Let Me Go

Let Me Go
Chapter 18



...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


"Aduh pak,maaf. Saya tidak sengaja.....''


Aku pun langsung berdiri dan langsung mengambil jas milik mas Ken yang tergeletak begitu saja.


''Lagian kamu kenapa sih?" tanya nya kesal sambil berusaha berdiri.


''Maaf pak,tadi ada cicak yang jatuh tepat mengenai tangan ku.Aku kaget pak,"


"Hem......''


Dia pun langsung meraih jasnya dan menggunakannya dengan cepat. Aku tahu mas Ken kesal padaku karena ulah ku barusan.


Kami pun langsung keluar dari ruangannya menuju lantai bawah.Sedari tadi aku merasa tidak nyaman dengan karyawan lain yang sempat berpapasan dengan ku dan mas Ken.


Karena memang,saat di Jakarta meskipun aku berprofesi sebagai sekertaris tapi jarang sekali aku pergi makan bareng atasan ku. Aku lebih sering makan siang bareng susan dan Sakti di ruangan.


Sesampainya di parkiran,dia langsung masuk ke dalam mobil yang berwarna putih.Dan sepertinya memang itu merupakan mobil pribadi miliknya.


Aku pun langsung mengetuk pintunya,karena tidak mungkin dia yang akan membawa mobilnya.


"Kenapa lagi El?" tanya nya.


"Pak,biar saya saja yang bawa."


"Tidak perlu,lagi pula emangnya kamu tahu jalan di daerah sini?"


"Tidak sih,"


"Makanya,udah mending kamu masuk aja sekarang." suruhnya.


"Baik pak,"


Aku pun langsung berjalan menuju ke pintu yang sebelahnya dan langsung masuk. Mas Ken pun langsung tancap gas keluar dari area parkirannya.


Aku sendiri tidak tahu,dia akan membawa ku kemana kali ini. Aku hanya pasrah saja dan memilih untuk diam saja sambil menikmati pemandangan yang ada di luar.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Kami pun sampai di sebuah restoran yang lumayan cukup besar.


"Ayo turun," ajaknya.


Dia pun langsung turun lebih dulu,sedangkan aku memilih untuk merapihkan dulu rambut ku,takutnya berantakan.Tidak lupa aku pun mengecek make up ku kembali,takutnya sudah luntur.


Saat aku tengah memakai lipstik,tanpa aku sadari mas Ken tiba-tiba saja membuka pintu mobilnya dari luar.Aku pun langsung kaget di buatnya dan lipstik yang aku pakai pun malah belepotan.


"Ya ampun pak,hobi banget sih ngagetin saya." ucap ku kesal.


Aku pun mencari tisu untuk merapihkan kembali bekas lipstik yang belepotan. Namun sayangnya,aku tidak berhasil menemukannya baik dari dalam tas ku mau pun di mobilnya mas Ken.


''Kamu sedang cari apa?" tanya nya.


"Tisu pak,"


"Udah sini pakai ini saja,"


Dia pun langsung menghapus bekas lipstiknya dengan menggunakan saputangan miliknya.


"Lagian kamu ngapain sih,malah repot-repot dandan. Ini waktunya buat kita makan siang,bukan untuk pergi ke pesta."


"Iya tapi kan,namanya juga cewek. Pastilah tidak mau terlihat berantakan di depan orang-orang." balas ku.


"Aku tidak suka kamu malah sibuk dandan,saat masih kerja."


"Ih apaan sih,larang-larang.Terserah aku lah,"


Tiba-tiba mas Ken pun langsung mengecup bibir ku dengan spontan.Aku saja bahkan tidak menyadari kalau dia akan melakukan itu pada ku.


"Aku tidak suka kamu terus membantah ku,kalau kamu terus seperti ini bisa saja aku melakukannya di depan umum." ucapnya setelah menyudahi ciumannya.


*Deg.....Deg......Deg......


Jantung ku berdetak tidak karuan,setelah apa yang di lakukan mas Ken barusan.Aku sempat terdiam beberapa saat,sampai akhirnya dia langsung menarik ku keluar dari mobil.


