Love, Maybe

Love, Maybe
Chapter 22



.......


Hari ini adalah hari yang sudah Jane nanti-nantikan di bulan Maret. Apalagi kalau bukan hari ulang tahun suaminya, Felix.


Tanpa sepengetahuan Felix, Jane telah menyusun rencana untuk merayakan hari lahir suaminya itu dengan istimewa hari ini. Jane sudah mengosongkan jadwalnya sejak siang agar ia bisa berbelanja keperluan di supermarket. Jane juga pulang ke rumah lebih cepat dan menggantikan Felix menjaga Aiden karena pemuda itu pergi ke kafe lebih awal hari ini.


Setelah Felix berangkat, Jane mulai memasak untuk makan malam. Sejak kemarin Jane sibuk mencari resep-resep masakan yang mudah dibuat di internet. Setelah rampung memasak, Jane menata meja di balkon dan menciptakan atmosfir dinner romantis di sana.


Jane benar-benar berusaha menyiapkan segalanya sebaik mungkin mengingat ini adalah perayaan ulang tahun pertama Felix setelah mereka menikah.


Rencananya Jane juga akan menjemput Felix ke kafe hari ini. Maka setelah membersihkan diri, tepat pukul lima sore Jane berangkat menuju kafe di mana Felix bekerja. Ia juga membawa serta Aiden bersamanya.


Sepanjang perjalanan, Jane bersenandung riang bersama Aiden yang juga tak henti-hentinya menggoyangkan kakinya di belakang. Bayi laki-laki itu terlihat sangat riang, seakan ia mengerti kejutan apa yang akan diberikan mama­nya kepada papanya nanti.


“Aiden, sebentar lagi kita akan sampai,” ujar Jane sambil melirik Aiden dari spion.


“Ahh!” Sahut Aiden dengan senyum terkembang, membuat suasana hati Jane menjadi semakin bagus.


Felix sudah menanti mereka di depan cafe saat sedan putih Jane memasuki halaman. Jane memang sudah mengirimi Felix pesan memberitahu bahwa dirinya akan datang ke kafe untuk menjemputnya. Jane keluar dan melambaikan tangannya pada Felix, lantas beralih membuka pintu belakang dan mengambil Aiden dari baby seat-nya.


Hari ini Jane tampak cantik dengan atasan off-shoulder berwarna ungu dipadu celana katun berwarna abu-abu. Sepasang anting-anting berwarna merah berbentuk cherry terpasang di kedua telinganya. Sedangkan rambutnya tampak manis kendati hanya digerai biasa dan diselipkan ke belakang telinga.


Aiden yang berada di gendongan Jane mengenakan setelan berwarna navy blue. Rambutnya yang sudah mulai lebat ditutup dengan topi wol berwarna putih. Tampak tampan dan imut.


Senyum Felix semakin terkembang seiring langkah Jane yang semakin mendekat. Ia segera meraih Aiden dari pelukan Jane kala gadis itu berdiri di hadapannya, menciumnya gemas dan mengusap-usap puncak kepala bayinya.


“Aiden, kenapa tampan sekali.” Lagi-lagi Felix menciumi pipi gembul Aiden dengan gemas. Jane ikut tersenyum melihatnya.


Tak berlama-lama mengabaikan istrinya, sebelah tangan Felix menggandeng Jane dan mengajaknya masuk ke dalam.


“Ayo masuk.”


Ketika masuk, Jane bingung kenapa kafenya sangat sepi dan terdapat meja-meja yang disusun di tengah ruangan. Dinding kafe dengan aksen kayu itu pun dihias dengan pita-pita berwarna putih. Beberapa teman-teman Felix seperti Henry, Steven dan yang lainnya juga tampak duduk santai mengelilingi meja di tengah ruangan tersebut.


Tidak salah lagi, ini pasti pesta perayaan ulang tahun. Ternyata teman-teman Felix mengadakan pesta ulang tahun untuk Felix di kafe. Refleks Jane pun menarik Felix dan berbisik.


“Kenapa kamu tidak bilang padaku kalau akan ada perayaan ulang tahun di sini?” Tanya Jane.


“Hmm, tadinya aku ingin memberitahumu dan memintamu untuk datang, tapi karena kamu sudah mengirim pesan duluan dan bilang akan ke sini, jadi aku tidak memberitahumu secara detail." Jawab Felix.


