
.......
Pesta kecil yang diadakan teman-teman Felix di kafe berakhir pada pukul delapan malam. Sebagian besar dari mereka bukanlah pria lajang lagi sehingga mereka tidak dapat mengadakan pesta hingga larut malam. Bisa berkumpul bersama untuk merayakan ulang tahun saja sudah cukup bagi mereka. Urusan pekerjaan dan keluarga telah menyita hampir tiga perempat dari waktu mereka sehingga tidak bisa terlalu sering berkumpul, namun mereka juga tidak bisa menghilangkan kebiasaan merayakan ulang tahun bersama begitu saja.
Sedan putih milik Jane sampai di basement apartemen pada pukul delapan lewat dua puluh menit. Felix mematikan mesin mobil dan melepas sabuk pengamannya. Saat dia menoleh pada Jane, dilihatnya gadis itu sudah menutup mata dengan Aiden yang berada di pangkuannya. Aiden memang sudah terlelap sejak mereka masih berada di kafe tadi, yang menjadi salah satu alasan pestanya dibubarkan.
Sejenak Felix tersenyum melihat Jane yang tertidur begitu tenang. Sepanjang perjalanan tadi, Felix memang berusaha menyetir dengan fokus dan tidak banyak bicara karena takut membuat Aiden terbangun dan agar mereka juga bisa sampai di apartemen lebih cepat, sehingga Felix tidak tahu sejak kapan Jane tertidur.
Beberapa detik Felix ambil untuk memperhatikan wajah Jane lekat-lekat. Istrinya memang sangat cantik, namun riasan yang Jane gunakan sore ini tidak terlihat seperti biasanya. Tidak ada lipstick matte berwarna nude yang biasa mewarnai bibir Jane, melainkan lip gloss berwarna merah yang membuat wajahnya terlihat semakin manis. Namun kendati riasan Jane tampak menawan malam ini, hal itu sama sekali tidak bisa menyembunyikan raut lelah yang tergambar di paras gadis cantik ini.
Bagaimana tidak? Selain menghabiskan setengah hari di kantor, Jane juga pergi berbelanja dan menyiapkan pesta kejutan untuk Felix yang kini sia-sia. Meski ia bisa tersenyum dan tertawa di pesta barusan, Jane tidak bisa menyembunyikan rasa lelah yang dirasakannya.
Sadar dirinya tidak mungkin membiarkan Jane tidur semalaman di mobil, Felix pun dengan terpaksa menepuk pelan lengan Jane, menyadarkan gadis itu kalau mereka sudah sampai dan sebaiknya segera masuk ke apartemen agar bisa beristirahat di kamar.
Jane sedikit terkesiap dan mengerjapkan matanya. Ia kemudian mengalihkan tatapan pada Felix dan bertanya pelan, “Kita sudah sampai?”
Felix mengangguk pelan. Felix melepaskan sabuk pengaman Jane, lantas dia keluar dari pintu kemudi, berputar ke samping mobil dan membukakan pintu untuk Jane sambil bertanya, “Apa hari ini kamu begitu sibuk?”
“Tidak, kenapa kamu bertanya seperti itu?” tanya Jane sambil memindahkan Aiden dengan hati-hati ke tangan Felix. Dengan sigap Felix memeluk Aiden, membiarkan kepala mungilnya bersandar di bahu lebarnya. Itu adalah posisi paling aman dan nyaman saat menggendong bayi yang tertidur.
“Kamu terlihat lelah,” jawab Felix sambil mengulurkan tangan untuk membantu Jane keluar dari mobil.
“Oh, itu karena aku men–” Jane tidak melanjutkan kalimatnya. Sontak matanya yang semula terasa sangat berat karena mengantuk kini membelalak.
‘Astaga. Aku kan tadi sudah menyiapkan kejutan untuk Felix di dalam apartemen.’ Seru Jane dalam hati, untungnya ia tidak keceplosan dan mengucapkan kalimat itu dengan keras. Tapi, jam berapa ini? Lekas Jane mengecek jam tangannya. Sudah jam setengah sembilan lewat. Jane sudah tidak tahu lagi bagaimana rupa masakannya saat ini.
“Ada apa Jane? Kamu kenapa?” tanya Felix sedikit khawatir karena melihat ekspresi wajah Jane yang mendadak terlihat kaget. Jane mengalihkan tatapan pada Felix, sejenak ia lupa dengan presensi Felix karena sibuk dengan pikirannya.
