Let Me Go

Let Me Go
Chapter 10



...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


"Iya........"


Aku langsung berdiri dan menghampiri mas Kenzo yang berdiri tidak jauh dari tempat aku dan teman-teman ku duduk.


"Iya pak,"


"Ayo ikut saya." ucapnya langsung berbalik arah.


Aku langsung kaget di buatnya,soalnya ini tidak ada dalam jadwal aku hari ini. Aku melihat ke arah ke dua teman ku,namun mereka seolah memberi kode untuk mengiyakan ajakan mas Ken barusan.


Dengan terpaksa aku langsung mengikutinya dari belakang.Aku sedikit kesulitan untuk menyusulnya,karena langkah ku tidak bisa menyamai langkahnya yang cepat.


"Cepatlah El,aku harus sampai di tempat nya tepat waktu." ucapnya.


"Iya pak,"


Aku pun langsung mempercepat langkah ku,supaya bisa menyamai nya.Namun sayangnya aku malah tersandung dan menubruknya.


"Ah.......'' isak ku.


Segera aku langsung melepaskan pegangan tangan ku pada jas miliknya. Aku langsung menundukkan kepala ku karena merasa malu padanya.


"Maafkan saya pak,saya tidak sengaja."


"Kamu gimana sih,ini kan jalannya rata.Bisa-bisanya kamu malah tersandung seperti itu."


"Namanya juga tidak sengaja,ngeselin banget sih." bisik ku dalam hati.


"Sekali lagi,saya minta maaf dan tidak akan mengulanginya lagi."


"Saya tidak mau lagi yah,kamu buat kesalahan seperti ini lagi. Kamu itu ceroboh tau,"


"Baik pak....."


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Sesampainya di tempat parkir,aku pun kebingungan karena dia tiba-tiba saja malah berhenti di dekat sebuah mobil berwarna grey.


''Ini,kamu yang bawa mobilnya." ucapnya sambil melemparkan kuncinya pada ku.


"Ini memangnya mobil siapa pak?" tanta ku ragu.


"Ya mobil siapa lagi,mobil saya lah. Masa iya saya bawa mobil milik orang lain."


"Iya pak,"


Aku pun langsung masuk ke dalam mobilnya dan bersiap untuk melajukan mobilnya.


"Kalau boleh tahu kita akan pergi ke mana ya pak?"


"Restoran Cavanda,yang ada di daerah Kuningan." jelas nya.


"Baik pak,"


Aku pun langsung meraih ponsel ku untuk mengatur maps,karena ini kali ke dua untuk aku pergi ke daerah itu.Apalagi aku merasa asing dengan nama restoran yang dia sebutkan barusan.Meski pun dulu aku pernah main ke daerah itu,tapi itu sudah lama saat aku masih kuliah dulu.


"Kamu mau ngapain?" tanya nya.


"Ini saya mau atur maps nya,soalnya saya tidak begitu hapal dengan area sana."


"Ya ampun,masa iya sih. Kamu asli tinggal di sini kan?"


"Ya memang saya asli tinggal di sini,tapi saya tidak pernah pergi ke daerah sana pak."


"Ya ampun,"


"Awas aja kalau nanti kamu malah nyasar lagi,saya tidak mau yah terlambat datang nantinya."


"Siap pak......" ucap ku tegas.


Padahal sebenarnya aku sendiri takut dan malah nyasar nantinya.Tanpa menunggu lama,aku pun langsung tancap gas menuju tempat yang sesuai dengan arahan maps.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Butuh waktu sekitar 40 menitan untuk kami sampai di restoran yang di sebutkan oleh mas Ken tadi. Untungnya aku dan mas Ken tidak terlambat,jadinya aku tidak mendapatkan omelan dari mas Ken lagi.


"Maaf pak,sebentar." ucap ku langsung mendekatinya.


"Kenapa?"


''Ini dasi bapak tidak rapi," ucap ku sambil membenarkan dasinya yang miring dan berantakan.


"Maaf ya pak,bukannya saya lancang atau bagaimana. Tapi sudah biasa melakukan ini sama atasan saya."


