
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
"Iya kakak tahu,kamu pasti terkejut mendengar berita ini. Tapi tenang aja,jumat sore kakak juga balik lagi ke Jakarta."
Aku pun sedikit menjelaskan kejadian ini sama Niken dan memintanya untuk menjelaskan sama ibu dan keluarga di rumah juga.
Setelah dia paham dengan apa yang aku katakan,aku pun memutuskan untuk meminta dia mengirimkan barang-barang ku lewat ojeg online saja. Karena takutnya nanti yang ada semua keluarga mau ikut untuk mengantar ku ke Bandara.
"Ya sudah,kakak tunggu yah."
"Iya kak....."
Aku pun langsung menutup telponnya dan bergabung kembali dengan teman-teman ku yang sejak tadi memperhatikan aku menelpon.
"Gimana?" tanya Susan.
"Udah beres,aku minta adik ku untuk mengirimkannya pakai ojeg online saja. Kamu tahu sendiri,kalau dia berangkat ke sini. Pastinya keluarga yang lain pun akan ikut juga." jelas ku.
"Iya juga sih,"
"Tahu kejadiannya seperti ini,aku juga kayaknya harus menyiapkan semuanya mulai dari sekarang deh.Takutnya kita berangkat mendadak juga kan?"
"Lebih baik seperti itu." balas pak Pras.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Setelah menunggu sekitar 15 menitan,akhirnya barang ku pun sudah sampai di kantor dan di simpan di lobi.
Aku sangat beruntung karena di rumah ada adik dan ibu ku,coba kalau tidak ada mereka. Aku pastinya akan kebingungan,soalnya nenek tidak akan paham juga apa yang perlu aku bawa ke Semarang.
Sambil menunggu mas Ken selesai dengan urusannya,aku pun memutuskan untuk memeriksa kembali kerjaan ku di tempat biasa aku kerja.
Tidak terasa waktu pun sudah menunjukan pukul 14.30. Dan mas Ken masih belum keluar dari raungan pak Burhan.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Tepat pukul 15.00 wib,mas Ken pun keluar dari ruangan pak Burhan dan langsung menghampiri ku.
"El......"
"Cepat, kita sudah hampir telat."
"Ish salah sendiri,kenapa lama sekali dari tadi aku hanya bolak balik mengecek laporan ku saja." gerutu ku dalam hati.
"Aku duluan yah,"
"Hati-hati,kasih tahu kalau kamu sudah sampai di sana."
"Siap......"
Buru-buru aku pun menyusul mas Ken yang sudah lebih dulu masuk di dalam lift.
Sesampainya di lantai satu,aku langsung mengambil barang ku yang sudah di pegang oleh Trisna.
"Makasih ya,"
"Iya bu......" balas nya sambil tersenyum.
Aku pun langsung mengikuti mas Ken dari belakang menuju mobilnya yang di parkir dekat pos scurity.
"Mana sini kunci mobilnya," pintanya.
"Bapak mau bawa sendiri mobilnya,tidak perlu pak. Biar aku saja,"
"Bukanlah, aneh aja kamu."
"Saya minta pak Sopyan untuk mengantar kita ke Bandara.Sebaiknya kamu istirahat saja,karena sesampainya di sana kita langsung ada meeting dengan klien." jelasnya.
"Baik pak......"
Pak Sopyan pun berlari menghampiri kami dari dalam pos satpam dan aku pun langsung memberikan kuncinya pada pak Sopyan.
Setelah itu barulah kami menuju bandara dan membutuhkan waktu sekitar satu jam kurang lebih.Aku pun duduk di samping pak Sopyan,karena tidak mungkin sekali aku duduk berdampingan dengan mas Ken.
Selama di dalam perjalanan,aku sama sekali tidak bisa beristirahat. Yang ada aku merasa cemas,karena ini kali pertama untuk aku naik pesawat.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Sesampainya di Bandara,aku dan pak Sopyan langsung menurunkan barang bawaan milik mas Ken dan langsung membawanya ke dalam.
