Let Me Go

Let Me Go
Chapter 9



...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ...


"Ya tidak sejauh itu pula lah,"


"Makanya,"


"Eh ya udah kalau begitu. Lain kali kita sambung lagi."


"Iya......."


Setelah Riko menutup telponnya,aku juga langsung menyudahi kerjaan ku dan bersiap untuk beristirahat.


Hari ini aku merasa bahagia sekali,kehadiran ibu dan keluarganya dari Bandung semakin buat aku tambah semangat lagi dalam bekerja.


Aku ingin menghasilkan uang yang banyak supaya aku bisa berbagi dengan keluarga ku meskipun tidak banyak.


Sebenarnya aku juga sangat merindukan kehadiran ayah kandung ku. Terakhir kali aku bertemu dengan beliau itu saat aku ada kerjaan ke Bekasi bulan lalu. Namun,yaitu aku dan beliau bertemu secara diam-diam di sebuah restoran.


Bukan karena apa-apa,tidak lain karena ibu sambung ku yang tidak suka melihat aku dekat dengan ayah. Di pikirannya setiap aku ingin bertemu dengan ayah,aku meminta uang saku atau uang jajan sama beliau.


Padahal aku hanya ingin sekedar melepas rindu ku pada beliau saja. Masalah ayah mau memberi aku uang atau pun tidak aku sudah tidak mempermasalahkannya. Karena sekarang aku sudah bisa menghasilkan uang sendiri,ya meskipun ayah tetap memberi aku uang setiap bulannya lewat paman ku supaya tidak ketahuan.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Paginya,saat aku habis sarapan bersama keluarga ku. Tiba-tiba saja ada orang yang mengetuk pintu.


"Siapa yah,perasaan nenek tidak ada janji sama siapa-siapa pagi ini." ucap nenek.


"Bi Nur,tolong buka kan pintu. Lihat siapa yang datang,"


"Baik bu,"


Bi Nur pun langsung menuju pintu depan untuk melihat siapa yang datang. Tidak lama kemudian,beliau pun datang dan langsung menghampiri aku.


"Non Elvira,itu ada temannya di luar." ucap bibi.


"Lah kenapa nggak di suruh masuk aja bi?" tanya ibu.


"Katanya mau nunggu di luar saja nyonya."


"Ya udah,kalau begitu aku berangkat dulu ya. Mungkin itu Susan yang datang menjemput ku hari ini."


Aku pun langsung meraih tas ku,tidak lupa aku pun bersalaman sama keluarga ku sebelum pergi.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ...


Dan ternyata tidak salah,Susan sedang duduk di dekat kolam ikan yang ada di depan rumah.


"Tumben kamu ke sini pagi-pagi," ucap ku.


Dia pun langsung berbalik melihat ke arah ku sambil tersenyum.


"Aku juga nggak tahu,tiba-tiba aja aku ingin jemput kamu ke sini."


"Kebetulan hari ini aku bawa mobil sendiri,soalnya udah selesai juga kan di servisnya." lanjut Susan.


"Oh ya udah kalau gitu,"


"Berarti hari ini,aku tidak perlu bawa mobil dong."


"Iya lah ngapain,"


Kami berdua pun langsung menuju mobil dia yang di parkir tepat di depan rumah tetangga ku pak Mulyadi.


"Garasi rumah nenek kamu kekecilan sih,jadinya terpaksa aku parkir di sini."


"Lagian nggak apa-apa kok,tetangga ku ini orangnya baik."


"Oh gitu,syukurlah."


Aku pun langsung masuk ke dalam mobilnya dan duduk di kursi penumpang di bagian depan.


"Wah,sekarang mobil kamu lebih kelihatan rapih dan bersih juga yah."


"Oh pantas,aku merasa ada yang berbeda."


"Ya udah yuk,nanti kita terlambat lagi masuk kantor kalau masih mengobrol di sini."


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Selama di perjalanan aku hanya fokus dengan laptop ku,karena ada email yang di kirimkan pak Eko pada ku pagi tadi.


