
...-...
Hal yang paling Winny rindukan dari kediaman tempat tinggal Mark selain pemandangan taman dengan yang hijau serta bunga-bunganya yang memanjakan mata adalah masakan Mama Mark yang sangat lezat dan selalu menggugah selera.
Belum lagi semua bahan-bahan yang digunakan juga berasal dari kebun kecil yang ada di belakang rumah. Dapat dipastikan siapa pun akan pulang dengan badan sehat dan gemuk setelah berkunjung dari kediaman ini. Lihat saja Mark, kalau bukan karena profesinya sebagai seorang dokter bedah yang sangat menguras waktu dan tenaganya, mungkin pemuda itu juga sudah bertubuh gempal sekarang.
“Wah, sup iga!” seru Mark antusias begitu Mama meletakkan sepanci besar sup iga yang baru dimasaknya di tengah-tengah meja makan. Mark buru-buru mengangkat mangkuknya dan hendak menyendokkan sup tersebut saat Mama tiba-tiba menepuk tangannya.
“Sabar dong. Biar Winny yang ambil lebih dulu,” ujar Mama sambil mendorong tangan Mark menjauh. Mengabaikan Mark yang menatapnya sambil mengerucutkan bibir, Mama mengamit mangkuk milik Winny dan menuangkan sup iga hingga terisi setengah.
“Sebenarnya anak Mama siapa sih? Aku atau Winny?" protes Mark.
“Anak yang jarang pulang ke rumah memangnya masih bisa dianggap anak?” balas Mama enteng seraya menyerahkan kembali mangkuk keramik berwarna putih yang ada di tangannya kepada Winny. “Makan yang banyak ya,” ujar Mama sambil tersenyum manis kepada Winny, membuat Mark mendengus kesal melihatnya. Winny tidak bisa menahan tawanya melihat perubahan ekspresi Mark karena mamanya memperlakukan Winny berbanding terbalik dengannya.
“Kamu dengar kan, Win. Kata-kata Mama persis seperti kata-katamu di restoran tadi pagi. Apa jangan-jangan kalian berdua ini berkomplot untuk mengomeli – aw!” Mark berhenti mendumal saat Mama tiba-tiba melayangkan sendok kayu ke kepalanya.
“Jangan salahkan Winny, kamu ini memang perlu diomeli! Sudah cepat makan dan diam,” ujar Mama.
“Mama jujur saja, aku ini anak angkat, kan?” tanya Mark sambil menggosok-gosok kepalanya yang terkena pukulan sendok kayu.
“Dengar ya. Kalau Mama harus mengangkat anak, Mama pasti akan memilih yang lebih bagus,” ujar Mama sambil melirik Mark kesal.
“Tunggu dulu. Anak Mama ini di mananya yang tidak bagus? Aku tampan dan pintar. Jangan lupa aku ini dokter loh, Ma. Dokter!” Mark masih berceloteh tidak terima.
“Iya, iya, terserah kamu saja, Dokter Mark.” Balas Mama sambil mengibaskan tangannya.
“Mama!” Mark meletakkan sendoknya dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dengan dramatis.
Winny tersenyum lebar melihat perdebatan antara ibu dan anak ini. Sejak dulu, ia sangat suka dengan keluarga ini. Keluarga ini sederhana dan harmonis, dan yang terpenting adalah orang-orangnya yang sangat hangat dan ramah. Sifat Mark yang ceria dan suka bercanda tentu turun dari kedua orangtuanya. Meski kini Mark hanya berdua saja dengan mamanya sejak kepergian papanya delapan tahun yang lalu, tapi Mark dan mamanya saling menyayangi serta menjalani hidup dengan bahagia seperti tak kekurangan apa pun. Dan Winny suka berada di tengah-tengah mereka, karena ia tidak memiliki keduanya, baik keluarga yang hangat maupun orang-orang yang saling menyayangi.
