
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Mas Ken pun langsung turun dari dalam mobil dan aku langsung duduk di kursi pengemudinya.
Aku tahu betul,sebenarnya mas Ken tidak sepenuhnya mempercayai aku.Hanya saja aku tidak merasa enak sama dia,karena sejak tadi dia lah yang jadi supirnya. Sedangkan aku,bawahannya malah enak duduk manis di kursi penumpang.
"Siap pak," ucap ku.
"Ya siap tidak siap. Tapi ingat ya,nanti kalau seandainya kamu tidak sanggup karena kondisi jalannya yang berkelok kamu harus langsung bilang sama saya. Keselamatan kita itu yang terpenting." jelasnya.
"Siap pak,"
Aku pun dengan percaya diri langsung tancap gas melajukan mobilnya.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Setelah melakukan perjalanan sekitar 40 menitan,apa yang di katakan mas Ken benar adanya. Jalan yang kami lalui mulai berkelok dan aku sedikit kesusahan. Karena memang terbiasa bawa mobil di Jakarta yang jalannya tidak begitu banyak belokan. Apalagi jalannya memiliki tikungan yang cukup tajam.
"Pak,"
"Kenapa?"
"Aku sepertinya tidak bisa deh,soalnya ini tikungannya tajam banget."
"Tuh kan apa saya bilang,udah mending sekarang kamu tepi kan dulu mobilnya. Biar saya saja yang bawa,karena saya sudah terbiasa melewati jalanan ini."
"Lagian bapak gimana sih,nyari perkebunan yang jalanan nya banyak tikungan kayak gini." balas ku.
"Ih aneh,emang nya ada perkebunan yang letaknya di tengah-tengah kota?"
"Ya enggak ada juga sih,"
"Udah,sekarang mending kamu berhenti dulu." pintanya.
"Baik pak.''
Untungnya setelah beberapa saat aku melihat ada tempat istirahat di sana ada warung yang menjual es kelapa dan beberapa cemilan juga.
Setelah berhasil memarkirkan mobilnya,aku pun langsung turun begitu pun dengan mas Ken.
"Pak,"
"Apalagi El....." balasnya.
"Kayaknya kalau kita istirahat sebentar aja di sini,boleh kan."
"Ya ampun El,ini tuh nanggung. Sebentar lagi kita sampai di perkebunannya,kalau mau kamu bisa membungkusnya dan nanti kamu makan di sana saja. Saya tidak mau nanti kita pulang kemalaman dari sini."
Tanpa menjawab pernyataan mas Ken,aku langsung masuk ke dalam warungnya dan memesan 2 porsi es kelapa dan beberapa cemilan untuk bekal ku nanti di sana.
"El cepatlah," teriak mas Ken.
"Iya pak sebentar."
Setelah pesanan ku siap,aku langsung menuju mobil dan masuk.
"Lama......" ucapnya.
"Iya pak maaf,"
"Itu kamu banyak banget beli makanannya,emangnya kamu sanggup buat menghabiskan nya?"
"Iya lah,"
Mas Ken pun langsung tancap gas melanjutkan perjalanan kami yang sempat tertunda karena ulah ku.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Setelah 15 menit lamanya,kami pun akhirnya sampai di perkebunannya.Di sana sudah ada bapak-bapak yang menunggu kami tepat di depan pos jaga.
"Wah,ternyata ini perkebunan nya." ucap ku sambil melihat ke arah hamparan pohon yang menjulang tinggi.
Mas Ken pun langsung memarkirkan mobilnya tepat di samping pos tadi. Bapak-bapak tadi pun langsung mendekati mobil kami.
"Ayo....." ajaknya.
"Baik pak,"
"Tasnya tidak usah di bawa,nanti yang ada kamu keberatan lagi. Bawa barang yang sekiranya di butuhkan saja."
"Iya."
Mas Ken pun lebih dulu keluar dari mobilnya dan menyalami bapak tadi yang menunggunya di depan pos.
"El....."
"Perkenalkan ini pak Iswanto,dia yang bertanggung jawab mengelola perkebunan ini." ucap mas Ken.
