Love, Maybe

Love, Maybe
Chapter 29



.......


Pagi-pagi sekali, Felix melajukan mobilnya menuju taman. Minggu pagi ini Felix dan Jane akan menghabiskan waktu dengan berolahraga bersama.


Jane turun dari mobil dan mengedarkan pandangan. Ini adalah kali pertamanya ke taman ini kendati jaraknya tidak begitu jauh dari apartemen yang ditempatinya enam bulan belakangan ini bersama Felix.



Setelah mematikan mesin dan mengunci mobil, Felix berjalan menghampiri Jane. Tanpa sadar matanya memindai penampilan Jane dari ujung kaki sampai ujung kepala. Istrinya terlihat fresh pagi itu dengan setelan jaket sport berwarna hitam di atas kaos berwarna putih dan celana legging panjang berwarna hitam. Rambut panjangnya hanya dikucir kuda dan entah kenapa Felix sangat suka saat istrinya itu mengikat rambut seperti ini. Paras putih Jane tampak menawan kendati tak ada sedikit make-up pun yang melapisi kulit wajahnya. Serta-merta sebuah kurva tercipta di paras Felix, kagum dengan kecantikan natural istrinya.


“Felix, aku tidak tahu kalau tamannya seluas ini. Wah, ada banyak sekali orang.”


Alih-alih menanggapi ucapan Jane, pandangan Felix malah jatuh pada tungkai mungilnya yang dibungkus sepatu sport warna putih dengan tali yang tak terikat. Jane menoleh karena Felix tak menyahutinya dan mendapati pemuda itu berlutut di depannya untuk mengikat tali sepatunya kembali.


Kontan saja Jane tersenyum melihat perhatian kecil dari suaminya itu. Sebelah tangannya menyentuh puncak kepala Felix dan menyisir rambut pendek lelaki itu. Merasakan sentuhan Jane, Felix menengadah dan memberikan eyesmile-nya pada Jane.


Astaga, untung saja tidak ada Aiden di sini. Karena kalau tidak Jane pasti bingung memilih yang mana yang lebih imut, Aiden atau Felix. Tampaknya suasana hati keduanya sedang bagus pagi ini setelah menghabiskan waktu bersama seharian kemarin.


Kegiatan olahraga mereka diawali dengan pemanasan jogging mengelilingi taman selama lima belas menit, lalu Felix meminjam bola basket dari seorang bocah laki-laki dan memainkannya bersama Jane.


Jane angkat tangan, ia benar-benar tidak sanggup bermain satu lawan satu dengan Felix. Jane tidak tahu kalau ternyata suaminya ini sangat mahir bermain basket. Dan kalau tidak salah tadi Felix sempat mengembalikan bola sepak milik seorang anak muda yang nyasar masuk ke tengah-tengah lapangan basket. Felix menendang bola itu dengan mulus ke lapangan sepak bola, tempat di mana anak muda itu berada. Dilihat dari tendangannya, sepertinya Felix juga sangat mahir dengan olah raga yang satu itu.


Setelah melakukan lay up terakhir, Felix memungut bola basketnya dan menghampiri si empunya yang sedari tadi sangat antusias menonton permainannya bersama Jane dari pinggir lapangan. Jane berjalan menuju bagian taman yang dilapisi rumput hijau dan menjatuhkan diri di sana. Ia memperhatikan Felix yang tampak mengusap kepala dan mencubit pipi bocah lelaki itu sebelum kembali marajut langkah ke arahnya. Sebuah senyum lebar masih tampak jelas di wajah pemuda itu, benar-benar tipikal Felix kalau habis bertemu dengan anak kecil.


Jane merebahkan tubuhnya yang kelelahan di atas rumput, diikuti Felix yang berbaring di sebelahnya. Sejenak keheningan dan suara napas berderu yang saling bersahutan menyelimuti mereka.


Jane memejamkan matanya, merasakan hangat cahaya matahari menerpa wajah cantiknya. Saat ia akhirnya membuka mata dan menoleh pada Felix di sebelahnya, lelaki itu tampak tengah menyugar rambut hitamnya yang sudah basah dengan keringat. Beberapa detik kemudian Felix menoleh, membuat pandangan keduanya bertemu dan mereka saling tersenyum.


“Jadi, kamu setuju kan kalau setiap hari Minggu kita berolahraga bersama seperti ini?” tanya Felix seraya melipat kedua lengan di belakang kepala.


