
Wahyu menepikan motornya tempat di lokasi yang kerap di kunjungi oleh dirinya bersama dengan Intan. Di mana lokasi yang kerap di jadikan pertemuan itu adalah sebuah jembatan besi yang menghubungkan kampung Wahyu dengan kampung Intan. Itu uang buat seorang Wahyu rindu akan Intan. Wahyu ingat banget, dia dan Intan kerap menghabiskan waktu berdua untuk sekedar memakan jajanan yang di jajakan oleh pedagang kaki lima.
Semangkuk bakso saja sudah membuat seorang Wahyu teringat akan momen indah yang pernah terulang antara dirinya dengan seorang Intan. Itu yang buat seorang Wahyu begitu rindu akan Intan. Dia pun berharap akan segera bertemu dengan Intan yang tentunya masih lama berada di kota untuk bekerja.
Wahyu yang sudah berlangganan pada tukang bakso tersebut. Langsung di layani dengan begitu baik oleh tukang bakso. Bahkan dia menanyakan keberadaan dari seorang Intan yang kerap bersama dengan seorang Wahyu.
"Kemana Mas pacarnya, biasanya selalu sama dia terus?"
Wahyu mencoba bersikap tenang. Sekalipun dia merasakan kesedihan yang teramat akan ketidakadaan Intan di sampingnya.
"Dia sudah bukan pacar saya lagi, tapi istri saya."
"Waduh, Saya pikir itu masih pacar. Jadi sekarang kalian sudah menikah." ujar tukang bakso tersebut.
Wahyu pun tersenyum dengan apa yang di utarakan oleh tukang bakso itu. Dia hanya sedang bersedih, sehingga tidak nampak keceriaan dari wajahnya.
"Apa Mas Wahyu baik-baik saja?"
Wahyu yang sempat terdiam, langsung terkejut dengan apa yang di tanyakan oleh tukang bakso tersebut. Dia benar-benar tak menduga tukang bakso itu akan tahu kegalauan yang sedang di hadapi oleh dirinya saat ini. Tidak mudah bagi seorang Wahyu untuk melewati semua ini. Namun Wahyu harus tetap bisa tersenyum untuk segera bangkit dari apa yang sedang melanda dirinya di hari ini.
"Saya baik-baik saja Mas. Kalau boleh, saya pesan empat bungkus bakso. Saya ingin bawa ke rumah buat makan sama keluarga saya."
"Pasti satu buat Wahyu, satu buat istrinya. Dua buat mertuanya. Benarkan Mas?"
Wahyu kembali terdiam dengan apa yang di ucapkan oleh tukang bakso tersebut. Dia benar-benar tidak bisa mengatakan apapun lagi, selain hanya terdiam saat mendengar nama seorang Intan di sebut oleh tukang bakso itu. Bagaimana juga, Intan adalah sosok perempuan yang begitu Wahyu cintai. Jadi kehilangan Intan untuk bekerja saja, rasanya begitu berat bagi seorang Wahyu. Ini akan jadi hari yang paling berat bagi seorang Wahyu untuk bisa terus berkembang dengan apa yang terjadi.
Melihat Wahyu yang kembali terdiam, tukang bakso itu pun akhirnya lebih memilih untuk diam. Dia takut kembali menyakiti hati seorang Wahyu. Akan sangat bahaya jika dia mengatakan hal yang tentunya melukai hati seorang Wahyu. Dia harus jauh lebih bisa mengontrol ucapan yang keluar dari dalam mulutnya. Mungkin saja itu akan membuat seorang Wahyu kembali bersedih dengan apa yang dia ucapkan. Apa yang akan keluar dari mulutnya. Jadi tukang bakso itu lebih memilih untuk diam dengan apa yang terjadi.