Love, Maybe

Love, Maybe
Chapter 33



.......


Mark mengemudikan sedannya memasuki halaman sebuah rumah dua lantai bergaya minimalis di kawasan Bogor. Meskipun tidak besar, rumah ini terkesan sangat tenteram dengan tanaman dan rerumputan hijau yang menghiasi sekitarnya. Winny familiar dengan rumah ini, dan rasanya sudah lama sekali dirinya tidak menginjakkan kakinya di sini.



Mark melepas sabuk pengamannya dan segera keluar dari mobil. Sejenak ia meregangkan ototnya yang pegal setelah menyetir dari Jakarta Selatan hingga Bogor. Sadar Winny yang tak kunjung keluar dari mobil, Mark pun berjalan memutari sedannya dan membuka pintu mobil dari sisi gadis tersebut.


“Winny, kenapa kamu tidak keluar?” tanya Mark begitu ia melihat Winny masih mematung di tempat duduknya sambil memegangi sabuk pengamannya.


“Uhm, Mark–”


“Tidak ada alasan untuk kabur,” Mark langsung memotong ucapan Winny. Ia kemudian menatap Winny dengan tatapan sinis yang dibuat-buat. “Aku menyetir selama satu jam lebih dari Jakarta, dan sekarang kita sudah sampai jadi jangan bilang kamu tidak mau masuk.”


Mark mencondongkan tubuhnya masuk ke dalam mobil untuk melepas sabuk pengaman Winny, lantas ia menarik tangan gadis itu pelan untuk segera turun dari mobil. Setelah menutup kembali pintu mobil, Mark langsung mengajak Winny untuk masuk ke rumah.


“Mama, aku pulang!” seru Mark nyaring begitu ia memasuki ruang keluarga. Dan sepersekian detik kemudian, muncul lah seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah Mama Mark, yang masih tampak cantik kendati umurnya yang sudah menyentuh setengah abad, tampak berjalan tegopoh-gopoh dari arah dapur.


“Mark, kenapa harus teriak-teriak begitu, sih?” omel Mama yang masih mengenakan apron dan membawa sendok sayur di tangannya. Namun niatnya untuk melanjutkan omelannya seketika sirna begitu dirinya melihat Mark yang menampilkan senyum manis di wajahnya seraya mendorong punggung Winny ke depan tubuhnya.


“Mama lihat, siapa yang datang bersamaku hari ini,” ujar Mark masih sambil tersenyum lebar.


Mama tampak melebarkan matanya dengan mulut yang sedikit menganga melihat Winny yang kini sedang tersenyum kikuk padanya. Detik berikutnya, ekspresi kaget itu langsung berganti dengan senyum yang merekah di wajahnya.


...***...


Setelah mengisi perut mereka dengan sup kepiting buatan Felix, Kaylee menghabiskan waktu bersama Jane di kamar Aiden, sementara Felix dan Daniel mengobrol sambil minum kopi di ruang keluarga.


Kaylee meletakkan paper bag yang dibawanya di atas single bed yang ada di kamar Aiden dan mengeluarkan sebuah kotak besar dari dalamnya. Ia kemudian menyerahkan kotak tersebut pada Jane yang duduk di ujung ranjang.


“Ini hadiah untuk Aiden,” ujar Kaylee saat Jane sudah mengambil kotak itu dari tangannya. Jane meletakkan kotak tersebut di pangkuannya dan segera membukanya.


Kaylee mendekat pada Jane dan ikut melihat isi kotak tersebut. “Itu ada dua, yang satu dariku dan satu lagi dari kak Daniel.”


Jane mengeluarkan pakaian yang ada di dalam kotak dan langsung tersenyum lebar melihatnya. “Wah, lucu sekali.” Komentar Jane.


“Lucu kan? Ayo kita coba pakaikan pada Aiden,” ujar Kaylee sambil mengamit kedua pakaian yang ada di tangan Jane dan memberi kode pada kakak iparnya itu untuk mengangkat Aiden dari box bayi.


Jane pun segera mengangkat tubuh Aiden dari box bayi dan meletakkannya dengan hati-hati di atas kasur. Pertama Jane mencoba mengenakannya pakaian yang diberikan oleh Daniel, yaitu setelan kemeja yang dipadu celana pendek dan dihiasi dasi kupu-kupu. Kaylee sontak tertawa melihat betapa dewasanya penampilan Aiden saat mengenakan setelan tersebut, yang ternyata ukurannya sedikit kebesaran.


“Ya ampun, kenapa keponakan Auntie jadi kelihatan sangat dewasa dan tampan begini, sih?” canda Kaylee sambil mencubit pipi Aiden pelan, membuat Jane ikut tertawa pelan melihatnya. Agaknya Jane masih merasa sedikit canggung pada Kaylee dibanding saat Helen mengajaknya mengobrol tempo hari.


Beruntungnya, Kaylee juga memiliki kepribadian yang ramah dan mudah bergaul, sehingga lama-kelamaan Jane bisa terbawa suasana. Padahal kesan pertama yang Jane dapatkan saat melihat Kaylee adalah dingin, sombong, dengan perawakannya seperti anak konglomerat yang manja. Makhlum saja, wajah Kaylee saat diam memang terkesan judes dan menyeramkan.


