Love, Maybe

Love, Maybe
Chapter 13



Sudah sepuluh menit lamanya tatapan Jane tak berpindah fokus dari sepasang mata jernih sosok mungil yang ada di dalam dekapannya. Kurva yang tergambar di paras Jane semakin menambah kadar kecantikannya, dan bertambah dua kali lipat saat tawa kecil mengalun dari bibirnya kala tangan mungil Aiden memainkan helaian rambut cokelatnya yang menjuntai. Bayi kecilnya itu juga mengedipkan kelopak matanya beberapa kali saat ujung rambut Jane menyapu wajahnya. Sungguh menggemaskan.


Tak mau sampai sang buah hati kelilipan, Jane menyibakkan surainya ke belakang telinga, membuat Aiden menautkan kedua tangannya sendiri karena kehilangan mainan. Ah, rasanya Jane tak akan bosan meski selama berjam-jam hanya memperhatikan tingkah lucu Aiden. Bahkan layar datar yang menayangkan acara televisi kesukaannya saja tak mampu mencuri perhatian Jane barang sedetik pun.


“Aiden,” panggilnya lembut seraya menyentuh hidung Aiden dengan telunjuk, membuat bayi itu mengerjap beberapa kali.


“Aah.”


Situasi langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Kini sepasang mata Jane yang mengerjap, menerka kalau-kalau dirinya ternyata salah dengar. Karena ia mulai berpikir, apakah baru saja Aiden merespon panggilannya?


“Aiden...” Jane memanggil nama Aiden lagi untuk memastikan. Dan benar saja, sepersekian detik berikutnya terdengar seruan yang sama disertai tatapan Aiden yang berpusat pada wajah Jane.


Jane tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Yang jelas, dalam dadanya saat ini seperti terdapat beribu bunga bermekaran dan ratusan kupu-kupu terasa memenuhi perutnya. Bibirnya tidak tahan untuk tidak tersenyum. Tatapannya berulang kali mengobservasi wajah mungil Aiden. Pangeran kecilnya sudah bisa menanggapi! Jane merasakan suatu perasaan bahagia yang tidak terlukiskan. Apakah ini yang dirasakan seorang ibu saat melihat perkembangan bayinya? Kalau memang benar, Jane sangat terharu dapat merasakannya sendiri detik ini. Dirinya memang bukan ibu biologis Aiden, tapi Aiden dapat diibaratkan jantung bagi Jane sedetik setelah ia melihat wajahnya saat pertama kali bertemu dulu. Aiden amat berarti dan Jane tidak masalah meski ia tidak memiliki kontak batin sekalipun dengan bayi ini.


“Aiden, anakku.”


“Ooh.”


Jane kembali tersenyum lebar. Matanya langsung berkaca-kaca membayangkan bagaimana kalau Aiden sudah lancar berbicara nanti. Saat Aiden sudah bisa memanggil Jane dengan sebutan ‘Mama’. Membayangkannya saja sudah membuat jantung Jane berdetak tidak karuan. Terlampau senang untuk dijelaskan. Mengeratkan rengkuhannya pada Aiden, gadis itu menyandarkan tengkuknya ke sandaran sofa. Benaknya mulai melayang ke masa depan. Mengajari Aiden berjalan, makan sendiri, berbicara, bermain bersama bahkan berjalan berdampingan dengan tangan mungil Aiden menggenggam tangannya. Ah, Jane ingin merasakan semua itu. Ia ingin menyaksikan sendiri setiap tahap pertumbuhan dan perkembangan yang Aiden lewati.


Namun, entah kenapa terselip rasa kecewa di hati Jane mengingat statusnya yang merupakan wanita karir. Hal itu tentu menguras banyak waktu kebersamaannya dengan Aiden. Jane berharap ia hanya seorang ibu biasa yang bisa menghabiskan dua puluh empat jam waktunya bersama sang buah hati. Tapi rasanya ia tidak bisa, mengingat kini ia sudah berkeluarga. Ini adalah konsekuensi karena Jane memiliki seorang suami dari kalangan biasa.


Drrttt... drrttt...


