Love, Maybe

Love, Maybe
Chapter 20



.......


Di sisi lain kafe, duduk seorang gadis cantik bersama seorang pemuda tampan. Sang gadis tengah menyesap teh hangatnya dengan anggun sementara sang pemuda tampak tenang dengan satu map di tangan kanan dan secangkir kopi di tangan kirinya.


Sesekali gadis cantik itu melirik pada wajah di pemuda yang tampak sangat serius membaca rentetan kata yang tercetak di atas kertas yang dipegangnya. Dan gadis itu hampir tersedak saat tiba-tiba pemuda tersebut mendadak menengadah dan tatapan mereka bertemu. Si pemuda tersenyum ramah, menampakkan jejeran giginya yang rapi.


“Aku rasa proposal ini sudah bagus, Seena. Hari senin aku akan menyerahkannya pada presdir.”


Gadis cantik bernama Seena itu menganggukkan kepalanya dan tersenyum kikuk.


“Baik, terimakasih banyak, Daniel.”


Senyum Daniel semakin terkembang, menambah kadar ketampanannya serta mengusir kecanggungan yang semula dirasakan oleh Seena. Memang ini bukan pertama kalinya Seena bertemu dengan pemuda tampan ini. Sudah beberapa kali mereka bertemu dalam rangka kerja sama perusahaan tempat Seena bekerja dengan Allure Corporation, tempat Daniel bekerja. Namun baru kali ini Seena menemui pemuda ini di luar jam kerja, dan di akhir pekan pula, ya walaupun yang mereka bicarakan tetaplah masalah pekerjaan.


“Aku sebagai perwakilan Allure Corporation meminta maaf karena presdir kami tidak bisa datang pada pertemuan ini, dan beberapa pertemuan sebelumnya juga. Presdir kami baru saja menikah, jadi dia masih sibuk dengan urusan pribadinya. Aku harap kalian tidak keberatan bila aku yang mewakilkan,” ujar Daniel sambil tersenyum.


Seena menatap lurus pada Daniel. Harus diakuinya, selain tampan pemuda di hadapannya ini sangat sopan dan juga ramah. “Tidak masalah. Wakil presdir kami yang memegang proyek ini juga berhalangan untuk hadir, makanya aku yang menggantikannya kesini hari ini. Sama seperti presdir di perusahan kalian, wakil presdir kami juga belum lama ini menikah. Aku harap kamu juga tidak keberatan harus bernegoisasi dengan asistennya.”


“Tentu saja, tidak masalah. Senang dapat bekerja sama denganmu,” Daniel mengakhiri pertemuan mereka pagi ini dengan berjabat tangan.


“Saya juga,” Seena tersenyum dan menyambut uluran tangan Daniel. Mereka bangkit berdiri kemudian saling menundukkan kepala hormat pada satu sama lain. Seena mengamit tas tangannya dan baru saja akan berbalik saat Daniel kembali bersuara.


“Maaf, Seena.”


“Iya?” Seena serta-merta menoleh dengan ekspresi bertanya.


Daniel membasahi bibirnya sebelum berkata, “Kalau boleh tahu, setelah ini kamu akan ke mana?”


“Pulang ke rumah. Setelah ini aku tidak punya acara lain lagi. Ada apa, Daniel?” tanya Seena.


“Tidak apa-apa. Hanya saja, uhm... bagaimana kalau kuantar kamu pulang? Aku merasa tidak enak telah menyita waktu akhir pekanmu untuk masalah pekerjaan.” Jawab Daniel.


Seena terdiam dan menatap Daniel lamat. Gadis itu tampak sedang berpikir karena pertanyaan ini tidak berhubungan dengan masalah kerja.


“Lagi pula aku juga tidak ada acara lain lagi setelah ini. Apa kamu keberatan?” lanjut Daniel, mencoba meyakinkan.


“Baiklah,” jawab Seena akhirnya. Sepertinya tidak ada yang salah dengan menerima tawaran Daniel. Toh, permintaannya masih di batas wajar dan mereka juga sebenarnya sebaya. Tidak ada yang salah dengan membangun pertemanan, kan?


