Let Me Go

Let Me Go
Chapter 6



...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


"Oh pantesan,aku kira pak Pras nggak masuk hari ini."


Tidak lama kemudian petugas yang biasa nganterin makanan nya pun datang dan menyimpannya di ruangan kosong yang biasa kami gunakan untuk makan siang.


"Makasih pak Sodik...." ucap Susan.


Kami bertiga pun langsung masuk ke dalam ruangan tersebut dan memilih makanan yang sesuai dengan apa yang kami pesan tadi.


Sebenarnya bisa saja kami makan di meja kami masing-masing,hanya saja terkadang kami merasa tidak bebas saja.


Beda dengan divisi lain,mereka kebanyakan memilih untuk makan siang di meja tempat mereka bekerja atau pun pergi ke kantin yang ada di lantai 4 dan lantai 1.


Aku sendiri sudah terbiasa makan siang di ruangan kosong ini bersama Susan dan kedua teman ku yaitu Sakti dan pak Prasetya.


Apalagi kami sudah mendapatkan ijin dari pak Eko selaku manager kami.Yabg terpenting kami bisa menjaga kebersihan setelah kami selesai makan.


Biasanya juga pak Eko terkadang bergabung dengan kami juga,tapi hari ini mungkin beliau makan siang bersama atasan yang lainnya di ruangan yang lain.


"Berarti nanti pulang kerja aku harus langsung membicarakan tentang kepindahan ku ini sama ayah dan ibu." ucap Susan di sela-sela kami makan.


"Iya lah,ijin dari mereka itu yang terpenting." balas Sakti.


"Berati nanti aku makan siang hanya berdua saja sama pak Pras dong," lanjut Sakti.


"Ya kan ada pengganti kami itu," timpal ku.


"Ya kalau merek mau,biasanya kalau orang baru suka sok jaim gitu."


Susan pun langsung tertawa mendengar ucapan Sakti barusan.


"Kamu kenapa? Kok kamu malah ketawa sih,emang nya ada yang lucu." ucap ku.


"Enggak aku keinget aja,pas kita pertama kali masuk ke sini.Benar apa yang di katakan Sakti barusan,awal kita masuk kan kita juga sok jaim gitu."


"Bener banget,aku masih ingat sampai sekarang." timpal Sakti sambil tertawa.


"Ish kalian ini,"


"Apalagi El,dia pasti beralasan sedang diet atau enggak aku mau makan di kantin aja." lanjut Sakti.


"Apaan sih,udah ah.Aku jadi malu,"


"Tapi berkat ajakan Riko kamu dan Susan baru mau gabung sama aku makan di ruangan ini."


"Ya gimana aku mau makan bareng,waktu iyu kamu kelihatan banget sombongnya.Keliyatan aja gitu senioritasnya itu." balas ku.


"Iya ih,pas awal aku masuk ke sini kamu tuh nggak banyak ngomong dan hanya sesekali aja ngajakin kita ngobrol." Timpal Susan.


"Tapi sekarang kita udah satu frekuensi," lanjutnya.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Karena masih ada waktu sekitar 20 menitan,kami pun memutuskan untuk membuat kopi di pantry sambil ngobrol.


"Eh iya,kalian tahu nggak pemilik mobil yang parkir di tempat yang biasa aku gunakan untuk memarkir mobil ku,siapa sih dia?" tanya ku.


"Mana aku tahu,aku kan datang gal lewat sana." ucap Susan.


"Aku juga nggak tahu,soalnya pas aku datang mobil yang kamu maksud itu belum ada." timpal Sakti.


"Mungkin itu dari divisi lain kali,mungkin saja dia tidak tahu kalau tempat itu merupakan lahan kamu." lanjut Sakti.


"Tapi setahu ku,kalau divisi lain dari kantor kita pasti udah tahu lah,kalau tempat itu merupakan lahan yang biasa di gunakan sama El." timpal Susan.