Jane agak tersentak saat ponselnya bergetar, yang sontak membuyarkan semua bayangan-bayangan yang berkecamuk di dalam pikirannya. Dengan cepat Jane menegakkan punggungnya dan mengulurkan tangan ke arah meja. Kotak dengan nama ‘Seena’ terpampang di layar ponselnya.


“Halo.” Terdengar suara Seena dari seberang.


“Halo. Ada apa Seena?”


“Aku sudah menemukan baby sitter yang waktu itu Anda minta, Nona Jane.”


“Baby sitter?”


“Iya, perempuan, berumur tiga pul....”


Jane refelks menunduk karena saat itu didengarnya suara Aiden yang mengoceh pelan. Mata jernih bayi itu menatap lurus pada Jane, membuat Jane terenyuh sesaat. Tahu-tahu mulut kecil Aiden kembali terbuka dan bayi itu kembali mengoceh dan bahkan tertawa senang. Gusi-gusi kemerahannya terlihat dan matanya ikut tersenyum membentuk bulan sabit. Sungguh lucu dan mampu membuat Jane tak menaruh acuh pada ucapan Seena sampai....


“Nona Jane? Anda masih di sana?” gadis yang merupakan asistennya itu berseru dari seberang.


“Ah, iya. Maaf, aku masih disini, kok.”


“Jadi bagaimana? Apakah langsung saya suruh ke apartemen Anda saja, atau Nona mau ke sini menemuinya dulu?” tanya Seena.


“Hmm... Seena..”


“Iya?”


“Aku rasa aku tidak jadi menggunakan baby sitter.”


...***...


“Aku ada meeting pagi itu, dan kalian tahu apa? Hanna pipis di kemejaku,” Henry mengakhiri ceritanya sambil terpingkal bersama Steven.


“Sial sekali kamu,” seru Mark sambil tertawa.


“Tidak masalah. Meski dipipisi, aku mendapat hadiah ciuman di pipi dari Hanna, dan dia tertawa sangat lebar dan cantik pagi itu,” Henry terlihat tersenyum sumbringah.


“Mungkin Hanna bahagia telah mengompoli papanya,” celetuk Paul.


“Sialan!” Paul langsung menunduk saat pria yang lebih tua tiga tahun darinya itu bangkit dari kursi dan siap menyerangnya.


Entah bagaimana suasana menjadi riuh saat mereka membicarakan tentang anak. Namun, Felix berhasil bertahan dalam mode pendiamnya sehingga teman-temannya tak mampu mengorek informasi lebih dalam lagi mengenai Aiden. Memang, memiliki anak merupakan euforia tersendiri bagi Henry yang baru saja menjadi ayah, Paul dengan putra berumur satu tahunnya dan juga untuk Felix sendiri.


“Eh, tunggu, tunggu dulu,” Paul yang baru dihadiahi satu jitakan oleh Henry mengangkat telapak tangannya untuk menghentikannya sambil sebelah tangannya menempelkan ponsel ke telinga. Ternyata ada panggilan masuk ke ponselnya.


“Halo, Stella, ada apa?”


“Tapi aku sedang ada acara.”


“A-apa?!”


“Oke, oke, aku akan ke sana sekarang.... iya, iya, aku mengerti.”


Paul mematikan panggilannya setelah berbicara dengan nada manis pada seseorang yang baru saja meneleponnya. Menengadah, Paul baru menyadari kalau dirinya menjadi pusat perhatian teman-temannya. Alih-alih menjelaskan dengan siapa ia berbicara barusan, pemuda itu langsung bangkit dari kursinya. Ia lantas menepuk pundah Daniel dan Felix bergantian. “Aku duluan, ya.”


“Mau ke mana?” Henry bertanya.


Paul meringis kecil, memperlihatkan mimik khawatir. “Aku harus menjemput Sandy atau ibu pengacara Stella akan membunuhku.” Paul kemudian berlalu dengan terburu-buru. “Sampai jumpa, guys!”


“Hati-hati pak pengacara!” seru Mark. Kelima lelaki yang ada di meja tertawa sepeninggal Paul. Mereka menertawakan Paul yang ternyata lupa harus menjemput anaknya sehingga dimarahi oleh istrinya.


