LDR

LDR
Mungkin



Nana menatap datar sekeliling kelas yang kosong, malas rasanya namun perut nya terasa lapar, selain Tania yang tidak ada disisinya mood nya semakin memburuk karena nyeri datang bulannya.


"Nana..." ucap seorang pria di ambang pintu memegang sepaket makanan dan minuman


Nana menegakkan tubuhnya menatap pria yang semakin berjalan mendekat.


"Kok kamu disini? bukannya ada acara di luar kota?" tanya Nana penasaran.


"Hehehehe" tawa pria tersebut membuat Nana semakin kebingungan.


"Yaaa aku gak bisa aja, kalo sehari harus jauh dari kamu" sambil meletakkan bawaannya di meja Nana


"Ayo di makan" sembari duduk di kursi Tania, Nana membuka makanan pemberian Adriyan, perutnya masih terasa tidak enak, dilihatnya Adriyan dengan hangat.


"Kok ngeliatin aku? dimakan dong. ini spesial buat kamu" ucap Adriyan tersenyum manis.


"Kamu belum jawab pertanyaan aku.." ucap Nana menundukkan wajahnya.


"Ohhh yang tadi, hmmm karena acaranya berjalan dengan lancar jadi semua selsai Dengan cepat, jadi aku langsung pulang" terang Adriyan.


"hmmmmmm aku boleh Tanya?" ucap Nana mulai memakan


"Boleh, mau tanya apa?" Adriyan mulai mengerutkan kening nya.


"Kamu tahu Ahmad Ardan Salim?" tanya Nana gusar.


Adriyan terdiam sejenak kemudian tersenyum lembut


"Tahu, dia itu pemilik perusahaan terkaya di Jepang. kalau tidak salah perusahaan Bosen." terang Adriyan yang membuat Nana mengangguk kecil.


Nana menatap Adriyan dengan tatapan kebingungan entah apa yang Nana fikiran saat itu, tapi bagian nya ini adalah saat yang tepat.


"Kenapa nama mu bisa mirip dengannya?"


pertanyaan Nana membuat Adriyan tertawa kecil, namun jelas sekali matanya terlihat tidak suka dengan apa yang di tanyakan Nana


"Mungkin hanyalah kebetulan" ucap Adriyan, namun entah mengapa di hati Nana masih agak meragukan jawaban Adriyan tadi.


"Maksudnya?" tanya Nana pelan.


"Kamu tahu, kebanyakan Orang tua pasti ingin memberikan nama yang baik untuk anaknya, mungkin orang tua ku fans berat dengan Pak Ardan. jadi nama ku agak mirip dengan nya" jelas Adriyan


perkataan Adriyan membuat Nana berfikir kembali, mungkin ada benarnya juga. seperti hal nya nama Aldan dan Violetha yang jelas sekali tidak menggunakan nama dari Ardan ayah mereka.


"Tapi.. kenapa kamu tanyakan hal itu?" pertanyaan Adriyan membuat Nana sontak kaget, Nana mencoba mencari jawaban atas perbuatannya Adriyan.


"Hmmm cuma pengen tau aja sih, ku kira..."


"Kamu kira aku anak nya pak Ardan?" potong Adriyan membuat Nana membelakak kan mata, wajah Nana terlihat lucu membuat Adriyan tertawa sembari mengacak acak rambut Nana.


"Hahahah, ya gak mungkin lah.. setahu ku anak nya pak Ardan hanya Aldan dan adiknya" ucap Adriyan tertawa kecil.


"Ishhh, rambut ku berantakan" cibir Nana "Kamu tahu Aldan..."


"Semua orang di sekolah ini tahu.. yaa, namanya juga anak pengusaha terkaya siapa yang gak tahu" ucapan Adriyan tidak bisa di sanggah, semua itu benar. Aldan adalah anak pak Ardan, Tapi apakah hanya Aldan dan Violetha saja?


💞


Aldan yang sedari tadi menatap sekeliling kantin, mencoba memilih makanan yang cocok dengan wanita yang tengah datang bulan, hingga dipilihlah bakso kang Ujang yang biasa di beli Nana dan Tania.


"Kang bakso satu, tapi gua bawa ke kelas ya" ucap Aldan sambil duduk di kursi yang di sediakan


"Tumben den Aldan makan di kelas" tanya kang Ujang yang masih sibuk membuat kan pesanan pembeli.


"Lagi males aja kang, mau makan di kelas."


ucap Aldan sambil menatap layar ponselnya.


"Pedes kan den?" tanya kang Ujang menorehkan wajah nya ke Aldan.


Aldan teridam sejenak kemudian mengetik berapa kata di pencarian.


"Apakah makanan pedas bagus untuk wanita menstruasi"


bersamaan dengan kesimpulan nya Aldan menorehkan wajah nya ke kang Ujang.


"Gak usah kang Pake kecap aja ya"


💌


Nana yang sedari tadi hanya menatap makanan pemberian Adriyan membuat Adriyan kebingungan.


"Kamu kenapa? kok gak di makan? dari tadi kan kamu gak ke kantin." tanya Adriyan lemah lembut.


"Aku lagi datang bulan" ucapan Nana membuat Adriyan mengerti.


"Sebentar lagi istirahat nya selesai, kamu makan dulu beberapa suap" ucap Aldan menyuapi.


Nana menyerah kemudian memakan suapan dari Adriyan.


"Aku udah kenyang" ucap Nana agak malas


"Hmm, yaudah aku ke kelas dulu ya. ini biar aku yang buang" ucap Adriyan sambil mengelus rambut Nana dan akhirnya pergi dari kelas, yang Nana baru sadari kelas ini terlalu sunyi untuk nya.


Nana meletakkan wajah nya di atas meja, kemudian mulai memejamkan matanya.


"Pesenan nya mba" suara lirih terdengar, membuat Nana sontak kaget dan melihat ke depan.


dilihatnya Aldan berdiri di depannya membawa semangkuk bakso dan sebotol air mineral.


"Nih makan" ucap Aldan meletakan semangkuk bakso dan air mineral ke atas meja.


Nana mengerutkan dahi, menatap bakso yang masih hangat, kemudian menorehkan wajah nya ke Aldan


"Apa? makan. nanti keburu bel" ucap Aldan menatap datar wajah Nana.


ragu rasanya karena perutnya yang sudah terisi oleh makanan pemberian Adriyan, namun apa boleh buat, suap demi suap Nana mulai memakan nya.


"Hmmm kok gak ada rasanya sih"


"Ada, lu buta rasa?" tanya Aldan mengerutkan dahi.


"maksudnya ini kok cuma asin? gak kamu pakein saos atau sambel?" tanya Nana


"Asal lu tau, ya. makanan pedes itu kurang bagus untuk penderita wanita menstruasi" terang Aldan menatap gemas.


"Tahu dari mana kamu?” tanya Nana skeptis


"Gua searching tadi"


ucapan Aldan membuat Nana ingin tertawa rasanya, Nana merasa senang dan bahagia dengan apa yang Aldan lakukan


💓💓