane hanya bisa terdiam. Memang sedari awal mereka sudah sepakat untuk memanggil satu sama lain dengan nama saja. Tapi memanggil satu sama lain dengan sebutan sayang? Rasanya mereka belum siap dan belum bisa terbiasa melakukannya. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa Jane dan Felix masih belum dekat walaupun mereka sudah berbagi atap dan bahkan kamar dan tempat tidur yang sama.
“Uhm... itu k-karena...”
“Aku yang memintanya untuk memanggilku dengan nama saja, Pa,” sela Felix menutupi kegagapan Jane. “Karena lagi pula perbedaan umur kami hanya setahun saja.”
“Tapi aku... tidak merasa itu masalah, Pa.”
“Felix–”
“Sudahlah, Pa. Mereka ini kan masih pengantin baru, nanti lama-lama juga akan terbiasa dan mulai memanggil satu sama lain dengan akrab,” kali ini Mama yang memotong ucapan Papa.
Jane diam-diam menghela napas. Ia bersyukur dalam hati karen gestur ‘Mama-tolong-hentikan-Papa’ yang Jane berikan ke mamanya dapat dicerna dengan baik oleh Mama. Setidaknya, disamping papanya yang keras kepala, Jane memiliki Mama yang sangat pengertian. Mama pun sudah paham betul kalau putri semata wayangnya ini sering berselisih paham dengan papanya. Papa akhirnya berdeham pelan dan tidak melanjutkan protesnya lagi.
“Papa dan Mama tidak menanyakan kondisi tangan Felix?” ujar Jane mengganti topik pembicaraan.
“Ah, iya. Kenapa tanganmu bisa begitu, Nak?” tanya Papa sambil menatap Felix dengan tatapan khawatir.
“Hanya kecelakaan kecil, Pa. Tanganku tersiram air panas tadi pagi,” jawab Felix sambil sekilas menunduk menatap kedua tangannya.
“Ya ampun, terus begitu saja kamu manja sampai tidak memperbolehkan Jane ke kantor.” Papa memulai protesnya lagi.
“Papa!” Jane langsung menatap papanya kesal. “Tangan Felix bisa tersiram air panas seperti itu karena salahku.”
“Oh, jadi kamu penyebabnya? Pantas saja, tidak heran.”
“Ihhh, Papa–”
Kata-kata Jane tidak diteruskan karena tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi yang tidak lain berasal dari Aiden. Dan dengan itu perdebatan di antara ayah dan anak yang sedari tadi menjadi tontonan Mama dan Felix itu juga berakhir.
“Tuh kan, karena suara Papa, Aiden jadi terbangun.”
“Loh, kenapa jadi Papa yang disalahkan?”
Jane tidak menanggapi ucapan papanya lagi karena gadis itu langsung bangkit dan berlari menaiki tangga menuju lantai dua.
“Hei, jangan lari-lari begitu, kamu ini kan sudah–”
“Tuan Chandra, sudah jangan ngomel-ngomel lagi,” suara Mama langsung terdengar menimpali, membuat Papa seketika bungkam. Detik berikutnya wanita paruh baya itu bangkit dan menyusul Jane. “Aiden, Nenek datang.”
Tinggal lah Papa berdua dengan Felix di meja makan. Tidak bisa mengelak, sebentar lagi menantunya ini lah yang akan diberondongi dengan berbagai pertanyaan.
“Apakah bayi itu merepotkanmu, Nak?” tanya Papa sambil mulai kembali melanjutkan makannya yang tadi terhenti karena sibuk berdebat dengan Jane.
“Tentu saja tidak, Pa. Aku sangat menyukai Aiden,” Felix langsung membantah mentah-mentah pertanyaan dari mertuanya itu. Dia menunduk dan ikut kembali menikmati makanan di pinringnya.
Papa terlihat mengangguk pelan, diiringi dengan munculnya satu senyuman penuh arti di wajahnya.
“Baguslah kalau kamu menyukai Aiden. Lalu, bagaimana dengan anakku?”
Felix mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke arah Papa. Dia hanya tersenyum penuh arti menanggapi pertanyaan yang baru saja Papa lontarkan padanya itu.
...----------------...
...- Mama & Papa -...