Let Me Go

Let Me Go
Chapter 21



...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Aku hanya terdiam mendengar perkataan mas Ken,karena memang tidak mungkin juga kami melakukannya sekarang. Terlebih lagi,diantara aku dan mas Ken belum ada ikatan apa-apa.


Dia pun langsung memasangkan kembali bra ku yang tadi dia lepas,setelah itu baru lah dia memeluk ku kembali.


"Tidur lah,ini sudah larut. Kita harus menunggu sampai pagi,semoga aja nanti ada warga yang lewat sini dan memberikan pertolongan sama kita.


"Iya......"


Aku pun melingkarkan tangan ku di pinggangnya,rasanya begitu nyaman dan hangat. Sampai akhirnya aku pun terlelap tidur seketika.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Paginya,aku lebih dulu bangun di bandingkan mas Ken. Karena takut ada yang melihat,aku pun langsung memakai kembali pakaian ku yang aku simpan di kursi depan.


Setelah memakai kembali pakaiannya,aku pun memutuskan untuk jalan-jalan sebentar ke luar. Dan berharap bisa menemukan rumah warga atau warga untuk di mintai pertolongan.


Setelah berjalan sekitar 500 meter,akhirnya aku pun bertemu dengan satu orang warga yang tengah membawa rumput di pangkuannya.


Beliau tampak kaget melihat kehadiran ku,mungkin karena aku berpakaian rapi dan memakai heels juga.


"Permisi pak," ucap ku.


Dia pun langsung menurunkan rumput yang iya bawa.


"Iya kenapa de?"


"Saya mau tanya,kalau SPBU terdekat di mana yah?"


Bapak itu pun tampak kebingungan dan setelah itu dia langsung tersenyum.


"Lah,adek becanda saja.Tidak ada SPBU di kampung kami ini. Tapi kalau adek mau,adek harus memerlukan waktu sekitar 20 menitan lagi untuk sampai ke Kota." jelasnya.


"Yah ......." ucap ku lemas.


"Memangnya kenapa dek?" tanya nya.


"Jadi begini pak,aku kehabisan bensin di sana. Sejak semalam aku berharap ada kendaraan yang lewat untuk di mintai pertolongan. Namun sayangnya,sampai saat ini aku hanya melihat bapak saja."


''Oh alah,jadi seperti itu ceritanya. Kampungnya juga masih jauh dari sini. Mungkin sekitar 4 kiloan lagi."


"Wah jauh juga yah,"


"Kalau ade mau,saya bisa antarkan ade ke tempat yang jual bensin eceran. Di sana ada,"


"Boleh pak,saya mau."


"Ya sudah ayok....." ajaknya.


Aku pun sempat terdiam,karena tadi beliau menceritakan jarak kampungnya juga sekitar 4 kiloan lagi. Masa iya aku harus jalan kaki untuk sampai ke sana.


"Kenapa dek?"


"Tenang aja,saya ada motor kok. Tadi saya menyimpannya di balik pohon itu," tunjuknya pada sebuah pohon besar yang letaknya tidak jauh dari tempat aku bertemu dengan bapak nya.


"Ah iya pak,"


Kami berdua pun langsung berjakan menuju pohonnya sekitar 50 meteran. Dan benar saja,motornya sendiri ada di balik pohon itu dan di tutupi oleh dedaunan.


Setelah bapak itu menaikkan rumput yang iya bawa,beliau pun langsung meminta ku untuk naik bersama nya untuk menuju perkampungan yang beliau maksud.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Kami pun akhirnya sampai di sebuah kampung yang memang kemarin sempat aku lewati bersama mas Ken.


"Nah mba,ini tempat yang jual bensin ecerannya." ucapnya setelah memarkirkan motornya.


"Iya pak,"


"Oh iya,saya sampai lupa tidak memperkenalkan diri saya sama bapak sejak tadi. Nama saya Elvira pak,"


"Saya Sasminto,panggil saja saya pak minto."


"Baik pak,"


Setelah itu,barulah pemilik warungnya pun datang menghampiri aku bersamaan dengan pak Minto.


