
.... ...
Papa meletakkan buku yang dipegangnya di atas meja yang ada di samping sofa ruang keluarga. Dia menatap ke arah Mama dengan ekspresi tidak senang yang tercetak jelas di wajahnya.
“Memangnya mereka pergi ke mana?!” tanya Papa setengah berteriak sambil mengurut pelipisnya. Ini adalah hari Sabtu, hari di mana seharusnya dia bisa menikmati akhir pekannya dengan bersantai sambil membaca buku tebal bertema politik kesukaannya. Tapi kegiatan akhir pekannya itu harus terinterupsi oleh sepasang suami istri yang datang ke kediamannya sambil membawa bayi mereka, dan pergi tanpa membawanya kembali bersama mereka.
“Ya ampun, jangan berteriak seperti itu. Ingat, di sini ada Aiden!” protes Mama yang duduk di samping Papa dengan Aiden berada di pangkuannya.
Papa mengendus kesal. “Tapi apa yang dilakukan dua bocah itu? Kemana mereka pergi dan meninggalkan anaknya disini. Memangnya ini tempat penitipan bayi?”
“Sudahlah, Pa. Mereka itu pasti juga lelah karena terus-terusan sibuk bekerja. Mereka juga butuh satu hari untuk beristirahat dan menikmati waktu berdua saja. Lagipula Mama juga sudah rindu pada Aiden.” Mama menyejajarkan pipi tembam Aiden dengan wajah awet mudanya. Papa melirik ke arah mereka berdua dan kembali mendengus.
“Dia bahkan bukan cucu–”
“Papa!” Mama langsung menyela ucapan Papa dan mengingatkan suaminya. “Jangan bicara seperti itu lagi. Jane pasti akan sangat sedih kalau mendengar ucapan Papa barusan. Papa harus ingat, Aiden lah yang membuat Jane berubah dan akhirnya menuruti keinginan kita agar dia menikah.”
“Iya, maafkan Papa,” ujar Papa akhirnya. Memang tidak ada yang bisa membuat Papa diam kalau bukan Mama. Papa kembali mengambil buku tebalnya dan berhenti mengungkit-ungkit perihal Aiden.
“Tapi menurut Papa, bukan cuma bayi ini saja yang membuat Jane berubah. Pemuda itu, dia juga membuat Jane sangat berubah.” Ujar Papa sambil membolak-balikkan halaman buku di tangannya.
“Iya benar. Felix adalah pemuda yang baik,” sahut Mama sambil tersenyum mengingat bagaimana tadi Felix meminta izin pada Mama untuk menitipkan Aiden di sini.
“Sejak kemarin aku lihat Jane tidak bersemangat. Rencananya hari ini aku ingin mengajak Jane jalan-jalan. Tapi aku sadar, kalau membawa Aiden pasti fokus kami akan terus pada Aiden saja. Jadi, kalau Mama tidak keberatan, aku ingin menitipkan Aiden di sini. Sampai jam lima sore saja.”
Lamunan Mama buyar saat tangan mungil Aiden menarik-narik kalung yang dipakainya. “Kenapa Aiden? Kamu lapar, ya?” Aiden merespon dengan tertawa riang seakan mengerti perkataan neneknya.
“Kalau begitu Nenek buatkan makanan untukmu dulu ya. Kamu di sini dulu bersama Kakek, oke?” Mama meletakkan Aiden pada baby high chair yang diletakkan oleh Felix tadi sebelum pergi dekat meja yang ada di sebelah Papa.
Setelah Mama pergi, Papa dan Aiden pun diliputi keheningan. Papa sibuk pada bacaannya sementara Aiden sibuk menggoyang-goyangkan mainan di meja high chair-nya. Merasa bosan, Papa menutup bukunya dan meraih remot yang ada di hadapannya. Papa menyalakan televisi dan mengganti channel ke siaran sepak bola. Suara pertandingan bola yang riuh dengan suara terompet yang berbunyi nyaring terdengar dari televisi yang menyala.
Tiba-tiba terdengar suara Aiden yang tertawa dengan riang. Papa mengalihkan perhatiannya pada Aiden yang ada di sebelahnya dan mulai mengamati bayi mungil itu. Setiap kali terompet berbunyi di televisi, Aiden akan tertawa riang. Saking riangnya, kakinya juga ikut menendang-nendang. Lama-kelamaan muncul rasa senang pada diri Papa saat mendengar tawa Aiden yang lucu itu.