“Hmm, iya aku setuju,” jawab Jane.


Felix menengadahkan kepalanya. Matanya menyipit karena cahaya terik matahari yang kini menerpa wajahnya. “Tidak buruk kan. Aku juga sudah lama tidak berolahraga.”


“Tapi aku merindukan Aiden,” sahut Jane yang serta-merta membuat Felix menoleh lagi padanya.


“Tapi kamu senang juga kan hanya berdua saja denganku?” lelaki itu berujar dengan seringai jahil terpeta di wajahnya.


“Hmm... ya... itu sih...,” Jane mendadak gagu karena Felix entah sejak kapan jadi terlihat semakin tampan dengan rambut basah dan bulir-bulir keringat yang mengalir hingga ke pelipis.


Jane kembali mengingat bagaimana ia menghabiskan seharian penuh kemarin bersama Felix karena pagi-pagi sekali papanya sudah datang menculik bayi lelaki mereka dari apartemen.


Ya, mulai sekarang, setiap Sabtu Aiden akan berada di rumah kakek neneknya. Awalnya mereka berdua hanya menghabiskan waktu untuk melakukan pekerjaan rumah, namun di penghujung hari, Felix meluapkan segala kerinduannya pada Jane seminggu belakangan ini karena mereka sibuk bekerja dan mengurus Aiden. Mereka pun menghabiskan malam dengan penuh kasih sayang dan memutuskan untuk tidur lebih awal dari biasanya.


Tiba-tiba saja pipi Jane terasa panas. Masih terbekas di ingatannya bagaimana sentuhan-sentuhan lembut Felix malam itu. Bahkan Jane masih bisa merasakan kecupan-kecupan Felix yang tertinggal di tengkuknya. Gesekan lembut dan hisapan-hisapan pelan bibir lelaki itu yang membuatnya geli seakan ada ratusan kupu-kupu menggelitik abdomennya. Bohong jika Jane bilang ia tidak menikmatinya. Bahkan kalau Jane boleh jujur, ia sangat suka saat Felix melakukan–


“Aku haus,” keluh Felix tiba-tiba membuyarkan lamunan Jane.


“Hmm? O-oh, sepertinya aku lupa membawa air minum,” jawab Jane refleks lalu mulai memukul pelan kepalanya. ‘Apa yang baru saja kamu pikirkan, Jane? Sejak kapan pikiranmu jadi semesum ini?’ batin Jane.


“Jane, kamu kenapa? Wajahmu merah,” Felix yang menyadari perubahan pada istrinya itu mengulurkan tangan dan menyentuh pipi Jane. “Apa karena terlalu lama terpapar matahari?” tanyanya kemudian, lebih kepada dirinya sendiri. Dia agak khawatir karena membawa Jane yang jarang keluar rumah untuk berjemur terlalu lama.


“Tidak, kok. Aku tidak apa-apa,” Jane buru-buru menepis tangan Felix sebelum pemuda itu menyadari alasan sebenarnya di balik wajahnya yang mungkin kini sudah semerah tomat.


“Kalau begitu kamu tunggu di sini, biar aku beli minuman dulu,” ujar Felix sebelum kemudian bangkit berdiri. Baru saja Felix akan pergi, Jane memanggilnya.


“Felix,” panggil Jane sambil menjulurkan kedua tangannya. Mengerti akan maksud Jane, Felix pun lekas menarik tangan Jane. Tapi alangkah terkejutnya Jane saat Felix mencuri kesempatan mengecup pipinya kala tubuhnya bangkit berdiri. Jane yang merasa tidak siap pun terkesiap, namun Felix sudah langsung berjalan pergi seakan tidak terjadi apa-apa.


“Felix!” teriak Jane kesal.


“Kamu tunggu saja di bangku itu,” Felix berbalik dan menunjuk bangku taman bercat hijau yang ada tidak jauh dari Jane, tak acuh dengan protes istrinya.


Jane bergumam kesal seraya berjalan menuju bangku taman yang dimaksud Felix, dan saat itu juga ia menyadari kalau ada seorang wanita tua yang duduk di sana. Kontan saja Jane menutup wajahnya dengan sebelah tangan, merasa malu karena mungkin saja wanita tua itu melihat apa yang Felix lakukan padanya tadi.


“Kalian pasangan kekasih yang manis,” ujar wanita tua itu sambil tersenyum ramah pada Jane.


