Let Me Go

Let Me Go
Chapter 25



...♧ ♧ ♧ ♧ ♧...


''Sebaiknya aku tunggu di mobil saja,'' bisik ku.


''Sudahlah,kamu temani aku saja di sini. Lagi pula aku tidak akan mabuk kok.'' balas mas Ken.


"Tapi mas,''


"El....."


"Baiklah,"


Kami pun akhirnya bergabung dengan temannya mas Ken yang sudah lebih dulu mabuk. Aku sendiri sangat rusih melihat mereka yang bermesraan dengan wanita panggilan itu.


Apa mereka tidak memikirkan perasaan pasangannya,seandainya pasanganya tahu kelakuan mereka di belakang seperti apa. Pikiran ku pun langsung tertuju sama mas Ken,apa dia juga dulunya sering melakukan hal yang sama seperti halnya yang di lakukan oleh teman-teman mereka.


"Kenapa?'' bisik mas Ken.


"Tidak,"


"Kamu pasti berpikir yang tidak-tidak terhadap ku bukan?"


"Tidak juga."


"Ini minumlah,tenang aja ini hanya jus jeruk biasa aja."


"Yakin?" tanya ku karena tidak meyakininya.


"Iya,"


"Aku tidak mau,nanti saja aku minum di mobil ada air mineral yang aku bawa tadi."


Mungkin karena melihat aku yang nampak tidak nyaman dengan keadaan di dalam ruangan ini,mas Ken pun langsung merangkul pinggang ku dan mengelus perutku dengan lembut.


Teman-teman yang melihatnya pun langsung beralih memperhatikan kami berdua.


"Wih,aku kira kamu nggak bakalan seromantis ini.'' ucap mas Hafiz.


"Emang kelihatan banget bucin nya sih," timpal mas Tiko.


"Kalian berdua ketemu di mana emang?"tanya mas Tiko.


"Dia satu kerjaan dengan aku,"


"Wah pantas saja,kalian mesra begitu."


Saat mereka tengah asik mengobrol,tiba-tiba saja ada seorang wanita masuk ke dalam ruangan itu. Dia tampak akrab dengan teman-teman nya mas Ken dan langsung duduk sambil membawa sebuah kado yang di berikan pada mas Hafiz.


"Maaf yah,gue telat. Soalnya gue habis dari Bandung tadi."


"Iya nggak apa-apa,lagi pula acaranya masih lama kok.''


"Cantik-cantik juga,cewek panggilan yang kalian pesan kali ini."


"Hush,terkecuali wanita yang bersama Ken. Dia pacar barunya Ken,'' ucap mas Bayu.


"Serius Ken?"


Mas Ken hanya menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan ucapan mas Bayu barusan.


"Hebat juga kamu,secepat itu move on dari si Sovia."


"Oh iya,tadinya aku ke sini mau datang bareng dia. Hanya saja katanya dia capek,"


''Kenapa nggak kamu paksa,biar dia kenalan sama cewek barunya Ken."


"Bener banget,gue pengen lihat reaksi si Sovia. Melihat mantan tunangannya udah punya pasangan baru."


"Alah paling juga dia nggak peduli,makanya dia rela ninggalin Ken demi pergi kuliah ke Jepang." timpal mas Tiko.


"Hush kamu ini," ucap mas Hafiz langsung membungkam mulutnya mas Tiko.


"Nggak apa-apa,emang yang di katakan Tiko ada benarnya juga. Tapi yang terpenting sekarang aku sudah menemukan wanita yang benar-benar menyayangi gue. Aku sudah tidak peduli lagi dengan Sovia,mau dia bersikap seperti apa nantinya. Kita sudah mempunyai pilihan masing-masing." jelasnya.


"Iya lah,lo harus nunjukin sama dia. Kalau lo itu bisa bahagia tanpa dia." sahut mas Bayu.


Pastinya dia juga bukan cewek sembarangan dan pastinya juga dia berasal dari keluarga yang berada pula. Tidak seperti aku yang dari kalangan biasa dan hanya bekerja sebagai sekretaris pribadinya mas Ken.