“Kamu suka bola?” tanya Papa, yang direspon Aiden dengan menggoyang-goyangkan tangannya sambil tertawa lebar, membuat senyum merekah di wajah pria paruh baya itu.
Felix memarkirkan mobilnya di parkiran di sebuah mall di kawasan Jakarta Selatan. Jane yang duduk di sebelahnya tampak melirik keluar jendela dengan ragu-ragu, kemudian ia menoleh pada Felix yang masih terdiam di balik kemudi.
“Felix, kamu yakin tidak apa-apa?” tanya Jane khawatir.
Felix melirik ke arah Jane dan tersenyum. “Tenang saja. Kamu kan dengar sendiri tadi Mama bilang tidak masalah untuk menjaga Aiden.”
“Tapi kan Papa–”
“Sudah, kamu jangan khawatir. Tidak usah dipikirkan. Yang penting sekarang kita mendapatkan setengah hari tanpa Aiden, kita harus menikmatinya selagi bisa. Ayo, kita harus cepat masuk kalau tidak mau kehabisan tiket bioskop,” kata Felix sambil bergegas keluar dan berjalan memutari mobil untuk membukakan pintu untuk Jane tepat saat gadis itu selesai melepas sabuk pengamannya. Felix mengulurkan tangannya ke arah Jane, yang ditatapi oleh Jane dengan canggung.
‘Ayolah, Jane. Ini cuma karena kamu belum terbiasa saja. Bukan karena tidak bisa, tapi karena tidak pernah mencoba saja,’ batin Jane. Dirinya sudah berniat dan memantapkan hati untuk membiasakan diri pada hal-hal seperti ini.
Jane menyambut tangan Felix, membiarkan tangan mungilnya tenggelam di dalam genggaman tangan Felix, membiarkan Felix mengambil alih perannya sebagai seorang suami yang menuntun Jane di acara kencan mereka hari ini.
Yup, perayaann seratus hari pernikahan mereka tidak hanya berakhir dengan seloyang cake cokelat dan satu ciuman yang diberikan Felix padanya. Mereka juga memutuskan untuk pergi berkencan pada hari Sabtu ini untuk merayakannya. Felix dan Jane juga memanfaatkan momen ini sebagai pelepas rasa lelah setelah lima hari dalam seminggu dihabiskan dengan bekerja, dan harus merawat Aiden setiap saat juga. Mereka bahkan sampai menitipkan Aiden ke kediaman orangtua Jane untuk acara kencan hari ini.
Karena ini adalah akhir pekan, bioskop terlihat sangat ramai dan mereka ternyata juga kehabisan tiket film yang ingin mereka tonton. Karena mereka juga harus kembali pukul lima sore, seperti yang Felix janjikan pada Mama, sehingga mereka tidak mungkin mengambil di jam lain. Terpaksa mereka memilih satu-satunya film yang masih tersedia dua slot di jam tersebut.
Sayangnya, Jane terlihat tidak senang karena yang disebut satu-satunya film itu bergenre horor. Sejujurnya Jane lebih memilih menonton film genre melodrama dibanding horor. Karena satu, ia itu penakut, dan kedua ia gampang terkejut. Dan genre horor menyajikan kombinasi manis dari dua hal yang baru disebut itu. Jane bisa saja menolak, tapi ia tidak mau mengecewakan Felix. Bagaimanapun juga ini bisa dibilang kencan pertama mereka setelah menjadi suami istri.
Mereka sudah memasuki bioskop dan sudah duduk rapi di kursi masing-masing. Jane tidak tahu sampai kapan ia harus menahan rasa takutnya, bahkan kakinya sudah bergetar hanya dengan melihat cuplikan-cuplikan film selanjutnya yang rata-rata bergenre horor. Dan benar saja, saat film baru lima menit diputar, Jane sudah tidak bisa menutupi rasa takutnya dan refleks menutup wajahnya di pundak Felix. Salahkan si sosok wanita bergaun putih yang menunjukkan batang hidungnya di menit-menit pertama, sukses membuat Jane tidak bisa lagi menikmati filmnya. Tanpa sadar Jane mencengkeram lengan kemeja Felix dengan erat seiring backsound film yang mengiringi semakin keras.
Felix tersenyum dan membiarkan istrinya itu bersandar padanya. Malah kini lengan Felix beralih ke belakang tubuh Jane dan merangkulnya.
Beberapa menit telah berlalu. Jane tahu kalau hantunya sudah tidak ada, namun ia bergeming, posisi terasa sangat nyaman untuknya, dan ia ingin berlama-lama menikmatinya.
...----------------...