“Ti-tidak. Tidak apa-apa. Oh iya, Felix, bisa tolong bawakan tas bayi yang ada di jok belakang? Aku akan ke atas duluan untuk menyiapkan kamar Aiden.” Ujar Jane sambil menutup pintu mobil. Ia harus sampai ke apartemen duluan dan merapikan balkon agar Felix tidak melihat kejutan gagalnya di sana.
“Tapi kita.....” mata Felix mengikuti Jane yang setengah berlari ke pintu masuk. “....bisa ke atas bersama...” ucapan Felix sia-sia karena Jane kini sudah menghilang di balik pintu. Felix menggaruk kepalanya pelan, dia segera mengambil tas bayi yang ada di jok belakang dan menyusul Jane masuk ke dalam gedung.
Sesampainya di apartemennya, Jane bergegas naik ke lantai dua dan merapikan meja lipat yang tadi ia pasang di balkon, memindahkan piring dan gelas ke dapur, dan dengan terpaksa membuang masakannya yang sudah dingin. Jane menutup rapat pintu kaca balkon dan menarik gordennya.
Jane tengah menuruni tangga saat ia lihat Felix yang berjalan masuk dari pintu depan. Jane langsung menghampiri Felix dan mengamit Aiden dari pelukan pemuda itu.
“Biar aku saja yang membawa Aiden ke kamarnya. Kamu duduk saja dulu di sofa,” ujar Jane. Ia juga mengambil tas bayi dari tangan Felix dan dengan perlahan kembali naik ke lantai dua.
Felix mengernyitkan dahi bingung melihatnya. Tapi dia menuruti ucapan Jane untuk duduk di sofa, walaupun benaknya masih bertanya-tanya akan sikap Jane yang tiba-tiba sangat aneh. Padahal tadi gadis itu terlihat sangat lelah dan mengantuk, lalu dari mana datangnya energi barusan? Tadi Jane berlari dari basement ke atas, dan jangan lupa juga sudah berapa kali ia naik dan menuruni tangga.
Beberapa menit kemudian, Jane sudah kembali menuruni tangga. Dari anak tangga ke lima ia dapat melihat punggung Felix yang sedang duduk di sofa. Namun bukannya menghampiri sang suami, Jane malah berjingkat menuju dapur dan mengambil gelas. Felix baru menyadari kehadirannya saat terdengar suara air yang dituangkan dari teko.
“Jane?” panggil Felix.
Si empunya nama hampir terlonjak saat mendengar suara Felix memanggilnya. “I-Iya,” jawab Jane pelan. Batal sudah niatnya untuk sekedar melepas dahaga.
“Dari tadi aku bingung,” ujar Felix sambil berjalan memasuki dapur.
Jane hampir saja menjerit. Apa Felix menyadarinya? Semua rencananya dan pesta kejutannya yang gagal? Jane merutuki dirinya yang bertingkah mencurigakan di hadapan Felix.
Felix berdiri di hadapan Jane yang membelakanginya. Dia menyampirkan lengannya di pinggang Jane dan menumpukan dagu di pundak gadis itu. Hal yang sama dengan apa yang dia lakukan kala gadis itu memasak beberapa hari lalu. Entah sejak kapan, Felix selalu ingin melakukan hal itu jika melihat Jane dalam posisi berdiri membelakanginya.
“Di mana hadiahku?” tanya Felix pelan.
“Hah?”
Detik itu juga Jane meletakkan gelas di tangannya dan menepuk keningnya pelan. ‘Astaga, kenapa aku bisa lupa dengan hadiahnya?’
Felix bahkan sudah mendapatkan beberapa hadiah dari teman-temannya, dan juga dari Helen yang dititipkan pada Jane beberapa hari lalu. Namun sampai detik ini ia belum mendaptkan apa-apa dari istrinya. Wajar saja kalau Felix merengek seperti ini. Jane membalikkan tubuhnya dan tersenyum canggung, sementara Felix menatapnya dengan kening berkerut.
“Tentu saja aku menyiapkan sesuatu untukmu,” jawab Jane seraya menyentuh pundak Felix lembut. “Dengarkan aku,” lanjut Jane sambil menatap lurus pada mata Felix. Felix terdiam dan menatap Jane lekat-lekat, menunggu apa yang akan keluar dari bibir gadis itu.
“Maaf, aku tidak bisa mengekspresikan perasaanku selama ini. Aku rasa aku terlalu malu untuk mengatakan aku mencintaimu. Jadi, sekarang bisa tutup dulu matamu?” ujar Jane.
