
...♧ ♧ ♧ ♧ ♧ ♧...
"Semoga ibu betah ya bu. Soalnya udah ada banyak mantan sekretaris yang keluar masuk di sini."
"Ah itu,"
"Saya dengar ibu salah satu sekretaris terbaik di perusahaan ini,kami sangat senang karena tahu ibu akan bergabung dengan kami di sini."
"Kami sempat kepusingan bu,mencari calon sekretaris yang cocok untuk kerja bareng pak Kenzo. Ada mungkin sekitar 5 orang yang sudah mengundurkan diri dan 3 orang yang di pecat olehnya." lanjut bu Retno.
"Banyak juga ya bu,"
"Itu dia,saya juga tidak tahu alasannya apa."
"Ya sudah bu,kalau begitu saya permisi.Semoga kerjanya lancar hari ini,"
"Bu sebentar,"
"Iya bu,kenapa?"
"Biasanya kan suka ada sesi perkenalan,itu kapan yah?"
Bu Retno pun hanya tersenyum membalas pertanyaan ku.
"Pak Kenzo sudah memperkenalkan ibu sejak seminggu yang lalu. Saat kami mengadakan rapat bulanan." jelasnya.
"Oh gitu,"
"Ya sudah,makasih ya bu."
Bu Retno pun langsung berlalu menuju ke ruangannya,begitu pun dengan aku. Ruangannya tampak sudah rapi dan tertata juga.
Aku pun langsung duduk dan mengeluarkan laptop ku dari dalam tas. Aku langsung mengecek beberapa email yang yang sudah masuk pagi ini.
"Semoga saja,hari ini kerjaan ku lancar." ucap ku pelan.
Sebenarnya aku sedikit kesepian,karena biasanya ada orang lain juga di ruangan ku saat di Jakarta. Tapi sekarang aku benar-benar sendirian dan hanya ada meja kosong yang berada tepat di depan ku.
Mungkin itu meja untuk asisten sekretaris nantinya.Yang tidak lain itu meja yang akan di gunakan oleh Susan nantinya.
...♧ ♧ ♧ ♧ ♧ ♧...
"El....." panggil mas Ken yang tiba-tiba saja masuk ke ruangan.
"Iya pak,"
"Nanti jam 10 kamu naik ke ruangan saya di lantai 3. Dan jangan lupa,bawa laporan bekas kemarin sore kita meeting."
"Baik pak,ini sedang saya kerjakan."
Dia pun langsung menutup kembali pintunya. Aku sendiri merasa heran,karena sebenarnya di ruangan ku juga bagian paling dalam ada ruangan lagi yang biasanya itu untuk ruangan atasan ku yang tidak lain mas Ken. Tapi anehnya kenapa dia malah memilih untuk kerja di lantai atas juga.
Saat aku tengah mengerjakan laporan yang di minta mas Ken tadi,tiba-tiba saja ada suara ketukan pintu dari luar.
"Masuk,"
Tidak lama kemudian ada seorang OB yang masuk dengan membawa satu gelas minuman dan beberapa cemilan di nampan yang dia bawa.
"Bu maaf ini minumannya," ucapnya.
"Tapi kan saya tidak pesan pak."
"Tadi pak Kenzo meminta saya untuk menyiapkan ini untuk ibu."
"Ah seperti itu,"
"Ya sudah simpan saja di meja kecil ini." tunjuk ku pada meja yang berada di pojok.
Dia pun langsung menyimpannya.
"Mas namanya siapa?"
"Supri bu,"
"Ah Supri,makasih ya."
"Iya bu,"
"Permisi ya bu,saya mau lanjut bersihkan ruangan bapak."
"Maksudnya ruangan itu," ucap ku sambil melihat ke ruangan mas Ken.
"Lah kan itu ruangannya jarang di gunakan juga mas."
"Oh gitu,ya sudah kalau begitu."
Dia pun langsung masuk ke dalam ruanganhya.Sedangkan aku,sambil menunggu laporannya di print,aku pun mengambil minuman yang di bawakan oleh Supri tadi.
Aku sempat kaget,karena dia membawakan aku es coklat kesukaan ku dan cemilan yang biasa aku makan saat di kantor pusat.
"Lah,darimana dia tahu kalau aku penyuka es coklat." ucap ku sambil terus memperhatikannya.
