
sampailah di tempat parkir sekolah.
Nana turun dari motor Aldan kemudian melepaskan helm yang dipinjamnya dan meletakkan tepat di jok belakang Aldan menyusuri jalanan parkir yang sudah di penuhi motor.
"Gak mau bilang terimakasih?" ujar Aldan membuat pikiran Nana buyar, Nana menghela nafas berat, kemudian berbalik arah menatap Aldan. Aldan yang tersenyum usil menanti kata demi kata yang akan muncul di bibir Nana
sunyi untuk beberapa saat.. sampai akhirnya Nana berjalan dan berhenti tepat beberapa centimeter di depan Aldan.
"Euhhmm makasih tumpang nya, tadi.. kalo gak ada kamu aku bisa telat.." Aldan terdiam tidak banyak bicara..
kemudian menepuk bahu Nana "itu aja mana cukup" sontak perkataan Aldan membuat Nana terkejut "A-Apa M-maksud K-kamu.." refleks Nana menjadi gagap Aldan tetap tidak menggubrisnya..
"Udah nanti aja mikirin nya, kalo lama lama disini kita bisa telat"
Aldan memasuki kelas diikuti dengan Nana yang membuat Tania terkejut bersertaan dengan geng wanita yang ada di kelasnya. Ya, geng itu di pimpin oleh Anna. dia adalah seorang anak pejabat. diikuti dengan ke 2 temannya Vina dan Farah..
"Kamu kok bisa barengan masuknya sama Aldan?." ucap Tania meminta penjelasan dari Nana. Nana menorehkan wajah tepat ke samping kanan dilihatnya Aldan yang sedang menatap layar ponselnya yang retak.
"Iyaa, tadi Papa sama kakak aku ada urusan masing-masing jadi aku terpaksa naik kendaraan umum. tapi pas lagi nungguin di halte gak sengaja ketemu Aldan" ucapan Nana membuat Tania terdiam..
"Ada apa.." tanya Nana, Tania yang menutupi mulut Nana dengan telunjuk nya membuat Nana merasa aneh. "Kamu tau kan di sekolah ini tuh ada dua geng yang dipimpin oleh Kaka beradik? ya yang satunya ada di kelas kita.. dia tuh suka sama Aldan.." ucapan Tania membuat Nana mengerti kemudian memandang ke arah yang mereka bicarakan.
dilihatnya Anna yang mengernyit tidak suka dengan apa yang terjadi diantara Nana dan Aldan. wajah Anna yang seperti memberitahu bahwa Nana harus berhati-hati. sempat Nana merasa ngeri tapi toh apa pedulinya.
"Tania.. euhmmm" ucap Nana ragu.. "Mau tanya apa?" tebak Tania yang membuat keraguan Nana hilang "Kemarin aku liat ponsel Aldan rusak. padahal sebelumnya belum kenapa Napa"..
Tania terdiam sejenak seperti berfikir haruskah dia memberi tahu atau tidak merespon apa apa.. sampai semuanya terdiam sunyi senyap.
"A-Aldan itu.. korban broken home". ucapan Tania membuat Nana sontak terkejut.. pupil matanya membulat saking tidak percaya nya.
"Aku dan Aldan sudah berteman sejak kecil, Aldan memiliki adik yang bernama Violet, tapi dia memiliki fisik yang lemah.. Papa Aldan adalah seorang pengusaha kaya yang ternama.. kamu tahu Autsoko?" Nana mengangguk.. itu adalah perusahaan maju di Jepang. "Itu adalah perusahaan milik papa nya Aldan.."
Nana terdiam sejenak.
"Papa Aldan sangat jarang pulang.. dan jika pulang pun hanya melihat kedua anak nya Aldan dan violet.. gak jarang keduanya kadang suka bertengkar.. termasuk Aldan.. Aldan sangat menentang keras jika ibunya hanya di anggap sebagai wanita simpanan nya saja.. sepulang sekolah pun aku sama Aldan liat Papa nya Aldan pulang.. Aldan gak suka dan malah balikin stang motor ke arah lain.. karena kesal ponsel Aldan di banting."
cerita panjang lebar itu membuat Nana mengerti.. Aldan bukanlah sosok yang dingin.. dia hanyalah sosok pria yang lemah yang sangat membutuhkan kasih sayang dari kedua orangtuanya..
dan hal itu pun membuat Nana merasa bersalah.. sejak awal penilaian Nana terhadap Aldan selalu saja buruk.. tanpa sadar air mata Nana mengalir begitu saja..
"K-kamu kenapa Naa? aku salah bicara ya?" ucap Tania khawatir.. "Enggak kok... makasih ya Tan, berkat kamu aku jadi tau yang sebenarnya.. berkat kamu aku bisa mengubah pandangan ku terhadap Aldan.." Tania menunduk kan kepala
air mata Tania pun juga menetes mengingat penderitaan Aldan yang tak kunjung usai nya membuat kedua nya Larut dalam kesedihan.
💕