Saat Mark meninggalkan meja untuk pergi ke toilet, Mama menoleh pada Winny yang sejak tadi hanya diam sambil mengaduk-aduk sup yang ada di mangkuknya. Lamunan gadis itu baru buyar saat Mama mengulurkan tangannya untuk menambahkan beberapa sendok sup ke dalam mangkuk Winny hingga nyaris terisi penuh. Sontak saja Winny menoleh pada Mama Mark yang ternyata sedang menatapnya dengan tatapan khawatir.
“Makanlah yang banyak. Kenapa tubuhmu sekarang kurus sekali?” tanya Mama. Winny baru saja hendak membuka mulutnya untuk menjawab, namun langsung terdiam saat mendengar apa yang diucapkan oleh Mama selanjutnya.
“Bukannya belum lama ini kamu baru saja melahirkan?”
...***...
Sudah tiga puluh menit berlalu sejak Jane naik dan masuk ke kamar Aiden. Dan belum juga ada tanda-tanda bahwa gadis itu akan segera keluar dari sana.
Felix duduk di ruang keluarga sambil sesekali menoleh ke arah tangga. Masa iya Jane mau mengurung diri lagi di kamar Aiden setelah sudah berada di sana selama berjam-jam sebelum Kaylee dan Daniel datang tadi.
“Jane, maafkan aku. Sungguh tadi aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu.” Felix pun mulai melatih kalimatnya kembali. “Walaupun kamu tidak bisa memasak, tapi aku tidak akan pernah menyesal memilihmu menjadi istriku. Jadi–”
Bruk!
Felix terdiam. Ia mengerutkan keningnya dan mencoba menajamkan pendengarannya. Suapa apa itu barusan? Sepertinya suara itu datang dari kamar Aiden. Penasaran, Felix pun meraih kenop pintu kamar dan memutarnya.
“Jane? Tadi aku dengar suara–” Felix tidak melanjutkan kalimatnya.
"Jane!" Detik itu juga pemuda itu langsung berlari masuk karena melihat Jane yang sudah terkapar di lantai.
... ***...
“Kenapa kamu menceritakannya pada mamamu?” tanya Winny. Saat ini ia dan Mark sedang menghabiskan waktu dengan duduk santai di bangku kayu yang ada di taman belakang. Tatapannya terarah ke jutaan bintang yang bertebaran di langit malam kota Bogor.
Mark yang semula juga sedang menengadah ke arah langit, kini beralih memandang figur Winny yang sedang duduk di sambil melipat kedua kakinya ke atas bangku di sampingnya. Untuk sepersekian detik, Mark membiarkan matanya dimanjakan paras cantik Winny yang selalu dikaguminya, sebelum kemudian menjawab.
“Kamu kan tahu, tidak ada satu hal pun yang kurahasiakan dari mamaku,” jawab Mark pelan.
Dengan cepat, Winny menoleh dan menatap Mark dengan ekspresi kecewa yang terlihat jelas di wajahnya. “Tapi, Mark...”
“Kenapa? Apa Mama tadi menanyaimu dengan nada sinis? Atau dengan tatapan tidak suka? Enggak kan? Kamu juga tahu betul kalau mamaku bukan orang yang seperti itu.” sela Mark sambil balas menatap Winny dan tersenyum lembut.
Winny merasa kesal karena Mark masih bisa tersenyum saat berkata demikian. “Kamu terlalu banyak ikut campur.”
“Lalu, siapa yang akan mencampuri urusan hidupmu kalau bukan aku, Win,” ujar Mark sambil kembali menatap langit.
Winny menghembuskan napas kasar karena ucapan Mark benar. Siapa lagi yang mau repot-repot mengurusi hidupnya kalau bukan pemuda ini. Ia tidak punya siapa-siapa lagi selain Mark.
“Kamu membawaku ke rumahmu begitu aku kembali ke Jakarta,” ujar Winny sambil menyandarkan kepalanya di pundak kokoh Mark, “Lalu, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya? Mempertemukan aku dengan dia?”
Mark menghela napas pelan. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir pemuda itu, dan suasana berubah menjadi hening. Winny kemudian memeluk lengan Mark erat.
“Aku... tidak ingin bertemu dengannya.” ujar Winny pelan.
...----------------...
...- Winny & Mark -...