“Iya?” Jane menoleh pada wanita tersebut. “Ah, bukan, Nek. Kami sudah menikah,” lanjut Jane sambil balas tersenyum kikuk.


“Iya, kami sudah menikah,” jawab Jane masih dengan senyum kikuknya.


“Kalian pengantin baru?” tanya wanita tua itu lagi.


“Tidak, kami sudah memiliki satu anak.” Jawab Jane.


Mata besar wanita tua yang masih tampak cantik kendati sudah dihiasi keriput di sekelilingnya itu berbinar mendengar ucapan Jane. “Benarkah? Berapa umurnya?”


Jane lekas mengambil ponsel di kantong jaketnya dan menunjukkan wallpaper-nya yang menggunakan foto Aiden kepada wanita tua tersebut. “Ini bayi laki-lakiku. Umurnya baru enam bulan, dan namanya adalah Aiden.”


“Wah, lucunya,” ujar wanita tua itu seraya tersenyum lebar. Senyum yang serta-merta menular pada Jane. Jane pun menundukkan kepalanya hormat.


“Terima kasih, Nek.”


“Dia benar-benar sangat mirip dengan papanya, ya.” komentar wanita tua itu, masih sambil memperhatikan foto Aiden.


“Hmm, iya, sepertinya begitu,” Jane tersenyum ragu mengingat Felix bukanlah ayah biologis Aiden.


“Kalau sudah besar nanti pasti dia akan menjadi lelaki yang tampan. Papanya saja sangat tampan, dan mamanya sangat cantik seperti kamu,” wanita tua itu berujar lagi seraya mengerling jahil pada Jane. Gadis itu hanya bisa balas tersenyum dan hilang sudah rasa canggungnya pada wanita tua ini. Memang kadang terasa menyenangkan bisa bercakap dengan orang yang tidak kita kenal.


“Semoga kalian selalu menjadi keluarga yang bahagia, ya." Lanjut wanita itu.


Jane tersenyum lebar, “Iya, terima kasih banyak, Nek.”


Bersamaan dengan berakhirnya percakapan Jane dan wanita tua itu, terdengar suara Felix memanggilnya dari jauh. Jane menolehkan kepalanya ke arah Felix, lalu kembali menatap wanita tua di sampingnya.


“Suami ku sudah memanggil. Aku permisi dulu ya, Nek.”


Wanita tua itu mengikuti arah pandangan Jane, mendapati Felix yang memandangi tidak jauh dari bangku taman, yang tampak tersenyum ramah padanya. Jane segera bangkit berdiri. “Senang bertemu denganmu, Nek.”


Tidak lupa Jane membungkukkan kepalanya hormat pada wanita tua itu sebelum kemudian berlari menyusul Felix.


“Kamu beli apa?” tanya Jane yang segera disambut Felix dengan uluran sebuah minuman kotak dengan bungkus bergambar karakter kartun.


“Minuman jeli,” jawab Felix singkat.


“Hah? Memangnya kamu ini bocah? Kenapa belinya minuman jeli?” tanya Jane dengan kening berkerut.


“Lagi ingin saja,” jawab Felix enteng sambil menyedot minuman jeli miliknya.


“Tapi kita kan habis olahraga. Lagipula aku haus, bukannya mau minum jeli,” protes Jane. Tapi akhirnya ia juga ikut menancapkan sedotan di minuman jeli miliknya.


“Sudah, minum saja. Tadinya malah aku hanya ingin membeli satu saja,” ujar Felix sambil tersenyum jahil.


“Apa?” Jane kini menatap Felix kesal.


“Salah siapa olahraga tanpa membawa air minum.” Sindir Felix.


“Aku kan sudah bilang aku lupa,” sahut Jane makin kesal.


“Kamu tidak mau minum jelinya? Ya sudah, untukku saja,” ujar Felix lalu memegang minuman jeli Jane dari sebelah kanan gadis itu dan menyedotnya.


“Felix!” Jane menyikut perut pemuda itu, membuatnya bergerak mundur dan mengaduh kesakitan. Jane memandangi minumannya yang sudah mulai enteng.


“Aku tidak mau tahu, kamu harus belikan aku minuman yang baru,” ujar Jane sambil melirik Felix sinis.


Wanita tua yang masih duduk di bangku taman tersenyum melihat tingkah sepasang suami istri muda yang kini mulai berjalan menjauh sambil berangkulan.


...----------------...



...- Jane & Felix - ...