
Nana merebahkan tubuhnya di ranjang, menatap langit langit kamarnya tatapannya datar masih mengarah pada kejadian tadi. Sampai akhirnya dia tidak lagi bisa menahan rasa penasarannya. Nana mendelikan mata melihat ke arah ponselnya kemudian mulai berfikir sejenak sampai akhirnya dia mulai mengetik pesan.
"Tania.. kamu sudah pulang?"
beberapa menit kemudian Nana kembali melihat layar ponsel nya namun sama sekali belum ada balasan dari Tania.
💌
"Aldan... bawa motor nya pelan pelan, ini terlalu ngebut" ucap Tania memeluk erat pinggang Aldan.
"lu pegangan aja yang kenceng, bentar lagi kita sampe"
Tania hanya diam, tidak ada yang bisa ia lakukan selain mendukung apa yang akan dilakukan Aldan nantinya.
sampai dirumah Aldan melihat mobil sedan hitam yang mewah yang mereka kenali adalah mobil milik Ardan, kemudian Aldan menyusuri jalan dengan langkah kakinya yang agak cepat, dan diikuti oleh Tania dibelakang nya sampai Aldan membuka pintu dan masuk.
"Kakak.. selamat datang." ucap Violet dengan senyum riang, Aldan balik tersenyum melihat senyum adik nya. namun matanya berfokus pada dua orang yang ada di belakang Violet.
"Mama.." alis Aldan berkerut terlihat sekali wajah nya sedang kesal. melihat wajah putra nya tersebut Alisa hanya bisa terdiam kemudian menatap wajah pria di samping nya yang terlihat sekali tengah menantang Aldan.
"Violet.. kakak Pijam Papa dulu ya." ucap Aldan sambil tersenyum, alis Violet bertaut "Kakak mau ngobrol dengan Papa ya? kenapa tidak dengan Violet Juga?" mulai terlihat raut kesedihan.
Aldan tersenyum kembali melihat pria yang di samping ibu nya kemudian menatap adiknya yang memegangi boneka pemberian Aldan.
"Kakak cuma mau ngobrol sebentar. kamu sama kak Tania di sini dulu ya." terang Aldan.
Violet mengangguk tanda mengerti sampai orang di belakang nya mendekat.
Puk!
"Papa ngobrol dulu ya sama kak Aldan, kamu tunggu di sini dengan kak Tania" sambil menepuk pelan pundak putrinya.
"Om Ardan..." Tania menyapa namun hati nya merasa takut dengan apa yang terjadi nanti.
Ardan mengangguk pelan kepada Tania "Om titip Violet sebentar ya" kemudian mengikuti Aldan keluar rumah dan diikuti pula oleh Alisa.
"Kak Tania..." memegang erat boneka yang dibelikan Aldan.
"Ada apa Violet?" Tania tersenyum mencoba menenangkan Violet.
"Papa, Mama dan Kaka mau ngomongin apa sih? kok Violet gak di ajak?" tanya Violet menatap pintu yang tertutup. Tania membungkuk kan badan kini memegangi pundak Violet sambil tersenyum.
"Violet, mungkin ada hal penting yang perlu mereka bicarakan. kita tunggu di sini saja ya. cuma sebentar kok" Violet hanya mendengar kan kata kata Tania tanpa bicara apa apa.
Brakkk!!
"Aldann...." ucap Alisa dengan wajah panik melihat putra nya memukul wajah papa nya.
"Kenapa kamu masih kesini? apalagi yang kamu butuhin?" bentak Aldan dengan kasar, Ardan menyapuh sedikit darah yang keluar dari hidung nya.
"Memangnya kenapa? papa masih punya hak di sini!!!" ucap Ardan menatap putra nya.
"Apa? Hak? Hak sebagai apa?" sembari tersenyum "Setelah apa yang kamu lakukan ke mama. setelah kamu tidak peduli dengan Violet yang jauh terbaring di rumah sakit.. apa lagi yang akan kamu katakan.." menatap Ardan dengan kebencian.