‘Sial, bagaimana dengan kejutan yang sudah kusiapkan dirumah? Aku tidak mungkin membawa Felix pulang di saat teman-temannya telah menyiapkan pesta untuknya,’ rutuk Jane dalam hati. Kalau begini caranya, semua yang sudah ia siapkan akan sia-sia.


“Ayo, Jane. Aku juga ingin mengenalkanmu pada teman-temanku.” Felix menarik tautan jemari mereka dan tersenyum manis.


“Ah, i-iya.”


...***...


Seena sedang berjalan bersisian dengan Daniel. Mereka baru saja selesai membicarakan kelanjutan proposal yang telah disetujui oleh Jane di salah satu restoran yang ada di dekat kantor. Ini merupakan pertemuan mereka kesekian kali setelah mulai bekerja sama.


“Bukankah makanan di sini sangat enak?” Daniel memulai konversasi karena sedari tadi Seena hanya mengunci mulut dan berjalan di sebelahnya.


Seena menengadah dan tersenyum, memamerkan eyesmile-nya, yang seketika membuat jantung Daniel berhenti berdetak sesaat.


“Iya, tapi sayang sekali mereka tidak punya hazelnut latte,” jawab Seena kemudian. Pertemanan di antara keduanya sudah mengalami banyak kemajuan. Kini mereka sudah bisa membicarakan hal di luar pekerjaan dengan nyaman. Tidak lagi canggung ataupun kikuk seperti sebelumnya.


'Apa dia ingin minum hazelnut latte?' Batin Daniel. Dia merapatkan bibirnya, tampak berpikir.


“Daniel?” Panggil Seena saat dilihatnya pemuda itu diam dan tampak termenung. "Kamu kenapa?"


"Oh, tidak apa-apa." Buru-buru Daniel menguasai diri. Dia tersenyum tipis pada Seena dan mulai bertanya, "Jadi kamu ingin minum hazelnut latte?"


Gadis cantik itu mengangguk. “Iya, rasanya sudah lama sekali aku tidak minum hazelnut latte.”


Sejurus jawaban Seena barusan, sebuah ide melintas di benak Daniel. “Bagaimana kalau kamu ikut denganku? Kebetulan aku ingin ke kafe milik temanku, aku rasa dia menjual hazelnut latte disana. Setelah itu aku bisa mengantarmu pulang.” Daniel pikir ini momen yang tepat mengingat sudah berulang kali ia gagal mengantar gadis itu pulang.


“Tentu saja tidak. Ayo.”


Mereka pun berjalan keluar dari restoran, segera masuk ke mobil Daniel dan berangkat menuju kafe.


...***...


Berbanding terbalik dengan eskpresi senang yang tergambar di wajah Henry, Mark dan Paul justru memasang ekspresi tanda tanya kala Felix mendudukkan Jane di hadapan mereka.


Mata keduanya sibuk memindai sosok Jane dengan benak yang bertanya-tanya siapakah gerangan gadis cantik ini? Sadar kalau istrinya mulai merasa risih dengan tatapan-tatapan sahabatnya, Felix pun angkat suara.


“Jane kenalkan ini adalah Mark,” ucapnya sambil menunjuk ke arah Mark yang duduk tepat di hadapan Jane.


Mark menyambut tatapan Jane dengan senyum lebar. “Mark,” katanya seraya mengulurkan tangan. Jane menyambutnya dan balas tersenyum canggung.


“Dan ini Paul,” lanjut Felix beralih pada pemuda yang duduk di samping Henry di sisi kanan meja. Tak berbeda dengan Mark, Paul memamerkan senyumnya seraya berdiri dan mengulurkan tangan.


“Namaku Paul. Senang berkenalan denganmu.”


“Mereka adalah teman-temanku sejak sekolah dulu,” jelas Felix mengakhiri sesi perkenalan kali ini. Felix hanya memperkenalkan Jane pada kedua orang itu, karena Henry dan Steven sudah pernah bertemu dengan Jane sehingga dia tidak perlu memperkenalkannya lagi pada mereka.


