Let Me Go

Let Me Go
Chapter 7



...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


"Kenzo....." ucapnya sambil mengulurkan tangannya.


"Elvira," balas ku membalas ukuran tangannya.


Dia pun berpindah tempat menuju Susan dan Sakti sambil memperkenalkan dirinya kembali.Setelah itu,baru lah dia kembali berdiri di samping pak Burhan.


"Nah,karena sesi perkenalannya sudah selesai saya ucapkan terima kasih atas waktunya.Kalau begitu saya permisi," ucap pak Burhan.


"Iya pak......" ucap kami bersamaan.


Sepeninggal pak Burhan,kami langsung berkumpul di meja nya Sakti karena dia langsung menarik aku dan Susan.


"Ih ya ampun,kelihatan banget galaknya." ucap Sakti.


"Ih Sakti kamu jangan kayak gitu dong,kamu malah buat aku ragu aja untuk minta ijin sama orang tua ku nanti." balas Susan.


"Hei,memangnya kamu nggak lihat tadi. Sedikit pun dia tidak tersenyum tadi,aura dingin sekali."


"Kulkas kali...." timpal ku.


"Tapi ketolong lah,dengan wajahnya yang tampan itu." lanjut Sakti.


"Ganteng sih iya,tapi kalau galak aku takut." balas Susan.


"Kita kan belum tahu di seperti apa,belum tentu kan?" timpal ku.


"Tapi memang benar bukan,berita yang sering kita dengar selama ini. Ya kalau dia nggak galak,nggak mungkin kan,banyak sekertaris yang sudah keluar masuk di kantor cabang yang dia pegang." jelas Sakti.


"Udah ah,aku nggak mau berpikir aneh-aneh. Dulu pun,saat pertama awal aku masuk ke sini kamu terlihat galak.Apalagi pak Eko,dia mempunyai wajah yang biasa saja tapi kenyataannya dia cerewet."


"Iya benar,penampilan tidak menjamin semuanya." timpal Susan.


"Udah ah,sebaiknya kita sekarang lanjutin pekerjaan kita hari ini.Supaya hari ini di kita bisa pulang lebih cepat lagi seperti hari kemarin."


Kami pun langsung membubarkan diri kami masing-masing dan kembali duduk di kursi kami.


Setelah itu,kami pun langsung fokus dengan pekerjaan kami masing-masing,sampai-sampai tidak ada satu pun dari kami yang bersuara.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


"Lah,kalian pada kenapa? Saya perhatikan dari ruangan kalian hanya diam saja.Biasanya menjelang sore kalian pada gaduh." ucap pak Eko yang berdiri di ambang pintu.


"Tidak ada apa-apa pak,kami hanya ingin menyelesaikan pekerjaan kami lebih cepat hari ini." jelas ku.


Pak Eko pun terdiam dan hanya menatap kami sesaat.Setelah itu,barulah dia kembali ke dalam ruangannya sambil menggelengkan kepalanya.


"Ya ampun kepo kali,kita gaduh di komennya. Kita diam,di komennya pula." ucap Susan pelan.


"Kayak nggak tahu aja," timpal ku.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Tepat pukul 15.30 wib,kami pun bisa menyelesaikan pekerjaan kami masing-masing. Sambil menunggu waktu pulang pukul 16.00 wib,kami pun menyempatkan untuk membuat kopi lagi di pantry.


"Eh ada pak Zaid," ucap ku saat mendapati pak Zaid yang sedang membuat teh.


"Eh El......"


"Kamu mau bikin kopi juga,silahkan saya sudah selesai kok."


"Iya pak,"


"Duluan yah......" ucap beliau langsung keluar dari pantry sambil membawa secangkir teh yang dia buat.


Setelah pak Zaid pergi,tidak lama kemudian Susan dan Sakti pun menyusul ku ke pantry. Tadi mereka ke ruangan bagian IT untuk meminta cemilan,karena biasanya di sana suka ada banyak cemilan untuk teman kami ngopi sore ini.