"Hem......" mas Ken malah berdehem seolah tidak nyaman dengan apa yang aku lakukan.


Aku pun langsung buru-buru menyelesaikannya,supaya tidak mendapatkan omelan dari dia lagi.


"Nah selesai," ucap ku setelah berhasil memperbaiki dasinya.


Dia pun langsung membelakangi aku dan masuk ke dalam restorannya. Aku pun langsung mengikuti dia dari belakang sambil merapihkan baju ku juga.


Ternyata pagi ini dia bertemu dengan pak Riki salah satu investor yang sudah bekerja sama dengan perusahaan kami sejak lama. Aku sudah tidak merasa canggung lagi saat bertemu beliau,karena hampir sebulan dua sampai tiga kali aku bertemu beliau.


"Pagi El," sapa pak Riki.


"Pagi juga pak," ucap ku sambil menyalaminya.


Kami pun langsung duduk di sebuah ruangan yang sepertinya sudah di pesan sebelumnya. Di sana kami langsung membahas proyek yang akan di kembangkan oleh kantor yang ada di Semarang nanti.


Untungnya aku sudah mempelajari proyek ini sebelumnya,karena memang awalnya proyek ini akan di kerjakan oleh kantor pusat. Tapi sepertinya sekarang malah di lempar ke kantor cabang yang ada di Semarang.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Setelah berdiskusi sekitar 2 jam,kami pun akhirnya menyelesaikan rapat mendadak pagi ini dengan lancar.


"Semoga proyek kita ini berjalan dengan sukses." ucap pak Riki.


"Iya pak,saya harap hasilnya akan memuaskan nantinya." balas mas Ken.


"Harus,"


"Baiklah kalau begitu,saya pamit duluan. Sampai ketemu di lain waktu,"


"Baik pak,terima kasih atas waktunya." balas mas Ken sambil menjabat tangan pak Riki.


Tidak lupa aku pun menyalami beliau juga sambil memberikan kontrak yang kami tadi tanda tangani bersama.


"Makasih ya El, kamu sudah bekerja keras juga."


"Sama-sama pak,"


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Sepeninggal pak Riki,kami pun langsung pulang dan kembali ke kantor untuk meeting hasil pertemuan kami pagi ini.


Selama di dalam perjalanan mas Ken,hanya fokus dengan ponselnya sambil sesekali melemparkan senyuman.


"Lucu kali orang ini,senyum-senyum di depan HP.Sepertinya dia lagi kasmaran,makanya dia senyum-senyum sendiri dari tadi. " ucap ku dalam hati.


"El......." panggilnya.


"Iya pak,"


"Nanti sebelum ke kantor tolong mampir dulu ke rumah saya.Ada yang harus saya ambil soalnya,"


"Hah? Rumah bapak?" tanya ku kaget.


Biar pun aku sudah bekerja cukup lama di perusahaan milik ayahnya,tapi tidak pernah sekali pun aku berkunjung atau pun tahu di mana rumah nya pak Burhan.


"Kenapa?" tanya nya.


"Saya tidak tahu pak,dimana rumah bapak."


"Ya ampun,katanya kamu sekertaris senior di kantor. Masa rumah aku saja tidak tahu,"


"Ya memang saya tidak tahu pak,itu kan di luar pekerjaan saya."


"Baiklah,nanti saya yang akan menunjukan arahnya."


"Baik pak,"


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Setelah perjalanan sekitar 30 menitan,kami pun akhirnya sampai di sebuah rumah yang berada di komplek perumahan yang sangat mewah. Aku bisa berbicara seperti ini,karena sejak pertama kami masuk langsung di suguhi dengan rumah yang tampak megah dan sangat berkelas.


Aku sendiri tidak heran,mengingat pak Burhan merupakan pemilik dari salah satu perusahaan terkaya di Indonesia.


"Nanti ada rumah nomor B.6, kamu berhenti di sana saja."


"Baik pak,"


Tidak lama kemudian kami pun sampai di sebuah rumah yang sangat besar dan mewah,aku saja sampai takjub di buatnya.


"Kamu tunggu di sini,saya tidak akan lama."