
Wahyu memarkir motor miliknya di depan teras rumah Ayu. Dengan segera Wahyu membawa dua kantong plastik berisi bakso yang di beli olehnya. Dua plastik itu berisikan plastik kecil bakso yang akan di berikan pada Herman, Ayu dan adik dari Intan.
Wahyu berjalan menuju ke dalam rumah. Pintu yang sudah terbuka, membuat seorang Wahyu tidak harus membuka pintu. Dia pun langsung berjalan menuju ke dalam rumahnya untuk menemui orang rumah yang mungkin sudah menunggu Wahyu untuk makan malam bersama.
Tidak ada aktivitas yang terjadi di ruang makan. Terdengar suara suka cita yang bersumber dari kamar Ayu. Tentu suara itu langsung memancing seorang Wahyu untuk menghampiri kamar Ayu. Wahyu pun segera menghampiri kamar Ayu untuk mengetahui apa yang terjadi di kamar Ayu.
Wahyu pun turut dalam suka cita yang ada di kamar Ayu. Semuanya begitu heboh saat melakukan panggilan video call dengan seorang Intan. Mereka suka cita saat melihat wajah Intan dari layar handphone seorang Ayu.
Ayu terlihat begitu sumringah melihat wajah Intan. Dia begitu bahagia bisa bertemu dengan Intan, walau hanya sebatas lewat panggilan video call. Ini menjadi kesempatan yang langka bagi seorang Ayu. Kesempatan yang tidak akan pernah Ayu sia-siakan untuk bisa berkomunikasi secara banyak dengan Intan.
Pertanyaan dari Ayu justru pertanyaan yang tidak seharusnya di tanyakan pada seorang Intan. Dia terus menceritakan akan keinginan dari seorang Ayu akan oleh-oleh yang nantinya di belikan oleh Intan. Padahal Intan baru bekerja di luar kota. Dia sama sekali belum memiliki sedikit pun uang untuk membeli semua keinginan dari Ayu tersebut.
Herman lantas menanggapi permintaan seorang Ayu itu dengan ketegasan. Dia mengatakan jika apa yang Ayu ucapkan adalah hal yang tidak seharusnya di ucapkan pada seorang Intan. Dengan ucapan itu tentu beban Intan akan semakin banyak lagi.
Ayu terlihat kurang senang dengan apa yang di katakan oleh Herman padanya. Hingga Ayu pun murka saat Herman menegur dirinya dengan sebuah teguran yang cukup tegas. Padahal apa yang Herman katakan pada seorang Ayu adalah perkataan yang tepat. Herman hanya tidak ingin Intan memiliki beban yang semakin berat dengan apa yang di inginkan oleh Ayu.
Namun Ayu justru menganggap apa yang di minta oleh dirinya adalah hal yang lumrah. Intan adalah anak Ayu, jadi hal yang wajar bagi seorang Intan untuk di mintai sesuatu oleh seorang Ayu. Apalagi Intan saat ini sedang bekerja, jadi sudah wajar bagi Ayu minta apa yang dia inginkan pada Intan.
"Kalian tidak malu di dengar tetangga? Ini sudah malam, mereka lagi istirahat. Tapi kalian malah ribut kayak gini." ujar adik Intan.
Ayu mematikan panggilan video call dengan Intan. Dia meninggalkan kamarnya sendiri menuju luar. Ayu kesal dengan apa yang di lakukan oleh Herman. Apa yang Herman ucapkan adalah perkataan yang kurang baik, itu yang buat Ayu merasa kurang nyaman. Hingga dia lebih memilih untuk pergi dari hadapan seorang Herman dengan raut wajah marah.
Wahyu yang tak mendapat kesempatan untuk mengobrol dengan seorang Intan. Merasakan kesedihan tersendiri. Tempo hari, handphone seorang Wahyu terpaksa di jual oleh dirinya. Setelah ada seorang rentenir yang datang ke rumah Ayu. Dia meminta Ayu segera melunasi hutangnya. Hingga akhirnya Wahyu pun merelakan handphone miliknya di berikan pada rentenir itu sebagai jaminan dari hutang Ayu.
Wahyu yang rindu akan Intan, hanya bisa menatap bulan purnama yang sempurna. Mungkin ini kenangan yang akan selalu Wahyu ingat akan Intan, di mana Intan dan Wahyu memang menyukai memandang bulan. Apalagi kondisi bulan purnama yang sempurna. Ini menjadi hal yang Wahyu dan Intan sukai ketika bulan tiba.
Herman yang kasihan dengan Wahyu yang tak dapat melihat wajah Intan, akhirnya meminjam handphone adik Intan untuk di gunakan oleh Wahyu. Meskipun sempat mendapat penolakan dari adik Intan, namun Herman dengan sedikit paksaan. Akhirnya adik Intan pun bersedia memberikan handphone miliknya pada seorang Wahyu.
Herman segera membawa handphone miliknya tersebut pada Wahyu. Dia meminta Wahyu untuk segera menghubungi seorang Intan, mungkin ini akan menjadi sebuah rindu yang akan segera terbalaskan dari seorang Wahyu akan Intan.
Wahyu terdiam saat ayah mertuanya itu memberikan handphone milik adik iparnya pada dirinya. Dia tak mengerti dengan kebaikan yang di tunjukkan oleh Herman. Mungkin kebaikan Herman merupakan kebaikan yang akan sulit Wahyu lupakan. Sehingga Wahyu akan selalu ingat dengan apa yang telah Herman berikan pada seorang Wahyu. Sebuah hal yang cukup besar.