...♧ ♧ ♧ ♧ ♧ ♧...
Tepat jam 10 kurang 5 menit,aku langsung naik ke lantai 3 untuk memberikan laporan yang di minta mas Ken tadi.
*Tok.....Tok.....Tok.....
"Masuk....."
Aku pun langsung masuk ke ruangan yang hanya ada satu saja di lantai itu. Aku sedikit terkejut melihat ruangannya yang cukup luas di bandingkan ruangan milik pak Eko atau pun ruangan pak Burhan di Jakarta.
"Kamu kenapa? Kok malah bengong."
"Ah tidak pak,"
"Oh iya,ini laporan yang bapak minta tadi." ucap ku sambil menyimpan kertas laporannya di atas meja.
Dia pun langsung meraihnya dan mulai memeriksanya.
"Kamu bisa menunggu saya di meja yang ada di luar itu. Nanti kalau ada apa-apa,saya akan panggil kamu kembali."
"Baik pak,"
Tanpa basa-basi,aku langsung berjalan menuju ke luar dan duduk di meja yang di maksud mas Ken tadi.
Aku sendiri memilih untuk mengerjakan laporan yang sudah menumpuk. Ini karena sudah beberapa hari kerjaan nya tidak ada yang mengerjakan dan terbengkalai begitu saja.
Aku sedikit merasa kesal,karena biasanya aku tidak mempunyai pekerjaan sebanyak ini saat di Jakarta. Tapi karena posisi sekretaris di kantor cabang ini kosong,jadinya aku lah yang harus menyelesaikan semuanya.
"Ya ampun Susan,cepatlah kemari. Bantu aku," rengek ku sambil fokus dengan kerjaan ku.
...♧ ♧ ♧ ♧ ♧ ♧...
Tanpa terasa waktu pun sudah menunjukan pukul 11.30 dan sekarang waktunya untuk aku makan siang. Tapi aku bingung juga,karena mas Ken belum keluar dari ruangannya. Aku takut,kalau aku main pergi begitu saja dia nanti mendadak mencari aku.
Aku pun memilih untuk menunggunya,sambil mengerjakan kerjaan ku supaya cepat selesai. Untungnya aku sudah berhasil menyelesaikan 8 laporan dan sekarang tinggal 28 laporan lagi yang harus aku selesaikan.
"El....." panggilnya dari dalam ruangan.
Aku pun langsung buru-buru masuk ke dalam dan menghadapnya.
"Iya pak,"
"Ini sudah saya cek dan tanda tangan juga," ucapnya sambil memberikan laporan yang tadi aku berikan padanya.
"Gimana,apa sudah ada laporan yang sudah kamu selesaikan juga?"
"Sudah pak,tapi baru 8 laporan saja. Saya berniat menyerahkannya setelah menyelesaikan sekitar 15 laporan nanti." jelas ku.
Dia pun langsung tersenyum pada ku sambil menyenderkan kepalanya di kursi.
"Cepat juga kamu kerja,biasanya sekretaris sebelumnya hanya mampu mengerjakan 3 sampai 5 laporan saja."
"Ya iyalah,bagaimana dia bisa cepat-cepat menyelesaikan laporannya kalau sekretarisnya gonta-ganti terus.Yang ada kerjaan itu bukan cepat selesai,malah numpuk." gerutu ku dalam hati.
"Ayo ikut saya," ajaknya.
"Kemana pak?"
"Ya makan siang lah aneh,emangnya kamu nggak lapar."
"Tapi pak,biasanya saya makan siang bersama karyawan yang lain pak." balas ku.
"Iya tapi sekarang bos kamu itu aku,jadi kamu harus mengikuti peraturan ku."
"Baik pak,"
"Tolong ambilkan jas ku,"
Aku pun langsung mengambilkan jas miliknya yang di gantung di pojok ruangan.Saat aku tengah mengambilkan jasnya,tidak sengaja ada anak cicak yang jatuh tepat di tangan ku.
"Ah cicak....." teriak ku.
Aku pun langsung berbalik arah,karena tidak tahu mas Ken sudah berdiri tepat di belakang ku,akhirnya aku pun langsung menabraknya dan kami pun sama-sama tersungkur di lantai.