Setelah itu, Jane mengganti baju Aiden dengan setelan pemberian Kaylee, yang langsung membuat gadis itu tersenyum sumbringah melihat betapa lucunya Aiden saat mengenakan setelan baju jumpsuit jeans pemberiannya.


“Wah, memang Auntie tidak salah pilih. Aidenku jadi terlihat lucu sekali!” seru Kaylee senang seraya menggendong Aiden dengan penuh hati-hati. Senyum yang terpatri di paras gadis itu semakin melebar saat Aiden ikut tertawa girang dan mulai mengoceh.


“Oh? Aiden sudah bisa mengoceh?” tanya Kaylee dengan heboh dan antusias. Eskpresi yang ada di wajah Kaylee terlihat sangat lucu sehingga Jane langsung tertawa sambil mengangguk.


Mendadak Jane merasa sangat senang dengan fakta bahwa Kaylee adalah adik iparnya. Jane sendiri tidak memiliki saudara dan ia tidak menyangka kalau reaksi Kaylee akan seheboh ini saat bermain dengan anaknya. Tapi entah kenapa ia malah sangat menyukai kehebohan adik perempuan Felix ini.


“Minggu depan Aiden akan berumur tujuh bulan. Bayi usia tujuh bulan memang sudah bisa mengoceh,” jelas Jane saat tawanya sudah mereda.


“Ya ampun, pantas saja kamu sangat berat, Aiden. Ternyata kamu sudah berusia tujuh bulan, hm? Tangan Auntie sampai pegal menggendongmu. Tidak bisa, kamu harus mendapatkan hukuman karena membuat tangan Auntie pegal,” canda Kaylee lantas mulai menciumi kedua belah pipi gembul Aiden.


Jane mendudukkan dirinya di atas kasur dan tersenyum memerhatikan Kaylee dan Aiden. Hingga kemudian Jane tidak sengaja bersitatap dengan Kaylee dan gadis itu melempar senyum padanya.


“Oh, iya. Hampir saja aku lupa. Aku juga membawa hadiah untuk kakak,” ujar Kaylee sambil meletakkan Aiden kembali ke atas kasur, lalu ia merogoh paper bag yang ada di sana. Ia mengeluarkan kotak kado yang lebih kecil dan memberikannya pada Jane.


“Ini hadiah pernikahan dariku. Terima kasih sudah mau menikah dengan kakakku si manusia es itu,” ujar Kaylee sambil menyodorkan kotak pada Jane yang menerimanya sambil tergelak.


“Terima kasih, Kaylee.” Ujar Jane.


“You’re welcome, pretty sister in law,” jawab Kaylee, lalu ia kembali menghampiri Aiden dan bermain dengannya.


Jane mulai membuka kotak berwarna merah maroon tersebut, dan ternyata hadiah pernikahan yang Kaylee berikan adalah sebuah buku. Tapi setelah Jane melihat lebih dekat lagi, buku bersampul warna krem itu ternyata adalah sebuah album foto. Penasaran, Jane pun membukanya dan lantas menemukan sebuah foto keluarga.


Jane dapat mengenali wajah Helen, Felix, dan Kaylee yang memakai pakaian senada berwarna hitam. Berarti seorang lelaki dan wanita paruh baya yang berada di tengah-tengah mereka tak lain adalah orangtua ketiganya.


Di bawah foto keluarga itu terdapat tulisan, yang sepertinya sengaja Kaylee tambahkan, berbunyi ‘Welcome to Setiawan’s Family, our new family members’.


Sejenak Jane tersenyum, terharu dengan hadiah dari Kaylee ini, dan lantas Jane kembali membalik ke lembaran selanjutnya. Ia menemukan satu foto bocah laki-laki yang mengenakan setelan jeans, tengah duduk di atas batu.


“Ini foto masa kecil Felix?” tanya Jane.


Ya, siapa lagi anak laki-laki di keluarga Setiawan kalau bukan Felix.


“Iya, itu dari album foto yang kubawa saat pindah ke New Zealand. Dan karena kak Felix sekarang sudah menikah, kupikir lebih baik aku memberikannya pada kakak saja,” sahut Kaylee.


“Lucu sekali,” Jane refleks berujar.


“Iya, kan? Kak Helen selalu bilang kalau kak Felix itu memang sangat lucu saat masih kecil. Tapi dia berubah menjadi menyeramkan begitu tumbuh dewasa,” ujar Kaylee.


Spontan Jane menoleh pada Kaylee dengan ekspresi serius. “Menyeramkan?”


“Iya. Kak Felix itu biasanya sangat pendiam dan dingin pada orang lain. Bahkan dia bisa membuat orang takut dengan hanya menatap mereka dengan tatapannya yang tajam,” jawab Kaylee yang kini menggendong Aiden dan duduk di sisi Jane, ikut melihat album foto.


Serta-merta Jane tertawa pelan. Astaga, tadinya ia pikir Felix benar-benar menjadi sosok yang menyeramkan dalam artian yang sesungguhnya. Tapi sejujurnya, Jane juga takut pada Felix saat mereka pertama kali bertemu dulu di restoran.


Jane pun kembali membalik halaman demi halaman, memerhatikan wajah Felix saat masih kecil. Tapi semakin Jane perhatikan, entah kenapa semakin mirip saja.


‘Felix saat masih kecil benar-benar sangat mirip dengan Aiden,’ batin Jane.


...----------------...



...- Aiden & Kaylee -...