
...♧ ♧ ♧ ♧ ♧...
Setelah menunggu Susan untuk menghabiskan semua makanannya,kami pun langsung bersiap untuk pulang ke rumah ku.
''Aduh,kok aku deg-degan yah. Kayak mau apa aja ini,'' ucap Susan sambil terus mengemudi.
"Apalagi aku,'' timpal ku.
"Lagian kamu sih,kenapa semalam nggak mint aku untuk jemput ke sana aja sih? Jadinya kan kita nggak harus berbohong seperti ini."
"Boro-boro ke pikiran San. Semalam itu aku panik karena mas Ken juga malah jatuh sakit."
"Ya aku ngerti juga sih,gimana posisi kamu saat itu. Semoga saja,ini berjalan lancar sesuai apa yang kita rencanakan." balasnya.
"Harus, aku tidak tahu lagi harus mencari alasan apalagi pada mereka."
"Ah iya aku baru ingat,nanti aku naik pesawat yang jam 7 malam. Kamu sendiri bagaimana?"
"Kata mas Ken sih,aku di pesankan tiketnya besok."
"Wih enak yah jadi kamu,"
"Enak bagaimana,aku merasa terkekang di buatnya."
"Anggap saja,itu bentuk perhatian dia sama kamu. Lagian kalau aku ingat-ingat lagi yah,ini kan kali pertama kamu dekat dengan seorang laki-laki. Sejak pertama kali aku kenal sama kamu,tidak pernah sekalipun kamu mengenalkan seorang pacar pada ku." jelas Susan.
"Aku penasaran,apa yang buat kamu akhirnya memutuskan untuk menerimanya. Ya maksud aku itu,di luar dia sebagai anak dari pemilik perusahaan tempat kita kerja ini." lanjutnya.
"Aku juga tidak tahu alasan jelasnya apa,itu terjadi begitu aja.Aku merasa nyaman saja saat ada di dekatnya."
Susan pun terlihat tersenyum mendengar ucapan ku barusan.
...♧ ♧ ♧ ♧ ♧ ♧...
Kami pun akhirnya sampai di rumah ku dengan selamat,setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menitan.
"Aku tidak bisa lama-lama yah,di sini. Soalnya aku juga punya acara terakhir bersama keluarga ku sebelum aku berangkat nanti."
"Iya,aku mengerti......"
Kami pun akhirnya masuk ke dalam rumah,aku dan Susan kaget karena ternyata di depan rumah itu tengah ada Niken dan adik bungsu ku sedang melihat ikan di kolam.
"Kakak,'' ucapnya tak kalah kaget.
"Kamu lagi lihatin ikan yah,"
"Iya kak,"
"Itu ibu dan nenek sudah menunggu kakak dari semalam tahu."
Mendengar ucapan Niken,malah semakin buat aku tegang dan takut untuk berhadapan dengan nenek dan ibu.
"Udah ayo kita masuk," ajak Susan sambil merangkul ku.
Kami pun akhirnya masuk ke dalam rumah yang tampak sepi. Ternyata ibu dan nenek tengah menikmati es cincau di ruang TV.
"Siang nenek......"
"Siang tante," ucap Susan mencoba untuk mencairkan suasana.
"Eh ya ampun,kamu akhirnya pulang juga. Nenek kira kamu kemana."
Susan pun langsung menyalami nenek dan ibu secara bergantian.
"Iya maaf ya nek,aku culik Elvira nya sebentar."
"Aku minta bantuan El untuk bantuin aku memilih barang apa saja yang harus aku bawa ke Semarang nanti."
"Harusnya kamu bilang nak sama kita yang di rumah. Kasih kabar apa gimana,"
"Iya aku juga maunya begitu bu,hanya saja HP ku mati karena lowbat dan kebetulan di rumahnya Susan itu nggak ada yang satu tipe dengan punya ku."
"Lagi pula aku pikir,karena aku menginap di rumahnya Susan ini." lanjut ku.
"Ya udah yang terpenting sekarang ini kamu sudah pulang. Bukannya kamu dan Susan berangkat hari ini bukan?" tanya nenek.