"Elvira,"
"Sekertaris barunya pak Kenzo." ucap ku sambil mengulurkan tangan.
"Iswanto,senang bisa bertemu dengan ibu."
"Ya udaj pak,saya mau lihat-lihat dulu. Silahkan bapak melanjutkan kembali kerjaannya. Saya mau melihat bersama asistan saya saja."
"Baik pak,"
Mas Ken pun langsung mengajak ku masuk kedalam perkebunannya. Ternyata di sana ada begitu banyak macam-macam buah yang di tanam. Mulai dari jeruk,apel,durian dan masih banyak lagi.
Untungnya saat aku ke sini,buah jeruknya tengah berbuah banyak.
Mas Ken pun menyempatkan untuk mengobrol dengan beberapa pegawai yang tengah bekerja di sana. Tidak lupa aku pun mencatat beberapa hal yang penting di dalam buku yang aku bawa tadi.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Setelah berkeliling sekitar 30 menitan,aku pun menghasilkan beberapa lembar tulisan di dalam buku yang nantinya harus aku masukan ke dalam laporan.
Di tengah-tengah perkebunan jeruk,ada bangunan gajebo. Aku pun langsung tersenyum,karena bahagia akhirnya aku bisa beristirahat setelah berkeliling sejak tadi.
"Kalau kamu mau,ambil saja jeruknya."
"Memangnya boleh pak?"
"Tentu saja,ambil lah."
Aku pun langsung melihat-lihat jeruknya,karena saking banyaknya jadinya aku kebingungan untuk memilih jeruk mana yang akan aku petik.
"Lama banget,udah petik aja yang mana. Tenang aja,jeruk di sini itu manis kok."
Karena udah menerina semprotan dari mas Ken,aku pun main petik aja beberapa buah jeruknya.
Setelah itu barulah aku menghampiri mas Ken yang sudah lebih dulu duduk di gajebonya.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
"Manis nggak?" tanya nya saat aku tengah menikmati jeruknya.
"Lumayan,"
"Kenapa? Bapak mau?"
"Ini......'' ucap ku sambil memberikan jeruk yang sudah aku kupas.
Anehnya dia malah langsung mencium ku dengan cepat. Tangan ku langsung reflek memukul bagian dadanya,karena terkejut dan takut ada pegawai yang melihat kami berdua.
Namun tangan mas Ken langsung menahannya dan memegang tangan ku supaya berhenti memukulnya.
Kami pun melakukannya untuk beberapa saat,baik aku atau pun mas Ken kami sama-sama menikmati momen ini.
Aku sendiri tidak tahu,kenapa aku bisa seperti ini dan merasa tidak keberatan saat melakukannya dengan mas Ken. Padahal diantara kami berdua tidak ada ikatan apapun saat ini.
"Kenapa kamu terus melakukannya tanpa bertanya dulu pada ku?"
"Tapi kami menyukainya juga bukan?"
Pertanyaannya langsung membungkam ku,mungkin mas Ken pun tahu. Kalau aku sudah bisa menerima saat dia mencium ku, meskipun tanpa dia bicara terlebih dulu pada ku.
"Itu......"
"Apa kamu juga melakukan ini sama asisten kamu yang dulu?" tanya ku langsung.
Meski pun awalnya aku sempat ragu ingin menanyakan ini padanya.
"Tidak,"
"Tidak sama sekali,aku hanya melakukannya sama kamu saja."
"Entah kenapa,sejak kejadian semalam itu. Aku seolah ketagihan ingin terus mencium kamu." lanjutnya.
"Aku juga tidak tahu,alasan apa yang buat aku seberani ini melakukannya sama kamu.Kamu mempunyai daya tarik tersendiri,yang tidak di miliki oleh wanita lainnya."
Aku langsung tertegun mendengar penjelasan mas Ken saat ini. Entah aku harus senang atau sedih mendengar pengakuannya sekarang. Karena aku sendiri sudah merasakan hal yang sama dengan apa yang di katakannya barusan.
"Aku tahu ini pasti buat kamu terkejut,tapi ini fakta yang aku rasakan." ucapnya sambil melihat ke arah ku.