“Hahaha, begitulah kalau sudah menikah apalagi memiliki anak. Hidup repot sampai waktu untuk kumpul-kumpul saja tidak sempat,” ujar Henry yang lebih pantas disebut curahan hati. “Aku, Paul, dan sekarang Felix juga sudah menikah. Tinggal tiga kawan kita ini yang masih sendiri saja,” lanjutnya sambil melirik ke arah Daniel, Mark dan Steven.


“Ah, kalau Steven sih masih terlalu muda,” ujarnya lagi sambil mengalihkan pandangannya dari Steven. “Hei Daniel, di mana pacarmu? Aku tidak pernah melihatmu dekat dengan seorang wanita. Paul yang seumuran denganmu saja sudah punya satu anak.”


Daniel hanya bisa mengulas senyum tipis menanggapi sindiran Henry. Memang benar yang dikatakan Henry, disaat teman sebayanya itu sudah memiliki satu anak, pacar saja dia tidak punya.


“Di kantor sedang sibuk-sibuknya, mana sempat aku berpikir untuk berkencan.”


“Sudahlah. Menurutku Daniel juga masih muda, hanya Paul saja yang menikah lebih cepat. Kamu dan aku juga menikah saat berusia dua puluh empat tahun ke atas.” Entah kenapa Felix yang sedari tadi hanya diam, kini malah angkat suara membela Daniel. Dan Henry jadi tidak bisa menyanggah lebih lanjut karena yang dikatakan oleh Felix ada benarnya.


“Kalau kamu, Mark?”


Mark yang sedang menyesap espresso-nya hampir tersedak mendengar pertanyaan Henry. Sepertinya tiba giliran dirinya yang akan diinterogasi oleh Henry.


“Hei, pak dokter, sampai kapan kamu mau betah membujang, hah?”


“Kamu kan tahu aku juga sibuk–”


“Iya aku tahu. Aku tahu dokter kanker anak kita ini begitu sibuk sampai tidak sempat berkencan.”


“Bukan begitu–”


Drrttt... drrttt...


Mark merasa sangat bersyukur ponselnya bergetar di saat terdesak begini. Dengan cepat diambilnya benda persegi panjang itu, dan langsung undur diri untuk mengangkat panggilan tersebut. Tak lama kemudian Mark sudah berjalan kembali ke meja.


“Sekali-sekali dapat telepon dari wanita dong, jangan dari rumah sakit terus,” Henry mencibir.


“Kali ini dari wanita, kok.” Mark menyahut.


Sontak Henry bertanya dengan antusias. “Oh, iya? Siapa?”


“Seorang perawat di bagian anak.”


“Wah, kamu sedang dekat dengan rekan kerjamu?” disikutnya lengan Mark dengan tenaga yang tidak bida dikatakan pelan. “Dia bilang apa?”


“Dia bilang.....” Mark mengamit jas biru dongkernya, “...ada operasi tiga puluh menit lagi.” Dua detik kemudian Mark langsung melesat pergi sambil berseru.


“Sampai jumpa lagi, guys!”


“Ishh, cepat cari pacar sana!” seru Henry keras. Belum cukup dengan Paul dan Mark yang meninggalkan mereka, kini Felix dan Daniel juga beranjak dari kursi.


“Hei, kalian sudah mau pergi juga?” tanya Henry yang langsung dibalas anggukan oleh keduanya.


“Oke, oke, kalau begitu kita sudahi saja kumpul-kumpul hari ini,” Henry juga turut berdiri dari kursi dan membereskan barang-barangnya. Setelah itu mereka langsung berjalan beriringan keluar dari cafe, kecuali Steven yang memang memiliki jadwal shift untuk bekerja setelah ini.


Felix menumpang mobil Daniel karena arah tempat tinggal mereka memang sama. Selain itu, ada beberapa hal juga yang ingin Felix tanyakan secara pribadi pada pemuda yang tiga tahun lebih muda darinya itu.


Sambil mengenakan sabuk pengamannya, Felix memulai percakapan. “Daniel... ada yang ingin aku tanyakan.”


Tanpa mengalihkan fokusnya dari jalanan, pemuda itu mengangguk sekilas dan menyahut. “Iya, apa yang ingin kamu tanyakan?”


“Apakah Jane selalu sangat sibuk ketika ada kantor?”


...----------------...