"Iya juga sih,"


Saat kami tengah merundingkan maslah lahan parkir ku yang di rebut oleh seseorang,tiba-tiba saja ada pak Pras masuk ke ruangan pantry menghampiri kami.


"Eh pak,udah selesai yah?" tanya Sakti.


"Belum,ini saya habis mengambil buku saya yang ketinggalan.Kebetulan saja saya mendengar kegaduhan di sini,jadinya saya berniat untuk menyapa kalian lebih dulu."


"Ini pak,tadi El nanya sama kami berdua prihal tempat parkir dia yang di rebut oleh seseorang yang tidak di ketahui siapa pemilik mobilnya itu." jelas Sakti.


"Maksud kamu mobil sport warna merah bukan yang ada polet kuningnya?" tanya pak Pras.


"Iya pak," balas ku.


"Itu kan mobil miliknya anak bos kita,masa kalian nggak ada yang tahu sih."


"Enggak," ucap kami bersamaan.


"Tadi pagi kan pak Burhan sempat membawanya ke ruangan divisi 2 memperkenalkannya.Kalau tidak salah namanya itu Kenzo,emangnya kalian tidak bertemu sama dia?" jelas pak Pras.


"Tidak pak,"


"Lah kok aneh,padahal ke divisi 2 dia di perkenalkan loh."


"Soalnya katanya ada pekerja dari divisi 2 yang akan di pindahkan juga bersama El ke Semarang."


"Siapa pak?" tanya ku penasaran.


"Sovia,dia anak design yang baru masuk sekitar 2 bulan yang lalu itu."


"Sovia? Aku baru dengar nama itu." ucap Sakti.


"Lah kok aneh,kenapa malah anak baru yang di pindahkan ke sana.Bukannya sebaiknya yang udah lama yang di pindah seperti Tegar,Surya atau Kenny." lanjut nya.


"Ya saya juga tidak tahu alasannya apa. Saya juga tahu karena di bisikin oleh anak marketing di sana."


"Kita tidak akan pernah tahu,siapa-siapa yang akan di pindah tugaskan ke kantor cabang yang di Semarang itu."


"Itu semua kan keputusannya ada di tangan pak Burhan." lanjut pak Pras.


"Iya juga sih,"


"Ya sudah kalau begitu,saya pamit duluan yah."


"Iya pak,jangan lupa besok balik lagi ya pak." lanjut Sakti.


Pak Pras hanya membalasnya dengan senyuman saja.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Kami pun melanjutkan kembali kerjaan kami setelah jam masuk sudah tiba.Saat aku tengah mengerjakan laporan yang di berikan pak Eko sesaat aku dan yang lainnya masuk. Tiba-tiba saja ada pak Burhan dan pak Eko menghampiri kami keluar dari ruangan pak Eko.


Di belakangnya di susul oleh laki-laki yang tadi tidak sengaja aku temui di lift.


"Orang itu," ucap ku pelan.


Mata kami pun langsung berpandangan satu sama lain,dia tampak menatapku dengan tajam dan menyunggingkan sedikit senyuman di ujung bibirnya.


Aku langsung menundukkan kepala ku untuk menghindari pandangannya itu.


"Selamat siang semuanya," ucap pak Burhan.


"Siang pak....." ucap kami serentak.


"Maaf karena harus mengganggu waktu kalian sebentar.Saya ke sini,ingin memperkenalkan anak saya Kenzo. Dia merupakan Direktur di kantor cabang yang ada di Semarang.Tidak lain dia nantinya yang akan menjadi atasan Elvira dan Susan nanti." jelas pak Burhan.


"Ya ampun,kenapa aku harus mempunyai bos seperti dia sih?" bisik ku dalam hati.


Kenzo pun langsung melangkahkan kakinya dan menghampiri aku lebih dulu.Setelah itu dia langsung mengulurkan tangannya.Aku sempat ragu untuk langsung membalas uluran tangan dia,karena bagaimana pun tadi aku sempat membuat kesalahan saat bertemu dengannya di lift.