
...♧ ♧ ♧ ♧ ♧ ♧...
"Kamu mau ke mana?"
''Aku mau pindah kamar saja,aku tidak mau di sini."
''Sebentar,aku rasa ini pasti ada kesalahan. Kenapa aku bisa sampai masuk ke kamar kamu."
Aku pun langsung membalikkan badan ku dan melihat ke arahnya.
"Kata kamu,sudah pesan dua kamar di hotel ini. Lalu kenapa barang-barang kamu juga ada di sini juga?"
"Sebentar,aku akan meminta pihak hotel terlebih dulu.''
Dia pun langsung menggunakan telpon hotel untuk menelpon bagian resepsionisnya. Setelah mengobrol beberapa saat,dia pun langsung mengajak ku kelantai bawah.
"Kenapa?" tanya ku kembali.
"Sepertinya ada kesalahan,sebaiknya kita cari tahu dulu." ajaknya.
Aku pun langsung mengikuti mas Ken yang sudah lebih dulu keluar dari kamar. Sesampainya di lantai dasar,kami langsung bertemu dengan bagian resepsionis yang bertugas malam ini. Dan orangnya itu bukan lagi orang yang sama seperti saat tadi sore aku minta kunci.
Sekarang yang bertugasnya itu ada dua orang laki-laki bukan lagi seorang perempuan.
"Mas,kenapa bisa terjadi kejadian seperti ini?" tanya mas Ken langsung.
"Maaf pak,sepertinya ada kesalahan. Di sini memang ada dua kamar atas nama Kenzo Elwafa.Dimana kamarnya itu ada di nomor 2026 dan 2036 di lantai 4." jelasnya.
"Tadi sore,saat saya minta kuncinya mba yang bertugas sore tadi memberikan kunci yang nomor 2026 mas.'' timpal ku.
''Tapi,tadi pak Kenzo meminta pada kami kunci nomor itu juga." balasnya.
"Lah kok,"
"Soalnya saya di kasih tahu pak Yogi,kalau barang-barang saya ada di kamar itu. Maka nya setibanya di sini,saya langsung meminta kunci nomor itu juga." jelas mas Ken.
Kami pun terdian beberapa saat dengan berperang dengan pikiran kami masing-masing.
"Mungkin seharusnya bapaknya ada di kamar 2036,soalnya kalau di lihat dari sini tipenya memang satu tingkat lebih bagus dari yang nomor 2026." jelas petugasnya.
Dia pun langsung memberikan kunci kamar yang satunya lagi di atas meja.Dengan kasar mas Ken langsung meraihnya dan langsung menarik tangan ku.
"Bisa-bisanya pak Yogi salah menyimpan barang milik ku.'' gerutunya.
"Ya kamu juga nggak bisa menyalahkan pak Yogi sepenuhnya,mungkin saja kejadiannya sama seperti aku. Karena kedua kamar yang di pesan itu ada dua dan kedua-duanya atas nama kamu semua."
Dia pun langsung melihat ke arah ku dengan tatapannya yang tajam.
"Kenapa? Aku salah lagi?"
Dia tampak prustasi dan tidak mengatakan apa-apa dan langsung melepaskan cengkraman tangannya. Setelah itu,baru lah kami masuk lift untuk kembali ke lantai 4.
Dia pun langsung menuju kamar ku untuk mengambil barangnya di sana. Karena barangnya cukup banyak,aku pun berinisiatif untuk membawanya sebagian.
"Sini biar aku bantu,kamu tidak mungkin bawa semua barang-barang kamu ini semua sendirian." ucap ku sambil meraih tas dan satu koper kecil miliknya.
Kami pun langsung menuju kamar milik dia yang letaknya tidak begitu jauh dari kamar ku. Dan benar saja,kamar miliknya jauh lebih luas dan ada mini dapur juga di dalamnya.
Setelah menyimpan semua barang miliknya,mata ku tertuju pada bagian pelipis dia yang tampak bengkak. Mungkin itu bekas tadi aku memukul dia dengan botol minum.
Karena aku merasa bersalah sudah memukulnya tadi,aku pun langsung mencari air dingin dari dalam kulkas. Untungnya di bagian freezernya ada botol minum yang sudah beku. Aku pun buru-buru membungkusnya dengan handuk kecil.