Daniel lagi-lagi memamerkan senyum menawannya dan dengan sopan mempersilahkan Seena untuk berjalan lebih dulu. Kendati mereka seumuran, Daniel masih menjaga jarak dengan berjalan selangkah di belakang Seena agar gadis itu merasa nyaman. Bagaimanapun mereka adalah rekan yang akan bekerja sama. Daniel harus memperlakukannyaa dengan sebaik mungkin.


“Daniel!”


Kontan langkah keduanya terhenti ketika mereka mendengar seseorang yang menyerukan nama Daniel. Daniel menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang pemuda jangkung yang familiar tengah berjalan ke arahnya.


‘Felix?’ batin Daniel.


Ya, pemuda itu tak lain adalah Felix, yang baru saja bertemu dengan Helen dan Kaylee di kafe yang sama. Lekas Daniel berbalik dan menatap Seena, ekspresinya tampak sedikit panik.


“Seena, maafkan aku. Sepertinya aku tidak bisa mengantarmu hari ini. Mungkin lain kali, tidak apa-apa kan?” tanya Daniel sambil menatap Seena dengan ekspresi bersalah campur panik.


Seena tersenyum ramah pada Daniel dan mengangguk. “Tidak apa-apa. Kalau begitu aku duluan ya. Permisi.”


Sepeninggal Seena, Felix telah sampai di tempat Daniel berdiri. Daniel memiringkan kepalanya, melihat Helen dan Kaylee yang berjalan tidak jauh di belakang Felix. Daniel membungkukkan kepalanya hormat kepada Helen, lalu melambaikan tangannya pelan ke arah Kaylee.


“Kak Helen, bagaimana kabar kakak?” sapa Daniel ramah sambil tersenyum.


Helen pun balas tersenyum. “Baik. Kamu apa kabar?”


Daniel dan Felix sudah bersahabat sejak lama, sehingga Daniel juga akrab dengan kakak dan adik Felix.


“Kabarku juga baik. Kapan kakak sampai di Jakarta?” tanya Daniel lagi.


“Aku dan Kaylee baru saja sampai tadi malam, dan kami baru saja selesai sarapan di sini. Kamu sendiri sedang apa di sini?” tanya Helen.


“Aku baru saja menemui seseorang,” jawab Daniel masih dengan senyum.


Tatapan Felix bergulir, menangkap sosok Seena yang berjalan menuju pintu keluar.


“Kamu menemui gadis itu? Siapa dia?” tanya Felix sambil mengalihkan tatapannya pada Daniel.


“Rekan kerja,” jawab Daniel cepat.


Felix menganggukkan kepalanya mengerti. Sejenak keheningan mendera hingga Helen menoleh pada adik perempuannya yang sedari tadi belum bersuara.


“Kaylee, kenapa kamu diam saja? Kamu tidak merindukan mantan pacarmu ini?” ujar Helen sambil menyikut lengan Kaylee, membuat Kaylee mendelik kesal.


“H-hah? Mana mungkin... uhm... apa kabar kak Daniel?” tanya Kaylee akhirnya setelah diberi tatapan cepat-sapa-dia-atau-kamu-akan-menyesal oleh Helen.


Daniel lagi-lagi tersenyum. “Kabarku baik. Bagaimana kuliahmu di New Zealand?”


Kaylee mengalihkan pandangannya, takut hatinya lemah dengan sikap ramah pemuda ini. “Baik. Tesisku sudah selesai.”


Daniel menggelengkan kepalanya. “Tidak. Kenapa?”


“Kamu bisa antar aku pulang kan?” tanya Felix, kemudian ia berbalik dan mendorong Helen dan Kaylee pelan ke arah pintu keluar. “Kalian bisa mengobrol dengan Daniel lagi nanti, sekarang sebaiknya kalian kembali ke hotel.”


Helen menoleh pada Daniel dan melambaikan tangannya. “Sampai jumpa lagi, Daniel.”


