LDR

LDR
Rahasia yang tidak di ketahui..



Kringgg!!!


Jam bel istirahat berbunyi Nana yang sedari tadi menyiapkan diri untuk pertemuan OSIS enggan untuk ke kantin, syukur lah mama yang tadi pagi tak lupa membuat kan bekal untuk nya.


Tania yang habis dari kantin membawa beberapa cilok yang di beli nya tadi, dia enggan meninggalkan sahabat nya di kelas sendirian. "Kamu lagi ngapain Na?"


Nana yang terdiam sadar akan pertanyaan Tania, menoleh kemudahan diam kembali. Tania dengan ekspresi greget sama sekali tidak menghiraukan dia mengambil cilok di kantung plastik menggunakan tusukan dan memasukkan nya ke dalam mulutnya


"Nanti mau pulang bareng?" tanya Tania "Aku kan harus ikut kegiatan OSIS habis bel pulang" terang Nana sembari membuka kotak bekal miliknya.


Tania baru ingat akan satu hal, dia pun sebenarnya enggan untuk menceritakan hal ini. namun Nana adalah sahabatnya. "Ehhh Na,." ucap Tania agak ragu.


Nana yang sedang mengunyah bekal nya mendengakan kepalanya memberikan isyarat 'kenapa'. Tania diam sejenak kemudian melanjutkan nya kembali “Nanti kamu OSIS kan. pasti ada kak Riyan kan?" tanya Tania


Nana mengangguk pelan “Aku pengen kamu jangan terlalu Deket ya sama dia." ucap Tania membuat Nana mengerutkan dahi “Memangnya kenapa? bukannya kamu suka sama dia?"


Tania menghentikan makannya kini menatap serius sahabat nya. “Dia itu playboy, aku bukannya suka sama dia. cuma agak kagum aja sama kegantengan nya"


Nana menatap malas temannya "lalu bagaimana dengan Aldan?" ucapan Nana membuat Tania mengernyit.


seketika ruangan itu hening, sadar lah Nana. di otak nya bertanya-tanya, apakah dia salah menanyakan soal Aldan?, memangnya ada apa dengan Aldan.


Tania tersenyum “Aldan memang anak yang dingin, tapi dia itu adalah anak yang cukup baik." Tania memanglah tersenyum. tapi di matanya jelas sekali terdapat raut kesedihan, hal itu yang membuat Nana semakin penasaran dengan Aldan.


sampai obrolan mereka terhenti karena tiba nya topik yang mereka bicarakan..


Tania tersenyum kepada Aldan “Dan.. kamu hari ini langsung pulang kan? aku nebeng ya?"


hal yang membuat Nana sebal dengan sifat Aldan adalah.. dia hanya mengangguk ketika bilang 'Ya' dan terdiam ketika bilang 'Tidak'


sifat dingin layaknya gunung es itu mungkin akan meleleh itulah hal yang di yakini Nana sekarang


🔥❄️


sampai bel pulang berbunyi, seluruh murid SMA Pramudya berhamburan keluar Nana berlali menyusui koridor sekolah.. menyebrangi lautan Siwa yang lalu lalang..


meninju ruang rapat OSIS yang akan di pakai sebagai tempat penerimaan anggota OSIS baru.


Brukk!!


Nana menabrak seseorang, tubuhnya pun oleng, namun kali ini dia tidak terjatuh karena dengan sigap seorang pemuda merangkul pinggan nya.


mata nya saling bertatap agak lama, Nana baru sadar. dibalik sifat Aldan yang begitu dingin matanya sangat lembut dan terasa hangat.


“A-Aldan.. Ma-Maaf.." Aldan diam kemudian melepaskan tangan nya dari pinggang Nana "Hati-hati, disini banyak orang yang keluar kelas." dia berbicara kepada Nana namun matanya menoreh ke arah lain.


“I-Iyaaa" ucapan Nana tak di gubris dia pergi begitu saja.


Tok Tok Tok!!


Nana membuka pintu ditelusuri seluruh ruangan.. apakah dia terlambat? tentu saja. sudah banyak anak OSIS yang datang. mereka hanya menunggu Nana seorang.


sampai Ridwan memberikan tempat duduk tempat rapat ini berbentuk leter U dengan 2 tempat duduk di depan nya. tentu saja untuk ketua dan wakil ketua OSIS.


Nana duduk di bangku yang di sediakan di sebelah kanan paling depan “kak Ridwan. maaf aku terlambat.." Ridwan tersenyum manis "Tenang aja, yang Laen juga baru kumpul"


Riyan mengangguk ke Ridwan kemudian Ridwan pindah duduk di sebelah kanan Riyan.


“Assalamualaikum warahmatullah salam bahagia untuk teman teman anggota OSIS Yang telah meluangkan waktu untuk hadir.."


Nana melihat semua merasa tidak keberatan menunggu lama ketika Riyan sudah berbicara.. ketampanan membuat hati seluruh ruangan Luluh termasuk dengan Nana.


"Pertama-tama saya mohon maaf karena wakil ketua OSIS kita Aldan, berhalangan hadir beliau ada urusan pribadi yang membuat nya gak bisa berkumpul untuk rapat bersama kita"


perkataan Riyan membuat Nana mendelik kan mata ternyata dia salah, bukan Ridwan yang menjabat sebagai wakil ketua OSIS tapi Aldan.