"Kamu mau ngapain?" tanya nya Heran.
"Sudah duduk saja,aku hanya akan mengompres luka yang ada di pelipis kamu ini."
"Luka?" tanya nya heran.
Dia pun langsung bercermin dan raut wajahnya langsung berubah setelah melihatnya.
"Ini pasti ulah kamu tadi,"
"Ya kalau aku tidak memukul tadi,kamu oasti sudah melakukan hal yang lebih berbahaya lagi.Tadi aku panik,jadinya aku main pukul aja."
Dia pun langsung duduk di ranjang dan menghadap ke arah ku.
Awalnya aku ragu untuk mendekatinya,namun aku juga mersa kasihan karena melihat lukanya yang sudah membengkak.
Perlahan aku mulai mengkompres lukanya dengan pelan dan sesekali aku meniupnya juga.
"Kamu juga harus obati luka mu itu," ucapnya.
"Maksudnya?" tanya ku heran.
Karena aku merasa aku tidak terluka sedikitpun tadi.
"Itu di bagian leher kamu ada banyak tanda merahnya." ucapnya pelan.
"Ish kamu ini," aku pun langsung membanting kompresannya di atas kasur.
"Besok pagi akan aku carikan salep untuk mengobatinya,karena tidak mungkin malam-malam begini ada apotik yang masih buka."
"Terserah kamu,"
Aku pun langsung berdiri dan berjalan keluar dari kamarnya karena kesal. Hati ku merasa kesal dan panas saat dia mengungkit kembali kejadian tadi di kamar ku.
...♧ ♧ ♧ ♧ ♧ ♧...
Pagi harinya,saat aku sudah selesai mandi dan tengah memakai makeup di kamar mandi. Aku mendengar pintu kamar ku yang terbuka. Aku pun langsung menutupi tubuh ku dengan menggunakan handuk yang berbentuk piyama tidur yang di bawakan oleh ibu ku kemarin.
Perlahan aku mengintipnya dari kamar mandi dengan membuka pintu kamar mandinya sedikit.
"Ah......" teriak ku kaget karena mendapati mas Ken sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Sedang apa lagi kamu masuk ke kamar ku?"
"Semalam aku sudah janji untuk membelikan kamu obat bukan. Ini aku sudah mendapatkannya," ucapnya sambil memperlihatkan satu tas belanjaan.
Tanpa aku sadari dia pun langsung mendorong pintu kamar mandinya dan buat pintunya terbuka lebar.
"Kamu mau ngapain?" tanya ku kembali.
"Aku akan bantu kamu untuk mengolesi obatnya." ucapnya santai.
"Hah? Yang benar saja,aku bisa sendiri kok.Lagi pula aku bisa melakukannya sambil bercermin di sini.Sebaiknya kamu keluar saja,"
Namun mas Ken malah melangkah mendekati aku,perlahan aku pun berjalan mundur dan membetur wastafel yang ada di kamar mandi.
Dia pun langsung meraih sesuatu dari dalam tas belanjaannya itu dan langsung memegang handuk ku.
"Aku bisa sendiri,kamu kenapa sih?"
"Elvira, apa harus aku menghukum kamu supaya kamu tidak banyak membantah." ucapnya.
Aku sama sekali tidak habis pikir dengan apa yang di lakukan mas Ken sekarang. Aku mersa lucu saja melihat kelakuannya.
Dia pun langsung membuka sebagian handuk ku dan tentunya buat bagian dada ku terlihat jelas.
"Untuk apa juga kamu menutupinya,akunsudah melihat semuanya semalam." ucapnya sambil mulai mengolesi obatnya.
Amarah ku sudah tidak tertahan lagi dan aku merasa kesal dengan apa yang di katakannya barusan.
"Kamu marah? Kamu kesal sama aku?" ucapnya dengan santai.
"Kalau kamu tidak menyukainya,kamu bisa menuntut ku. Kalau kamu bisa,"
Tanpa aba-aba,dia langsung menciumku tiba-tiba. Kali ini ciumannya tidak seagresif semalam. Aku pun langsung memegang pada jas yang dia kenakan sekarang.