Sesampainya di dalam restorannya,kami langsung di sambut oleh salah satu pegawainya yang langsung membawa aku dan mas Ken ke sebuah ruangan VIP.


Ternyata di sana sudah ada seseorang yang sudah menunggu kami dan tengah fokus dengan laptopnya.


"Bro......." ucap mas Ken.


Mas Ken pun langsung menyalaminya dan kalau di lihat sepertinya mereka memang sudah akrab satu sama lain.


"Ini siapa?" tanya temannya itu.


"Ah iya,perkenalkan ini sekertaris baru gue. Waktu itu gue udah ceritain ke lo kan."


"Ah yang waktu itu,iya gue inget."


Aku sendiri hanya diam saja dan karena tidak mengerti dengan apa yang tengah mereka bicarakan.Bisa-bisanya mas Ken menceritakan aku lebih dulu sama temannya itu.


"Namanya Elvira,dia baru pindah ke sini kemarin bersama gue."


Aku pun langsung memperkenalkan diri pada temannya sambil menyalaminya.


"Elvira......" ucap ku.


"Kevin," balasnya sambil tersenyum.


"Kevin ini sahabat saya,dia juga punya perusahaan di sini dan perusahaan saya juga punya kerja sama dengan perusahaan milik keluarganya Kevin. Kedepannya kita bakal sering bertemu untuk membahas kerja sama nantinya." jelas mas Ken.


"Iya pak,saya mengerti."


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Kami pun makan siang bersama,aku sendiri kebanyakan diam dan hanya menyimak mas Ken dan mas Kevin yang tengah asik mengobrol.


Tiba-tiba saja,aku menerima telpon dari ibu. Mungkin karena ini memang jamnya istirahat,makanya ibu berani menelpon ku.


"Permisi pak,saya mau menerima telpon dulu."


"Ya udah sana." balas mas Ken.


Aku pun langsung keluar dari ruangan itu dan mencari tempat yang aman untuk aku menerima telpon dari ibu.


"Halo bu,"


"Nak,kamu darimana saja? Ibu khawatir tau. Sejak semalam kamu tidak ada kabar dan susah untuk di hubungi."


"Iya maaf bu,semalam itu aku langsung ketiduran setibanya di hotel. Aku pun lupa HP nya tidak di charger,makanya lowbat."


"Aku di sini baik-baik saja bu,tenang aja."


"Syukurlah nak,kalau kamu baik-baik saja. Nenek terus menanyakan kamu sejak tadi."


"Iya aku ngerti bu,tolong sampaikan saja sama nenek kalau aku baik-baik saja."


"Iya pasti."


"Bu,sekarang aku lagi sama bos aku di sini. Nanti aku telpon balik lagi ya bu,"


"Ya sudah,sehat-sehat di sana."


''Iya......"


Ibu pun langsung menutup telponnya dan aku juga langsung kembali ke ruangan tadi untuk menghampiri mas Ken.


Untungnya saat aku tiba di sana,mereka masik mengobrol dan tidak begitu memperhatikan kedatangan ku.


"El....."


"Iya pak,"


"Nanti setelah ini,kamu ikut saya ke perkebunan ada hal yang harus saya cek. Aku mau melihat perkembangan buah-buahan yang ada di sana."


"Baik pak,"


Ternyata apa yang di katakan oleh pak Burhan tempo hari benar juga. Cara kerja mas Ken kebanyakan di lakukan diluar kantor atau di lapangan.


Aku juga bingung,karena kan jadwalnya sore ini kami akan kembali ke Jakarta. Tapi mas Ken,malah mengajak ku untuk pergi sekarang.


Setelah berpamitan dengan mas Kevin kami pun langsung menuju tempat yang di maksud oleh mas Ken tadi.


"Mas,kenapa tidak aku saja yang bawa mobilnya?"


"Emangnya kamu bisa?"


"Bisalah,meremehkan banget sih."


"Bapak kan bisa nunjukin jalannya pada ku nanti," lanjut ku.