
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
"Baik pak,"
Mas Ken pun langsung keluar dari dalam mobi dan langsung masuk ke dalam rumah itu yang sudah di sambut oleh beberapa orang. Tampaknya orang-orang itu merupakan penjaga di rumahnya mas Ken.
Sambil menunggu mas Ken kembali,aku pun menelpon Susan untuk menanyakan situasi di kantor hari ini.
"Halo....."
"Halo El, kami masih di mana?"
"Ini aku lagi nganter pak Ken,mampir dulu ke rumahnya."
"Katanya ada barang yang harus dia bawa,"
"Oh,maksud kamu rumahnya pak Burhan yang di Gajah Mada itu bukan?"
"Bukan,ini aku di perumahan Mediterania apa gitu aku lupa."
"Ih itu rumah siapa? Setahu aku rumahnya pak Burhan itu bukan di sana. Kamu ingatkan dulu aku pernah mengantarkan proposal ke rumah beliau sama Riko."
"Lah terus ini rumah siapa dong,masa iya sih ini rumah pribadi milik pak Ken."
"Lah,nggak menutup kemungkinan juga kali. Secara kan dia anak bos."
"Eh udah dulu yah,aku di panggil pak Eko dulu."
Susan pun langsung menutup telponnya,padahal aku masih ingin mengibrol dengan dia untuk mengusir rasa jenuh ku.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Setelah menunggu sekitar 15 menitan,barulah mas Ken keluar dari dalam rumahnya di ikuti oleh beberapa orang di belakangnya sambil membawa beberapa barang.
Aku pun langsung membuka bagasi belakang dan setelah itu aku keluar untuk membantu orang yang membawa barang bawaan milik mas Ken.
"Sini,biar aku bantu." ucap ku sambil meraih barang dari tangan salah seorang wanita paruh baya.
"Makasih mba," ucapnya.
Aku pun langsung menatanya di dalam bagasi dengan seorang laki-laki yang berprofesi sebagai petugas keamanan di rumah itu. Sedangkan mas Ken,dia kembali lagi ke dalam rumah,sepertinya masih ada barang yang tertinggal di dalam.
"Pak,kalau boleh tahu ini rumahnya siapa yah?" tanya ku pada pak Somad petugas keamanan yang membantu ku.
"Oh ini rumahnya tuan Ken,bisa di bilang ini rumah singgah beliau. Kalau rumah aslinya ada di jalan Gajah Mada."
Berarti benar apa yang di katakan Susan tadi.
"Saya kira mba nya sudah tahu,"
"Oh iya,mba sendiri siapanya tuan Ken? Soalnya saya baru lihat mba,ini pertama kalinya tuan Ken bawa wanita ke sini." lanjut pak Somad.
"Saya Elvira pak,sekertaris barunya pak Ken." ucapku sambil mengulurkan tangan.
"Oh sekretarisnya pak Kenzo, salam kenal juga mba. Saya Somad,petugas keamanan di sini."
"Iya pak,"
Setelah selesai membereskan semua barang bawaannya,tidak lama kemudian mas Ken pun kembali dari dalam rumah nya dan masuk ke dalam mobil.
"El......."
"Ayo cepat," teriaknya.
"Iya pak......."
Saat aku hendak menutup pintu belakang,pak Somad membisikkan sesuatu pada ku.
"Semoga mba nya betah kerja sama tuan Ken,"
Aku pun langsung melihat ke arah beliau yang langsung berlalu masuk kembali ke dalam rumah.
Karena tidak ingin berfikir aneh-aneh,aku langsung masuk ke dalam mobil dan langsung tancap gas.
"Kita langsung mampir ke kantor dulu,setelah itu baru lah kita berangkat ke Semarang."
Mendengar ucapan mas Ken barusan,secara refleks aku langsung mengerem mobilnya secara mendadak.
"Apa pak?" tanya ku langsung melihat ke arah belakang.
