
Sudah hampir satu Bulan Nana bersekolah di SMA Pramudya namun sama sekali dia tidak pernah menyapa Aldan, begitu juga Aldan.
sampai Nana sedang berjalan..
Bruk...
Nana mengernyit memegangi lutut.. sementara sosok tangan pria menggunakan kaos basket terulur untuk memberikan pertolongan.
Riyan "Maaf aku menabrak kamuu".. memberikan senyuman yang menenangkan, wajah nyaa.. rambut kehitaman nyaa.. dan matanya..
Riyan "Kamu melamun?" sambil melambaikan tangan ke wajah Nana.. Nana sontak kaget "Haaaa iya gak papa kok" sambil tersenyum
"Aku Adriyan.. anak kelas 11-1 IPA..." kembali mengulurkan tangan kini untuk berkenalan..
Nana terperangah tak percaya melihat manusia setampan dia mau berkenalan dengan anak biasa seperti nya "Aku Nana anak kelas 10-4 IPA.."
Riyan tersenyum melihat Nana yang tersipu malu, sampai salah satu temannya Riyan memanggil nya.. "Woi Yan ayo. udah di tungguin Lo"
Riyan tersenyum tipis kepada temannya "iya nanti gue nyusul.." diam sejenak sampai temannya tidak ada lagi di hadapan mereka.
Nana "hmmm kak Adriyan.. makasih udah nolongin aku..." Riyan melirik Nana.. kemudian tersenyum ramah "Panggil Kaka 'Riyan' ... ohh yaudah ya Kaka udah di tungguin...".
sampai di kelas..
Tania "Apaaaa...." kaget Tania mendengar cerita Nana barusan "kok Kamu bisa kenal sama kak Riyan?" Nana mengeluarkan wajah kebingungan.
Dia sempat melirik ke arah samping sebelah kiri terdapat sosok pria dingin yang sedang mengerjakan tugas dari guru yang berhalangan masuk kemudian kembali menatap temannya yang tidak sama sekali mau ketinggalan cerita.
Nana mulai bercerita "Tadi aku di panggil sama kak Ridwan untuk jadi calon anggota OSIS.. yah walaupun aku agak telat beberapa waktu itu di maklumi karena aku anak baru di sini..." ujar Nana. "terus.. aku di tabrak sama cowo yang tadi aku bilang, namanya Adriyan." sambung Nana.
"Tania.. berisik..” ucapan tersebut membuat Nana menorehkan wajah ke pemuda tersebut.. sudah hampir 1 bulan mereka satu kelas tapi baru kali ini Aldan mengeluarkan suaranya.. suara yang begitu ringan bagaikan harmoni.
Tania menggaruk-garuk kepalanya "Maaf ya Dan. aku gak sengaja" Aldan hanya diam sementara Tania mulai melanjutkan obrolan nya... "Adriyan itu ketua OSIS di sekolah kita.. dia itu cowok ganteng yang ada di sekolah kita selain Aldan...."
Aldan melirik mendengar namanya di sebut sebut oleh wanita yang asik bergosip.. tapi toh apa pedulinya.
Senja menyinari sekolah SMA Pramudya, Tania yang tadi pulang duluan meninggalkan sahabat nya tersebut... Papa pun tidak bisa menjemput karena masih ada urusan di kantor.. begitu juga dengan Aksal yang sibuk dengan urusan perkuliahan nya..
Nana meneguk ludah.. memberanikan diri untuk pulang sendirian.. SMA Pramudya memang dekat dengan kota namun ketika menjelang sore sampai malam konon katanya banyak anak-anak jalanan yang nongkrong di dekat halte.
terdengar lirih suara mesin motor yang dikira nya adalah motor Aksal kakaknya. tapi ini hal yang mengejutkan.. dia adalah....
Aldan....
dengan mengenakan helm merah dia menatap Nana, begitu pun juga Nana. "Mau bareng?" Nana menggeleng "enggak.." entah karena gengsi atau tidak enak dengan Aldan tapi dia menolak dengan cepat.
Aldan kembali menatap Nana "Yaudah, gua duluan.. oh iyaa.. katanya disini banyak anak tongkrongan gak jelas.. gua cuma saranin lu hati-hati aja.." sambil menyalakan mesin..
entah itu peringatan atau hanya sebagai tipu daya agar dia mau pergi bersama Aldan.. tapi sekali lagi Nana menolak yang akhirnya Aldan pergi begitu saja..
Lima menit kemudian Nana berjalan sampai di dekat halte bus. dan benar saja.. Nana melihat banyak anak tongkrongan yang seperti preman di sana..
Nana merasa takut namun dia tidak bisa apa-apa "lu berani ngadepin mereka?" suara tersambar dari sebelah membuat Nana kaget setengah mati..
Aldan... dia ternyata tidak pergi meninggalkan Nana begitu saja.. "A-Aku..." Aldan menyodorkan helm yang tadi di sangkutan di belakang jok motor nya.. "pake, ayo gua anterin lu balik..."
pada akhirnya Nana menyerah.. dia ikut apa kata Aldan.. dan mau di antar pulang olehnya