Mas Ken sendiri,dia sudah lebih dulu masuk ke dalam bandara. Aku sedikit kesal dengan sikapnya itu,padahal dia bisa bantu aku dan pak Sopyan untuk membawa barang bawaan milik nya.
Pak Sopyan pun hanya mengantarkan sampai di dekat ruang tunggu saja,setelah itu beliau langsung pamit pulang karena sudah di telpon pak Burhan.
"El......!" seru mas Ken.
"Ayo cepat,pesawatnya sebentar lagi berangkat."
Dia langsung menarik koper miliknya,karena tidak memungkinkan untuk aku membawa semuanya.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Sesampainya di dalam pesawat,aku sempat kebingungan,karena ini pertama kalinya aku naik pesawat. Aku bingung harus duduk di mana.
"Kamu kenapa? Kok kamu malah diam saja. Cepatlah duduk,nanti yang ada kamu malah menghalangi penumpang yang lainnya kalau terus berdiri di sana."
"Kalau boleh tahu,kursi aku yang mana yah?"
Mas Ken tampak terkejut mendengar ucapan ku barusan.Dia pun sedikit menggelengkan kepalanya karena mungkin aneh dengan sikap ku ini.
"Itu kamu duduk di kursi yang itu," tunjuknya.
"Oh iya,"
Aku pun langsung duduk di kursi yang mas Ken tunjukan pada ku barusan.Ternyata mas Ken pun duduk tepat di sebelah aku.
"Kenapa? Jangan bilang ini pertama kalinya kamu naik pesawat."
"Iya pak,"
"Hah?"
"Kamu serius? Aku tidak habis pikir bisa-bisanya,selama ini kamu belum pernah naik pesawat."
"Ya aku mau naik pesawat buat pergi ke mana? Keluarga ku kan ada di Jakarta semua." timpal ku.
"Udah itu pasang dulu sabuk pengamannya," ucapnya sambil menunjukan padaku.
Aku malah kebingungan,karena tidak mengerti cara memasangkannya.
"Sini,kamu lama banget."
Dia pun membantu ku untuk memasangkan sabuk pengaman nya,meskipun aku melihat raut wajahnya yang nampak tidak suka.
"Makasih pak," ucap ku setelah dia selesai memasangkannya.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Tidak lama kemudian pesawatnya pun lepas landas,aku pun merasakan goncangan yang cukup hebat. Karena terkejut dan takut aku langsung memegang tangan mas Ken dengan erat sambil memejamkan mata.
Aku sudah tidak peduli lagi,mau dia marah pada ku atau apa pun itu.
"Ya ampun,kamu benar-benar yah." gumamnya.
Setelah guncangannya sudah tidak terasa,barulah perlahan aku pun melepaskan genggaman ku dan perlahan membuka mataku.
"Maaf ya pak,tadi aku kaget."
"Hem......." balasnya.
Aku tahu,mas Ken tidak menyukai apa yang aku lakukan barusan.Aku pun memutuskan untuk melihat ke arah luar dari jendela untuk menghilangkan kegelisahan ku saat ini.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Kami berdua pun akhirnya sampai di Semarang dengan selamat,sesampainya di sana kami langsung di jemput oleh supir yang tampaknya sudah menunggu kami lebih dulu.
"Ini pak Yogi,dia merupakan supir pribadi saya. Selama di sini,dia yang akan mengantarkan kita saat bekerja di luar kantor." jelas mas Ken.
"Iya pak,"
"Ayo masuk,kita harus langsung bertemu dengan klien."
"Pak antarkan kami ke Hotel Am****s." lanjutnya.
"Baik pak,"
Selama di perjalanan aku banyak memperhatikan suasana yang ada di luar. Ini pertama kalinya aku pergi jauh dari kota Jakarta.
"Pak,nanti saya minta barang-barangnya langsung di masukan ke kamar saja. Begitu pun dengan barang milik Elvira,saya sudah pesan dua kamar." jelas mas Ken.
"Iya pak,saya mengerti."