...♧ ♧ ♧ ♧ ♧ ♧...


Sekitar jam 11 malam,barulah satu persatu dari kami pun berpamitan untuk pulang.Aku sendiri beserta mas Ken dan mas Hafiz orang yang paling belakangan,karena mas Ken sudah mabuk berat kali ini.


"Kamu sanggup nggak bawa pacar kamu ini?"


"Ya mau gimana lagi,masa iya aku tinggal dia di sini."


"Kalau mau,kamu bawa dia ke apartemen milik dia di dekat sini. Tidak mungkin kan,kamu akan bawa dia pulang dalam keadaan seperti ini. Yang ada nanti dia bakalan jadi bulan-bulanan ayahnya lagi."


Aku sempat terdiam mendengar omongan mas Hafiz barusan.Karena aku sendiri tidak begitu tahu kebiasaan mas Ken selama ini.


"Itu hanya saran aku saja sih,"


"Kalau boleh tahu nama apartemennya apa? Terus nomor berapa,biar aku antar dia ke sana saja."


"Lah emangnya kamu tidak tahu? Masa iya sih,kalian kan pacaran."


"Ya memang kami pacaran,tapi itu bukan hal.yang harus aku tahu juga bukan?' timpal ku.


"Iya juga sih,"


"Nih nama apartemennya,tidak jauh dari sini. Kalau nggak salah lantai 15,nomor 128." jelasnya sambil menunjukan nama apartemennya dari HP miliknya.


"Makasih ya,"


"Karena sudah bantu aku untuk bawa mas Ken sampai ke sini."


"Sama-sama."


Aku pun langsung masuk ke dalam mobil setelah menidurkan mas Ken di kursi depan di kursi penumpang. Dia sudah tidak sadarkan diri,aku pun bingung dengan ulahnya kali ini.


...♧ ♧ ♧ ♧ ♧...


Sesampainya di parkiran apartemennya,aku langsung turun berusaha untuk membantu mas Ken turun dari mobil. Aku cukup kesulitan karena dia jauh lebih berat dari yang aku bayangkan.


"Ya ampun,bilangnya tidak akan mabuk. Tahunya dia yang paling banyak minum." gerutu ku.


Aku pun langsung berjalan menuju lift yang ada di parkiran dan langsung memencet nomor 15,sesuai arahan mas Hafiz tadi.


Sesampainya di sana,aku langsung mencari nomor yang di katakan mas Hafiz tadi. Aku sendiri sangat kesulitan karena mas Ken yang setengah sadar dan setengah tidak sadar aku bopong sedari parkiran tadi.


Akhirnya setelah berjalan beberapa saat,aku pun menemukan kamar 128 yang letaknya paling ujung dari unit yang lainnya.


"Oh iya,aku kan nggak tahu nomor sandinya berapa."


"Mas Ken,ini nomor sandinya berapa?" ucap ku sambil menepuk-nepuk pipinya.


Butuh waktu yang sedikit lama untuk buat dia bisa menjawab pertanyaan ku ini.


"111019......."


Setelah mendengar nomor sandi yang di katakan mas Ken,tidak menunggu lama aku langsung memasukannya dan akhirnya berhasil juga.


Setelah itu,barulah aku masuk ke dalam apartemen mewah miliknya. Aku langsung membawanya ke dalam kamar yang terdekat dari pintu masuk.Karena aku sudah merasa tidak kuat lagi untuk membopongnya.


Aku langsung melemparnya ke atas kasur,namun aku tidak sadar kalau ternyata mas Ken memegang baju ku yang bagian belakang dan akhirnya aku pun ikut terjatuh tepat di atas tubuhnya.


"Ya ampun,menyusahkan sekali sih." gerutu ku.


Saat aku hendak melepaskan tangan mas Ken,dia malah balik memeluk ku erat dan malah balik menindih ku.


"El......." ucapnya pelan.


"Kamu tidur di sini yah," lanjutnya dengan mata yang sedikit terbuka.


"Tapi mas,aku tidak bisa. Aku harus pulang sekarang juga,ini sudah larut malam."


"Tidak," balasnya langsung mencium ku.