"Kenapa?" tanya Susan.


"Enggak,ini pak Eko ngirim aku Email. Aku lagi mengeceknya saja,takutnya ada masalah."


"Oh itu,aku juga menerinya tadi."


"Eh iya,masalah kepindahan kita ke Semarang nanti. Aku sudah mendapatkan ijin dari orang tua dan abang ku."


"Yang benar?"


"Tentu saja, tapi mereka memberi aku syarat."


"Syarat? Maksudnya?" tanya ku heran.


"Berhubung di Semarang itu ada saudara dari nenek ku,jadinya orang tua aku meminta agar aku tinggal di rumah saudara ku itu. Katanya supaya aku ada yang jagain,apalagi kan ini pertama kalinya buat aku tinggal di luar kota sendirian." jelas Susan.


"Enggak masalahnya itu emangnya rumah saudara kamu itu dekat dengan kantor cabang kita yang ada di Semarang?"


"Kalau aku lihat sih,paling membutuhkan waktu sekitar 15 menitan saja dari rumah saudara ku itu."


"Ya itu sih,sama kayak jarak kantor dan rumah ku di sini. Nggak begitu jauhlah,"


"Jadi kamu menerina tawarannya itu?"


"Ya mau bagaimana lagi,aku harus menerimanya."


"Oh iya,bagaimana kalau nanti kamu juga tinggal bersama ku juga di rumah saudara ku." ajaknya.


"Sepertinya jangan deh,aku pastinya akan merasa tidak enak kalau harus tinggal bersama saudara kamu itu. Paling nanti aku cari kosan aja di sana yang dekat dengan rumah saudara kamu atau pun dekat dengan kantor." jelas ku.


"Ah iya,aku paham kok. Kamu nggak bakalan mau," balas Susan dengan wajah yang kecewa.


"Pastinya kamu tahu lah,"


"Iya aku tahu kok,yang terpenting aku masih bisa dekat dengan kamu aja di sana. Soalnya aku pasti kesepian juga kan nantinya." lanjut Susan.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Sesampainya di parkiran kantor,Susan pun langsung mencari tempat parkir yang masih kosong. Untungnya hari ini,tempat parkir yang biasa aku tempati itu kosong. Sepertinya hari ini anaknya bos kami tidak datang ke kantor.


Kami pun langsung turun dari mobil bersamaan. Dan ternyata kami langsung di sambut oleh Sakti yang sudah menunggu kami berdua di depan lobi.


"Eh kamu masih di sini ternyata,"


"Iya lah,sengaja aku nunggu kalian berdua. Sepi juga kan di atas kalau aku sendirian." jelas nya.


"Ya udah yuk,mending kita ngopi dulu di kantin. Pagi ini aku belum minum kopi soalnya,takutnya baru aja mulai kerja aku udah ngantuk duluan. Mumpung masih ada waktu nih," ajaknya.


Kami bertiga pun langsung menuju kantin yang berada di lantai 4 untuk minum kopi dulu seperti biasa,namun berbeda dengan Susan dan Sakti aku lebih memilih untuk memesan coklat panas seperti biasa.


Baru saja kami duduk di meja yang berada di dekat jendela,perhatian kami langsung tertuju sama kehadiran anaknya bos kami yang tidak lin adalah Kenzo.


"Eh,lihat bukannya itu mas Kenzo. Aku kira hari ini dia tidak datang ke kantor." ucap Susan sedikit berbisik.


"Ya namanya juga anak bos yang punya perusahaan,bebas-bebas aja dia mau ke sini atau tidak." timpal Sakti.


"Iya juga sih,"


Kami bertiga pun langsung pura-pura,seolah tidak melihatnya dan mengalihkan perhatian kami dengan menikmati minuman yang kami pesan tadi.


"Elvira......." panggilnya.


Sontak saja aku langsung kaget,karena aku tidak menyangka dia akan memanggil aku sekencang itu.