
Dimas datang menemui seorang Intan, kemudian dia mengajak Intan berkenalan. Sebenarnya itu hal yang biasa saja. Namun saat melihat kedua mata Dimas, terlihat jika pria itu tertarik pada seorang Intan. Mata Dimas tidak mampu menyembunyikan rasa sukanya pada seorang Intan. Itu yang Intan rasakan pada seorang Dimas. Hingga Intan menduga Dimas menaruh hati pada seorang Intan.
Mungkin rasa suka itu biasa saja, sebab Intan tidak merasakan hal yang sama dengan Dimas. Intan hanya menganggap apa yang Dimas lakukan semata-mata hanya berkenalan biasa saja. Intan sendiri sudah memiliki seorang suami. Sehingga tidak harus memusingkan perihal perasaan dari seorang Dimas.
Saat Intan akan membeli makan, dia bertemu dengan Fitri. Dia bertemu dengan Intan tepat di depan pintu kost seorang Fitri. Terlihat Fitri yang sudah makan dengan seorang Usman. Usman pun masih berada di hadapan seorang Intan. Sebelum Usman mengajak Intan untuk berkenalan.
"Tadi kita belum sempat berkenalan. Nama saya Usman. Pacar dari Fitri." ucap Usman dengan wajah penuh keyakinan.
Intan tentu semakin tidak mengerti dengan sosok Fitri yang terlihat sama sekali tidak malu untuk memperkenalkan seorang Usman sebagai pasangannya. Padahal Fitri sudah memiliki seorang suami di kampung. Namun Fitri tetap berpacaran dengan seorang Usman yang sebenarnya juga telah menikah dengan seorang perempuan cantik bernama Ningsih. Namun Usman kurang menyukai seorang Ningsih yang di nikahi dengan paksaan kedua orangtuanya.
Intan menjabat tangan seorang Usman. Dia memperkenalkan dirinya pada Usman.
"Nama saya Intan."
Usman yang terlihat seperti seorang mata keranjang. Dia terlihat tertarik pada seorang Intan. Matanya terlihat begitu memancarkan rasa suka yang teramat pada seorang Intan. Apalagi Intan ketika selesai mandi begitu terlihat natural. Cantiknya terlihat begitu mempesona. Hingga Fitri langsung mengalihkan pandangan seorang Usman dari seorang Intan. Fitri pun meminta Usman untuk segera pergi dari Kontrakannya. Mengingat istri Usman yang sudah berulang kali menghubungi seorang Usman.
Begitu Usman pergi, Intan menahan Fitri yang hendak masuk ke dalam kontrakan. Dia pikir ini adalah kesempatan yang paling baik untuk dirinya dalam menceritakan sosok seorang Dimas yang mengajak Intan berkenalan. Dia ingin tahu sosok Dimas lebih lanjut. Walaupun itu hanya perasaan biasa saja. Bukan untuk hal lainnya, namun Intan merasa Fitri lebih tahu perihal Dimas.
"Iya, aku tahu dia. Memang ada apa dengan dia?" tanya balik Fitri yang tak kalah penasaran.
Intan ragu-ragu untuk bertanya,dia takut Fitri akan menuduh hal yang aneh pada dirinya. Apalagi Dimas yang meminta berkenalan dengan seorang Intan. Ini akan menjadi hal yang paling menakutkan bagi seorang Intan. Dia pun terlihat gugup saat mengatakan sesuatu pada seorang Fitri.
"Apa Tan, kok kamu jadi gugup gitu sih?" tanya Fitri semakin penasaran.
"Tadi dia mengajak kenalan dengan aku. Dia juga menawarkan diri untuk mengantar aku pulang. Jujur aku kurang nyaman dengan tatapan dia. Aku tidak ingin memberikan harapan palsu sama dia. Jadi aku berharap dia tidak akan meminta lebih padaku." jawab Intan dengan tegasnya.
Fitri pun tersenyum mendengar jawaban dari seorang Intan. Dia berpikir mungkin Intan masih belum sepenuhnya mengenal Jakarta. Sehingga Intan harus banyak belajar lagi Jakarta.
Namun Fitri tidak banyak bicara. Dia hanya berpesan pada seorang Intan untuk tidak idealis. Sebab jika Intan melakukan hal tersebut. Bukan tidak mungkin Intan tidak akan mendapatkan apapun selama dia bekerja.
Intan hanya menatap bingung wajah Fitri. Dia kurang memahami maksud dari ucapan seorang Fitri. Dia tidak tahu perihal Jakarta, makanya Intan harus bisa belajar dari Fitri perihal Jakarta.