Menuruti ucapan istrinya, Felix lantas memejamkan matanya. Dia membiarkan Jane mengambil alih penglihatannya karena kini gadis itu menggandeng tangan Felix dan menuntun langkahnya menaiki tangga. Jane menuntun Felix dengan penuh hati-hati saat mereka melewati pintu menuju balkon, dan berhenti tepat di depan sebuah benda besar yang ditutupi oleh kain putih. Jane melepaskan genggaman tangan mereka dan memegang ujung kain putih tersebut.
“Apa kita sudah sampai?” tanya Felix yang bingung karena Jane tak lagi menggandengnya.
“Iya. Sekarang kamu bisa membuka matamu,” jawab Jane.
Seiring terbukanya kelopak mata Felix, Jane menarik kain putih di tangannya dengan kuat, membuat sebuah benda yang semula tertutupi mulai terlihat.
“Tadaaa!” seru Jane.
“Ini....” Felix tidak melanjutkan kalimatnya. Dia menatap benda yang ada di hadapannya dengan tatapan kaget.
“Ini hadiah ulang tahunmu dariku. Alat musik kesukaanmu, sebuah grand piano,” ujar Jane sambil tersenyum.
“Bagaimana kamu bisa tahu?” tanya Felix tak percaya, matanya masih tak berpindah seinci pun dari piano besar berwarna hitam di hadapannya itu.
“Aku bertanya pada kak Helen apa benda kesuakaanmu, dan dia bilang sejak kecil kamu sangat suka bermain piano. Jadi aku pikir lebih baik aku memberikanmu ini sebagai hadiah,” jawab Jane masih tersenyum lebar. Ia kemudian memposisikan diri di kursi piano.
“Kamu bisa memainkannya?” Felix bertanya karena dirinya tidak menyangka Jane juga akan memainkan piano tersebut.
“Aku pernah belajar dulu, tapi aku tidak yakin akan sebagus permainanmu,” jawab Jane dan ia mulai menekan tuts pada piano. Gerakannya pelan dan ia hanya menggunakan nada dasar. Tapi tak lama kemudian, nada yang familiar mulai terdengar di telinga Felix.
Lagu yang dimainkan oleh Jane adalah Happy Birthday-nya Kygo dan John Legend. Felix berdiri diam, senyuman terpatri di wajahnya sambil dia menatap Jane memainkan pianonya hingga selesai.
Felix berjalan mendekat ke arah Jane dan melabuhkan satu kecupan di puncak kepala gadisnya itu. Sontak saja Jane menengadah dengan senyum yang merekah di bibirnya. Felix balas tersenyum, dan berikutnya dia menarik tangan Jane agar gadis itu bangkit dari kursi. Felix tak memberi Jane kesempatan untuk bicara karena dia langsung mendekap gadis itu erat.
“Bagaimana aku harus berterimakasih padamu, Jane? Aku terlalu bahagia, kamu membuat ulang tahunku kali ini menjadi ulang tahun terindah dalam hidupku,” ujar Felix pelan.
Senyum Jane semakin merekah di balik bahu Felix. Tangannya bergerak memeluk balik suaminya dengan erat. “Kamu tidak perlu berterimakasih, Felix. Kamu juga sudah membuat hidupku menjadi lebih indah. Mulai sekarang kita akan menghabiskan setiap ulang tahunmu seperti ini bersamaku, selamanya.”
Dapat Jane rasakan bibir Felix bergesekan dengan rambutnya. “Ya, tentu saja. Kita akan bersama seperti ini selamanya.”
Jane melepaskan pelukan mereka dan tersenyum manis. “Nah, sekarang aku ingin mendengarkan kamu memainkan piano ini. Kak Helen bilang kamu sangat jago.” Jane menuntun Felix untuk duduk di kursi piano, kemudian ia mendudukkan diri di sebelahnya.
Felix mengangkat tangan layaknya pemain piano profesional, menekan tuts dengan kesepuluh jemarinya seraya ia mulai memainkan lagu yang sama dengan yang tadi Jane mainkan, hanya saja melodinya terdengar lebih bagus, dan ditambah dengan sambil bernyanyi pula.
Jane terkesima dengan kemampuan bermain piano Felix, ditambah lagi suaranya yang ternyata sangat merdu. Jane tidak bisa menyembunyikan tatapan kagum dan senyumnya yang lebar. Gadis itu mulai menyandarkan kepala pada bahu Felix, terbuai dengan suara lembutnya.
Lagu yang dimainkan oleh Felix akhirnya selesai. Jane menengadah kala Felix menundukkan wajahnya. Bertemunya bibir keduanya menjadi penutup malam ulang tahun yang indah itu.
...----------------...
...- Felix - ...