“Namaku Jane, istri Felix.” Kali ini giliran Jane yang memperkenalkan dirinya, membuat Mark dan Paul kontan meng-oh-kan jawaban Jane dengan bersamaan.


“Kami sudah mendengar cerita tentangmu, Jane. Tapi aku tidak tahu kalau kamu secantik ini,” Paul merespon sok akrab.


“Pantas saja Felix pelit untuk mengenalkanmu pada kami,” celetuk Mark yang lantas dibalas tilikan tajam oleh Felix. Tak mau mati di tangan sahabatnya yang satu itu, Mark pun mengalihkan perhatiannya pada sosok mungil di pangkuan Felix.


“Ya ampun, siapa bayi tampan ini?” tanyanya sambil menggoyang kepalan tangan mungil Aiden. “Apa Felix juga akan pelit mengenalkanmu pada kami?”


Lagi-lagi Felix melayangkan tatapan tajam pada Mark, sontak membuat penghuni kafe pada sore hari itu tertawa, tak terkecuali Jane. Dalam hati gadis itu berterima kasih pada Mark karena dapat mencairkan suasana.


Kini Aiden digendong bergantian oleh Mark dan Paul. Sesekali Steven yang sudah menyelesaikan tugasnya meracik kopi, mengajak Aiden bermain. Teman-teman Felix tampak senang dan antusias berkenalan dengan bayi mungil itu. Mereka juga larut dalam konversasi hangat hingga Jane lupa pada rasa kecewanya atas pesta kejutannya yang gagal ia adakan di rumah.


Jane juga menjadi selangkah lebih dekat dengan teman-teman Felix. Kendati awalnya mereka bersikap konyol, teman-teman Felix lumayan hebat dalam bidangnya. Sejenak Jane sempat merasa heran kenapa Felix bisa memiliki teman seorang dokter kanker anak seperti Mark, pengacara seperti Paul, dan juga eksekutif seperti Henry. Kalau diingat-ingat, kakak perempuan Felix juga tampak elegan seperti dia adalah gadis dari kalangan atas.


“Akhirnya kamu datang juga, Daniel!” Percakapan yang semula terjalin di antara semuanya, terinterupsi dengan suara teriakan Henry. Kontan saja seluruh kepala tertuju ke arah pintu masuk, di mana seorang pemuda datang dan tersenyum kepada semuanya.


“Maaf, aku terlambat.” Daniel masih setia memamerkan senyum seraya matanya mengobservasi ke seluruh ruangan. Namun senyumnya seketika sirna saat matanya menangkap sosok Jane berada di antara mereka.


Seorang gadis cantik berjalan di belakang Daniel dan sontak membuat semua mata beralih padanya. Suasana yang tadinya riuh berubah menjadi senyap. Henry, Mark, Paul, dan Steven bertanya-tanya siapa gerangan gadis cantik tersebut. Felix mengerutkan dahi, berusaha mengingat-ingat di mana dia pernah melihat wajah gadis yang tidak asing ini. Sedangkan Jane justru membelalakkan matanya kaget.


“Seena?” lirih Jane tanpa sadar. Ia mengenali gadis jelita itu sebagai Seena, asisten sekaligus sahabatnya.


Felix yang duduk berdekatan dengan Jane dapat mendengar suara gadis itu. Ia melirik pada Jane dan Seena secara bergantian.


‘Jadi dia Seena?’ Batin Felix.


Yang lain masih tampak kaget karena Daniel tidak biasanya membawa wanita hingga akhirnya Henry lah yang mulai buka suara.


“Siapa dia, Daniel?” Menyuarakan hal yang menjadi pertanyaan setiap penghuni meja dan juga pertanyaan yang sama sekali tidak ingin Daniel dengar.


Ekspresi Daniel sama persis seperti Jane. Pemuda itu terkejut dan juga bingung. Ia tidak bisa mengatakan kalau gadis yang saat ini bersamanya adalah rekan kerjanya yang juga merupakan asisten dari Jane, istri Felix.


“Kenalkan ini Seena…” ucap Daniel akhirnya, sambil menunjuk pada Seena. Buat gadis itu refleks membungkukkan tubuh hormat sambil tersenyum hangat. Namun senyumnya itu menyurut kala Daniel meneruskan.


“…calon istriku.”


...----------------...



...- Jane -...