"Gimana?" tanya ku.


"Kita cuma dapat segini,keburu keduluan sama si Hafiz."


"Katanya bagian divisi 4 hari ini lembur." lanjut Sakti.


Dia pun menyimpan kotak makanannya dibatas meja.Setelah itu baru lah kami membuat minuman kami masing-masing.


"Yah,coklatnya habis lagi." ucap ku setelah mendapati tempat bubuk coklatnya sudah kosong.


"Ih yang benar?" tanya Susan langsung menghampiri ku.


"Nih lihat,"


"Perasaan tadi siang masih ada setengah nya deh,"


"Iya makanya aku mau bikin es coklat ini."


"Ya paling habis sama divisi tang lain,kamu kan bisa buat es susu coklat.Aku lihat tadi masih ada deh di dalam kulkas." jelas Sakti.


Aku pun langsung melihat stok susu coklat yang di maksud Sakti barusan. Untungnya benar saja,masih ada beberapa stok susu coklat di dalam kulkas.


Tanpa menunggu lama,aku langsung mengeksekusinya.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Tepat pukul jam setengah lima kurang aku pun sampai di rumah,ternyata di garasi nenek sudah ada mobil milik ayah Anto yang sudah terparkir di sana.


"Lah,mereka hari ini sudah sampai di sini ternyata." ucap ku sambil turun dari mobil.


Aku pun langsung menuju kedalam rumah untuk menyapa mereka semua.Ternyata benar saja ibu dan kedua adik tiri ku tengah bersantai dengan nenek di ruangan tengah sambil menonton TV.


"Sore.....!" seru ku.


Aku pun langsung memeluk ibu,Niken dan tidak lupa aku pun menyempatkan untuk menggendong Ziyan.


Meskipun aku tidak sering bertemu dengan adik bungsu ku ini,tapi setiap kali aku menggendongnya,dia tidak pernah rewel yang ada dia malah anteng.


"Kalau di lihat-lihat dek Ziyan malah mirip kak El ya bu," ucap Niken.


"Iya yah,"


"Benar juga apa kata kamu,nenek juga sependapat dengan Niken." sambung nenek.


"Emang iya yah,"


Aku pun langsung membawa dek Ziyan untuk bercermin di kaca lemari yang ada di ruang tengah.


Dek Ziyan pun langsung tersenyum melihat dia ada di dalam kaca itu.


"Ya ampun dek,katanya kita mirip." ucap ku gemas.


"Bu,perasaan sekarang dek Ziyan berat sekali."


"Iya nak,bulan ini dia naik 2 kilo."


"Iya kak,jadi kakak tidak perlu berolah raga cukup gendong dek Ziyan aja." timpal Niken.


Saat kami tengah bercengkrama,ayah Anto pun masuk dari luar. Aku pun langsung menyalami beliau,meskipun beliau merupakan ayah sambung ku tapi perhatian beliau pada ku sudah seperti layaknya ayah kandung.


"Sehat nak," ucap beliau.


"Sehat dong," balas ku sambil tersenyum.


"Anteng banget adek,di gendong sama kak El." lanjut beliau.


"Iya nih,mungkin dek Ziyan udah kangen sama aku."


"Oh iya,ayah dari mana?" tanya ku.


"Ini habis beli cemilan buat dek Ziyan,tadi karena buru-buru berangkat ke sini,jadinya cemilan milik dek Ziyan malah ketinggalan." jelas ayah Anto.


"Oh alah,"


Aku pun langsung bergabung dengan yang lainnya begitu pun ayah Anto.


"Ini kan masih hari rabu,ayah kok bisa antar ibu dan adek ke sini?"


"Iya untungnya hari ini ayah bisa ijin sama atasan ayah. Jadinya ayah bisa antar ibu dan adik kamu,beliau memberi ayah 3 hari cuti. Karena ayah bilang ingin mengantar anak ayah juga nantinya." jelas ayah Anto.