Daniel membalasnya dengan senyum ramah sambil menganggukkan kepalanya. Setelah Helen dan Kaylee menghilang di balik pintu keluar, alih-alih ikut meninggalkan kafe dan kembali ke apartemen, Felix dan Daniel malah memutuskan untuk kembali duduk dan memesan minuman. Ada beberapa hal yang ingin Felix bicarakan dengan pemuda ini.


...***...


“Jadi presdir Allure Corporation juga baru saja menikah ya,” ujar Jane sambil mengetuk-ngerukkan pulpennya di atas map.


Seena baru saja memberitahukan informasi yang didapatkannya dari Daniel kemarin, bahwa presdir dari Allure Corporation, perusahaan yang akan menjalani kerja sama dengan perusahaan mereka, baru saja menikah. Setidaknya informasi tersebut mengobati rasa penasaran Jane atas absennya sang presdir di setiap pertemuan mereka tiga bulan terakhir ini. Padahal mereka sedang menyelesaikan negosiasi yang penting.


Jane mengerutkan keningnya. Kini pulpen yang dipegangnya berpindah jadi mengetuki kepalanya sendiri. Hal ini merupakan kebiasaan Jane jika ia sedang berpikir.


“Seena, apa sebaiknya kita kirimkan hadiah pernikahan untuknya?” tanya Jane.


“Sepertinya lebih baik begitu. Kita harus membangun hubungan kerja sama yang baik dengan mereka.” jawab Seena.


“Baiklah. Seena, tolong belikan sesuatu yang pantas untuk dijadikan hadiah pernikahan, ya,” perintah Jane seraya menyerahkan dokumen yang baru saja ditandatanganinya. “Aku bergantung padamu.”


“Baik,” Seena tersenyum dan membungkukkan badan hormat sebelum berbalik dan berjalan keluar dari ruang kerja Jane. Tidak sampai lima menit kemudian, terdengar ketukan di pintu dan Seena kembali masuk.


“Nona Jane, ada seorang wanita yang mencarimu.”


“Siapa?” tanya Jane. Setelah mendengar ciri-ciri orang yang datang mencarinya itu dari Seena, Jane segera turun ke lobby, tempat di mana wanita itu menunggu.


“Kak Helen.” Panggil Jane begitu ia tiba di lobby. Wanita yang datang mencarinya itu adalah Helen, kakak perempuan Felix.


“Halo, Jane,” Helen bangkit dari sofa dan menyambut Jane dengan pelukan.


Kendati tak menyangka kakak perempuan Felix akan mendatangi kantornya, Jane merasa senang Helen menyambutnya dengan hangat. Jane sempat merasa resah bagaimana ia harus menghadapi kakak perempuan Felix nantinya, mengingat terakhir kali bertemu ia belum sempat mengobrol dengannya. Beruntung, di samping pembawaan Helen yang elegan, dia juga memiliki kepribadian yang ramah sehingga Jane tidak perlu merasa canggung.


“Bagaimana kakak bisa tahu kantorku?” tanya Jane ketika Helen melepas pelukannya.


“Felix yang memberitahuku,” dusta Helen. Mana mungkin Felix akan memberitahu alamat kantor Jane begitu saja. Felix malah melarang Helen untuk menemui Jane tanpa sepengetahuannya.


Tapi bukan Helen Setiawan namanya kalau akan menuruti ucapan Felix begitu saja. Dia pun berinisiatif untuk mencari alamat kantor Jane di internet. Jane pun mengajak Helen untuk mengobrol di kafe yang ada di lobby kantor.


“Maaf ya, aku datang mendadak. Apa aku menggangumu?” ujar Helen lagi setelah mereka sama-sama duduk di kafe.


“Tentu saja tidak. Kakak bisa datang kapan saja,” jawab Jane sambil tersenyum ramah. “Kakak mau minum apa? Biar aku pesankan.”


“Tidak, tidak usah. Aku tidak akan lama kok, lagipula ini masih jam kerja. Aku yakin kamu pasti sibuk,” jawab Helen cepat. “Aku datang untuk membawakanmu beberapa hadiah.” Helen beralih pada samping tubuhnya, tempat di mana beberapa paper bag besar dia letakkan.