"Iya kalau aku berangkat hari ini,kalau Susan besok nek."
"Lah kok tidak bareng?'' tanya ibu.
"Iya karena kemarin sabtu itu aku pulang telat,aku mendapat keringanan waktu. Jadinya senin aku baru berangkatnya." jelas ku.
"Oh iya kalau begitu Susan pamit yah nek,tante. Soalnya Susan ada acara lagi habis ini."
"Oh gitu,ya sudah makasih udah anterin El pulang."
Susan pun berpamitan sama nenek dan ibu,aku sendiri mengantarnya lebih dulu sampai ke mobilnya.
"Makasih ya,aku sangat berhutang budi sama kamu."
"Iya sama-sama,asal jangan sering-sering aja. Kamu ketolong nya itu,karena tidak ada satu pun dari keluarga kamu yang tahu kontak aku." lanjutnya.
"Benar juga,"
"Coba saja,kalau mereka tahu. Kita nggak bisa menjalankan ini semua sampai sejauh ini."
"Iya......"
"Sekali lagi makasih ya, kamu hati-hati di jalan. Sampai ketemu besok di semarang."
"Oke......"
Susan pun langsung melajukan mobilnya menuju ke arah jalan keluar. Sedangkan aku langsung balik lagi ke dalam rumah.
"Eh de,ayo kita masuk." ajak ku sama Niken.
"Ya udah kak,"
Sesampainya di dalam kami pun ikut menikmati es cincau yang udah di siapkan oleh bi Nur di atas meja.
"Oh iya,aku tidak melihat ayah dari tadi?"
"Ayah lagi pergi ke rumahnya pak Subhan, katanya di rumahnya lagi ada syukuran." balas ibu.
"Oh iya,berarti ayah nggak bisa antar kamu dong ke Bandara besok yah? Kalau kamu berangkatnya senin."
"Iya bu tidak apa-apa. Lagian aku bisa minta supir dari kantor untuk nganterin aku ke sana."
"Oh gitu,syukurlah kalau ada yang anterin ke sana."
...♧ ♧ ♧ ♧ ♧ ♧...
Malam nya aku pun membereskan semua barang-barang milik ku yang tersisa ke dalam koper sambil menonton TV. Untungnya tidak banyak yang harus aku bawa jadinya aku hanya butuh satu koper besar saja untuk aku bawa besok.
Saat aku tengah merapikannya,mas Ken pun menelpon ku. Tanpa menunggu lama,aku langsung mengangkatnya.
"Iya mas,"
"Lagi apa sayang?"
Aku sedikit tersenyum di buatnya,rasanya aneh sekali karena sekarang ada seseorang yang memanggilku dengan panggilan itu.
"Ini aku lagi beresin barang-barang ke dalam koper."
"Mas sendiri sedang apa?"
"Aku lagi makan malam bersama keluarga ku di luar. Karena aku kangen dan ingin mendengar suara kamu,jadinya aku putuskan untuk menelpon mu langsung."
"Bagaimana kalau ada yang mendengarnya?"
"Lah emang kenapa? Bagus dong."
"Ish kamu ini,hobi banget buat masalah."
"Besok aku jemput jam 7 pagi oke,aku mau kita mampir dulu ke suatu tempat."
"Kemana?"
"Aku ingin tidur dulu sambil memeluk kamu sayang."
"Kamu pasti sudah gila yah,sudah tahu kita akan berangkat. Nanti yang ada kita malah telat lagi untuk berangkat ke Semarang nya."
"Ya udah,gimana kalau nanti di Semarang saja. Hotel yang kemarin kan masih aku sewa,"
"Terserah kamu,aku pusing."
"Baiklah,sampai ketemu besok."
Dia pun langsung menutup telponnya lebih dulu. Aku tidak habis pikir dengan ulahnya mas Ken,sebenarnya aku mempunyai daya tarik seperti apa sih? Sampai-sampai dia hobi banget minta tidur dengan ku.
"Kak......" panggil Niken dari luar.
"Masuk aja de,"
Dia pun langsung masuk ke dalam kamar ku dengan membawa beberapa bungkus makanan di wadah.
"Ini apa de?" tanya ku heran.