
Hari ini pun tiba, hari dimana Adriyan akan datang kerumah nya..
Nana yang sedari tadi sibuk mencari pakaian yang cocok dipakai untuk ke acara pertandingan membuat Vira ikut kerepotan. "Ma.. ini cocok gak?" tanya Nana menempelkan pakaian ke tubuhnya.. "Yang ini jauh lebih cocok sayang" ucap mama.
"Tapi warna nya agak norak ma." sambil duduk di kasur. "Pakai ini, cocok kalo buat nonton pertandingan" ucap Aksal memberikan Rok seatas lutut dan pakaian berwarna putih bercorak pink. "Hmmmmmmm..." gumam Vira menatap pakaian yang dipilihkan Aksal.
"Ya kalo mau lebih staylish lagi pake jaket atau apalah..." ucap Aksal bersamaan dengan berbunyi nya bel rumah.
"Ada tamu.." ucap Vira meletakkan pakaian yang dipegangnya ke kasur. "Duhhhh.. jangan jangan kak Adriyan lagi.." ucap Nana makin kocar kacir.
Vira tersenyum lembut melihat putrinya semakin tumbuh dewasa tidak seperti Aksal yang hanya sibuk dengan urusan perkuliahan nya. "Yaudah, kamu siap siap. biar Adriyan mama suruh tunggu dulu ya!" ucap Vira meninggalkan Nana dan Aksal.
"Gua kira lu jalan sama Aldan.." ucap Aksal berbaring di kasur Nana.
"Ihh ya enggak lah.. Aldan cuek begitu.." ucap Nana ke kamar mandi untuk mengenakan pakaian.
selang beberapa waktu Nana keluar dari kamar mandi melihat seluruh tubuhnya di depan cermin "Kak. cocok gak?" tanya Nana.
"Emangnya Adriyan seganteng itu ya? sampe segitunya lu dandan buat jalan sama dia." tanya Aksal sambil mengacungkan jempol.
"Yaaa... lumayan sihh" ucap Nana menggaruk garuk kepalanya.. "Padahal dulu lu Deket banget sama Aldan.. sampe kalo disuruh pulang pun gak mau" ucap Aksal menatap ponsel miliknya.
Nana terdiam sejenak, memikirkan kata kata Aksal barusan. "Kak..." tanya Nana agak ragu. Aksal menghentikan kegiatan nya.. kini menatap Nana dengan tatapan kebingungan.. "Kenapa?"
"Memangnya dulu sedekat apa hubungan aku sama Aldan.. kenapa aku bisa lupa dengan nya?" tanya Nana dengan raut wajah agak sedih. Aksal terdiam sejenak kemudian menepuk kasur pertanda untuk Nana duduk di sampingnya.
"Kemana mana lu selalu sama Aldan. bahkan selalu nangis kalo Aldan harus pulang kerumahnya.. dan lu tau kan keluarga Aldan agak kurang harmonis.. ya walaupun kita sendiri belum lihat secara langsung.. tapi gak tau ada masalah apa, papa memutuskan untuk kita pindah ke Jakarta. tepat di usia lu 7 tahun" ucap Aksal masih menatap adiknya.
Nana terperangah tersadar apa yang di ceritakan Aksal. "Tu-tujuh tahun? Ja-Jakarta?. bukannya waktu aku umur 7 tahun... aku kecelakaan di Wina dan lupa ingatan?" tanya Nana menatap Aksal dengan wajah Nana yang menjadi pucat. Aksal mengangguk.. "mungkin karena kecelakaan itu papa mengambil keputusan untuk pindah".
Nana terdiam sejenak tak percaya dengan apa yang dikatakan Aksal.. tapi mungkin kah semua itu benar kenyataan nya. "Setelah kamu keluar dari rumah sakit, papa mama dan gua coba buat ngembaliin ingatan lu. dengan kita jalan jalan ke Wina dan ketempat yang lainnya. perlahan ingatan lu pun mulai muncul kalo kita sebelum nya pernah tinggal di Wina" ucap Aksal menyandang kan tangannya ke pundak Nana.
"J-jangan jangan... ingatan aku.. semua ingatan aku pulih kecuali ingatan aku tentang Aldan?" ucap Nana yang tanpa sadar telah menetes kan air mata, Aksal tak bisa menampik perkataan Nana bahwa semuanya memanglah fakta. Nana tidak bisa ingat apa apa tentang Aldan.
"Lu hanya perlu memulai semuanya dari awal." ucap Aksal menepuk bahu Nana. kini senyuman mulai tampak di wajah nya. "Gua yakin Aldan bisa ngertiin kondisi lu Na."
Setelah berbincang cukup panjang Nana dan Aksal turun menemui Adriyan. di lihatnya Adriyan menggunakan jaket dengan celana jeans yang membuat Nana terpukau.
"Kak Riyan.." ucap Nana tersipu malu.. "Wah wah.. ini yang namanya Adriyan.. ganteng juga" ucap Aksal menatap Adriyan kemudian Adriyan menatap Aksal dengan senyum yang sangat manis.
"Tante. kak, saya pinjam Nana nya dulu ya," Vira dan Aksal mengangguk. kemudian keduanya berpamitan "Jagain Ade gue. pergi utuh pulang juga harus utuh. kalo ada yang kurang sedikit pun dari Nana lu berurusan sama gue" ucap Aksal sedikit mengancam namun dalam keadaan tertawa..
Aksal dan Vira mengantarkan Nana dan Adriyan keluar rumah. dilihatnya mobil sedan hitam yang sangat mewah membuat Aksal terperangah. "Woaaaaaaaaa. anak orang kaya toh.. mobil nya keren begitu" gumam Aksal dalam hati.
Adriyan membukakan pintu untuk Nana kemudian Nana duduk di kursi sebelah Adriyan tak lupa keduanya melambai kan tangan ke Aksal dan Vira dan dibalas lambaian tangan pula oleh kedua.. kemudian mobil sedan ltu pun sudah tidak tampak di depan rumah lagi.
💗