"Mba nya butuh berapa liter?" tanya tukang warungnya.


"Ya sekiranya untuk sampai ke SPBU terdekat saja pak."


"5 liter saja ya mba."


"Boleh pak,berapa semuanya?"


"65.000 mba."


"Ini pak,"


Aku langsung memberikan uangnya pada tukang warungnya.Untungnya tadi aku berinisiatif untuk membawa dompet.


"Ini mba kembaliannya,makasih ya."


"Iya pak,"


"Ya udah Kus,nanti saya balikin wadahnya setelah mengantarkan mba nya." ucap pak Minta.


"Ya udah bawa aja."


"Tapi saya titip rumput saya di sini dulu yah,"


"Ya udah....."


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Kami pun akhirnya sampai di mana tempat mobil milik mas Ken mogok. Ternyata mas Ken sendiri dia sudah bangun dan tengah berdiri di dekat mobil.


Dia tampak terkejut meliht aku yang datang bersama pak Minto.


"Kamu dari mana aja?" ucapnya pelan.


"Aku habis minta pertolongan,untungnya aku bertemu sama pak Minto. Beliaulah yang mengantarkan aku untuk mendapatkan bensin ini. Udah sekarang sebaiknya mas masukin dulu bensinnya." jelas ku.


Di bantu pak Minto,mas Ken pun menuangkan bensinnya ke dalam mobilnya.Setelah itu baru lah pak Minto pun berpamitan sama aku dan mas Ken.


"Eh pak sebentar," ucap mas Ken.


"Iya mas,"


Mas Ken pun mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya dan memberikannya langsung sama pak Minto.


"Aduh mas tidak perlu,lagi pula saya ikhlas menolong mas dan mba nya."


"Tidak apa-apa pak,saya juga ikhlas memberikan ini sama bapak. Tolong di terima yah pak,supaya saya juga merasa lega." balas mas Ken.


Raut wajah pak Minto tampak ragu untuk menerima pemberian mas Ken. Sampai akhirnya aku lah yang langsung meraih uangnya dan memberikannya langsung sambil mengepalkannya pada tangan pak Minto.


"Tidak apa-apa pak,terima saja. Kami sudah berhutang budi sama bapak,coba kalau kami tidak bertemu sama bapak. Entah sampai kapan kami akan diam di sini saja." jelas ku.


"Makasih mba,mas." ucapnya.


"Sama-sama pak,"


Setelah itu pak Minto pun berpamitan sama aku dan mas Ken,untuk kembali ke kampungnya sambil membawa wadah bekas bensinnya tadi.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Sepeninggal pak Minto,kami tidak langsung melanjutkan perjalanan kami.Tapi mas Ken malah mengajak ku untuk duduk di sebuah bangku yang terbuat dari kayu untuk menikmati pemandangan yang masih asri. Jarang sekali aku bisa melihat pemandangan sebagus ini saat aku masih di Jakarta.


"Tadi kamu kenapa nggak bangunin aku saja,kenapa kamu malah pergi sendirian? Gimana kalau di jalan kamu bertemu sama orang jahat dan melukai kamu?" ucapnya sambil melihat ke arah ku.


"Tadinya aku memang hanya berniat untuk jalan-jalan saja,mengingat badan ku yang terasa pegal. Ya karena aku tidak sengaja bertemu dengan pak Minto,ya sekalian aja aku meminta bantuan pada beliau."


"Untungnya beliau mau membantu ku danau mengantar aku untuk beli bensinnya.Coba saja,kalau beliau tidak mau. Mungkin kita masih terjebak di sini,karena aku perhatikan sedari tadi tidak ada kendaraan atau pun warga yang lewat ke sini." lanjut ku.


"Sebenarnya jalan yang kamu lalui ini benar atau tidak,soalnya kok aku malah datang dari arah yang berlawanan dengan arah mobil kamu."


Mas Ken pun langsung terdiam dan memperhatikan ke arah yang aku maksud barusan.