"Lihat.. lihat mama," ucap Aldan menunjuk ke arah berdiri nya Alisa.
"ini semua perbuatan kamu.. kalo kamu gak pernah ada di kehidupan mama semuanya gak akan kaya gini." hati Aldan begitu sakit melihat wanita yang di sayangi nya menangis.
"Tenang saja.. papa disini hanya ingin mengurus surat cerai untuk mama kamu" Ucap Ardan yang membuat mata Aldan membelakak, sementara Alisa terus saja menangis.
"Papa hanya ingin membawa Violet dan kamu ke pergi kerumah papa." menatap wajah putra nya dengan senyuman hangat.
Buakkkk!!!
Aldan memukul keras perut papa nya kemudian wajah mereka saling bertemu.
"Aku dan Violet gak akan pernah menginjak kan kaki kami kerumah kamu sampai kapanpun.." Ucap Aldan menatap wajah Ardan
"Benarkah??.. kalau begitu papa akan mencoreng nama kamu dan Violet dalam daftar ahli waris.." tatapan menantang namun Aldan tak menggubrisnya.
"Lebih baik kamu pergi dari sini Ardann..." teriak Alisa dengan Isak tangisnya.
keduanya menatap wajah Alisa yang sudah tidak bisa menahan diri lagi.
"Aku hanyalah orang kedua. kami tidak layak untuk meminta apa apa dari kamu.. tapi.. tapi aku mohon jangan ganggu aku dan anak anak"
Ardan hanya terdiam menatap Alisa, alis nya bertaut. "Aku mau membawa pulang Violet" ucap Ardan yang membuat Aldan ingin kembali menyerang nya.
"Violet putriku..!!!! dia bukan barang yang bisa seenaknya saja di oper alihkan.." ucap Alisa yang membuat Aldan menghentikan tangannya.
Aldan terdiam kemudian mendekati ibu nya "Tunggu apa lagi? silahkan kamu pergi" ucap Alisa yang akhirnya membuat Ardan pergi meninggalkan mereka.
Aldan menatap wajah ibu nya dengan tatapan kesedihan "Mama..." Alisa tak lagi bisa menahan air mata nya memeluk Aldan dengan eratnya.
"Maafin mama Aldan.. hiks... hiks.. karena mama kalian Yang menjadi korban nya" Isak tangis Alisa buyar seketika.
"Mama gak salah, mama hanya korban" Aldan mulai memeluk ibunya dengan erat "Kita hanya harus menyembuhkan penyakitnya Violet ma" lanjut Aldan masih dalam pelukan ibu nya.
"Terima kasih sayang.. selama ini kamu menjadi anak dan Kaka yang baik untuk mama dan Violet" melepaskan pelukan sembari tersenyum hangat. Aldan mengangguk dan mengusap air mata di pipinya dan beranjak kembali kerumah.
Krekk!!!
"Kakak... Mama.."lirih Violet mendengar suara pintu berbunyi dan terbuka, mata nya melihat sekeliling mencari seseorang yang di tunggunya sedari tadi.
"Kakak.. Mama, papa mana?" tanya Violet Dengan alis bertaut.
"Papa harus kembali ke kantor.. katanya ada pekerjaan yang harus di selesaikan sayang" jawab Alisa memeluk tubuh Violet yang mungil..
"Tapi... tapi, Ma. Papa sudah janji dengan Violet mau menginap disini" kini wajahnya tertunduk dengan raut wajahnya yang sedih.
"Mama tau sayang, tapi papa kamu sekarang agak sibuk. jadi kita harus maklumi ya" Alisa berusaha menenangkan putrinya dengan terus memeluk putri kecil nya.
sementara Tania hanya berfokus pada wajah Aldan yang tak berekspresi apa apa.
💖