Let Me Go

Let Me Go
Chapter 8



...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


"Syukurlah,kalau begitu.Tapi aku jadi merasa tidak enak sama ayah."


"Tidak apa-apa nak,lagi pula ayah memang sudah lama tidak mengambil cuti tahunan ayah. Sekali-kali juga kan kita bisa kumpul bersama."


Setelah bercengkrama beberapa saat,aku pun mengundurkan diri lebih dulu untuk mandi terlebih dulu.


Begitu pun dengan yang lainnya,mereka juga sama pergi ke kamar masing-masing untuk mandi juga.Terkecuali Niken yang sedang membantu nenek menyiapkan makan malam untuk kami nanti.


Untungnya bi Nur hari ini sudah kembali masuk kerja dan ada yang memasakan makanan untuk kami nanti makan malam.


Setelah selesai mandi,aku terkejut karena mendapati Niken yang tengah duduk di ujung ranjang.


"Eh Niken,"


"Kak,itu kata nenek suruh turun katanya."


"Oh iya,"


"Eh iya kak,ibu sudah ceritakan sama kakak. Prihal rencana kuliah ku di sini."


"Iya semalam ibu sudah menceritakannya sama kakak,"


"Kenapa? Kamu emangnya beneran mau kuliah di sana?"


"Iya kak, aku sangat tertarik untuk kuliah di sana. Apalagi kan kakak pernah kuliah di sana,yang terpenting biayanya tidak begitu mahal juga."


"Apalagi aku berencana untuk kuliah sambil kerja juga nantinya,aku tidak ingin berpangku tangan sama ayah saja." lanjut Niken.


"Ya ampun,kamu kok bisa sih punya pemikiran sedewasa itu." balas ku.


"Aku ingin mengikuti jejak kakak,meskipun kita sama-sama korban dari perceraian kedua orang tua kita. Tapi aku melihat kakak merupakan sosok yang tangguh dan patut aku contoh kedepannya." jelas Niken.


"Ish kamu ini,buat kakak malu aja."


"Tapi aku serius kak,aku tidak ingin membebani ibu atau pun ayah. Bahkan tadinya aku sempat berniat untuk tidak melanjutkan kuliah ku saja dan berniat untuk melamar pekerjaan di pabrik."


"Eh tahunya ayah malah marah,kata ayah aku harus mengikuti jejak kakak." lanjut Niken.


"Semoga saja,apa yang kamu cita-citakan bisa terwujud. Kakak juga pasti akan bantu kamu untuk mendapatkan pekerjaan nantinya. Kan siapa tahu,kamu nanti bisa kerja di perusahaan dimana kakak kerja kakak sekarang."


"Tapi aku berniat untuk mengambil kuliah bahasa dan sastra kak. Karena ada teman ku yang mengambil jurusan itu,dia bahkan sampai bisa mendapatkan beasiswa kuliah di luar negri.Aku ingin mendapatkan itu kak,aku ingin membanggakan ayah dan ibu. Begitu pun kakak," jelas Niken.


"Oh maksud kamu,beasiswa atau pertukaran pelajar itu bukan? Iya sih,pas kakak kuliah juga sempat ada tawaran untuk mengambil beasiswa seperti itu.Hanya saja,saat itu yang ada di pikiran ku,kakak tidak bisa meninggalkan nenek sendirian di sini." jelas ku.


"Oh gitu,semoga saja aku punya kesempatan itu ya kak."


"Iya......."


"Kalau kamu berusaha dan tekun,kakak yakin kamu bakalan bisa untuk mendapatkan beasiswa yang kamu inginkan itu."


"Semoga saja,"


"Oh iya,hari minggu kemarin kakak kirim uang ke rekening kamu. Udah kamu cek belum?"


"Iya kak udah ada kok."


"Beli lah sesuatu yang kamu inginkan,kakak memberikan itu sengaja supaya kamu bisa beli barang yang kamu mau atau pun beli makanan yang kamu suka."