Helen menyodorkan paper bag yang berwarna hitam ada Jane. “Ini hadiah ulang tahun dariku untuk Felix. Besok pagi aku akan kembali ke Melbourne, jadi tidak akan sempat memberikannya pada hari ulang tahunnya nanti. Aku titipkan padamu ya, Jane.”


Jane menerima paper bag itu. “Baiklah, nanti akan kuberikan pada Felix di hari ulang tahunnya. Tapi, kenapa kakak cepat sekali kembali ke Melbourne?”


“Ada urusan yang harus diurus di sana. Mungkin bulan depan aku akan kembali lagi kesini bersama suamiku. Felix masih berhutang satu makan malam denganku,” Helen mengedipkan sebelah matanya pada Jane. Jane tersenyum dan mengangguk pelan mendengar ucapannya. Helen kembali mengulurkan paper bag yang berwarna peach pada Jane.


“Dan yang ini untukmu. Hadiah pernikahan dariku. Maaf aku tidak bisa datang ke pernikahanmu dan Felix. Suamiku sedang ada perjalanan bisnis saat itu sehingga kami tidak bisa tiba di Jakarta tepat di hari pernikahan kalian. Dan adikku juga sedang menghadapi sidang tesisnya di New Zealand saat itu. Tapi tenang saja, mulai sekarang kami akan pastikan untuk meluangkan waktu mengunjungi kalian,” jelas Helen.


Perasaan lega mulai menyusup ke dalam hati Jane. Akhirnya kini ia tahu kenapa keluarga Felix tidak datang di pernikahan mereka. Kendati pernikahan mereka terkesan mendadak dan diadakan secara sederhana, tapi tetap saja pernikahan adalah acara sakral yang harus dihadiri oleh masing-masing keluarga.


Helen meraih tangan Jane dan menggenggamnya lembut. “Aku ingin berterimakasih padamu, Jane. Terima kasih telah menjadi pendamping hidup Felix. Adik laki-lakiku itu kadang bisa sedikit dingin dan tidak penuh perhatian. Dia tidak seperti pria lainnya yang bisa menunjukkan perasaannya secara gamblang. Oleh karena ini, kuharap kamu mau memahami Felix dan selalu berada di sisinya.”


Jane membalas perlakuan Helen dengan senyuman tulus. Sekarang ia tahu dari mana sikap hangat Felix berasal. “Iya, aku mengerti kak. Kami sudah hampir empat bulan menikah, saat awal bertemu memang Felix sedikit dingin, tapi setelah menikah Felix selalu banyak membantuku. Dia merawat Aiden dengan baik selayaknya seorang ayah. Felix juga menutupi kekuranganku dalam hal pekerjaan rumah. Meski terlihat dingin, aku tahu kalau Felix adalah orang yang baik dan hangat.”


Jane mendadak merasa bingung. Baru kali ini ia bisa mengungkapkan perasaannya dengan leluasa, padahal ini pertama kalinya ia mengobrol dengan Helen. Selama ini tidak banyak teman yang bisa Jane jadikan tempat ia bercerita, di kantor pun hanya Seena yang bisa ia ajak mengobrol dengan leluasa.


“Mendapatkan Felix sebagai suamiku sudah lebih dari cukup. Aku tidak pernah mengharapkan apa-apa darinya.” Lanjut Jane, masih dengan senyum tulusnya.


Senyum haru layaknya seorang ibu pada menantunya terpeta di paras Helen. Dalam hati ia meyakini kalau adiknya tidak salah memilih Jane untuk menjadi istrinya. Baik dari Felix maupun Jane, Helen dapat melihat cinta yang terpancar di mata mereka. Sekali lagi Helen membawa Jane ke dalam pelukannya.


“Tapi, kak. Boleh aku menanyakan sesuatu?” tanya Jane saat Helen sudah melepas pelukannya.


“Tentu, Jane. Kamu boleh menanyakan apa saja.”


“Bagaimana dengan orangtua Felix?” tanya Jane dengan penuh hati-hati.


Helen tersenyum simpul. “Kami bertiga adalah yatim piatu, Jane.”


...----------------...



...- Daniel & Seena -...