"Kamu apa-apaan sih El? Bagaimana kalau terjadi sesuatu sama kita barusan.Untung saja ini masih di dalam komplek perumahan,bagaimana kalau kita lagi di jalan raya?" bentaknya.
"Aku kaget saja,mendengar perkataan bapaj barusan."
"Lah memangnya pak Eko nggak ngasih tahu kamu? Saya kan minta sama dia keberangkatan kamu di majuin satu hari."
"Berati hari ini dong kita berangkat ke Semarang nya. Soalnya besok pagi saya ada pertemuan dengan klien di sana." lanjutnya.
"Tidak,pak Eko tidak bilang apa-apa sama saya pagi ini."
"Halo pak,"
"Pak gimana sih? Kan saya sudah bilang untuk kasih tahu Elvira,dia berangkat sama saya hari ini. Tapi dia bilang dia tidak di kasih tahu apa-apa sama bapak."
"Ya ampun pak,hal sepenting ini masa bapaj lupa sih."
Mas Ken pun langsung terdiam,mungkin sedang mendengarkan penjelasan dari pak Eko prihal alasan kenapa dia tidak sempat memberitahu ku masalah ini.
"Ya sudah,jangan sampai ini terulang kembali. Saya tidak mau,"
Dia pun langsung menutup telponnya dan membantingnya kasar.
Karena merasa takut,aku pun memilih diam sja dan melajukan kembali mobilnya.
"Ini sudah jadi keputusan ku, ini sudah tidak bisa lagi di undur. Hari ini,kamu harus ikut dengan saya ke Semarang."
"Saya sudah pesan dua tiket untuk keberangkatan kita hari ini,jadi kamu harus nurut."
"Baik pak,'' ucap ku pasrah.
"Kita bisa balik ke sini lagi nanti jumat sore,tenang saja."
"Iya pak,"
"Masalah pakaian kamu,nanti kamu bisa beli kan di sana."
"Iya pak,"
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Sesampainya di kantor dan mas Ken sudah turun dari mobil. Aku pun langsung menghampiri teman-teman ku yang sedang ngopi di pantry.
"Susan......!" seru ku.
"Eh El,kamu sudah kembali ternyata. Sini kita ngopi dulu," ajaknya.
"Ngopi gimana,kamu tahu hari ini pak Ken mengajak ku untuk berangkat ke Semarang."
"Apa?" ucap Susan dan Sakti bersamaan.
"Siapa yang berangkat ke Semarang?" tanya pak Pras yang baru saja keluar dari dalam toilet.
"El......." tunjuk Sakti.
"Lah kok,katanya kamu sama Susan baru berangkat hari jumat."
"Itu dia,aku juga tidak tahu. Kayaknya pak Eko lupa tidak kasih tahu aku masalah ini."
"Terus gimana dong?"
"Ya gimana lagi,mau tidak mau aku harus ikut sama pak Ken."
"Kan kamu belum mempersiapkan apa-apa? Baju,keperluan kamu buat di sana bagaimana?"
"Paling aku minta tolong adik ku untuk mengantarkannya ke sini sekarang,lagi pulan jumat sore aku juga udah balik lagi ke sini."
"Berati kalau begitu ceritanya,kita hari seninnya dong baru mulai kerja di sana." ucap Susan.
"Bisa jadi,"
"Ya udah,sebaiknya sekarang kamu hubungi keluarga kamu dulu." perintah pak Pras.
"Benar juga,"
Aku pun langsung meraih HP ku dari dalam tas dan langsung menelpon Niken.
"Halo dek,"
"Iya kak,"
"Kamu lagi ngapain? Lagi sibuk nggak?"
"Tidak kak,aku lagi buat kue sama nenek."
"Dek,kakak boleh minta tolong nggak?"
"Iya boleh kak,kenapa?"
"Tolong masukin beberapa baju kerja dan baju santai kakak ke dalam tas maroon yang ada di dalam lemari."
"Kamu minta bantuin ibu juga,soalnya ibu yang tahu apa saja yang kakak perlukan."
"Lah emangnya kakak mau ke mana?"
"Semarang,"
"Hah?"