"Tidak kak,aku tidak akan mengambilnya. Sudah beberapa bulan ini aku tidak mengambil uang pemberian dari kakak. Aku sengaja untuk mengumpulkannya buat bekal ku nanti saat sudah masuk kuliah.Kan lumayan bisa bantu ayah dan ibu juga." jelas Niken.


"Ya ampun,kamu kok sampai segitunya sih.Padahal kalau pun nanti kamu sampai berkuliah, kakak juga akan bantu biaya kuliah kamu juga."


"Enggak enak lah kak,masa aku harus berpangku tangan terus sama kakak. Aku kan udah gede sekarang,"


"Iya kak, aku tahu kok maksud kakak itu."


Aku pun langsung memeluk adik sambung ku ini dengan erat.Aku tidak menyangka dia bisa sedewasa ini sekarang. Apa yang terjadi di keluarga kami,memang buat kami berdua dewasa meskipun belum waktunya.


"Ya sudah tidak apa-apa,lagi pula itu sudah menjadi hak kamu." ucap ku sambil mengusapnya.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Setelah drama aku dan Niken tadi,aku pun langsung turun ke bawah bersama Niken untuk makan malam bersama keluarga ku.


Rasanya malam ini aku senang sekali,karena bisa makan malam bersama dan berkumpul dengan mereka semua.


"Wah kelihatannya enak," ucap ku melihat cobek ikan nila yang sudah tersaji di atas meja.


"Ini tadi ibu bawa sengaja buat kamu,karena ibu tahu kamu sangat menyukainya.Untungnya tadi di jalan kami lewat rumah makan sunda terlebih dulu sebelum masuk ke tol." jelas ibu.


"Ya ampun,makasih ya bu. Buat ayah juga,aku sudah banyak merepotkan kalian berdua hari ini."


"Tidak sama sekali,kamu kan pastinya sudah lama tidak makan cobek nila ini." balas ayah Anto.


"Mungkin sekitar 2 bulanan setelah kepulangan terakhir aku waktu itu ke Bandung."


"Ya sudah,sebaiknya kita sekarang makan.Pastinya kalian sudah lapar kan,soalnya nenek juga sudah lapar." ucap nenek sambil tersenyum.


Mendengar ucapan nenek barusan,aku dan keluarga ku pun langsung tertawa di buatnya. Kami pun langsung menikmati acara makan malam hari ini yang terbilang lengkap.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Malamnya saat aku tengah mengecek pekerjaan ku di kamar,tiba-tiba saja Riko menelpon ku.


"Hai....."


"Hai juga,"


"Kamu lagi ngapain?"


"Ini aku lagi cek pekerjaan ku di laptop.Biasalah,aku takut ada yang terlewat saja."


"Ya ampun kamu ini,masih aja tidak berubah yah."


"Kamu sendiri lagi ngapain?"


"Aku masih di kantor,"


"Lah kok bisa? Ini kan sudah malam."


"Iya soalnya tadi siang aku kebanyakan kerja di lapangan dan pak Suhar meminta laporannya besok pagi. Paling sebentar lagi aku pulang,ini aku lagi print dulu laporannya."


"Oh gitu,"


"Oh iya,aku dengar dari Sakti,kamu dan Susan akan di pindah tugaskan ke kantor cabang yang ada di Semarang."


"Iya seperti itu lah,mau bagaimana lagi.Aku tidak punya kuasa untuk menolak perintah dari atasan kita itu."


"Iya yah,sama aku juga. Akhirnya kamu juga merasakan hal yang dulu aku pernah rasakan saat di minta pindah ke sini."


"Ish kamu ini,kok malah terdengar senang mendengar berita kepindahan ku ini."


"Tidak lah,aku hanya becanda kok."


"Lagi pula kan Semarang tidak begitu jauh,coba kalau kamu di pindahkan ke kantor yang ada di Kalimantan.Apa kamu masih tetap mau?"